Kanker Testis yang Menyelamatkan Karier Francesco Acerbi

spot_img

Di balik Inter Milan melaju hingga partai puncak Liga Champions, tersimpan satu cerita menarik dari salah satu pemain kuncinya, Francesco Acerbi. Meski tembok kokoh Inter itu kini sudah lapuk dimakan usia, namun jangan tanya kalau soal performa.

Di balik performa apiknya musim ini, ia menyimpan cerita tentang jalan berliku dalam karir sepakbolanya. Dari mulai depresi, terjerumus ke dunia hitam, hingga terkena penyakit mematikan. Lantas bagaimana caranya Acerbi bangkit dari kisah suramnya itu?

Siapa Francesco Acerbi?

Kalau baru dengar nama pemain bernama Francesco Acerbi, wajar saja. Karena namanya juga baru moncer beberapa tahun terakhir ini saja. Maka dari itu, mari berkenalan terlebih dahulu dengan Acerbi. Ia adalah bek 192 cm kelahiran Italia tahun 1988. Ia mengawali karir sepakbolanya di klub Serie C, Pavia.

Singkat cerita, ia baru mencicipi atmosfer Serie A pada tahun 2011, setelah diambil klub Chievo Verona. Langkah Acerbi bisa sampai Chievo karena penampilan apiknya di Serie B kala berseragam Reggina.

Berkat penampilan apiknya di Chievo, ia kemudian dilirik AC Milan. Rossoneri memboyongnya pada tahun 2012. Sebuah lompatan karir yang mengejutkan bagi seorang Acerbi. Milan bahkan memberikan nomor 13 warisan Alessandro Nesta pada Acerbi. Tingkat kepercayaan Acerbi sebagai bek masa depan AC Milan pun makin tinggi. Namun, alih-alih tampik baik, penampilan Acerbi di Milan justru tak karuan.

Kehilangan Ayahnya, Alkohol, Dan Kehidupan Malam

Hal itu terjadi karena depresi yang dialaminya ketika kehilangan ayahnya yang meninggal. Bagaimanapun, ayah bagi Acerbi adalah segalanya. Ayahnya lah yang membuat Acerbi bisa bermain sepakbola. Ia dididik sejak kecil oleh ayahnya untuk terus bermain sepakbola. Maka dari itu setelah ayahnya wafat, bermain bola bagi Acerbi seperti tiada artinya.

Dari kehilangan sosok yang sangat berpengaruh itulah, Acerbi kemudian tak bisa mengontrol emosinya. Ia menjadi urakan dan tak tahu aturan. Tukang mabok adalah julukan yang tepat bagi Acerbi ketika itu. Acerbi tiap hari mengkonsumsi alkohol dan masuk dalam pergaulan malam.

Acerbi pernah bercerita kepada L’Ultimo Uomo, bahwa dirinya sering datang telat ke tempat latihan AC Milan. Ia pun terkadang datang dalam keadaan “ngefly” berkat efek alkohol dan obat-obatan di malam harinya.

Maka dari itu, penampilannya semasa di Milan tak mengesankan. Alhasil, tak sampai semusim, ia didepak. Paruh musim ia dipinjamkan ke Chievo dan kemudian dijual ke Genoa di akhir musim.

Kanker Testis dan Titik Balik Acerbi

Melihat karirnya yang mengalami penurunan, ia masih belum berubah dari kepribadiannya yang negatif. Sampai akhirnya, pada 2013 ia direkrut oleh klub promosi Sassuolo. Alih-alih akan jadi pribadi yang lebih baik, ia malah mendapat musibah yang lebih berat.

Saat menjalani tes medis bersama Sassuolo, tim dokter menemukan benjolan di area testis Acerbi. Setelah diteliti lebih lanjut, benjolan tersebut merupakan tumor kanker. Mengetahui hal mengejutkan itu, dokter langsung membawa Acerbi ke ruang perawatan guna mendapat pertolongan memadai. Setelah menjalani serangkaian operasi, tumor kanker itu pun berhasil diangkat.

Setelah dinyatakan sembuh, barulah Acerbi diperbolehkan bermain bola lagi. Ia mencatatkan sebanyak 13 laga di musim 2013/14 untuk Sassuolo. Namun, tak hanya sekali penyakit kanker testis menghinggapi Acerbi. Akhir tahun 2013, kanker itu menghantuinya lagi. Di titik itulah, ia kemudian pasrah dan hampir pesimis sembuh dari penyakitnya itu.

Rambutnya makin rontok dan sempat dipangkas gundul. Acerbi mesti menelan obat-obatan untuk melawan penyakit berbahayanya itu. Acerbi tidak berhenti berjuang melawan kanker tersebut.

Keluarga, teman dekat, rekan seperjuangan Acerbi di klub, semuanya pun turut mendukungnya melawan penyakit itu. Nah, setelah menjalani operasi demi operasi, keajaiban Tuhan menghampirinya. Acerbi berhasil melawan kankernya dan dinyatakan sembuh total pada tahun 2014.

Pada titik itulah hidupnya mulai berubah ke arah yang lebih positif. Ia bahkan bersyukur kepada Tuhan karena memberikannya penyakit mematikan tersebut. Karena dengan begitu, ia kini lebih bisa menghargai hidup. Acerbi tak lagi mengkonsumsi Alkohol. Dunia malam pun ia tinggalkan. Acerbi benar-benar taubat dari maksiat.

Sassuolo, Lazio, Hingga Timnas Italia

Musim 2014/15 adalah yang paling dinanti publik Sassuolo dan Acerbi. Acerbi kembali bermain sepakbola. Di musim itu, total ia mementaskan 33 laga di semua kompetisi dengan sumbangan tiga gol.

Lima musim ia singgah di Sassuolo. Selama itu ia digembleng keras oleh pelatih Eusebio Di Francesco menjadi salah satu tembok tangguh di Serie A. Terbukti, berkat ketangguhan tembok bernama Acerbi itu, Sassuolo sempat tampil di ajang Liga Eropa musim 2016/17.

Berkat penampilannya yang konsisten di Sassuolo, Lazio di bawah asuhan Simone Inzaghi kepincut untuk memboyongnya. Aquilotti berniat menutupi kekosongan posisi bek tengah setelah kehilangan Stefan De Vrij yang hengkang ke Inter Milan.

Acerbi mau menerima ajakan Simone Inzaghi. Ia kemudian menjadi andalan komposisi tiga bek Inzaghi di Lazio. Di sinilah awal mula kedekatan Inzaghi dan Acerbi.

Sampai akhirnya trofi pertama sepanjang karir sepakbola Acerbi diraih. Bersama Simone Inzaghi, Acerbi menjadi pemain kunci bagi keberhasilan merengkuh gelar Coppa Italia 2018/19 dan Piala Super Italia 2019/20.

Kegemilangan karir Acerbi tak sampai di situ. Ia kemudian mendapat panggilan untuk mengabdi di Gli Azzurri oleh pelatih Roberto Mancini. Ia disiapkan menjadi bagian bek timnas Italia untuk Euro 2020. Dan apa hasilnya? Meski tak jadi starter, paling tidak ia mampu mencium trofi Piala Eropa yang bergengsi itu kala Italia jadi juara.

Inter dan Final Liga Champions

Kedekatan Simone Inzaghi dan Acerbi berlanjut di Inter Milan. Ketika Inter Milan masih mencari pengganti bek Andrea Ranocchia yang hengkang musim lalu, Simone Inzaghi ngotot untuk mendatangkan mantan anak asuhnya itu.

Acerbi lantas direkrut Inter dengan jalur pinjaman. Usianya sudah tak muda lagi, yakni 35 tahun. Namun, ketika di Inter, Inzaghi malah sering memainkan Acerbi daripada Skriniar atau De Vrij.

Terbukti di laga-laga penting musim ini, seperti di Liga Champions kala mengandaskan Porto, Benfica, sampai AC Milan. Begitupun kala menggondol Piala Super Italia dan Coppa Italia musim ini. Acerbi menjadi komando yang tak tergantikan lini belakang Inter.

Sampai akhirnya, ia berhasil mengantarkan Inter Milan menuju laga yang sangat ditunggu-tunggu dalam hidupnya yakni final Liga Champions. Pencapaian yang bahkan sebelumnya tak ada sama sekali dalam benaknya.

Kisah Acerbi ini mengajarkan bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Tekad dan semangat yang kuat tak akan mengkhianati hasil. Seberat apa pun rintangan, jalan keluar itu pasti ada. Yang terpenting, harus tetap fokus dan konsisten pada tujuan. Dan Acerbi, sudah membuktikan itu.

Sumber Referensi : bleacherreport, goal, theguardian, transfermarkt, thesefootballtimes

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru