Sebuah pemandangan langka di sepak bola Eropa tersaji di Groupama Stadium, markas Olympique Lyon, Minggu 3 September kemarin. Menyusul kekalahan memalukan 4-1 dari PSG, para pemain Lyon hanya bisa berdiri mematung di depan tribun utara, mendengar ceramah dari salah satu pemimpin suporter yang kecewa berat dengan penampilan mereka.
“Untukmu, skuad Olympique Lyonnais 2023-2024: pesannya jelas, jika ada pemimpin di ruang ganti ini, mereka tidak lagi memiliki hak untuk diam. Anda mengenakan seragam Olympique Lyonnais. Orang lain sebelum Anda telah memakainya dan mengagungkannya. Anda tidak memiliki hak untuk menodainya.”
Pesan kemarahan tersebut dilontarkan oleh kelompok ultras “Bad Gones” yang merupakan kelompok suporter terbesar di Prancis dan salah satu yang punya reputasi besar di Eropa. Mereka sudah ada sejak 1987, era di mana Jean Michael-Aulas membeli Lyon. Artinya, “Bad Gones” adalah saksi sejarah Les Gones.
Daftar Isi
Kalah dari PSG, Lyon Jadi Juru Kunci Ligue 1, Laurent Blanc Dipecat
Aksi yang dilakukan oleh “Bad Gones” sudah pasti menimbulkan pro dan kontra. Di sini, suporter yang menceramahi pemain adalah sebuah pemandangan yang lazim. Namun tidak dengan sepak bola Eropa.
Akan tetapi, “Bad Gones” memang pantas marah dan kemarahan mereka sepertinya juga mewakili kekesalan para pendukung Lyon. Bagaimana tidak, kekalahan atas PSG adalah kekalahan ketiga yang diderita Lyon di 4 pertandingan pertama Ligue 1 musim ini.
Tak hanya itu, kekalahan atas PSG juga membuat posisi Lyon terjun bebas. Baru mengumpulkan 1 poin dari hasil 0-0 kontra Nice di pekan ketiga, Les Gones harus rela duduk di peringkat 18 alias sebagai juru kunci. Ini menjadi start terburuk dalam sejarah Lyon sejak musim 1966.
Kekalahan atas PSG juga memicu domino lainnya. Seminggu setelah kekalahan tersebut, Lyon kemudian memecat Laurent Blanc dari kursi pelatih.
Mantan pelatih timnas Prancis itu sebenarnya baru bekerja 11 bulan dan masih punya sisa kontrak hingga Juni tahun depan. Musim lalu, Blanc menggantikan posisi Peter Bosz dan berhasil membawa Lyon finish di peringkat 7. Namun, musim ini Lyon dibuat tampil buruk sejak awal musim.
Selain itu, pemecatan tersebut sepertinya juga sudah ditunggu oleh banyak pendukung Les Gones. Pasalnya, pada pertengahan Agustus lalu, mantan pelatih PSG itu pernah membuat kontroversi kala ia bercanda kalau klub harus mengganti pelatih setelah kalah 4-1 di kandang sendiri dari Montpellier.
Sepeninggalan Laurent Blanc, Lyon sempat dikaitkan dengan Gennaro Gattuso. Namun, mereka kemudian resmi menunjuk Fabio Grosso sebagai pelatih anyar mereka musim ini.
Grosso bukanlah nama asing bagi Lyon. Mantan bintang Gli Azzurri di Piala Dunia 2006 itu adalah mantan pemain Lyon era 2007-2009.
Tugas Grosso sudah jelas, yakni memperbaiki performa Lyon. Sayangnya, Grosso belum berhasil mewujudkan harapan tersebut. Di dua laga yang sudah ditanganinya, Lyon takluk 1-0 dari Brest dan 2-0 dari Reims.
Hasil tersebut menambah panjang rekor buruk Lyon musim ini. Hingga pekan ketujuh, Lyon belum meraih kemenangan. Mereka juga baru mengumpulkan 2 poin dan untuk sementara masih kokoh sebagai juru kunci Ligue 1 musim ini.
Hasil tersebut jelas tidak mencerminkan performa juara 7 kali Liga Prancis. Padahal, jika melihat skuad yang ada, Lyon sebenarnya tidak terlalu buruk. Pemain senior semacam Alexandre Lacazette, Corentin Tolisso, dan Anthony Lopes masih bertahan.
Mereka juga masih punya pemenang Piala Dunia 2022, Nicolas Tagliafico dan mantan pemain timnas Kroasia Dejan Lovren. Sementara pemain muda berbakat seperti Rayan Cherki, Johann Lepenant, dan Maxence Caqueret juga masih bertahan.
Artinya, skuad yang ditangani Fabio Grosso masih memiliki kualitas. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Lyon?
John Textor vs Jean-Michel Aulas
Masalah utama Lyon bukan terletak pada pelatih ataupun pemainnya. Masalah utama yang menghambat performa Les Gones musim ini adalah perang terbuka antara John Textor dan Jean-Michel Aulas.
John Textor adalah pemilik baru Lyon yang telah mengakuisi 77,49% saham mayoritas Lyon pada 2022 lalu. Textor adalah owner dari Eagle Football Holdings yang juga memiliki saham di Botafogo, RWD Molenbeek, dan Crystal Palace. Sementara Jean-Michel Aulas adalah mantan bos Lyon yang berkuasa sejak 1987.
Perseteruan dimulai saat Aulas ditendang dari kursi presiden Lyon pada bulan Mei lalu. Textor kemudian menyerang Aulas di hadapan media. Ia menuduh Aulas telah menyembunyikan situasi keuangan Lyon yang sebenarnya pada saat penjualan.
Aulas yang kemudian juga mengundurkan diri jadi jabatan ketua kehormatan Lyon membalas pernyataan Textor. Ia meradang dan mengajukan laporan pencemaran nama baik atas komentar yang dibuat Textor.
Perseteruan keduanya mencapai puncak pada akhir Agustus kemarin. Pengadilan niaga mengabulkan permohonan perusahaan Holnest milik Aulas untuk membekukan dana sebesar 14,5 juta euro dari rekening klub, sesuai dengan uang yang harus dibayarkan Eagle Football Holdings atas sisa saham yang dimiliki Aulas di Lyon.
Buntut dari keputusan tersebut membuat Textor menuduh Aulas telah melakukan serangan yang kejam dan tidak sah kepada Lyon. Sementara Santiago Cucci, ketua eksekutif Lyon menyesalkan perbuatan Aulas. Dalam pernyataan resminya, ia berkata, “Aulas telah berhasil membuat semua akun kami diblokir selama satu minggu di tengah-tengah mercato. Demi mempertahankan kepentingan pribadinya, dia telah menempatkan seluruh klub dalam bahaya.”
Aktivitas Transfer Lyon Dibatasi
Situasi tersebut makin memperparah keuangan Lyon yang genting. Pada bulan Juni kemarin, badan pengawas keuangan sepak bola Prancis (DNCG) memberlakukan aturan pembatasan tagihan gaji dan tunjangan transfer yang sangat menghambat aktivitas transfer yang dilakukan oleh Lyon.
Dengan kata lain, segala aktivitas keuangan Lyon kini tengah diawasi ketat oleh DNCG. Itulah mengapa meski di musim panas kemarin Lyon berhasil mendapat lebih dari 107 juta euro dari hasil penjualan pemain, tetapi mereka hanya bisa membelanjakan kurang dari 20 juta euro untuk membeli pemain baru.
Hasilnya, para pemain yang datang punya kualitas yang cukup jomplang. Sebut saja Skelly Alvero, Paul Akouokou, Mama Balde, Jake O’Brien atau Ainsley Maitland-Niles. Jika dibandingkan dengan para pemain yang dijual atau dengan para pemain bintang Lyon yang masih bertahan, tentu para rekrutan anyar tadi kalah kelas.
Tak bisa dipungkiri kalau Les Gones memang sedang mengalami krisis keuangan. Pembatasan transfer yang diberlakukan DNCG juga akibat dari gagalnya Lyon memberikan jaminan keuangan yang cukup.
Atas bencana tersebut, baik rezim lama maupun rezim baru saling menyalahkan. Padahal, Textor dan Aulas tidak jauh berbeda.
Seperti yang kita tahu, Lyon banyak menghasilkan pemain muda berbakat dari akademi mereka. Namun, mereka terlalu cepat dan terlalu banyak menjual para pemain berbakatnya ke klub lain. Sejak akhir era Aulas, fenomena tersebut sudah terjadi dan kini kembali terulang di era John Textor.
Salah satu penjualan yang membuat pendukung Lyon geram adalah dijualnya Bradley Barcola ke PSG seharga 45 juta euro. Musim lalu, Barcola berhasil mencetak 7 gol dan 10 asis. Masih berusia 20 tahun, ia tak hanya prospek cerah, tetapi juga salah satu mesin gol Lyon. Tak heran jika para pendukung Lyon marah dengan dijualnya Barcola ke PSG.
Selain Barcola, Lyon juga menjual Castello Lukeba ke RB Leipzig seharga 30 juta euro. Sama seperti Barcola, Lukeba juga pemain muda hasil didikan akademi Lyon. Selain keduanya, Lyon juga menjual Malo Gusto, Romain Faivre, hingga gagal mempertahankan Houssem Aouar. Inilah yang membuat skuad Lyon tidak seimbang dan secara perlahan terus mengalami penurunan.
Apakah Grosso Bisa Mengubah Nasib Lyon?
Kini, yang menjadi pertanyaan, apakah Fabio Grosso sanggup menangani Lyon yang hampir karam?
Musim ini adalah musim pertama Grosso menangani tim di luar Italia. Musim lalu, ia berhasil membawa Frosinone menjuarai Serie B. Melihat apa yang dilakukan Grosso di Frosinone, Lyon mesti sabar.
Akhirnya, di pertandingan ketiganya sebagai pelatih Lyon, Grosso mendapat poin pertamanya saat Lyon ditahan imbang 3-3 oleh Lorient. Hasil tersebut akhirnya mengangkat posisi Les Gones dari dasar klasemen Ligue 1. Namun, tambahan 1 poin hanya membuat mereka naik 1 peringkat. Artinya, Lyon masih berada di zona degradasi.
Melihat nasib Lyon yang makin memperihatinkan, sudah bisa bertahan di Ligue 1 musim ini sepertinya sudah menjadi target yang masuk akal bagi Fabio Grosso. Bagaimanapun, ia tak dibekali dengan skuad yang mapan dan datang ketika Lyon sedang buruk-buruknya.
Apa yang terjadi dengan Lyon musim ini adalah contoh rusaknya sebuah klub besar yang ditimbulkan oleh kepemilikan yang buruk dan perselihan internal di antara para anggota dewan klub. Selama konflik internal masih terjadi dan selama John Textor dan Jean-Michel Aulas masih berperang, selama itu pula Lyon akan terus menderita.
Jika Lyon terdegradasi di akhir musim nanti, rasanya hasil akhir tersebut sudah bukan sebuah hal yang mengejutkan.
Referensi: Eurosport, Ouest-France, The Guardian, Ligue 1.


