Laris Manis! Pemain Yang Laku Setelah Gacor Di Piala Dunia

spot_img

Para pemain yang gacor di event Piala Dunia biasanya akan jadi komoditi yang laris manis di bursa transfer. Klub-klub raksasa berduit biasanya akan melirik dan saling berebut mendapatkan tanda tangan para pemain tersebut. Meskipun itu harus merogoh kocek yang dalam. Nah, berikut ini adalah beberapa nama-nama pemain yang laris manis terjual setelah Piala Dunia.

El Hadji Diouf, Salif Diao, Kleberson dan Ronaldo (2002)

Di Piala Dunia 2002, kita tahu Senegal menjadi kejutan setelah mampu melaju jauh hingga perempat final dan mampu mengandaskan juara bertahan Prancis di babak grup. Seketika banyak pemain Senegal yang menjadi rebutan pasar transfer ketika itu.

Ada nama El Hadji Diouf dan Salif Diao. Dua pilar Senegal yang mampu mencuri perhatian Liverpool. El Hadji Diouf ketika itu dibeli dari Lens untuk mengisi pos striker The Reds.

Namun Diouf tak dapat memenuhi ekspektasi publik Anfield. Kiprahnya di Anfield sebagian besar dirusak oleh beberapa insiden kontroversial, seperti saat tertangkap kamera meludahi penggemar Celtic di pertandingan Eropa.

Diouf hanya mencetak tiga gol di musim perdananya bersama The Reds. Musim berikutnya Diouf bahkan tidak mencetak gol sama sekali. Dia pun akhirnya dijual ke Bolton Wanderers pada Agustus 2004.

Sama juga nasibnya dengan Salif Diao. Seorang gelandang bertahan yang tiba di Anfield bareng Diouf. Ia didatangkan dari klub Prancis, Sedan. Karena kalah saing di lini tengah Liverpool, oleh Gerard Houllier ia sering dimainkan di luar posisinya.

Hasilnya ia kerap bermain kasar dan tak maksimal. Di musim berikutnya, ketika Rafael Benitez datang menggantikan Houllier, Diao malah dipinjamkan ke banyak klub medioker seperti Birmingham, Portsmouth dan Stoke City.

Masih di Piala Dunia 2002. Para talenta sang juara Brazil pun tak luput dari incaran para klub besar. Terutama El Fenomeno Ronaldo Nazario dan Kleberson. Ronaldo tampil mengejutkan setelah di liga bersama Inter sering dibekap cedera dan turun performanya.

Namun dengan kegacorannya di Piala Dunia, ia akhirnya dibayar mahal oleh Real Madrid sebagai bagian dari proyek Los Galacticos. Hasilnya tokcer, ia menjadi top skor klub selama tiga musimnya secara beruntun. Namun dari segi prestasi, paling tinggi hanya gelar La Liga yang ia dapatkan.

Rekan satu timnya di Brazil, Kleberson berbeda nasib. Ia diincar Sir Alex Ferguson setelah tampil apik menjaga kedalaman lini tengah Tim Samba. Ia akhirnya direkrut Setan Merah dari Atletico Paranaense.

Namun, penampilannya di Old Trafford tak secemerlang di timnas Brasil. Ia sulit beradaptasi dengan atmosfer Liga Inggris. Serangkaian cedera juga mengganggunya. Dan itu membuatnya hanya tampil dalam 20 laga selama dua musim. Sebelum akhirnya ia memilih hengkang dan bergabung dengan Besiktas pada 2005.

Fabio Cannavaro (2006)

Melangkah ke Piala Dunia 2006. Ada fenomena gacornya palang pintu utama Timnas Italia, Fabio Cannavaro. Bek pendek ini mampu mengomandoi pertahanan Timnas Italia merengkuh gelar juara dunia.

Berkat sumbangsihnya tersebut, Cannavaro yang sudah berusia 32 tahun banyak diburu klub besar Eropa. Selain penampilannya, juga klubnya Juventus sedang mengalami hukuman akibat kasus Calciopoli. Madrid pun datang dengan penawaran besar. Seperti pola Madrid sebelumnya pada 2002 ketika memboyong Ronaldo Nazario.

Cannavaro pun akhirnya diangkut oleh Perez ke Bernabeu. Hasilnya, ia juga masih mampu menjadi komando lini pertahanan El Real. Dua gelar La Liga dengan lebih dari 100 caps baginya menjadi sebuah prestasi di usianya yang sudah tak muda lagi.

Asamoah Gyan, Ozil, dan Ramires (2010)

Di Afrika Selatan 2010 ada nama Asamoah Gyan. Striker Ghana yang meroket mengantarkan negaranya nyaris masuk semifinal. Beberapa bulan setelah Piala Dunia, ia langsung ditebus oleh salah satu klub Liga Inggris, Sunderland dari Rennes.

Namun ia hanya bertahan satu musim di Inggris. Gyan akhirnya memilih tawaran dari klub Uni Emirat Arab, Al Ain. Ia mengaku pindah ke Al Ain murni karena gajinya dua kali lipat lebih tinggi.

Kemudian ada gelandang eksplosif Jerman dari Werder Bremen, Mesut Ozil. Talenta Ozil di Piala Dunia 2010 seketika diburu oleh banyak klub besar. Ia yang masih berumur 21 tahun, di bawah bimbingan Loew mampu mengantarkan Jerman hingga babak semifinal.

Real madrid yang gemar membeli pemain yang gacor setelah Piala Dunia akhirnya mampu mengontrak Ozil. Mesut Ozil, oleh Real Madrid diharapkan menjadi pelapis Ricardo Kaka. Tetapi ia dengan cepat menjadi starter reguler di bawah Jose Mourinho.

Dia membuat lebih dari 150 penampilan untuk klub dan dijuluki sebagai raja assist karena kemampuannya untuk mengeksekusi umpan mematikan yang tak tertandingi.

Berikutnya ada Ramires. Gelandang kurus nan lincah dari Brazil. Meskipun gagal mengantarkan Brazil berprestasi lebih di 2010, ia tergolong salah satu rising star yang menyita perhatian.

Chelsea pun kepincut dan berani membayar mahal kepada Benfica. Ramires di Stamford Bridge bertahan hingga lima setengah tahun. Total selama berseragam The Blues ia mencatatkan 33 gol dalam 246 laga. Ia juga menjadi bagian dari beberapa gelar yang diperoleh Chelsea, seperti Liga Europa, Liga Champions, hingga Liga Inggris.

James Rodriguez dan Marcos Rojo (2014)

Lanjut ke Piala Dunia 2014. Tentu yang paling diingat adalah top skor dari Kolombia, James Rodriguez. Real Madrid kali ini kembali kepincut talenta gacor Piala Dunia. Mereka langsung gerak cepat menebus James dari AS Monaco.

Peraih sepatu emas Piala Dunia itu menghabiskan musim pertamanya dengan mencetak 13 gol dari 29 laga bersama Los Blancos.

Namun setelah itu, dia kerap dibekap cedera hingga performanya cenderung terus menurun. Madrid kemudian meminjamkannya ke Munchen lalu ke Everton. Dan sekarang karirnya justru berada di Olympiacos.

Selain James, ada nama bek Argentina Marcos Rojo. Membawa Argentina sampai ke final membuat penampilannya disorot berkat keahliannya mengawal lini belakang La Albiceleste. MU pun kepincut dengan talenta Rojo. Di bawah Van Gaal, MU rela menebusnya mahal dari Sporting CP.

Namun di MU, penampilannya tak seindah yang dibayangkan ketika di Argentina. Di bawah Van Gaal, ia tak mampu tampil baik. Selain tentu karena ia sering dibekap cedera. Namun di akhir karirnya bersama MU, Rojo justru mampu menjadi bagian dari skuad MU yang terakhir meraih mahkota juara, yakni Europa League bersama Mourinho pada musim 2016/17.

Golovin, Pavard (2018)

Di Piala Dunia 2018 setidaknya ada dua nama yakni Alexander Golovin striker dari tuan rumah Rusia dan Benjamin Pavard, bek kanan yang mampu mengantarkan Prancis kampiun.

Golovin yang mampu membawa Rusia ke perempat final Piala Dunia menjadi rebutan antara Chelsea dan AS Monaco ketika itu. Namun Monaco lah yang mendapatkannya dari klub Rusia, CSKA Moscow. Golovin sampai sekarang masih betah di AS Monaco. Ia bahkan hingga kini sudah mencatatkan 153 caps dengan torehan 20 gol dan 29 assist.

Lalu ada Benjamin Pavard, bek Stuttgart yang gacor ketika dipercaya Deschamps sebagai bek kanan Prancis. Alhasil ia ditebus mahal oleh raksasa Jerman, Bayern Munchen dengan durasi kontrak hingga 2024. Di Munchen karirnya stagnan. Bahkan di Piala Dunia 2022 ini jarang dipakai lagi oleh Deschamps sebagai starter.

Sumber Referensi : mirror, bola.net, bola.com, bleacherreport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru