Kisah Medhi Benatia Menyingkir dari Eropa demi Lingkungan Islami

spot_img

Hidup adalah serangkaian kejutan yang harus dilewati. Medhi Benatia mendalami betul kredo tersebut. Dalam menjalani kariernya di dunia sepak bola, Benatia menciptakan kejutan dengan menyingkir dari sepak bola Eropa dan memilih terbang ke Asia.

Itu ia lakukan bahkan ketika kariernya di Eropa masih bisa diselamatkan. Masih bisa terus bertarung mengadu nasib di level top. Namun, Benatia memilih menghentikan laju kariernya di level atas. Dia menarik diri dari sepak bola Eropa lantaran keyakinan yang dianutnya.

Demi Islam ia melepaskan seluruh kesempatan untuk mendapat trofi bergengsi Eropa. Untuk Islam Benatia menolak keras tawaran dari raksasa Inggris untuk terbang ke Qatar. Bergabung dengan salah satu tim adidaya dari Qatar Stars League.

Awal Karier Benatia

Namanya Medhi Amine El Mouttaqi Benatia atau Medhi Benatia. Dalam tulisan Arab, sejatinya ejaan namanya Mehdi Benatia. Namun, dalam aksara latin ia lebih sering disebut Medhi Benatia. Pria ini lahir di bekas komune di pinggiran selatan Kota Paris, Prancis, Courcouronnes.

Ayahnya berkebangsaan Maroko. Sementara ibundanya adalah perempuan yang lahir di Aljazair. Kelak alih-alih membela tempat kelahirannya, Benatia mengambil kewarganegaraan Maroko dan memperkuat Timnas Maroko.

Namun, pria yang lahir 17 April 35 tahun yang lalu itu pernah membela Timnas Prancis level U18. Tapi Benatia memutuskan mengikuti ayahnya dan membela Timnas Maroko U20 dan menjalani debutnya di tim senior pada 2008.

Benatia mengawali karier dari klub Prancis, Marseille. Ia bergabung tahun 2003 dan baru menandatangani kontrak secara profesional dua tahun kemudian. Akan tetapi, Les Olympiens justru meminjamkannya ke dua klub Prancis lainnya, Tours dan Lorient. Pada tahun 2008, Benatia justru pergi dengan status bebas transfer ke klub Ligue 2, Clermont.

Pertama Kalinya Hijrah ke Serie A

Angin nasib membawa Benatia ke kompetisi sepak bola Italia. Pada tahun 2010, ia merapat ke salah satu klub Serie A, Udinese Calcio juga dengan status bebas transfer. Dari sinilah Benatia menyulam benang emas kariernya di Serie A.

Pemain yang berposisi bek itu mencatatkan 80 penampilan liga bersama Udinese. Ia juga mengemas enam gol. Penampilan impresifnya selama berseragam Zebrette menggoda klub lain untuk meminangngnya. Raksasa ibukota, AS Roma memenangkan hati Benatia.

Dia dibawa ke Roma dengan banderol 13,5 juta euro (Rp220,1 miliar) pada tahun 2013. Benatia mendapat kontrak berdurasi lima tahun. Petualangannya bersama i Lupi berbuah manis. Penampilannya di sana begitu menyenangkan.

Medhi Benatia turut membantu AS Roma finis di peringkat kedua di Serie A musim 2013/14. Sebagai seorang bek, ia tidak hanya memainkan 33 laga Serie A, tapi juga sukses mengantongi lima gol di akhir musim.

Kejayaan di Bayern Munchen

Mantranya bersama i Lupi nyatanya cuma bertahan semusim. Agustus 2014, Benatia sudah diumumkan sebagai pemain Bayern Munchen. The Bavarians memenangkan perburuan Benatia yang kala itu juga diminati Barcelona, Real Madrid, Chelsea, dan Manchester City.

Benatia diboyong ke Allianz Arena dengan biaya 26 juta euro (Rp424 miliar) lengkap dengan kontrak lima tahun. Akan tetapi kepindahannya ke Bayern Munchen sempat menyita perhatian. Benatia mengaku kecewa meninggalkan AS Roma.

Dalam laporan Roma Press, Benatia diberi tahu bahwa ia memang harus pergi karena klub membutuhkan uang. Giallorossi disebutnya tim yang suka menjual pemain demi uang. Namun, mantan Presiden AS Roma, James Pallotta menjawab tuduhan itu dengan mengatakan apa yang dikatakan Benatia tidak benar.

Dilansir Sportsmole, Pallotta justru menyebut Benatia lah yang beracun. “Saya memberi tahu Walter Sabatini (direktur olahraga) bahwa dia (Benatia) beracun, dan saya ingin dia pergi,” katanya. Keinginan itu disetujui pelatih Roma, Rudi Garcia dan Sabatini.

Apa pun itu, keputusan Benatia bergabung ke Bayern Munchen sangatlah tepat. Di sanalah sang pemain mulai memanen trofi. Benatia tampil yahud di Bundesliga dan Liga Champions. Dia rajin menyuplai bola selama pertandingan Liga Champions musim 2014/15.

Sayangnya, Bayern Munchen disingkirkan Barcelona di semifinal. Walau gagal, Benatia mempersembahkan trofi Bundesliga musim itu. Musim berikutnya, ia terlibat mengawinkan trofi DFB Pokal dan Bundesliga.

Kiprah di Timnas

Seperti yang sudah diceritakan tadi. Benatia menjalani debut di Timnas Maroko tahun 2008. Mulai saat itu, dia langganan Timnas Maroko. Bahkan sebelum berseragam Bayern Munchen. Benatia telah menata reputasinya sebagai salah satu bek tengah terbaik Serie A.

Dia tinggi, memiliki teknik yang baik, kuat, atletis, mempunyai keterampilan bertahan yang mumpuni, dan satu yang membuatnya istimewa. Benatia terampil dalam memimpin pertahanan sekaligus mengalirkan bola.

Benatia menjadi kapten Timnas Maroko di Piala Afrika 2017. Sayangnya, pada kompetisi di Gabon itu, Maroko tersisih di perempat final oleh Mesir. Mengejutkannya, pada tahun yang sama Benatia mundur dari timnas. Ia baru bergabung lagi setelah menjadi pemain reguler di Juventus.

Golnya ke gawang Pantai Gading dalam kemenangan 2-0 mengantarkan Singa Atlas ke Piala Dunia 2018. Itu adalah piala dunia pertama Maroko setelah absen 20 tahun. Bagi Benatia momen itu adalah yang terindah dalam kariernya.

Juventus dan Rasisme

Setelah dari Bayern Munchen, Benatia kembali lagi ke Serie A. Juventus meminjamnya pada 2016 dengan opsi pembelian. Musim pinjamnya di Juventus, Benatia mengantarkan trofi Serie A dan Coppa Italia.

Juventus pun mempermanenkannya untuk musim 2017/18 dengan banderol sekitar 16 juta euro (Rp260,8 miliar) dengan kontraknya hingga 2020. Benatia turut mengantarkan Juventus raih scudetto pada musim itu dan musim 2018/19. Plus satu lagi trofi Coppa Italia musim 2017/18.

Kehadiran Benatia di Juventus juga dipenuhi kontroversi. Ia pernah berdebat dengan wasit Michael Oliver pada leg kedua perempat final Liga Champions 2018 menghadapi Real Madrid. Waktu itu, Juve sebetulnya bisa memaksa laga ke babak tambahan.

Juve sudah kalah 3-0 di leg pertama, dan di laga itu sudah menang 3-0. Tapi Benatia dianggap melakukan pelanggaran di kotak penalti di menit akhir. Penalti pun diberikan Real Madrid dan akhirnya Juve tersingkir. Benatia muak pada pengadil yang memimpin pertandingan itu.

Saat masih berstatus pemain Bianconeri, Benatia juga pernah mendapat perlakuan rasis. Sewaktu diwawancarai saluran TV Italia, Rai Due, ia mendengar pelecehan rasis. Benatia pun menghentikan wawancara. Perusahaan televisi akhirnya meminta maaf.

Gabung Al-Duhail demi Anak-anak

Pada 2019, saat usianya masih 31 tahun, masih sangat matang sebagai pesepakbola, Benatia diberondong tawaran dari klub besar. Salah satu yang paling serius adalah Manchester United. Setan Merah berniat memboyongnya ke Premier League dan tetap bermain di Eropa.

Tapi ia menolak tawaran itu. Pada Januari tahun tersebut, Benatia justru menandatangani kontrak dengan klub Qatar, Al-Duhail berharga 8 juta euro (Rp130 miliar). Keputusan itu menuai kritik dari banyak pihak, termasuk pengamat olahraga di Maroko.

Keputusan itu bisa mengancam posisinya di Timnas Maroko. Namun, dilansir Goal, Benatia memohon agar semua menghormati keputusannya pindah ke Qatar. Dia menyingkir dari sepak bola Eropa demi agama dan keluarganya.

Dilansir Football Italia, Benatia pindah ke Qatar demi anak-anaknya. Dia ingin sang buah hati tumbuh di lingkungan yang Islami. Maka dari itu, ia tolak tawaran yang datang, bukan hanya dari MU, melainkan juga yang datang dari AC Milan, Arsenal, dan mantan klubnya, Marseille.

Benatia juga mengatakan Al-Duhail pilihan terbaik untuk keluarganya dan tetap bisa berprestasi. Dia tak masalah jika tak dipanggil timnas. Namun, ia mengatakan ada banyak pemain Maroko yang bermain untuk timnas dan klub dari Negara Teluk.

Keputusan berpindah klub demi agama itu, konsisten dipegangnya. Pada 2021, setelah dari Al-Duhail, Benatia merapat ke klub Turki, Fatih Karagumruk. Sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu pada 18 November 2021.

https://youtu.be/R8nZHueaV3c

Sumber: MozzartSport, GOAL, MoroccoWorldNews, Ahram, Football-Italia, Sportsmole, Romapress

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru