Italia tengah menuju ke sebuah era dimana semua bisa menikmati tawa. Mereka masih membangun kembali sebuah perkumpulan bakat luar biasa di atas lapangan. Setelah sekian lama tidak menunjukkan taji di panggung dunia, dan bahkan sempat terdepak dari ajang bergengsi empat tahunan, Italia kini terlihat lebih istimewa.
Banyak sekali bakat-bakat luar biasa yang kembali mengisi daftar pemain paling diinginkan. Yang menarik perhatian, Italia fokus kepada pengembangan bakat-bakat muda. Mereka mulai meninggalkan cara lama yang mana banyak menempatkan pemain-pemain berpengalaman.
Dengan diterapkannya sistem pengembangan pemain muda, Italia, melalui kompetisi Serie A, sudah banyak menelurkan pemain-pemain berbakat. Satu diantara yang cukup menyilaukan mata adalah Nicolo Zaniolo.
Zaniolo sudah mencuri perhatian sejak didatangkan Roma dari Inter Milan. Dia berkembang begitu pesat dan bahkan mulai diperbincangkan oleh klub-klub besar Eropa. Saking hebatnya bakat yang dimiliki sang pemuda, pelatih legendaris, Fabio Capello, sampai melemparkan pujian luar biasa.
Eks pelatih AC Milan itu menganggap kalau Nicolo Zaniolo bakal menjadi penantang serius penghargaan Ballon D’or.
“Talenta Roma ini [Zaniolo] punya fisik, power dan kecepatan yang luar biasa, itu perpaduan yang berkualitas. Dia punya potensi tidak hanya memenangkan Sepatu Emas di masa depan, namun lebih dari itu,”
“Aku jatuh cinta dengan Zaniolo, karena dia punya segalanya di level tertinggi: power, kualitas dan kecepatan. Ada banyak pemain di luar sana yang punya banyak potensi, namun tidak sepertinya,”
“Aku tidak melihat pemain muda lain yang sebagus Zaniolo untuk saat ini, jadi ya, aku pikir dia punya potensi untuk menjadi pemenang Ballon d’Or.” (via goal)
Zaniolo memang menjadi setitik sinar diantaranya gelapnya kota Roma. Dia menjadi satu harapan yang begitu dinantikan oleh para pemuja Serigala. Zaniolo telah menempatkan dirinya dalam sebuah era dimana pemain akan bertahan lama di ibukota.
Nicolo Zaniolo merupakan pemuda yang lahir pada tahun 1999. Dia lahir dari keluarga pesepakbola, dimana sang ayah menjadi penyalur bakat yang dimilikinya. Hidup dan tumbuh di keluarga yang mencintai sepak bola, wajar bila bakat Zaniolo sudah tampak ketika ia masih belia.
Di usianya yang baru menginjak 9 tahun, Zaniolo sudah bergabung dengan akademi Genoa. Tempat itu adalah yang pertama baginya untuk arungi dunia yang lebih berbahaya. Dua tahun bertahan di Genoa, dia lalu pindah ke Fiorentina untuk kemudian menimba ilmu di salah satu klub terbaik Serie A, Inter Milan.
Namun sebelum bergabung dengan Inter Milan, Zaniolo lebih dulu menetap di Virtus Entella selama semusim lamanya.
Bergabung dengan Inter seharusnya memberi Zaniolo banyak pengalaman berarti. Namun sayang, semua yang menjadi mimpi malah tak benar-benar bisa diraih. Dia menjadi salah satu pemain muda yang tidak cukup mendapat kesempatan disana, hingga nasibnya berakhir dengan sebuah pintu keluar.
Tidak mendapat sekalipun jatah bermain di Inter, Zaniolo merapat ke Roma sebagai bagian dari transfer Nainggolan. Baru mendarat di ibukota, tak butuh waktu lama bagi Zaniolo untuk belajar mencari mangsa.
Serigala muda bertinggi 190 cm langsung memperlihatkan bagaimana ia mendapat buruan di masa yang begitu krusial.
Tepat pada 27 Desember 2018, sebuah gol tercipta di laga antara AS Roma melawan Sassuolo. Seorang pemuda menggiring bola, memperdaya dua pemain bertahan, lalu memaksa salah satunya duduk di lapangan bersama kiper.
Mengetahui situasi telah jadi miliknya, dia lalu dengan tenang mencungkil bola melewati dua pemain lawan yang terduduk di muka gawang.
Pencetak gol spektakuler itu, tak lain dan tak bukan adalah Nicolo Zaniolo.
Gol tersebut pun seolah menjadi penanda dari sebuah kegemilangannya di kota Roma. Bayangkan saja, Zaniolo yang kala itu baru berusia 19 tahun dan baru bergabung dengan Roma di musim panas, langsung mampu merebut hati Eusebio Di Francesco
Tentu tidak ada yang menyangka Zaniolo bakal mendapat kesempatan sesering ini. Kedatangannya ke Stadion Olimpico sempat mengundang kernyit dahi para penggemar, bahkan beberapa mempertanyakan kebijakan direktur olahraga Monchi.
Namun jika menengok pada situasi saat ini, para penggemar pantas bernafas lega. Meski pemain mudanya itu sempat mengalami cedera, performa gemilang tetap berhasil ditunjukkan.
Perkembangan Zaniolo di skuad Roma memang terus mengalami peningkatan. Meski tak mendapat tempat di Inter, Di Francesco dengan yakin menunjuknya sebagai playmaker dari skemanya. Gaya bermain dengan dribel-dribel lincah pun kerap tersaji dan cukup menghibur ketika melihat youngster Italia itu membuka ruang pertahanan lawan.
Satu hal yang paling menonjol adalah ketika dia melakukan tusukan ke garis pertahanan lawan. Dirinya akan dengan sangat berbahaya mengancam lawan saat sudah membawa bola dan mulai menelusuri lapangan.
Musim 2018/19, Zaniolo bermain dalam 36 pertandingan dan sukses mencetak sebanyak enam gol. Catatan itu jelas menjadi sebuah kebanggaan. Dia termasuk ke dalam pemain muda yang tampil dalam banyak pertandingan di kompetisi Serie A. Maka wajar bila di musim 2019/20, nama Zaniolo masih terus digunakan sebagai andalan.
Selain catatan luar biasanya di kompetisi Eropa, Zaniolo juga mampu tunjukkan taji di kompetisi paling disegani.
Pada musim 2018/19, Zaniolo berhasil menjalani debut bersama Roma di Liga Champions saat kalah 0-3 di Santiago Bernabeu pada musim itu. Pada musim yang sama, Zaniolo mencuri perhatian dunia saat mencetak dua gol saat melawan Porto di babak 16 besar Liga Champions.
Gol-gol Zaniolo kontra Porto membuatnya sebagai pemain Italia termuda yang mencetak dua gol dalam satu laga di Liga Champions.
Dengan performa yang terus menanjak, Zaniolo lantas mendapat panggilan timnas senior Italia. Laga debut Zaniolo terjadi pada ajang Kualifikasi Euro 2020 yang mempertemukan Italia Vs Finlandia.
Kini, di usianya yang menginjak 21 tahun, Zaniolo sudah menjadi rebutan banyak klub besar Eropa. Menurut laman transfermarkt, Zaniolo kini memiliki nilai sebesar 45 juta euro atau setara 778 miliar rupiah.
Dengan talenta luar biasa, banyak penggemar yang berharap dengan kesetiaan Zaniolo di kota Roma. Mereka yang berdiri di pinggir lapangan ingin terus menyaksikan mahkota sang pemain terpahat di ibukota.
Harapan para penggemar Roma pun tampak bakal temui harapan. Pasalnya, Zaniolo yang memang digadang-gadang menjadi penerus il capitano, menyatakan bahwa dirinya ingin bertahan di ibukota dan menjadi legenda di Roma.
“Bagi ku, Totti adalah idola Roma, simbol kota. Pemain sepertinya dan juga de Rossi sulit ditandingi. Aku tentu ingin menjadi legenda di Roma, meskipun saat ini mungkin tidak ada yang berpikir demikian,”
“Jadi mari kita lihat apa yang akan terjadi di masa mendatang, tapi intensitas ku adalah untuk tetap berada di Roma dalam jangka waktu yang lama. Aku sangat mencintai klub ini,” ucap Zaniolo (via romapress.net)


