Jauh menatap ke negeri yang pernah menjadi penjajah, nama Jaap Stam muncul sebagai salah satu nama paling ditakuti. Sebagai seorang prajurit di lapangan hijau, dia selalu terlihat tegap dan dibekali dengan senjata lengkap yang terbalut rapi dalam kehebatannya.
Jaap Stam merupakan sosok monster bagi para penyerang di atas lapangan. Memiliki tubuh tinggi dan kekuatan memadai, ia menjadi pemain yang begitu sulit dilewati. Jaap Stam, yang sudah memutuskan pensiun pada tahun 2007 silam layak dimasukkan ke dalam daftar pemain legenda.
Lahir di Kampen, Overijssel, Stam memulai karirnya dengan klub sepak bola amatir bernama DOS Kampen. Pada Agustus 1992, Stam kemudian melakoni debut profesionalnya untuk FC Zwolle. Ketika itu ia masuk ke dalam pertandingan yang berakhir dengan hasil imbang 1-1 melawan SC Heracles di Eerste Divisie. Karena memiliki bakat yang sangat luar biasa, Stam lalu digaet klub Eredivisie, Cambuur Leeuwarden, dan langsung diplot sebagai pemain utama.
Dua musim di Cambuur membuat Stam merasa puas. Setelah tampil untuk tim tersebut, ia lalu putuskan untuk bergabung dengan Willem II. Disinilah, karirnya melejit. Stam dipandang sebagai pemain komplit yang siap menjaga lini pertahanan tim dengan sangat percaya diri.
Stam memang begitu menakutkan secara fisik. Dia memiliki wajah sangar dan siap menerjang lawan secara membabi buta. Karakternya memang keras. Namun itulah yang menyebabkannya menjadi pemain dunia. Dia tak kenal takut dan siap mengorbankan segalanya hanya untuk tim yang dibelanya.
Keberanian serta ketegasan di lini belakang itu lalu membuat raksasa Negeri Kincir Angin, PSV Eindhoven, kepincut untuk merekrutnya. Pada musim 1996/97, Stam boleh dikatakan menjadi pemain kunci Eindhoven. Hal itu memang terasa wajar. Pasalnya, ada banyak piala yang berhasil dipersembahkannya.
Secara individu, ia diberi penghargaan VVCS Footballer of the Year. Secara tim, ia berhasil persembahkan trofi Eredivisie Belanda, Piala KNVB, dan trofi Johan Cruyff Shield.
Bakatnya disana lalu tercium oleh klub-klub besar Eropa, tak terkecuali Manchester United. Pada tahun 1998, Stam kemudian resmi menjadi pemain sepak bola Belanda termahal dalam sejarah, sekaligus bek termahal dalam sejarah, ketika Manchester United membelinya seharga 10,6 juta pounds atau setara 208 miliar rupiah.
Manchester United boleh dibilang menjadi salah satu klub terbaik yang pernah dibelanya. Dia menghabiskan waktu selama tiga musim disana, dengan banyak sekali kenangan yang tercipta. Stam segera menjadi idola begitu sampai di Manchester United. Sebab, dia menjadi pemain dengan karakter yang disukai fans. Jaap Stam adalah pemain yang lugas dan tanpa kompromi di lini belakang.
Karakternya sangat-sangat cocok bila harus diadu dengan para pemain disana. Laga keras dan juga benturan-benturan tak terduga sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ia sudah terbiasa. Lebih dari itu, dia mungkin menjadi salah satu pemain yang membuat Liga Primer Inggris lekat dengan permainan yang begitu ketat.
Ketika itu, Stam punya tiga kemampuan utama untuk menopang strategi yang diterapkan Sir Alex. Kecepatan, kekuatan, dan kemampuan memainkan bola. Itu semua murni dimiliki oleh monster di lini pertahanan. Tak heran jika julukan De Rots van Kampen atau Karang dari Kampen melekat padanya.
Menjadi pemain inti di musim utama menjadi sebuah prestasi bagi Stam. Yang menakjubkan, dia langsung mampu mempersembahkan tiga gelar dalam satu musim kompetisi, yakni Premier League, FA Cup, dan Liga Champions. Ya, Jaap Stam menjadi bagian dari skuad legendaris United musim 1998/99.
Catatan apik di pentas domestik terus dilanjutkan pemain bertinggi 190 cm ini. Namun belum juga menyempurnakan musim keempatnya di Old Trafford, Stam sudah langsung temui masalah. Sempat memainkan satu laga di Premier League, dia kemudian didepak dan dijual ke Lazio.
Usut punya usut, kepergian Stam dari MU yang sangat mengejutkan kala itu merupakan buntut dari konfliknya dengan sang manajer, Sir Alex Ferguson. Fergie yang mewakili pihak United merasa tidak senang dengan sebuah tulisan yang dibuat Stam dalam buku autobiografinya.
Stam mengungkap pendekatan ilegal yang dilakukan United kepada PSV untuk mendapatkannya. United lantas murka dengan tulisan tersebut, hingga masalah ini membuatnya berada di pintu keluar Old Trafford.
Stam menceritakan bahwa ketika itu Fergie menelfonnya ketika dia masih berada di sebuah terminal pengisian bahan bakar. Sesaat setelah menelfon, Fergie, diungkapkan Stam, langsung menghampirinya ke tempat dia berada.
Saat itu juga, sang manajer mengatakan kalau Stam harus segera pergi, dengan ia diminta untuk pergi ke Lazio. Perlu diketahui bahwa ketika itu Lazio memang sudah mengajukan tawaran kepada MU. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Fergie tak berpikir lama untuk menerima tawaran tim asal ibukota.
Lazio mengeluarkan dana sebesar 16 juta pounds atau setara 315 miliar rupiah untuk membawa Stam ke Italia. Dia tampil luar biasa dan berhasil sumbangkan trofi Copa Italia musim 2003/04.
Setelah bermain untuk Elang Ibukota, Stam memutuskan untuk terima pinangan AC Milan. Milan tertarik untuk mendatangkan Stam setelah melihat penampilan gemilang sang pemain di ajang Piala Eropa 2004.
Ketika itu, Milan seolah memberi kehidupan kedua bagi Jaap Stam. Berduet dengan Alessandro Nesta, Jaap Stam kembali menemukan performa terbaiknya. Keberadaan Paolo Maldini juga membuat Jaap Stam mudah menjalankan tugas di Milan. Meski hanya bertahan selama dua musim dan cuma memenangkan Piala Super Italia, Stam mengaku punya pengalaman luar biasa di Milan.
Dia panas disebut sebagai salah satu legenda Milan berkat keganasannya di lini belakang.
Saat ditanya soal Milan dan Manchester United, Stam tidak benar-benar bisa memastikan mana yang paling memberikan kenangan indah. Pasalnya, pemain asal Belanda itu begitu menghormati dua raksasa Eropa tersebut. Dia merasa senang pernah menjadi bagian dari keduanya, hingga masuk ke dalam daftar pemain bersejarah mereka.
Pada tahun 2006, Stam sempat pulang ke Belanda, dengan bergabung bersama Ajax Amsterdam, sebelum akhirnya mengakhiri karir profesionalnya sebagai seorang pesepakbola.
Pasca pensiun dari dunia sepak bola, Stam memutuskan untuk mengambil tugas sebagai seorang juru taktik. Memulai karir di PEC Zwolle sebagai caretaker, Stam yang membesut beberapa tim, termasuk Feyenoord pada tahun 2019 lalu kini berstatus sebagai manajer klub Major League Soccer, FC Cincinnati.


