Kylian Mbappe, Ber-ego Tinggi dan Jadi Biang Kerok Kegagalan Prancis di Euro 2020

  • Whatsapp
Kylian Mbappe, Ber-ego Tinggi dan Jadi Biang Kerok Kegagalan Prancis di Euro 2020
Kylian Mbappe, Ber-ego Tinggi dan Jadi Biang Kerok Kegagalan Prancis di Euro 2020

Di usianya yang baru 22 tahun, Kylian Mbappe sudah merasakan momen berat hanya dalam satu pertandingan. Bersama Prancis di Euro 2020, Mbappe sudah bukan lagi seorang bocah berbakat seperti saat tampil di Piala Dunia 2018. Di Piala Eropa tahun ini, Mbappe adalah bintang utama dan pemain andalan Les Bleus.

Sukses membawa Prancis lolos dari Grup F yang merupakan grup neraka, Prancis yang finish sebagai juara grup hanya berjumpa dengan peringkat 3 dari Grup A, Swiss. Namun perjumpaan dengan Swiss bukan jadi hari yang baik untuk Mbappe. Alih-alih jadi pembuktian kualitasnya yang melempem selama babak grup, Mbappe malah merasakan nasib malang.

Bacaan Lainnya

Gagal Eksekusi Penalti, Mbappe Jadi Biang Kerok Kegagalan Prancis di Euro 2020

Bermain sejak menit awal hingga 2 kali babak perpanjangan waktu, Kylian Mbappe yang diduetkan dengan Karim Benzema dalam formasi 3-4-1-2 masih gagal mencetak gol pertamanya di Piala Eropa. Sepanjang 120 menit, bomber PSG itu melesatkan 6 tembakan. Sayang, 5 diantaranya off target dan 1 tembakan berhasil diblok.

Mbappe memang berhasil membuat asis penting untuk gol pertama Benzema. Namun, asis keduanya di Piala Eropa tersebut tertutup dengan 1 peluang emas yang gagal ia eksekusi menjadi gol. Di babak kedua perpanjangan waktu, Mbappe mendapat peluang one-on-one dengan Yann Sommer. Entah apa yang ia pikirkan, sepakan kaki kirinya justru melenceng dari gawang Swiss.

Kemalangan Mbappe tak sampai di situ saja. Di babak adu penalti, ia mengajukan diri sebagai penendang kelima Prancis. Sebuah keputusan yang berani dari bocah 22 tahun itu. Pada akhirnya, ego tinggi Kylian Mbappe berujung fatal! Sepakannya berhasil ditepis dengan sempurna oleh Yann Sommer.

Yang terjadi kemudian, Prancis kalah dan gugur dari Euro 2020. Sementara Kylian Mbappe tertunduk lesu ketika berjalan menuju ruang ganti. Di momen itu, takada satupun rekannya yang mendekatinya atau memeluknya. Hanya Didier Deschamps seorang yang menghampirinya sebentar sebelum Mbappe kembali berjalan lesu meninggalkan lapangan.

Sungguh momen yang menyakitkan bagi pemain muda yang dicap sebagai calon penerus rivalitas Ronaldo dan Messi di kancah dunia. Mbappe yang sebelumnya dielu-elukan langsung berganti status usai kegagalannya mengeksekusi penalti. Ia jadi pesakitan dan jadi sosok yang disalahkan alias biang kerok kegagalan Les Bleus di laga tersebut. Meski begitu, pelatih Prancis Didier Deschamps tetap membela anak asuhnya itu.

“Mbappe sangat sedih, seperti semua pemain. Tapi, tidak ada yang bisa marah kepadanya karena dia mengambil tanggung jawab untuk mengambil penalti kelima,” kata Deschamps dikutip dari Goal.

Senada dengan pernyataan pelatihnya, kapten timnas Prancis, Hugo Lloris tak ingin menyalahkan siapapun. Baginya, kemenangan adalah milik bersama, begitu juga dengan kekalahan.

“Dalam sepak bola, kami menang bersama dan kami kalah bersama. Kami semua bertanggung jawab atas eliminasi ini. Ini menyakitkan dan tidak ada yang bisa disalahkan. Kami semua berjuang bersama melawan lawan dan tidak ada alasan untuk dicari. Dan kami harus menyoroti tim Swiss, mereka hebat,” kata Lloris dikutip dari Goal

Isu Keretakan Mbappe dan Giroud Sebelum Euro 2020

Nama Kylian Mbappe memang sudah jadi komoditi panas dalam pemberitaan media sebelum Euro 2020 resmi bergulir. Bukan soal dirinya yang bakal jadi bintang utama timnas Prancis, melainkan isu keretakan hubungannya dengan striker Olivier Giroud.

Semua itu dimulai di laga uji coba antara Prancis melawan Bulgaria tepat sebelum Euro berlangsung. Di pertandingan yang berakhir 3-0 itu, Giroud berhasil mencetak 2 gol usai masuk sebagai pemain pengganti.

Namun, dalam wawancaranya usai pertandingan, Giroud mengaku bahwa ia tak senang dan merasa kurang mendapat suplai bola dari Mbappe. Mbappe yang merasa tak terima dengan komentar itu lantas membalasnya dalam sebuah sesi wawancara.

“Berargumen seperti itu di publik, Saya lebih suka membiarkan dia datang dan menjadi lebih vokal di ruang ganti. Itu terjadi pada saya. Kami sudah saling mengenal. Anda tahu seperti apa saya di ruang ganti. Jika saya memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada seseorang, saya mengatakannya,” demikian respons Mbappe atas komentar Giroud dikutip dari SkySports.

Komentar balasan dari Mbappe tersebut ternyata berbuntut panjang. Respon itu menyulut kekesalan para pemain senior dalam skuad Prancis di Euro 2020. Yang jelas, sikap Mbappe tersebut dianggap arogan dan tidak menghormati para seniornya.

Imbas dari ketegangan keduanya sebetulnya sudah terlihat saat Prancis berhasil mencetak gol. Bila Giroud yang mencetak gol, Mbappe tak pernah terlihat ikut berselebrasi dengan yang lainnya. Selama perjalanan mereka di Euro 2020, Mbappe juga lebih banyak diduetkan dengan Karim Benzema.

Mbappe Juga Terlibat Friksi dengan Griezmann

Hubungan tidak harmonis tak hanya tercipta antara Mbappe dan Giroud. Usai kandas dari Swiss, borok dalam skuad timnas Prancis seolah terbongkar. Kylian Mbappe dikabarkan terlibat friksi dengan Antoine Griezmann. Ia disebut cemburu dengan peran dan kepercayaan yang Griezmann terima dari pelatih Didier Deschamps.

Kabar tersebut dilaporkan L’Equipe. Mereka mengatakan bahwa antara Griezmann dan Mbappe berjalan buruk nan rumit dan akar masalah tersebut dimulai pasca 2018. Kabarnya, Mbappe adalah orang yang meminta Deschamps untuk memanggil kembali Karim Benzema ke dalam skuad Prancis. Jika benar, maka hal itulah yang membuatnya tak perlu berduet dengan Giroud.

Namun, Griezmann disebut tak senang dengan pemanggilan Benzema. Pasalnya, kedatangan Benzema membuat posisi dan perannya di lini depan tergeser. Meski begitu, menurut laporan L’Equipe sikap Griezmann jauh lebih baik dari Mbappe yang egois dan lebih mementingkan situasi pribadinya.

Realitasnya memang demikian. Mbappe merasa cemburu kepada Griezmann yang bebas mengambil tendangan bebas dalam timnas Prancis. Ia disebut meminta jatah eksekutor tendangan bebas kepada Deschamps. Padahal, Mbappe belum pernah sekalipun mencetak gol atau asis dari situasi tendangan bebas.

Pada akhirnya, saat laga melawan Swiss, jatah eksekutor tendangan bebas sempat jatuh ke kaki Mbappe. Tak hanya itu, Griezmann juga dikabarkan menyerahkan jatah eksekutor penalti kepada Karim Benzema. Mbappe gagal mencetak gol dari tendangan bebas dan eksekusi penalti, sementara Benzema yang diberi jatah Griezmann sukses melaksanakan tugasnya.

Sikap yang ditunjukkan Griezmann saat membela Les Bleus memang jauh lebih baik dari Mbappe. Selama ini, Antoine Griezmann memang sudah jadi ikon timnas Prancis. Ia juga dicintai pendukung Les Bleus. Griezmann sudah banyak berkorban dan menyumbang jasa. Ia adalah top skor Euro 2016 dan sejak era Didier Deschamps, Griezmann kerap dimainkan di berbagai posisi di lini depan. Meski begitu, Griezmann tak pernah mengeluh berlebihan dan selalu menunjukkan performa gemilang.

Hal itu kontras dengan Mbappe yang dilaporkan selalu ingin dimanja dan sejak menjadi kampiun Piala Dunia 2018, ego Kylian Mbappe makin membesar hingga membuatnya tak bisa diatur. Mantan winger PSG dan Prancis Jerome Rothen adalah sosok yang mengungkap hal tersebut.

“Egonya meluas ke luar lapangan, itu mengganggu saya. Saya pikir Didier Deschamps tidak bisa lagi mengaturnya dan itu bermasalah. Bahkan mengejutkan bahwa dia membiarkan Kylian Mbappe melakukan begitu banyak hal di lapangan,” kata Rothen kepada RMC Sport.

Ego Mbappe Merugikan Banyak Pihak

Semua isu dan tudingan kepada Mbappe itu bermuara kepada satu kesimpulan: Mbappe ingin jadi yang paling bersinar di timnas Prancis. Bila benar, sungguh sikap arogan yang keluar dari mulut bocah 22 tahun yang bahkan belum pernah masuk nominasi 3 besar Ballon d’Or. Maka menjadi wajar pula bila tak ada satupun rekannya yang menghampiri Mbappe usai gagal menjalankan eksekusi.

Rasanya, ego tinggi Mbappe memang benar adanya. Sebab, masalah tersebut juga telah merembet ke publik. Saat dipastikan gugur dari Swiss, di tribun penonton, ibu Adrien Rabiot tertangkap kamera terlibat cekcok dengan keluarga Paul Pogba dan Kylian Mbappe. Ia bahkan meminta ibu Mbappe untuk: “Mendidik ulang putranya dan membuatnya tidak terlalu sombong.”

Sungguh malang nasib Kylian Mbappe. Ia adalah contoh nyata dari pepatah ‘From Hero to Zero’. Bukannya menjadi bintang yang paling terang di timnas Prancis seperti yang ia inginkan, Mbappe justru jadi biang kerok kegagalan dan perpecahan negaranya di Euro 2020.

Permasalahan itu tak hanya mempengaruhi keharmonisannya dengan timnas Prancis, tapi juga merembet ke klubnya, PSG. Hingga kini, belum ada kejelasan perihal perpanjangan kontraknya yang akan berakhir Juni 2022.

Entah apa yang membuat Kylian Mbappe besar kepala. Yang jelas, sikapnya itu justru merugikan timnya dan imbasnya, namanya menjadi tercoreng. Maka benar bila Mbappe masihlah bocah kemarin sore. Jika ia ingin memenangi gelar prestisius lagi dan menjadi bintang dunia laiknya Cristiano Ronaldo yang ia idolakan, maka Mbappe mesti mengubah sikap dan egonya.

***

Sumber Referensi: The Guardian, Kompas, CNN, Goal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *