Koar-koar Treble, Tuchel Malah Bikin Bayern Munchen Jadi Tim Bapuk!

spot_img

Manchester City ambil langkah besar di pertandingan Liga Champions malam tadi. Pasukan Pep Guardiola berhasil melucuti Bayern Munchen dengan skor telak 3-0 di leg pertama babak perempat final mereka. Rodri, Bernardo Silva, dan Erling Haaland jadi aktor utama. Mereka menyumbang gol untuk sang juara bertahan Premier League untuk mendominasi raksasa Jerman.

Butuh waktu setengah jam bagi City untuk bisa memecah kebuntuan. Di menit ke-27 Rodri melepaskan tembakan spektakuler dari luar kotak penalti yang tidak mampu dihalau Yann Sommer. Itu bisa jadi gol tercantik di Champions League musim ini.

Masuk ke babak kedua tim tamu mulai memperbaiki pola permainan mereka. Namun harapan die bayern untuk comeback masih bisa digagalkan barisan pertahanan kokoh the citizen. Manchester biru bahkan bisa menambah keunggulan di menit ke-70. Umpan manis dari Erling Haaland disambut dengan sundulan ciamik dari Bernardo Silva.

Enam menit kemudian giliran Haaland yang cetak gol. City pun tuntaskan malam tersebut dengan pesta 3 gol tanpa balas. Ini membuat Pep Guardiola punya bekal yang lebih dari cukup untuk leg kedua nanti. City sudah setengah langkah untuk bisa sampai ke semifinal Liga Champions.

Kesalahan Besar Bayern

Di tribun bangku penonton tim tamu, fans Bayern membentangkan banner bertuliskan “Glazer, Sheikh Mansour, semua Autokrat keluar! Sepak bola milik rakyat” Ini menyindir dua klub Manchester yang dimiliki oleh pengusaha yang punya kontrol penuh atas klub.

Bayern dan klub Jerman lainnya memang punya budaya dimana klub dimiliki oleh fans dengan kebijakan 50% plus 1 nya. Tapi setidaknya pemilik Manchester City tidak melakukan keputusan gegabah dengan memecat pelatih hebat mereka.

Sebelum pertandingan ini, Bayern Munchen punya rekor luar biasa di Liga Champions musim ini. Julian Nagelsmann telah membawa timnya meraih kemenangan di masing-masing delapan pertandingan mereka. Termasuk dengan perkasa mengalahkan Barcelona, Inter Milan, dan PSG baik di kandang maupun tandang.

Yang lebih hebatnya lagi, enam kemenangan itu mereka raih dengan clean sheet. Ini menggambarkan bagaimana mendominasinya Bayern Munchen di Liga Champions musim ini bersama Nagelsmann. Kemudian the bavarians memecatnya dan menggantinya dengan Tuchel.

Tidak hanya Tuchel memberikan kekalahan pertama Bayern di Champions League. Tapi ia juga membuat die roten kebobolan tiga kali hanya dalam satu laga.

Kesalahan Besar Tuchel

Tapi kesalahan yang mencolok dari Tuchel di laga itu adalah pemilihan skuad. Di hari sebelumnya, Tuchel sudah mengungkapkan strategi untuk menghadapi City adalah menyerang dengan kecepatan. Ia pun mencadangkan Thomas Muller yang punya kekurangan dalam aspek kecepatan.

Satu satu penyerang tengah andalan mereka, Eric Maxim Choupo-Moting juga tidak dimainkan. Begitu juga dengan Sadio Mane tak punya tempat di line up utama. Tuchel memasang trio Serge Gnabry, Leroy Sane dan Kingsley Coman di depan. Dengan Jamal Musiala diberi peran pengatur serangan sebagai gelandang serang.

Strategi Tuchel memang bisa dimengerti. Tuchel ingin melakukan high pressing dengan empat sampai lima pemain sekaligus dan mengganggu build up Manchester City. Tapi nyatanya mereka jarang berhasil.

Absennya Thomas Muller yang merupakan pemimpin di lapangan dan sumber kreatifitas serangan Bayern justru membuat die roten tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyerang. Meskipun punya kesempatan menyerang, tidak ada yang bisa melakukan finishing mematikan.

Choupo-Moting adalah jawaban dan solusi atas ketumpulan Bayern setelah ditinggal Lewandowski musim ini. Dengan absennya Choupo-Moting di laga ini, semua serangan Bayern berakhir tanpa tujuan. Hanya Sane yang bisa membuat ancaman nyata. Tapi Pep sudah mengantisipasi hal itu.

City sudah waspada akan serangan yang datang dari sayap. Mereka mampu melakukan empat blok di luar kotak penalti dan menghalangi Bayern untuk melakukan tembakan diagonal. Juga, Pep sudah terbiasa menghadapi high pressing dari lawan.

Itu membuat City bisa leluasa untuk mendominasi laga. Ditambah barisan pertahanan Bayern yang lemah. Benjamin Pavard dan Dayot Upamecano sering gelisah dalam penguasaan bola. Alhasil, City bahkan tidak perlu melakukan high pressing untuk membuat lini belakang Bayern melakukan umpan-umpan canggung.

Koar-koar Treble

Uniknya, Tuchel merasa puas dengan performa timnya di laga itu. Meskipun jelas-jelas hasil yang didapat adalah hasil memalukan. Dikutip dari the athletic, ia mengaku kalau dirinya senang dengan cara bermain anak asuhnya.

“Saya suka dengan cara kami bermain, saya senang dengan 70 menit awal pertandingan. Kami dapat hukuman dari tendangan luar biasa Rodri. Tapi kami bermain dengan cukup baik di babak pertama dan bahkan lebih baik di babak kedua.”

Tuchel juga mengatakan kalau timnya punya potensi besar untuk menang. Ia berpendapat kalau saja timnya bisa mencetak gol, maka mereka akan punya momentum untuk membalikan keadaan.

“Jika saja kami mencetak gol yang berhak kami dapatkan, momentum yang kami dapat bisa merubah keadaan. Tapi saya senang dengan performa kami. Ini memang terdengar bodoh karena kami kalah 3-0”

Tuchel punya hak untuk menafsirkan hasil pertandingan semaunya. Tapi hasil memalukan ini tentu jadi tamparan keras ke wajah Tuchel. Bayern Munchen merekrutnya dengan harapan ia akan membawa Bayern ke kejayaan treble winner. Tapi mereka malah sudah tereliminasi dari DFB Pokal setelah kalah lawan Freiburg pekan lalu.

Tuchel butuh keajaiban untuk bisa melaju ke semifinal dan juara Liga Champions. Kini, target realistis Bayern adalah juara Bundesliga. Tuchel boleh senang dengan bagaimana timnya bermain. Tapi kita tahu, disaat Bayern hanya bisa menargetkan Bundesliga disitulah nasib seorang pelatih mulai dipertanyakan.

Setengah Langkah City ke Semifinal

Di sisi lain, City sudah menempatkan satu kakinya di semifinal Liga Champions musim ini. Ini adalah kemenangan terbesar City di leg pertama perempat final Champions di bawah asuhan Guardiola. Pep juga memperpanjang rekor tak terkalahkan di kandang dalam pertandingan Champions league. Dari 25 laga tak terkalahkan itu, City hanya imbang dua kali.

Kemenangan ini juga misi balas dendam yang sukses bagi Pep ke Tuchel. Sebelumnya, Pep dan Tuchel sudah dua kali bertemu di kompetisi sistem gugur. Dan disitu Pep tidak pernah menang. Pertama di semifinal FA Cup 2021 kemudian di final Liga Champions di tahun yang sama.

Kini Pep telah membalaskan dendamnya. Ia memberikan kekalahan terbesar Tuchel sejauh ini. Sudah dipastikan Pep pulang dengan senyum lebar di wajahnya.

Keunggulan tiga gol seharusnya sudah jadi bekal yang cukup bagi Pep bertandang ke Allianz Arena. Kecuali ada bencana tak terduga dan Tuchel bisa dapat keajaiban City bisa dipastikan melenggang mudah ke babak semifinal. Tapi ini bukan berarti City jadi tidak hati-hati. Bagaimanapun semua hal bisa terjadi dalam sepak bola.

Sumber referensi: Bavarian, Athletic, Mirror, Mirror 2

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru