Magis Claudio Ranieri yang Terulang Kembali di Italia

spot_img

Claudio Ranieri tak kuasa menahan air mata saat wasit Marco Guida menyudahi laga final play off promosi Serie A. Seolah beban yang menumpuk di pundaknya terangkat. Ranieri menyelesaikan misinya untuk membawa kembali Cagliari ke Serie A setelah dihantui kegagalan.

Memenangi laga lewat agregat 2-1 atas Bari, Ranieri menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk meraih prestasi. Di usia yang tak muda lagi, ia membuktikan kalau sentuhan magisnya belum luntur. Lantas bagaimana kisah serangkaian magis Ranieri di sepakbola Eropa?

Sebelumnya di Inggris

Sebelum membantu Cagliari kembali ke Serie A, nama Claudio Ranieri naik daun kala membawa tim gurem macam Leicester City menjuarai Liga Inggris musim 2015/16. Ranieri melakukannya dengan caranya sendiri dan itu jadi titel juara paling tak disangka dalam sedekade terakhir. 

Sebagai klub yang menjalani musim keduanya di papan atas Liga Inggris, The Foxes menyimpang dari norma kebiasaan. Ranieri justru menyulap mereka jadi tim kuat yang menyaingi klub-klub papan atas macam Arsenal, Chelsea, Manchester United, dan Manchester City. 

Dalam sejarah Liga Inggris, sang juara liga biasanya bermodalkan peringkat dua atau setidaknya empat besar di musim-musim sebelumnya. Sedangkan Leicester bahkan hanya finis di urutan ke-14 Liga Inggris musim 2014/15.

Ranieri membentuk Leicester dengan pemain-pemain tak terkenal dan seadanya namun solid. Ia mengubah Leicester jadi tim yang menghindari zona degradasi menjadi tim pengganggu dominasi Big Six.

Di industri sepakbola yang digerakan oleh uang, Ranieri membuktikan kalau uang bukan segalanya. Skuadnya hanya senilai 58 juta pound (Rp1 triliun) saat itu. Tapi Ranieri memanfaatkan momentum dengan sangat baik. Ia mendatangkan beberapa pemain yang tepat dan menciptakan pola serangan balik langsung yang mematikan dengan mengandalkan Jamie Vardy.

Ranieri juga menciptakan situasi yang harmonis serta penuh keyakinan terhadap tim di ruang ganti untuk memotivasi para pemain dalam menjalani musim 2015/16. Poin-poin tersebut menghasilkan kemenangan demi kemenangan. Dan Dongeng Leicester City pun berakhir dengan indah.

Pengkhianatan

Membawa Leicester juara tak membuat The Tinkerman awet di kursi kepelatihan. Ketika inkonsisten melanda, beberapa pemain senior Leicester mulai meragukan kepemimpinan Ranieri. Mereka dikabarkan kerap berselisih paham dengan Ranieri. Sang pelatih juga kerap keliru ketika mengambil keputusan, terutama dalam pemilihan pemain di skuad utama.

Dilansir Sky Sport, pemain jadi salah satu faktor utama mengapa akhirnya Ranieri tiba-tiba dipecat pada Februari 2017. Ternyata para pemain mengadu kepada pemilik klub tentang ketidaknyamanan mereka. Pemecatan pun dilakukan persis setelah pemilik klub terdahulu, Vichai Srivaddhanaprabha bertemu para pemain untuk membahas krisis yang terjadi di dalam tim.

Apakah ini sebuah bentuk dari pengkhianatan? Biar kalian sendiri yang menyimpulkan. Pemecatan ini menghadirkan kesedihan di tengah publik King Power Stadium. Beberapa fans kecewa dengan pengambilan keputusan yang mendadak ini. Namun, fans dan Ranieri hanya bisa menerima keadaan kalau mereka sudah tak bisa berjuang bersama lagi.

Setelah pemecatan itu, Ranieri sempat pindah-pindah klub. Berkelana dari negara satu ke negara lain. Dari Nantes, Fulham, hingga Sampdoria sudah ia jajal. Namun, tak ada satu pun klub yang suksesnya menyamai Leicester City. Tuah Ranieri pun mulai luntur. Namanya mulai tak dibicarakan lagi.

Bereuni dengan Cagliari

Sampai akhirnya Claudio Ranieri bereuni dengan klub Italia yang pernah ditanganinya dulu, Cagliari pada Januari 2023. Perlu diketahui, Cagliari baru saja terdegradasi dari Serie A musim 2021/22. Mereka mengakhiri musim tersebut di peringkat 18. Hanya terpaut satu poin dari Salernitana yang berada di peringkat 17.

Ranieri dikontrak hingga tahun 2025. Target yang dibebankan manajemen kepada Ranieri hanya satu tapi cukup berat, yakni meraih tiket promosi ke Serie A 2023/24. Awalnya Ranieri sedikit ragu. Ia merasa sedang tidak dalam situasi yang baik karena baru menjalani musim-musim yang gagal. Namun, sentuhan magis Ranieri belum hilang sepenuhnya.

Bagaimana Ranieri Membangkitkan Cagliari?

Berbekal kejeniusan dan pengalaman yang dimiliki, Ranieri secara perlahan memperbaiki performa Cagliari. Secara taktik Ranieri merupakan pelatih yang fleksibel. Ia bisa beradaptasi dengan cepat menyesuaikan materi pemain yang ada. Karena menurutnya, formasi hanya acuan. Yang penting adalah pola permainannya.

Filosofi Ranieri berpusat pada sebuah pragmatisme. Ranieri tak masalah apabila timnya tak menguasai bola sepanjang pertandingan. Ia bahkan dengan sengaja membiarkan tim lawan mendominasi sambil menunggu momentum yang tepat untuk melayangkan serangan balik cepat dan mematikan.

Ranieri membaca karakter tiap pemainnya dengan baik. Itu memudahkannya dalam menyusun starting line up dengan materi pemain seadanya. Pengalamannya juga membantu Ranieri membangkitkan motivasi tim. Ia membangun kedekatan dan komunikasi yang baik dengan para pemain dan staf kepelatihan.

Itu bisa dilihat dari perayaan kemenangan atas Bari. Meski baru sebentar, mereka bergembira dan berpelukan bak sebuah keluarga. Di tangan Ranieri, Cagliari kembali ke jalur kemenangan. Rossoblu bahkan hanya menelan dua kekalahan dalam 19 pertandingan yang dipimpin oleh The Tinkerman.

Poin demi poin pun diraih oleh Gianluca Lapadula cs. Memulai dari peringkat 12 klasemen sementara Serie B, anak asuh Claudio Ranieri akhirnya finis di urutan kelima klasemen akhir Serie B. Hasil tersebut membuat Cagliari mengamankan satu tiket play off promosi ke Serie A.

Proses 

Perjuangan Ranieri belum usai. Ia harus menghadapi lima tim lain guna memperebutkan satu tiket terakhir ke Serie A. Di babak kualifikasi, Cagliari menghadapi Venezia. Pertandingan berjalan ketat tapi anak asuh Ranieri berhasil menundukan lawan dengan skor tipis 2-1. 

Melaju ke babak semifinal, Cagliari dihadang Parma. Di leg pertama, Cagliari menang dramatis 3-2 atas Parma. Menghadapi keputusasaan karena tertinggal dua gol lebih dulu, keberuntungan justru muncul di babak kedua. Kiper Parma, Gianluigi Buffon mengalami cedera di awal babak kedua dan harus diganti. 

Setelah sang legenda Italia itu ditarik keluar, anak asuh Ranieri langsung memanfaatkan momentum untuk menyerang. Menghadapi gawang yang sudah tak dikawal Buffon, Cagliari membalikan keadaan dengan mencetak tiga gol cepat. Maka dari itu, bermain imbang 0-0 di leg kedua sudah cukup untuk mengantarkan Cagliari ke partai puncak.

De Javu

Di laga final, Cagliari hanya bermain imbang 1-1 kala menghadapi Bari. Misi wajib menang pun diusung Ranieri di leg kedua. Syukurnya Cagliari menang 1-0 atas Bari di leg kedua. Gol dari tendangan setengah voli pemain pengganti, Leonardo Pavoletti di menit-menit akhir mengantarkan Cagliari ke Serie A. 

Momen ini sekaligus mengulangi pencapaian ketika Ranieri membawa Cagliari promosi ke Serie A musim 1988/89 atau 34 tahun lalu. Kisah kesuksesan Ranieri bersama Cagliari musim ini bagaikan film lama yang diputar kembali di bioskop.

https://youtu.be/RKdXO63SglA

Sumber: Sky Sports, ESPN, BBC, The Athletic, Total Football Analys

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru