Kisah Paris FC Yang Terus Berada Dibawah Bayang PSG

  • Whatsapp
Kisah Paris FC Yang Terus Berada Dibawah Bayang PSG
Kisah Paris FC Yang Terus Berada Dibawah Bayang PSG

Kita semua tahu kalau Paris merupakan salah satu kota terindah di dunia. Kota tersebut kerap menjadi destinasi wisata favorit bagi kebanyakan orang di dunia. Selain terdapat sejumlah tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, disana juga terdapat sebuah klub sepakbola bernama Paris Saint Germain.

Belum lama ini, Paris Saint Germain baru saja merayakan ulang tahunnya ke 50 tahun. Seperti diketahui, Paris Saint Germain terbentuk pada 12 Agustus 1970. Klub tersebut dibentuk setelah mergernya dua klub Liga Prancis, Paris FC dan Stade Saint-Germain.

Penggabungan Paris FC dan Stade Saint-Germain yang diinisiasi pengusaha Guy Crescent, Pierre-Etienne Guyot dan Henri Patrelle dilatar belakangi satu ambisi, yakni menembus kasta tertinggi Liga Prancis.

Namun kemudian masalah finansial pada tahun 1972 membuat perpecahan di dalam klub. Paris FC kembali menjadi klub terpisah dengan PSG dan tetap berada di divisi Ligue One, sedangkan PSG terjerembab ke divisi ketiga.

Ya, selain Paris Saint Germain, seperti yang sudah dijelaskan, Paris juga memiliki klub lainnya dalam diri Paris FC. Meski belum mempersembahkan prestasi terbaik sejak berdirinya klub pada 1969, nama Paris FC menjadi yang paling diakui oleh kebanyakan warga ibukota.

Paris FC lahir saat kalender menunjukkan tanggal 1 Agustus. Kelahiran Paris FC diperingati sebagai usaha untuk membangkitkan kembali sepak bola profesional di kota Paris dan melihat klub asli Paris berlaga di Ligue One. Pasalnya, saat itu klub yang mendominasi Ligue One tidak ada yang berasal dari Paris. Klub asal Paris memiliki kualitas yang sangat jauh jika dibandingkan dengan Saint-Etienne, Nantes, dan Marseille.

Dalam usahanya untuk segera mencapai kasta tertinggi Liga Prancis, Paris FC berusaha untuk mencari klub yang cocok dan mau diajak merger.

Mereka sempat mendekati CS Sedan Ardennes, namun apa mau dikata Sedan yang saat itu berada di kasta tertinggi Liga Prancis menolak mentah-mentah tawaran merger dari Paris FC, hingga pada akhirnya mereka melakukan merger dengan klub yang saat ini dikenal sebagai Paris Saint Germain.

Namun begitu, tidak mudah bagi mereka untuk bekerja sama. Seperti yang sudah disinggung di awal, mereka pun berpisah dengan malah membuat performa Paris FC perlahan menyusut.

Dalam hal ini, Paris FC menjadi tim yang lebih sering mengalami kesulitan finansial. Hanya dua musim setelah berpisah dengan PSG dan berlaga di Parc des Princes, Paris FC terdegradasi ke divisi kedua, sedangkan PSG justru promosi ke Ligue One.

Sejak saat itu, dukungan penuh langsung ditujukan kepada PSG. Warga Paris berbondong-bondong membela Paris Saint Germain karena tergolong lebih konsisten dibandingkan Paris FC. Pamor PSG benar-benar berkembang pesat dan mulai menutup reputasi Paris FC sebagai klub asal ibukota.

Paris FC perlahan lenyap dengan rataan penonton yang hadir ke stadion hanya berkisar 10.000 hingga 11.000. Padahal semusim sebelumnya Paris FC memiliki rataan penonton sebanyak 13.000 orang.

Sebetulnya, pada musim 1978/79, Paris FC sempat promosi ke kompetisi tertinggi Prancis. Namun hanya semusim bertahan, mereka kembali turun ke kasta bawah. Hal tersebut menjadi titik awal dimana Paris FC jauh semakin terpuruk dan terus mengalami masalah finansial. Menyusul permasalahan yang tak kunjung usai, pada tahun 1982, Paris FC kembali mencari klub untuk diajak kerjasama. Berkat dukungan dari seorang bernama Jean-Luc Lagardère yang merupakan pebisnis asal Prancis, Paris FC berhasil melakukan merger dengan Racing Club de France.

Nahas, di masa itu, Paris FC masih terus mengalami ketidakkonsistenan. Mereka tak kunjung mendapat performa stabil hingga berulang kali terjerembab ke kasta bawah. Setelah sempat bermain di kompetisi kelas empat Prancis, pada musim 2006/07, Paris FC mampu bangkit dan tampil di kompetisi Ligue Two.

Namun lagi-lagi masalah finansial masih terus menghantui Paris FC. Mereka terus kesulitan mengumpulkan pemain dan bahkan terbelit hutang. Lalu setelah mencari solusi terbaik, tepat pada musim 2014/15, Paris FC diakuisisi oleh dua konglomerat, Garbacchio Saldanha selaku pemilik dari Mumbai FC, India, sekaligus konglomerat dari Rusia dan Sulaiman Al-Fahim yang juga pemilik dari Manchester City serta Portsmouth.

Targetnya pun jelas, yaitu naik ke kasta tertinggi dan menjadi pesaing serius Paris Saint Germain.

Kendati demikian, sekali lagi, bukan hal mudah bagi mereka untuk menemukan performa terbaik. Pada musim 2016/17, Paris FC bahkan harus kembali berkompetisi di divisi ketiga meski hanya berselang semusim setelahnya, mereka mampu naik satu tingkat diatasnya.

Pada musim 2017/18 ketika tampil di divisi kedua, mereka mampu menduduki posisi ke delapan klasemen akhir. Semusim berselang, Paris FC sempat berkesempatan untuk meraih promosi ke Ligue One. Akan tetapi harapan tersebut harus pupus usai mereka dikandaskan oleh RC Lens dalam laga play-off.

Berstatus sebagai tim yang nyaris kembali ke kompetisi tertinggi, pada musim lalu, Paris FC malah kembali hadapi masalah. Prestasi mereka merosot dimana pada akhir musim 2019/20, Paris FC hanya mampu menempati posisi ke 17 klasemen akhir.

Lebih parahnya lagi, mereka tercatat sebagai tim dengan jumlah rataan penonton terendah di kompetisi. Diketahui, Paris FC hanya didukung oleh sekitar 2300 orang saja pada setiap pertandingannya.

Namun kini, angin segar seolah datang menghampiri mereka. Dilaporkan, saham mereka sebesar 20 persen baru saja dibeli oleh Kerajaan Bahrain lewat inisiasi yang dilakukan oleh Pangeran Nasser bin Hamed Al-Khalifa.

Pembelian saham senilai 5 juta euro atau setara 86,5 miliar rupiah itu membuat banyak pihak memandang jika Paris FC tak akan kesusahan untuk bisa kembali bangkit dan berlaga di kompetisi Ligue One. Gelontoran dana tak terbatas dari Timur Tengah tersebut diharapkan dapat membuat Paris FC bisa bersaing dengan PSG, untuk memperebutkan Parc des Princess dan kembali menjadi klub kebanggaan Parisian.

 

 

Sumber referensi: medium, teleoftwohalves, nytimes

Pos terkait