Nama Mauricio Pochettino pernah menjadi buah bibir kala membesut klub asal Inggris, Tottenham Hotspurs. Klub berjuluk The Lilywhites dibawanya tampil sangat baik meskipun tak berujung pada sebuah trofi. Pochettino bergabung dengan Spurs pada awal musim 2014/15 hingga dipecat pada november 2019. Meski belum bisa menghadirkan trofi, namun dia tak sepi prestasi.
Empat kali beruntun finis di posisi empat besar Liga Inggris, masuk final Liga Champions untuk pertama kalinya, dan sukses mengembangkan bakat-bakat sepakbola Inggris seperti Harry Kane, Dele Alli, dan Eric Dier adalah beberapa prestasi mengagumkan yang ditorehkan oleh Pochettino bersama Spurs.
Sebagai pelatih yang memiliki kualitas mumpuni, tak ayal membuat Pochettino sempat diminati oleh klub-klub besar eropa, termasuk Barcelona. Barcelona pertama kali melirik Pochettino pada tahun 2017 silam. Hal itu setelah juru taktik Luis Enrique akan meninggalkan tim Catalan pada akhir musim 2016/17.
Pochettino, pelatih asal Argentina ini tertangkap kamera sedang berbicara dengan presiden Barca Josep Bartomeu di sebuah restoran di Spanyol saat jeda internasional. Kemudian Pochettino menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak sengaja. Mengenai rumor bahwa dirinya akan direkrut Barca untuk menggantikan Enrique pada 2017 silam, Pochettino menyatakan bahwa ia tak akan pernah untuk melatih Barcelona.
Hal ini terbilang aneh, mengingat sebenarnya banyak pelatih yang menginginkan melatih klub sebesar Barcelona ditambah dengan gaji yang menggiurkan dari manajemen klub. Per musimnya, pelatih Barca dapat menerima bayaran di atas 8 juta pounds atau di atas Rp 150 miliar. Namun, Pochettino tidak tergiur dengan gaji fantastis di Barcelona.
Pochettino menolak Barcelona demi prinsip yang dipegang. Pochettino berikrar tidak akan menjadi pelatih Barcelona. Dia tidak ingin menodai hubungan baik dengan Espanyol, rival sekota Barcelona. Di sisi lain, saat itu, Pochettino juga masih terikat kontrak dengan Spurs hingga 2021
“Sebuah kejadian yang tak disengaja di sebuah kafe di Barcelona pekan lalu, saya bertemu dan mengenal Bartomeu untuk waktu yang lama, dan anda tau kita harus saling menyapa. Kami mengobrol selama lima menit tapi itu tak terjadi apa – apa dan anda tau, rumor terus bergulir.”
Selain Barcelona, Pochettino dalam pernyataannya pada 2017 silam, juga tak berminat untuk melatih Arsenal andai suatu hari ia dipecat Spurs. Faktor kecintaan terhadap Spurs yang membuat ia tak mungkin untuk menangani The Gunners.
“Namun saya suporter Espanyol dan saya pikir tak butuh berbicara panjang. Seperti jika Daniel Levy memecat saya suatu saat nanti, bagi saya tak mungkin saya melatih Arsenal.”
“Saya pikir sepakbola terkadang, sulit menyimpan nilai dan juga kesetiaan dalam hati anda dengan emosi, namun bagi saya, sebelum saya menjadi manajer, pemain, bersikap loyal sangat penting dan jujur saja saya seorang fans Espanyol. Saya cinta Espanyol dan saat ini Tottenham, sulit rasanya suatu hari nanti saya pindah ke Arsenal, Itu tak mungkin.” Ucap Pochettino.
Di masa lalu, Pochettino pernah membela Espanyol saat aktif sebagai pemain. Pria yang kini berusia 48 tahun itu membela Espanyol dalam dua periode, yang pertama pada 1994 hingga 2001 dan kedua pada 2003 hingga 2006. Dia juga pernah melatih Espanyol pada 2009 hingga 2012. Ikatan emosional yang terjalin membuat Pochettino tidak ingin melatih Barcelona.
Meski sudah pernah ditolak oleh Pochettino pada 2017, Barcelona tampaknya tak mau menyerah begitu saja. Pada januari 2020, El Barca kembali membidik Pochettino, kali ini untuk menjadi pengganti Ernesto Valverde yang dipecat. Terlebih kala itu Pochettino juga belum lama diberhentikan pekerjaannya di Spurs. Namun, upaya Barca meminang Pochettino kembali berujung penolakan.
Pakar sepakbola Spanyol, Graham Hunter, menyebut Pochettino lebih memilih bertani ketimbang harus membesut Lionel Messi dkk.
“Dia (Pochettino) lebih suka kembali ke Argentina dan mengurus ladangnya daripada melatih Barcelona,. Mereka sudah mencoba untuk membujuk dia,” ujar Hunter. Semenjak dipecat oleh Spurs, Pochettino sendiri belum lagi kembali ke lapangan hijau untuk melatih sebuah klub.


