Di era sepakbola modern, transformasi posisi dari pemain lumrah adanya. Beberapa faktor mempengaruhi perpindahan posisi atau peran si pemain. Misal, kondisi fisik, kemampuan individual, maupun kebutuhan tim. Nah sering juga, si pemain ketika berubah posisi justru makin gacor.
Daftar Isi
Andrea Pirlo
Siapa sangka Andrea Pirlo dulunya di Brescia maupun Inter adalah seorang gelandang serang “No 10”. Namun, ketika dipoles Ancelotti di Milan, ia menjelma menjadi seorang regista yang handal.
Pirlo menjadi maestro di formasi berlian atau pohon cemara Ancelotti. Perannya tepat di depan empat bek, tapi lebih berfungsi sebagai pemain yang mengatur tempo permainan. Posisi Pirlo lebih mirip dengan gelandang bertahan.
Milan and Italian football legend Andrea Pirlo actually played in a more advanced position on the pitch until Carlo Ancelotti decided to move him to be a Deep Lying Playmaker. Pirlo then went on to become when of the greatest ever exponents of that role. pic.twitter.com/GMQeVKPVj4
— Milan Club Melbourne (@milanmelbourne) February 27, 2020
Tentu ada alasan kenapa Ancelotti menaruhnya di posisi berbeda. Ancelotti malah dianggap gila awalnya ketika mengubah posisi Pirlo. Meski kondisi fisiknya tidak ideal dan juga tak punya kecepatan, Ancelotti tahu visi Pirlo yang mumpuni diperlukannya untuk mengontrol permainan dari belakang.
Terbukti, Pirlo tambah gacor dengan fungsi berbeda. Visinya sebagai playmaker tak hilang, hanya di posisi berbeda. Berbagai gelar telah ia raih bersama Milan maupun Juventus di posisi barunya tersebut.
Thierry Henry
Transformasi Thierry Henry dari seorang winger jadi striker juga fenomenal. Awalnya ketika bersama Monaco maupun Juventus, Henry lebih dikenal sebagai winger kiri. Kecepatan, dribble, dan skill adalah modal utama Henry.
Pelatih Juventus saat itu, Carlo Ancelotti sepertinya menyesal ketika tak mampu melihat bakat mencetak gol dari Henry. Dilansir brfootball, Ancelotti bahkan tak pernah terbesit untuk menyulap Henry sebagai striker. Karena kata Henry, ia berkomitmen untuk bermain sebagai winger.
Carlo Ancelotti reveals one of his biggest regrets: "At Juventus I didn't notice Thierry Henry wasn't a winger." pic.twitter.com/I5rcJLkSfC
— Bench Warming (@TheBenchWarming) November 24, 2014
Namun ternyata dengan modal kemampuannya yang komplit tersebut, Henry malah gacor ketika pindah ke Arsenal. Aktornya adalah Wenger. Wenger jeli dan sayang kalau melihat kemampuan mencetak gol Henry tak dimanfaatkan. Awalnya Henry protes dan menolak. Ia takut akan beban harus cetak banyak gol.
Wenger tahu resepnya bagaimana membuat Henry jadi striker gacor. Kecepatan dan skill-nya dalam membawa bola dan melewati lawan, kata Wenger, menjadi penunjang penting kenapa ia produktif mencetak gol. Lihat saja hasilnya, ia melegenda dan bergelimang trofi di Arsenal maupun Timnas Prancis sebagai striker, bukan winger.
Javier Mascherano
Pep Guardiola ketika di Barcelona juga pernah menyulap Javier Mascherano yang tadinya dibeli dari Liverpool sebagai gelandang bertahan menjadi bek tengah. Alasan utamanya adalah ketika itu banyak menumpuk gelandang yang tak bisa diganggu gugat posisinya seperti Busquets, Xavi, maupun Iniesta.
Awalnya ketika dipindah ke bek tengah, Mascherano juga protes. Namun dengan kepercayaan Pep, Mascherano akhirnya nurut. Pep tahu kalau Mascherano jika ditandemkan dengan Pique yang bertubuh tinggi besar, bisa jadi kekuatan pertahanan yang saling melengkapi.
Meski tak punya postur tubuh yang mumpuni untuk jadi bek tengah, Pep melihat hal lain dari Mascherano. Intercept, duel satu lawan satu, maupun kecepatannya, dilihat Pep bisa jadi modal Mascherano jadi bek tengah.
🎙️ Mascherano: "When I got to Barcelona, I didn't have a place in the midfield, that's the greatest reward of my career because I changed the way I think about it. Pep understood my role and was able to find a position in the team" pic.twitter.com/EkmJQ5kMer
— Barça Worldwide (@BarcaWorldwide) December 16, 2020
Ditambah kemampuan build up Mascherano yang juga sudah lama terasah ketika menjadi gelandang bertahan. Ya, nyatanya racikan Pep itu mujarab. Mascherano terbukti sukses jadi bek tengah. Ia kemudian sangat berterima kasih pada Pep mampu meyakinkannya di posisi tersebut.
Philipp Lahm
Ada lagi pemain yang disulap Pep, yakni Philipp Lahm. Dari yang tadinya bek kanan menjadi gelandang. Dilansir Talksport, alasan Pep memindah Lahm ke posisi gelandang adalah kecerdasanya. Kata Pep, sayang kalau visi dan kecerdasan dari Lahm tak bisa dimanfaatkan.
Pep Guardiola: "Right now, João (Cancelo) is playing like Philipp at Bayern Munich when we were together. Lahm was the best player I saw in my life moving inside from full-back close to the holding midfield player. João has the quality to do that" [@MailSport] pic.twitter.com/BKshY1dywQ
— Bayern & Die Mannschaft (@iMiaSanMia_en) November 21, 2021
Lahm kita tahu sebagai bek kanan sangat eksplosif. Crossing akurat serta kemampuan overlap-nya bahkan jadi ciri khas Lahm. Tapi menurut Pep, kemampuan lain Lahm dalam mengontrol tempo permainan maupun membaca permainan sangat bagus.
Sebagai seorang gelandang, memang postur tubuhnya tak ideal seperti umumnya. Namun kelincahan dan visinya yang cerdas itu mampu menyulapnya menjadi salah satu gelandang terbaik Jerman. Trofi Piala Dunia 2014 bersama Der Panzer, jadi bukti bahwa peran baru Lahm sebagai gelandang mampu berpengaruh.
Sergio Ramos
Sergio Ramos awalnya ketika masih berseragam Sevilla adalah seorang bek kanan. Ketika ia pindah ke Real Madrid, awalnya Ramos juga masih diposisikan sebagai bek kanan. Mengingat ketika itu stok bek tengah El Real menumpuk dengan kedatangan Metzelder dan Pepe.
Tapi saat Pepe menderita cedera panjang, Ramos dipaksa menjadi bek tengah. Atribut Ramos dengan postur tubuh yang lumayan tinggi dan kekar, sebenarnya ideal kalau dijadikan bek tengah. Terlebih ia punya kemampuan lain seperti kecepatan, distribusi bola, maupun drible bolanya yang cukup mumpuni, ketika ia lama ditempa sebagai bek kanan.
Sejak kesempatan menjadi bek tengah itu datang, ia mulai menunjukan bahwa ia pantas sebagai calon bek tengah terbaik dunia. Terbukti, Ramos melegenda dan bergelimang trofi bersama Los Blancos dan Timnas Spanyol sebagai bek tengah, bukan bek kanan lagi.
Sergio Ramos has now scored 90 goals across all competitions for Real Madrid.
— Squawka (@Squawka) February 9, 2020
Closing in on a centre-back century. 💯 pic.twitter.com/VS80hw22WF
Vincent Kompany
Pemain berikutnya ada Vincent Kompany. Mantan kapten City itu awalnya hijrah ke Etihad sebagai seorang gelandang bertahan dari Hamburg. Tapi sejak pelatih City saat itu Roberto Mancini kedatangan banyak gelandang seperti Yaya Toure, Nigel De Jong maupun Gareth Barry, Kompany kemudian dimanfaatkan sebagai bek tengah menemani Joleon Lescott.
21st Aug 2008:
— Historic Gifts (@CoinGifts) August 21, 2019
Manchester City agreed an undisclosed fee to sign young centre-back Vincent Kompany from German side HSV Hamburg, on this day 11 years ago.https://t.co/HTIAbHLyKj
Ideal #MCFC #ManCity Fan Birthday or Occasion Gift Idea#BOUMCI pic.twitter.com/0iQo2HxHPB
Awalnya Kompany protes dan risih karena penuh beban ketika jadi bek tengah. Akan tetapi seiring kebutuhan tim, mau tidak mau Kompany harus menerimanya. Mancini tahu kekuatan Kompany. Menurut Mancini, Kompany adalah pemain yang punya atribut bertahan yang cukup baik. Seperti tekel dan duel bola udaranya.
Maka tak heran ketika posturnya yang juga kekar dan tinggi, Kompany sangat cocok untuk jadi bek tengah. Terbukti, juara Liga Inggris City bersama Mancini salah satunya berkat tembok kokoh bernama Kompany. Hingga pensiun pun, Kompany masih setia di posisi barunya tersebut.
Gareth Bale
Ada juga Gareth Bale, mantan bek kiri handal milik Soton. Ia disulap menjadi winger kiri terbaik ketika bermain bersama Spurs. Bale mulai perlahan menunjukan tajinya sebagai winger kiri terbaik ketika momen tahun 2010 pada laga Spurs melawan Inter di babak grup Liga Champions. Bale yang dipercaya pelatih Harry Redknapp sebagai winger kiri, membuat hattrick saat itu.
#GoalOfTheDay | Gareth Bale vs Inter Milan (2010) pic.twitter.com/QFzzAyLihV
— EuroFoot (@eurofootcom) February 17, 2023
Dilansir brfootball, Redknapp tau kelebihan lain Gareth Bale yang sayang kalau tak dimanfaatkan, yakni mencetak gol. Kecepatan menyisir flank, serta kekuatan postur tubuhnya, juga jadi faktor penunjangnya. Ya, transformasi posisi bintang Wales itu sebagai winger terbukti sukses. Baik di Spurs maupun bersama Real Madrid.
Firmino
Roberto Firmino di Liverpool juga mengalami transformasi posisi yang sukses. Didatangkan dari Hoffenheim sebagai gelandang serang, nyatanya ia mampu disulap Jurgen Klopp sebagai seorang false nine.
Unpopular opinion:
— jude (@judelfc11) February 24, 2021
Roberto Firmino is the greatest false nine in the history of football pic.twitter.com/xTkihao1jC
Debutnya bersama Liverpool bersama Rodgers, Firmino sebenarnya sudah difungsikan sebagai seorang striker ketika Sturridge cedera. Namun koleksi golnya yang tak mentereng membuat Liverpool kecewa.
Namun kedatangan Jurgen Klopp di Anfield mengubah itu semua. Firmino disulap Klopp menjadi seorang striker false nine yang tak terlalu dibebankan untuk mencetak banyak gol. Ia lebih ditugaskan bermain turun ke bawah menjemput bola, dan melakukan pressing. Sebagaimana kunci utama gaya permainan Klopp yakni gegenpressing.
Kemampuan Firmino sejak sebagai gelandang serang, yang skillfull dan pandai membuka ruang, mampu membuat dimensi lain dari penyerangan Liverpool. Perannya terbukti berdampak besar untuk melayani Mo Salah dan Sadio Mane sebagai sumber gol Liverpool. Terbukti, peran baru Bobby Firmino itu telah berbuah banyak gelar bagi The Reds selama ini.
Sumber Referensi : dailymail, bleacherreport, dailymail, planetfootball, espn, sportsjoe, sportskeeda, talksport, bleacherreport


