Bintang Juventus, Cristiano Ronaldo, lagi-lagi masih menjadi topik utama ketika banyak penggemar sepak bola diluar sana yang memperdebatkan siapa pemain terbaik dunia saat ini.
Dengan kegemilangan dan prestasi yang berhasil ia raih diatas lapangan, Ronaldo banyak tuai pujian. Dan yang terpenting, ia telah mematri nama besarnya di dalam buku sejarah persepakbolaan dunia.
Selain menjadi yang terhebat diatas lapangan, Ronaldo juga merupakan pemain berhati malaikat. Sudah banyak sekali kegiatan-kegiatan amal besar yang ia ikuti. Bahkan setiap ada bencana yang terjadi di berbagai belahan bumi, Ronaldo akan dengan sigap memberikan bantuan berupa materi maupun barang-barang yang dibutuhkan.
Selain bermanfaat untuk kebanyakan orang diseluruh dunia, Ronaldo juga rela bekerja keras sejak usianya masih 11 tahun untuk menyelamatkan kakaknya, Hugo Aveiro, yang kecanduan narkoba.
Saat masih kecil dulu, Hugo merupakan pemain street soccer yang sangat terkenal. Ia dikenal sebagai predator handal yang menggunakan kaki kirinya sebagai senjata mematikan.
Sayangnya, bakat Hugo tenggelam karena lingkungan sekitarnya, terutama karena ayahnya, Dinis Aveiro, yang gemar mabuk-mabukan dan kecanduan narkoba.
Hal tersebut memang kerap dilakukan oleh orang-orang di tempat Ronaldo dulu tinggal. Pasalnya, lingkungan tersebut memang tergolong kawasan miskin. Jadi dengan dalih menghilangkan stres, mereka kerap menghabiskan waktu dengan minuman beralkohol.
Selain hobi mabuk-mabukan, Hugo juga sering mencuri dan menjual barang-barang di rumahnya untuk membeli narkoba. Keseharian Hugo pun hanya bermain sepak bola, mabuk, menghisap narkoba, dan tidur.
Sementara Ronaldo memutuskan untuk menjadi seorang pesepak bola profesional, tanpa harus menjadi pemabuk dan pecandu narkoba. Dia teguh dengan pendiriannya. Dia benar-benar ingin menjadi sukses dan menghindari segala sesuatu yang nantinya akan menghambat langkahnya.
Pada usia 11 tahun, Ronaldo pindah ke Lisbon, dan bergabung dengan Akademi Sporting, usai meninggalkan tanah kelahirannya, Funchal. Ketika itu, dia mendapat bayaran sebanyak 170 pounds atau setara 3 juta rupiah per bulan.
Di saat yang bersamaan, Hugo masuk rumah sakit akibat overdosis menggunakan narkoba. Mau tak mau, uang yang dihasilkan Ronaldo disalurkan semuanya untuk membantu pengobatan Hugo.
“Aku bekerja sebagai pembersih dan mendapat bayaran 400 pounds. Aku harus meminjam uang ke tetangga untuk membayar pengobatan Hugo ke klinik spesialis. Tapi untungnya, Ronaldo membantuku,” kata ibu Hugo dan Ronaldo, Dolores. (via The Sun)
Namun demikian, Hugo tak berhenti menggunakan narkoba. Ia tak kapok dengan kondisi tubuhnya yang semakin memburuk. Bahkan, dirinya tetap dengan santai beranggapan bahwa alkohol merupakan cara terbaik untuk melepas penat dan beban hidup.
Puncaknya, saat Ronaldo berusia 16 tahun, Hugo hampir meregang nyawa akibat ulahnya itu. Lagi-lagi, uang yang dihasilkan Ronaldo harus disisihkan demi bisa menyelamatkan nyawa kakaknya dari maut.
“Saat usianya sudah 16 tahun, dia mendapatkan lebih banyak bayaran. Tapi itu semua untuk kakaknya. Tidak diragukan lagi, uangnya menyelamatkan Hugo. Mungkin Hugo sudah tiada bila Ronaldo bukan seorang pemain bola,” ujar Dolores. (via The Sun)
Perjuangan Ronaldo pun tak sia-sia, Hugo akhirnya memilih berhenti memakai narkoba. Kini pria berusia 45 tahun itu memilih hidup sehat.
Dolores melanjutkan, Ronaldo melakukan hal itu karena ia tak mau sang kakak memiliki nasib seperti ayah nya. Diceritakan, ayah Ronaldo meninggal karena kerap minum-minum an keras. Kematian sang ayah itu pula yang menyebabkan Ronaldo enggan mengonsumsi minuman semacam itu.
Kematian sang ayah pada 5 September 2005 membuat Ronaldo terpukul. Ayah kandung Ronaldo itu meninggal karena kerusakan hati akibat alkohol. Ketika sang ayah meninggal, Ronaldo baru dua tahun bergabung dengan Manchester United. Sebelum wafat, ayah Ronaldo sempat dirawat di sebuah rumah sakit di London, Inggris.
“Dinis mengirim dirinya sendiri ke kuburan dan membuat Ronaldo hancur. Berulang kali, Ronaldo membantunya sembuh, tapi Dinis terus mabuk dan memakai narkoba,” ucapnya.
“Dinis meninggal saat usianya masih 52 tahun, Ronaldo masih muda dan dia sangat dekat dengan ayahnya. Ronaldo ingin Dinis melihatnya sukses karena dia sangat mencintai ayahnya,” ujar Dolores.
Ronaldo bahkan pernah mengungkapkan rasa cinta dan benci kepada sang ayah. Ronaldo mengatakan kalau ayah nya itu bukan lah ayah yang ia impikan. Namun ia begitu mencintai sang ayah.
Hingga saat ini, Ronaldo masih menjadi salah satu pemain paling berbahaya di dunia. Dirinya telah memberi kebahagiaan bagi banyak sekali penggemar sepak bola, dan juga telah menyelamatkan kehidupan keluarganya yang sempat dirundung kemiskinan.


