Mempertahankan memang lebih sulit daripada meraih. Pepatah itu akan sangat nyata ketika kita melihat persaingan di Liga Inggris. Klub yang meraih juara, bukan tidak mungkin di musim berikutnya justru tampil mengenaskan. Atau dengan kata lain, bapuk.
Nah, berikut ini Starting Eleven akan menyuguhkan beberapa klub yang menjadi juara Liga Inggris, namun mereka justru bernasib buruk di musim berikutnya. Apa saja klub-klub tersebut?
Daftar Isi
Leeds United
Leeds United pernah meraih puncak kejayaan pada musim 1991/92. Namun saat itu, Premier League belum resmi bergulir. Leeds mampu meraih titel Divisi Pertama Liga Inggris. Kala itu, pasukan The Whites berhasil menyabet gelar Liga Inggris berkat tangan dingin seorang Howard Wilkinson.
Leeds ketika itu masih diperkuat nama-nama pemain seperti Gordon Stratchan, David Batty, Garry McAllister, dan Garry Speed. Mereka bermain sangat luar biasa di bawah Eric Cantona yang didaulat sebagai juru gedor.
Musim itu, Leeds benar-benar sanggup memanfaatkan kesempatan ketika performa Liverpool memudar dan Manchester United yang belum sampai pada performa terbaiknya. Leeds finis dengan mengumpulkan 82 poin, terpaut empat poin saja dari Manchester United di peringkat kedua.
📆 ON THIS DAY: In 1992, Leeds United became the last club to win the old First Division 🏆#LUFC pic.twitter.com/Bmkv3KJNEU
— Footy Accumulators (@FootyAccums) April 26, 2020
Namun, sayang sekali, selain itu adalah kali terakhir kompetisi tertinggi di Liga Inggris adalah divisi satu, Leeds justru tampil buruk di musim berikutnya. Di kompetisi yang namanya sudah menjadi Premier League, Howard Wilkinson seolah kehilangan kendali.
Skuad Leeds kocar-kacir setelah pilar-pilar terbaik mereka lepas, termasuk Eric Cantona yang justru pergi ke klub rival, Manchester United. Leeds pun seketika berubah menjadi tim medioker dan berada di situasi yang sulit.
Eric Cantona signs for Manchester United from Leeds United for £1.2m. 26th November, 1992. pic.twitter.com/vIEhiNGrpq
— Manchester United Snapshot (@ManUtdSnapshot) November 26, 2020
The Whites harus kalah dalam 15 pertandingan, dan itu membuat skuad asuhan Wilkinson terpuruk di peringkat 17, atau hanya dua poin di atas zona degradasi. Leeds hanya berhasil mengumpulkan 51 poin pada musim tersebut.
Jika dibandingkan musim sebelumnya, Leeds mengalami kemerosotan 31 poin yang saat itu juga masih menggunakan 42 pertandingan.
Blackburn Rovers
Blackburn Rovers membuat banyak orang terkejut dengan menggondol trofi Premier League musim 1994/95. Mereka bangkit berkat bantuan pebisnis Jack Walker dari kasta kedua menjadi memuncak klaseman.
Di bawah juru taktik fenomenal, Kenny Dalglish, Blackburn Rorvers melaju mulus ke puncak klasemen dengan mengumpulkan 89 poin atau unggul satu poin saja dari Manchester United yang berada di peringkat kedua.
🗓️ #OnThisDay Sunday 14th May 1995 🏆
Blackburn Rovers – Champions of England! 👑💙#Rovers 🔵⚪️ pic.twitter.com/vlicJqABOD
— Blackburn Rovers (@Rovers) May 14, 2019
Saat itu, kekuatan Blackburn sangat diperhitungkan. Apalagi sosok pemain kondang seperti Alan Shearer, Tim Sherwood, Henning Berg, sampai Shay Given masih memperkuat klub. Namun, rencana mengangkat Kenny Dalglish menjadi Direktur Sepak bola justru membawa petaka.
Di musim berikutnya, siasat mengulang kesuksesan menemui batu yang besar. Karena Dalglish naik jabatan ke Direktur Sepak bola, kendali tim diberikan mantan asistennya, Ray Harford. Ternyata langkah semacam itu sungguh-sungguh membawa Blackburn ke kenestapaan.
Ray Harford yang mengambil alih tim tak mampu mengangkat performa The Riversiders. Musim 1995/96 mereka justru menemui jalan kebapukan setelah hanya memenangkan tiga dari 10 pertandingan yang dilakoni. Akhirnya, Blackburn Rovers harus finis di peringkat tujuh dengan perolehan 28 poin.
Answer 2: Ray Harford was his Wenger’s opposite number in his first game, manager of Blackburn Rovers at the time. pic.twitter.com/4CLmjmyfrO
— Squawka (@Squawka) March 21, 2014
Mereka kalah 21 poin dari Manchester United yang musim itu meriah trofi Premier League. Namun, walaupun Blackburn Rovers gagal dan tampil buruk, tidak dengan Alan Shearer.
Musim itu, Alan Shearer malah memenangkan Sepatu Emas dengan catatan 31 golnya. Raihan itulah yang bikin klub semangat untuk paling tidak finis di peringkat 10 besar.
Manchester United
Pukulan keras menghantam Manchester United pada musim 2013/14. Itu adalah musim pertama ketika Manchester United tak lagi dilatih Sir Alex Ferguson. MU tampil buruk musim itu, meski di musim sebelumnya pasukan Alex Ferguson mampu melengkapi 13 gelar Premier League mereka.
The last time Manchester United were top of the table after New Years Day was 2013.
That season…👀 pic.twitter.com/Dbtmv6W9jw
— B/R Football (@brfootball) January 12, 2021
Musim 2013/14 menjadi musim yang sangat jomplang bagi Manchester United. Mengganti Alex Ferguson dengan mantan manajer Everton, David Moyes pada tahun 2013 justru meruapakan sinyal bahaya bagi Manchester United.
Meski mendatangkan pemain anyar seperti Marouane Fellaini dan Juan Mata, kebapukan MU sulit terhindarkan. Kepemimpinan David Moyes gagal total menginspirasi para pemain untuk membawa United ke pucuk klasemen.
Ia adalah manajer yang tak disukai penggemar Manchester United, sekalipun Moyes mencoba memperbaiki citranya di media. Itu tak mengubah fakta bahwa Moyes adalah manajer yang tidak tepat bagi Manchester United.
Di bawah kendalinya, United mulai kehilangan laga kandang mereka, seperti kekalahan atas West Brom, Sunderland, dan Newcastle United. Belum juga tuntas musim 2013/14, Moyes sudah dipecat karena hanya mampu mengumpulkan 57 poin saja. Kontrak enam tahun jadi seperti kembang lambe belaka.
ON THIS DAY: In 2014, David Moyes was sacked by Manchester United after just 10 months in charge of the club.
It was the third-shortest managerial stint in the club’s history. 😳 pic.twitter.com/LKIMeK6HyA
— Squawka (@Squawka) April 22, 2020
Legenda Manchester United, Ryan Giggs menjadi manajer sementara menggantikan Moyes. Beruntung, Giggs mampu menyelamatkan muka Iblis Merah dengan mengumpulkan 64 poin. Ya meskipun, MU tetap mengakhiri musim seram mereka dengan hasil minor karena hanya mampu finis di peringkat ketujuh.
Chelsea
Entah apa yang terjadi, Chelsea melewati empat musim dari 2014/15 sampai 2017/18 dengan buruk. Mereka juara di satu musim, lalu di musim berikutnya tampil buruk, lalu juara lagi, lalu bapuk lagi.
Pada musim 2014/15, Chelsea tampil superior di bawah kendali Jose Mourinho. The Blues berhasil meraih juara Premier League dengan mudah berkat duet Eden Hazard dan Diego Costa yang luar biasa. Mereka pada musim itu hanya kalah 3 kali, dan melibas 15 pertandingan kandang dengan kemenangan.
Our hands on a FOURTH @PremierLeague trophy!
🏆🏆🏆🏆#OnThisDay in 2015! pic.twitter.com/LGcJcH5GrR
— Chelsea FC (@ChelseaFC) May 24, 2020
Musim itu Chelsea merampungkan liga dengan mengumpulkan 87 poin, atau delapan poin di depan Manchester City. Namun musim berikutnya, tampak menjadi akhir dari masa keemasan Jose Mourinho di Chelsea.
Mourinho pada musim 2015/16 mulai kehilangan rasa hormatnya di ruang ganti. Ia juga sering menghardik pemain-pemain yang berkinerja buruk dengan sebutan “tikus”. Datangnya Alexandre Pato dan Radamel Falcao tidak membuahkan hasil. Eden Hazard cedera dan penampilannya memburuk.
Chelsea pun takluk atas Everton, Southampton, West Ham United, Liverpool, Crystal Palace, Bournemouth, Stoke City, sampai Manchester City sebelum perayaan Natal. Kekalahan atas Leicester menjadi pertanda kalau Mourinho sudah habis. Akhirnya, belum juga musimnya berakhir, Mourinho pun dipecat.
Guus Hiddink mengambil kendali klub. Ia membimbing Chelsea yang pada akhirnya memungkasi musim 2015/16 di peringkat ke-10, selisih 31 poin dari sang juara, Leicester City. Musim berikutnya, Chelsea kembali menunjukkan tajinya usai Antonio Conte menandatangani kontrak sebagai pelatih tetap.
Awalnya, Conte mengawali musim 2016/17 di Chelsea tak cukup bagus dengan kekalahan melawan Liverpool dan Arsenal. Namun, Conte menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih bertipikal defensif. Chelsea pun diubah menjadi klub yang bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat.
Day 19 of the #Top5SportsMoments Countdown is @sam_gold22‘s 3rd Pick: Chelsea’s 2016-17 Premier League triumph! The Blues (after finishing 10th the previous season) captured their 5th PL trophy under new manager Antonio Conte, buoyed by his signature 3-4-3 formation. pic.twitter.com/zY8WdAY10L
— The Gold Mine (@TheGoldMineWALT) May 11, 2020
Chelsea akhirnya bisa memenangkan liga usai mengumpulkan 93 poin, dan terpaut tujuh poin atas Tottenham Hotspur di peringkat kedua. Chelsea pada musim itu hanya kalah lima kali.
Namun, kiprah itu tak sanggup dilanjutkan Chelsea. Musim berikutnya, The Blues hanya sanggup finis di peringkat kelima dan mengumpulkan 70 poin, atau 30 poin lebih sedikit dari Manchester City yang menjuarai liga musim 2017/18.
Leicester City
Seperti suatu dongeng, Leicester City mengejutkan banyak orang dengan meraih titel Premier League musim 2015/16. Kala itu, Leicester City menjadi tim underdog yang menjuarai liga, kebetulan pada saat itu performa tim lain sedang kurang baik. Adalah manajer gaek, Claudio Ranieri yang membawa Leicester juara.
Almost a quarter of a million people descended on Leicester to celebrate us winning the Premier League 🏆#OnThisDay in 2016 🗓 pic.twitter.com/f547c57d02
— Leicester City (@LCFC) May 16, 2020
Namun, Ranieri pula yang mengembalikan Leicester ke setelan pabrik. Berhasrat ingin mengulangi kesuksesan di musim 2016/17, Leicester justru terjungkal. Claudio Ranieri kehilangan kepercayaannya di ruang ganti.
Para pemain pilar mulai bergantian keluar. Sebutlah seperti N’Golo Kante yang dilego ke Chelsea. Kehilangan Kante jelas mengundang petaka, sebab lini tengah Leicester menjadi porak-poranda. Belum lagi, duet lini depan Jamie Vardy dan Riyad Mahrez tak bersinar.
Kekalahan dari Hull City 2-1 di laga pembuka menjadi pertanda bahwa musim 2016/17 Leicester bakal berjalan buruk. Pada 20 pertandingan awal di musim itu, Leicester hanya mampu meraih lima kemenangan plus enam imbang, dan hanya sanggup mengumpulkan 21 poin.
Peralihan tiga pelatih berbeda, dari Ranieri, Claude Puel, dan Craig Shakespeare membuat Leicester inkonsisten. Alhasil, The Foxes hanya finis di peringkat 12 dengan mengumpulkan sebanyak 44 poin. Terhitung sejak musim 2016/17, belum ada lagi juara bertahan Premier League yang menunjukkan tanda-tanda bapuk.
Liverpool, yang kata Roy Keane sebagai juara yang buruk, nyatanya di musim setelah mereka juara, performanya masih moncer karena finis di peringkat ketiga. Lalu bagaimana dengan Manchester City? Entahlah. Sejak datangnya Sheikh Mansour, klub ini sepertinya tidak pernah bapuk.
https://youtu.be/mMNKesiX9K8
Sumber referensi: football365.com, khelnow.com, thefootballfaithfull.com, premierleague.com, leeds-live.co.uk


