Beranda blog Halaman 791

Ketika Suporter Blackburn Rovers Melempar Ayam Hidup Ke Lapangan

0

Seperti sepasang sandal yang tak akan ada artinya jika pasangannya hilang, seperti itulah hubungan sepakbola dengan suporternya. 

Seperti yang kita tahu bahwa suporter cukup berperan penting dalam sepakbola. Teriakan dukungan mereka bisa menjadi api semangat untuk kesebelasan yang sedang bertanding di lapangan. 

Suporter akan jadi pihak yang bersorak senang saat tim yang didukungnya menang, dan jadi pihak yang paling sedih saat kesebelasan yang dicintai masuk jurang degradasi.

Tak jarang, demi menyelamatkan tim yang mereka dukung dari penurunan kasta, mereka akan melakukan aksi protes pada manajemen klub.

Seperti yang dilakukan oleh suporter Blackburn Rovers. Mereka melakukan aksi protes dengan cara yang tak lazim, yakni dengan melemparkan seekor ayam hidup ke lapangan.

Peristiwa itu terjadi pada pekan ke-37 Liga Primer Inggris musim 2011/2012, saat itu Blackburn harus menghadapi Wigan Athletic di Ewood Park. Sayangnya, pada pertandingan itu, Blackburn takluk dari Wigan lewat gol tunggal Alcaraz di penghujung laga.

Dan meski masih ada satu laga terakhir, namun sudah dipastikan bahwa Blackburn tidak bisa keluar dari zona degradasi.

Terpuruk di posisi 19 klasemen setelah hanya mengantongi 31 poin dari 37 laga yang telah dilakoni, The Rovers tertinggal 6 poin dari Queen Park Rangers yang berada di posisi 17.

Blackburn yang kala itu membutuhkan kemenangan agar bisa bertahan di kompetisi teratas Inggris, terpaksa mengubur asanya.

Para pendukung Blackburn yang tak terima, mengecam manajemen Blackburn. Mereka melampiaskan kekecewaan mereka dengan melemparkan ayam hidup ke lapangan, saat pertandingan antara Blackburn dan Wigan sedang berlangsung.

Setelah sempat mengganggu jalannya pertandingan, ayam tersebut akhirnya bisa ditangkap oleh petugas lapangan

Ayam dengan balutan bendera Blackburn dan tulisan ‘pergi!’ itu adalah simbol kritikan suporter yang ditujukan pada kebijakan manajemen Venky’s London Limited, perusahaan yang mengakuisisi klub ini sejak 2010 lalu.

Selain melempar ayam, para suporter juga meneriakkan tuntutan pada The Venky’s untuk menjual klub tersebut. Sebuah spanduk juga dibentangkan seorang fans di lapangan setelah peluit panjang yang bunyinya mencela manajemen dan sang pemilik.

Kekesalan para suporter terhadap manajemen bukanlah tanpa alasan. Mereka sebenarnya sudah protes kepada manajemen klub sejak awal-awal musim, saat performa tim buruk. Dan degradasinya Blackburn ke kasta kedua adalah puncak dari bobroknya manajemen klub. 

Seperti diketahui, perusahaan olahan daging unggas asal India, The Venky’s mengakuisisi Blackburn pada 2010.

Mengutip BBC, pemilik Blackburn sebelumnya, Jack Walker, menjual 99,9 persen saham klub dengan nominal 43 juta pounds. Saat pertama kali diumumkan sebagai pemilik, bos The Venky’s, Anuradha J Desai, berjanji bakal melanjutkan dan mempertahankan hal-hal bagus yang telah diwariskan pada era Jack Walker.

Waktu lantas membuktikan jika kalimat Desai itu cuma bualan. Hanya tiga pekan setelah menguasai Blackburn, The Venky’s mendepak pelatih utama Sam Allardyce. Keputusan ini membuat barisan suporter Blackburn geleng-geleng kepala.

Pasalnya, Allardyce sebenarnya punya portofolio lumayan. Musim 2009/10, dia mampu membawa Blackburn menembus semifinal Piala Liga. Di bawah asuhan Big Sam pula, pada musim yang sama, The Rovers sukses menempati peringkat 10 Liga Primer–capaian yang relatif baik untuk klub yang belum lama kembali dari jurang degradasi.

Allardyce mengatakan, dirinya ‘sangat terguncang dan kecewa’ ketika klub berada di peringkat ke-13 di klasemen liga, tepat setelah pemecatannya pada Desember 2010,, sementara itu manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, menyebut pemecatan tersebut sebagai ‘kebodohan.’ 

Masalah apa yang menjadi alasan pemecatan ini tak pernah dipublikasi. Namun ada rumor yang membahas Allardyce frustasi dengan kebijakan transfer yang dirancang Venkys. Setelah lengsernya Allardyce, The Venkys menganugerahkan status pelatih tim utama kepada Steve Kean sebagai caretaker dengan opsi menjadi manajer permanen.

Namun Steve Kean gagal mengangkat performa Blackburn di musim 2010/11. Bahkan di musim 2011/12, Blackburn harus terdegradasi ke Divisi Championship setelah gagal bertahan di Liga Primer Inggris. The Venky’s sendiri hingga sekarang masih menjadi pemilik klub Blackburn Rovers.

 

5 Pertandingan Terbaik Saat Boxing Day

0

Jika bagi kebanyakan orang, natal dan tahun baru adalah saatnya untuk bersantai bersama keluarga dan orang-orang tercinta, lain cerita dengan para pesepakbola yang main di Liga Inggris. Pasalnya, sehari setelah merayakan natal mereka harus disibukkan dengan Boxing Day atau Festive Period.

Tradisi Boxing Day sendiri adalah tradisi dimana dalam kurun waktu satu pekan klub-klub di Inggris bisa bermain sampai 3 kali.  Seperti kompetisi sepak bola lainnya, pada matchday yang diselenggarakan sehari setelah Natal ini juga ada banyak laga-laga terbaik.

Untuk itu kali ini Starting Eleven akan sajikan daftar 5 pertandingan terbaik saat Boxing Day.

Sheffield Wednesday 3-3 Manchester United (1992)

Laga Boxing Day pertama kali era Liga Primer terjadi pada 26 desember 1992, musim 1992/93. Pada pekan tersebut, terselip laga panas antara tuan rumah Sheffield Wednesday melawan Manchester United. Pertandingan yang dihelat di stadion Hillsborough itu berakhir dengan enam gol.

Yang membuat laga ini menarik adalah saat tim tamu harus tertinggal dulu dari sang tuan rumah dengan skor 3-0 di babak pertama. Namun, di paruh kedua, tim besutan Sir Alex Ferguson itu mampu menyamakan skor menjadi 3-3, di mana gol terakhir dibuat oleh bintang MU Eric Cantona di detik-detik akhir laga. Manchester United kemudian keluar sebagai sang kampiun di akhir kompetisi.

Coventry City 3-2 Arsenal (1999)

Tim kuat Arsenal masih menjadi favorit ketika mereka tiba di markas Coventry City, Highfield Road pada 26 Desember. Namun, meski datang sebagai tim unggulan, Meriam London tak menyangka jika laga Boxing Day menjadi sebuah malapetaka untuk mereka. Tim yang diasuh Arsene Wenger itu harus bertekuk lutut dari Coventry di saat mereka berusaha meraih poin penuh untuk menjaga persaingan di jalur juara.

The Sky Blues unggul 2-0 di babak pertama lewat aksi Gary McAllister dan Mustapha Hadji.  Namun pada menit ke-67, Freddie Ljungberg memperkecil kedudukan. Akan tetapi, menit ke-71 Robbie Keane membawa Coventry menjauh jadi 3-1. Gol Davor Suker empat menit jelang usai gagal menghindarkan Arsenal dari kekalahan 2-3. 

Membuang tiga poin di laga ini pada akhirnya berkontribusi besar dalam kegagalan Arsenal menjuarai Liga Inggris.

Chelsea 4-4 Aston Villa (2007)

Sangat pantas bila laga antara Chelsea vs Aston Villa di Boxing Day musim 2007/08 dimasukkan ke dalam daftar ini. Laga kedua tim berlangsung sangat seru. Selain dibanjiri gol, laga yang berlangsung di Stamford Bridge itu juga diwarnai dengan tiga kartu merah dan dua hadiah penalti. Tim Chelsea yang kala itu diperkuat para pemain seperti Frank Lampard dan Didier Drogba dibuat tertekan oleh permainan Aston Villa yang dimotori oleh Gareth Barry. 

Kedua tim sendiri sebenarnya mampu menampilkan permainan menyerang yang luar biasa, bahkan saling balas membalas gol ikut terjadi dalam laga tersebut. Namun sayangnya, The Blues mendapatkan dua kartu merah secara beruntun, salah satu diantaranya berbuah penalti untuk tim lawan. Hasil imbang 4-4 pun menjadi skor akhir di laga Boxing Day tersebut.

Aston Villa 2-2 Arsenal (2008)

Hanya setahun kemudian, Aston Villa asuhan Martin O’Neill kembali terlibat dalam salah satu pertandingan Boxing Day yang paling berkesan dalam ingatan. Terlepas dari status mereka sebagai tim papan tengah saat ini, The Villans kala itu adalah penantang serius untuk empat besar dan Villa Park adalah salah satu stadion angker untuk dikunjungi di Liga Primer.

Meskipun berada di bawah tekanan setelah Arsenal unggul 2-0 melalui Denilson dan Abou Diaby, tetapi Aston Villa bangkit dan memperkecil keadaan lewat penalti sang kapten, Gareth Barry. Lalu, di detik-detik terakhir, Zat Knight melepaskan tembakan dan berhasil menyamakan skor 2-2, membuat Villa Park saat itu bergemuruh.

Manchester United 4 – 3 Newcastle United (2012)

Musim 2012/13 adalah kali terakhir Manchester United menjadi juara Liga Primer Inggris. Dan di musim itu, mereka kembali terlibat dalam salah satu laga Boxing Day paling menarik dalam sejarah. Bertanding di Old Trafford, MU harus bersusah payah menghadapi pasukan Alan Pardew.

MU yang saat itu masih dilatih Sir Alex Ferguson dibuat terkejut dengan penampilan spartan Newcastle United. Kejar-kejaran gol terjadi antara kedua tim sampai akhirnya skor 3-3 tercipta di babak injury time. Ketika laga disangka akan berakhir imbang, Javier ‘Chicharito’ Hernandez sukses menjadi penentu kemenangan untuk Setan Merah. Laga ini pun semakin mempertegas istilah Fergie Time alias gol penentu kemenangan yang terjadi di penghujung pertandingan.

itulah 5 pertandingan terbaik saat boxing day yang berhasil kami rangkum, laga mana yang menurutmu paling menarik?

Mengapa Wasit Memakai Seragam Hitam Atau Kuning?

0

Wasit punya peran penting dalam setiap pertandingan olahraga, tak terkecuali sepakbola. Dengan adanya pengadil lapangan, pertandingan yang tengah berlangsung akan berjalan lebih sportif dan terhindar dari berbagai kecurangan. 

Dalam sepakbola sendiri, biasanya ada empat wasit yang bertugas, satu wasit utama yang bertugas di lapangan, dua hakim garis, dan terakhir adalah wasit cadangan. Sebagai pemegang wewenang tertinggi dalam pertandingan, biasanya gerak gerik para wasit tersebut juga sangat diperhatikan oleh banyak pihak.

Terlepas dari kontroversi keputusan yang mereka ambil, salah satu hal yang sering jadi sorotan adalah mereka yang hampir selalu mengenakan seragam berwarna hitam atau kuning. Seringnya menggunakan dua warna itu, membuat banyak orang menyimpulkan jika seragam wasit itu berwarna kuning dan hitam.

Tapi, benarkah begitu?

Sebenarnya, di jaman dulu, pertandingan sepakbola tak pernah melibatkan seorang pengadil lapangan. Saat itu, yang bertindak sebagai pengambil keputusan adalah kapten dari masing-masing kesebelasan. Keduanya akan berdiskusi untuk mengambil keputusan jika terjadi perselisihan antar tim.

Namun, ternyata cara itu kurang efektif. Akhirnya, ditunjuklah seseorang untuk jadi pengadil lapangan. 

Seiring berjalannya waktu, perkembangan sepakbola semakin kompetitif. Situasi itu menuntut akan adanya wasit dalam satu pertandingan. Sampai akhirnya, pada Maret 1893 Federasi Sepakbola Inggris (FA) mengadakan pertemuan di London.

Pertemuan itu diadakan untuk menunjuk wasit sebagai orang yang bertanggung jawab memimpin jalannya pertandingan. Lalu pada 1908, untuk menaungi para pengadil lapangan dunia, Persatuan Wasit Dunia pun dibentuk.

Sejak dulu, para wasit sepak bola memang hampir selalu mengenakan seragam berwarna hitam, kecuali jika salah satu tim yang bertanding mengenakan seragam dengan warna sangat gelap maka wasit akan mengenakan warna lain. 

Sebelum jersey muncul, blazer adalah seragam para wasit jaman dulu. Karena di masa itu dengan mengenakan blazer, wasit akan terlihat lebih jelas dan dapat dibedakan dengan pemain saat berada di tengah lapangan.

Hingga akhirnya, di awal tahun 90-an, karena jumlah penonton yang terus bertambah dan saran dari pihak pertelevisian, wasit mulai menggunakan warna-warna cerah seperti kuning dan hijau.

Sejak itulah, saat ini kebanyakan wasit memakai seragam warna kuning atau hitam. Meski demikian, tetap ada variasi berbeda antara warna dan gaya yang dipilih oleh pihak asosiasi sepakbola.

Peraturan FIFA sendiri telah menetapkan bahwa wasit memakai celana pendek hitam, kaos kaki hitam dan sepatu hitam. Sedangkan untuk pakaian atas, bisa menggunakan warna hitam, merah, kuning, hijau atau biru.

Idealnya, apa yang dikenakan wasit saat sedang berada di lapangan memang harus berbeda dengan yang dipakai oleh para pemain. Tujuannya jelas, para pemain tidak kebingungan saat harus mengoper bola ke rekan setimnya

Lalu, kenapa harus warna hitam?

Karena tak banyak tim sepakbola yang menggunakan warna ini pada seragam mereka.

Tentu saja, tren bisa berubah kapan saja. Namun, dalam beberapa tahun terakhir belum ada tim di 5 liga teratas Eropa yang menggunakan seragam kandang berwarna hitam. Meski, ada pula yang menggunakannya sebagai seragam tandang atau jersey ketiga.

Kesimpulannya, tidak ada aturan khusus yang menyebut wasit harus menggunakan jersey warna hitam atau kuning. Wasit pun boleh saja menggunakan warna lain, hanya saja karena kita keseringan melihat wasit berseragam hitam dan kuning, akhirnya banyak yang menyimpulkan jika wasit harus memakai dua warna itu.

Warna apapun itu sah-sah saja, asal tidak sama dengan warna jersey yang dikenakan dua kesebelasan yang sedang bertanding.

 

 

 

Diperebutkan Inggris, Nigeria dan Uganda, Siapa Sebenarnya Ovie Ejeheri

Nama Ovie Ejeheri mungkin terdengar asing bagi kebanyakan dari kita. Namun, pemain kelahiran tahun 2003 yang kini membela Arsenal itu tengah menjadi sorotan karena masih diburu oleh tiga negara sekaligus!

Ya, Ovie Ejeheri memenuhi syarat untuk bermain membela Inggris, Nigeria, dan juga Uganda. Kabarnya tiga negara itu tengah berjuang untuk bisa mendapatkan kiper berusia 17 tahun lulusan akademi sepak bola Arsenal, Hale End.

Federasi sepak bola Inggris sangat menginginkan penjaga gawang muda itu. Mereka bahkan telah memanggilnya untuk bergabung ke kamp pelatihan penjaga gawang kelompok usia pada Desember mendatang.

Malah, bakatnya juga tengah dipantau oleh beberapa klub asal Britania. Mereka dikabarkan terkesan dengan bakat Ejeheri yang tengah diperebutkan oleh tiga negara itu.

Ejeheri sendiri lahir di Greenwich, London, 23 April 2003. Dia telah bergabung dengan akademi Arsenal sejak usia lima tahun. Hingga kini, dia belum menandatangani kontrak profesional, dan dapat ditawari kontrak profesional di tahun-tahun mendatang jika dia berhasil mengesankan para pelatih akademi.

Meski lahir di Inggris, dia juga memiliki garis keturunan Nigeria dan Uganda.

Sebelumnya, situasi serupa dengan kasus Ovie Ejeheri juga sempat terjadi pada sosok Alex Iwobi, yang juga merupakan lulusan akademi Arsenal. Berita yang sempat ramai saat itu memunculkan fakta kalau Alex Iwobi akhirnya memutuskan untuk mewakili Nigeria di sepak bola internasional, meski dirinya sempat bermain untuk Inggris di level junior.

Di usia yang masih tergolong sangat muda, butuh banyak masukan hingga pengalaman bagi Ejeheri untuk menentukan pilihan. Dia harus memikirkan matang-matang negara mana yang benar-benar menghargai dan membutuhkannya.

Karena bila tidak, nasibnya tak akan berjalan sesuai rencana. Dia hanya akan dikenang sebagai salah satu pemain muda yang sempat viral, dan tak mendapat apa-apa dari pilihannya.

Sampai saat ini, Ejeheri yang begitu mengidolakan Gianluigi Buffon masih tergolong santai menanggapi spekulasi masa depannya. Dia masih ingin bekerja keras dan berlatih untuk bisa meningkatkan kemampuan menjaga gawangnya.

Disamping itu, dia juga memiliki ambisi besar untuk bisa menjadi salah satu kiper terhebat dunia.

“Tujuan ku dalam tiga tahun ke depan adalah bermain sepak bola di tim utama level klub dan mewakili Inggris atau Nigeria di level internasional,”

“Aku menantikan tantangan sepak bola profesional dan internasional di level tertinggi.”

Singh Family: Fans Setia MU Yang Selalu Duduk Di Tribun Old Trafford di Setiap Pertandingan

Tidak bisa dipungkiri bila sampai saat ini Manchester United masih menjadi salah satu klub paling populer di dunia. Sejak era Liga Primer Inggris dibentuk. MU masih menjadi tim dengan jumlah gelar terbanyak. Hal itulah yang pada akhirnya membuat banyak orang tertarik untuk mendukung.

Bicara soal pendukung Manchester United, ada sekelompok orang yang dikenal loyal. Mereka selalu terlihat di tribun ketika tim kesayangan bertanding. Uniknya, sekelompok penggemar ini bukan merupakan keturunan Inggris langsung, sehingga ketika duduk di tribun, wajah mereka begitu mudah dikenali.

Inilah Singh Family.

The Singh Family, tak ubahnya menjadi sebutan ikonik yang diberikan media dan suporter The Red Devils kepada 5 orang India. Mereka selalu hadir di pertandingan kandang Setan Merah pada semua ajang resmi maupun uji coba.

Lima orang yang begitu ikonik tersebut adalah Craig Singh, Simon Singh, Kuk Singh, Jimmy Singh, dan Satta Singh.

Bicara soal loyalitas, maka kelima orang ini layak memegang gelar juara. Betapa tidak, selain Jimmy yang selalu hadir dalam kurun waktu 50 tahun karena dia adalah anggota tertua, empat orang lainnya juga tak pernah absen dalam pertandingan Manchester United di Old Trafford selama lebih dari 20 tahun!

Diketahui, keluarga ini benar-benar menjadi penggemar Manchester United sejak lama. Kecintaan mereka kemudian bertambah setelah mendengar ucapan legenda klub, Eric Cantona, yang mengatakan bahwa kita semua bisa mengganti istri, pandangan politik, hingga agama. Namun untuk tim favorit, maka itu akan sangat mustahil.

Kata-kata itu benar-benar membuat keluarga Singh terpantik untuk terus mendukung Manchester United. Dalam kondisi apapun, mereka selalu setia dan mengucap ikrar nya untuk selalu menjadi penggemar MU.

Selain karena ucapan Cantona, keinginan keluarga Singh untuk terus hadir adalah karena mereka selalu mendapat sambutan hangat dari pelatih legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson. Fergie, sapaan akrab manajer tersebut, selalu meminta keluarga Singh untuk terus hadir dalam setiap laga yang dijalani MU. Selain itu, Fergie juga tak sungkan untuk memberi jabat tangan kepada seluruh anggota keluarga Singh, sebagai bentuk apresiasi atas apa yang telah dilakukan.

“Aku memulainya dari 1968. Aku menyaksikan final Liga Champions (1967/68). Aku tinggal di daerah (di Manchester) yang di sekeliling ku adalah pendukung Manchester City. Hanya aku sendiri yang menyaksikannya,” kata Jimmy

Karena menjadi pendukung setia Manchester United sejak lama, keluarga Singh mengaku hafal dengan deretan pemain hebat yang pernah berlaga di Old Trafford, sekaligus momen-momen luar biasa yang diciptakan oleh para pasukan Setan Merah.

Beberapa anggota keluarga Singh mengatakan bahwa mereka pernah begitu terkesan dengan gol-gol indah yang diciptakan oleh Eric Cantona. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa gol terbaik yang pernah disaksikan adalah ketika Wayne Rooney melakukan tendangan akrobatik ke gawang Manchester City.

Keberadaan keluarga Singh yang begitu mencolok benar-benar membuat semua orang menaruh perhatian. Malah MU pernah menjadikan keluarga tersebut sebagai model iklan, dalam sebuah laga testimonial Ole Gunnar Solskjaer menghadapi Espanyol pada 2008 silam.

Sejak munculnya nama keluarga Singh di berbagai media, semakin banyak orang-orang India yang mengenakan surban Sikh ketika datang ke Old Trafford.

Gerard Houllier, Wakil Kepala Sekolah Yang Jadi Legenda Liverpool

Setelah kepergian sejumlah legenda sepakbola pada tahun ini, dunia si kulit bundar kembali berduka. Kali ini, mantan manajer Liverpool, Gerard Houllier menghembuskan nafas terakhirnya.

Gerard Houllier yang merupakan sosok legenda Liverpool meninggal dunia di usia 73, pada pertengahan Desember 2020. Houllier meninggal dunia beberapa hari setelah menjalani operasi jantung. Sejak 2001, ia memang diketahui memiliki riwayat penyakit dalam tersebut. Tercatat, pelatih asal Prancis itu memanajeri Liverpool pada periode 1998–2004.

Manajer Legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, melabeli mendiang eks juru taktik Liverpool tersebut sebagai “Laki-laki sejati”.

“Gerard Houllier masih tampak muda pada usia 73 tahun. Gerard menjadi teman yang sangat baik selama waktunya di Liverpool.”

“Kami tetap berteman baik setelah dia meninggalkan liga dan dia selalu menjadi sahabat yang hebat. Dia memiliki pengetahuan sepakbola yang fantastis yang dia peroleh selama karirnya yang luas dan bervariasi.” (via goal)

Salah satu mantan anak asuhnya, Steven Gerrard, juga tidak bisa menyembunyikan kesedihan kala mengetahui kabar kematian sang pelatih. Mantan kapten Liverpool itu secara terbuka mengungkapkan rasa kesedihannya di tengah-tengah konferensi pers menjelang laga St Mirren vs Rangers. Gerrard mengaku sangat kehilangan sosok pelatih dan ayah yang membuatnya menjadi pemain yang lebih baik sebelum akhirnya menjadi pelatih di klub Glasgow Rangers.

“Houllier lebih dari sekadar pelatih untuk ku. Dia adalah sosok yang penuh perhatian, pria yang penuh cinta kasih,” kata Steven Gerrard. (via bbc)

Tidak hanya Gerrard, dua legenda Liverpool lainnya, yakni Jamie Carragher dan Michael Owen juga merasa sangat sedih dan berduka mendengar Gerard Houllier meninggal dunia. Kedua mantan pemain itu melalui akun media sosial pribadinya mengungkapkan rasa kesedihan yang mendalam.

Michael Owen yang meraih Ballon d’Or saat diasuh Houllier pada 2001 mengaku sangat terpukul karena kehilangan sosok pelatih hebat yang penuh perhatian. Di sisi lain, Jamie Carragher juga turut menceritakan tentang betapa berjasanya Houllier terhadap karier sepak bola dirinya dan kejayaan Liverpool.

Lahir di Therouanne, Houllier masuk ke Universitas Lille untuk mengejar gelar pendidikan bahasa Inggris. Akan tetapi pada tahun pertamanya di studi tersebut, penyakit ayahnya yang serius memaksa Houllier untuk keluar dari kampus dan mulai bekerja. Ketika itu, setelah mencari beberapa pekerjaan yang dirasa cocok, akhirnya ia bertindak sebagai seorang guru sekolah.

Houllier, dalam masanya menjadi guru juga sempat diangkat sebagai wakil kepala sekolah, di sebuah sekolah yang terletak di Prancis. Setelah benar-benar ingin mengabdikan dirinya dalam dunia sepakbola, dia lalu berhenti dan keluar dari sekolah untuk meneruskan pekerjaan sekaligus hobi, yaitu menjadi seorang player-manager di usianya yang baru menginjak 26 tahun.

Sebagai seorang pesepakbola, Houllier bukanlah sosok spesial. Dia tergolong pemain biasa saja dan jarang mendapat sorotan. Sepanjang karirnya sebagai seorang pemain, Houllier juga tidak pernah membela tim-tim besar. Dia hanya bermain untuk tim semenjana Prancis.

Ketika tampil untuk Le Touquet, Houllier dipercaya sebagai pelatih karena dinilai punya jiwa kepemimpinan tinggi, meski skil olah bolanya tidak terlalu baik.

Sejak saat itu, dia terus menekuni pekerjaannya sebagai seorang pemain-pelatih, setidaknya sampai tahun 1980. Sempat membesut Mines dan Lens, Houllier lalu dipercaya untuk melatih Paris Saint Germain pada tahun 1985.

Di PSG, dia memberikan perubahan besar bagi klub tersebut. Dia berhasil mengangkat performa PSG yang biasa duduk di tangga bawah sampai ke puncak kompetisi Liga Prancis. Berkat kemampuannya yang cukup menarik di PSG, timnas Prancis lalu memboyongnya ke kursi kepelatihan tim.

Sejak tahun 1988 sampai 1997 Gerard Houllier menangani Prancis dari tim utama sampai ke berbagai jenjang usia. Bersama timnas senior dia memang tidak berhasil memenangkan piala, tapi bersama tim muda, dia berhasil membawa trofi Piala Eropa untuk timnas Prancis U-18.

Dari tim muda tersebut, Houllier termasuk mengelola salah satu pemain yang nantinya bakal menjadi bintang, yaitu Thierry Henry.

Hingga tepat pada tahun 1998, perjalanan emas Gerard Houllier mulai ditapaki. Dia pergi ke Inggris dan menerima tawaran untuk melatih Liverpool.

Saat pertama kali menjabat sebagai pelatih Liverpool, dia berduet dengan Roy Evans dalam menukangi Liverpool sebelum mengemban tugas tersebut sendirian empat bulan berselang. Di awal kedatangannya, Houllier melepas pemain macam Paul Ince dan David James. Steve McManaman juga pergi dengan status bebas transfer.

Kepergian para pemain membuat Houllier mendatangkan delapan pemain baru untuk membentuk skuad tangguh. Delapan pemain itu adalah Sami Hyypia, Dietmar Hamann, Vladimir Smicer, Sander Westerveld, Titi Camara, Erik Meijer, Djimi Traore, dan Stephane Henchoz.

Setelah itu, dia juga turut mendatangkan Markus Babbel, Emile Heskey, hingga Christian Ziege, untuk kemudian dikombinasikan dengan pemain jebolan akademi, termasuk Jamie Carragher, Steven Gerrard, hingga Michael Owen.

Ketiga pemain tersebut, seperti diketahui, sukses menjadi bintang sepakbola. Jamie Carragher bahkan mengatakan kalau Houllier sukses membentuk sebuah budaya yang kuat di Liverpool. Dia sangat berjasa bagi siapapun, khususnya proses perkembangan The Reds menuju gelar juara.

Bersama skuad, fasilitas latihan di Melwood juga disulap menjadi sesuatu yang ‘istimewa’. Gerard Houllier, seperti Arsene Wenger di Arsenal, adalah orang Prancis yang tahu apa yang perlu dilakukan untuk mengubah timnya menjadi pemenang.

Musim 2000/01 mungkin jadi yang terbaik bagi perjalanan karirnya di Liverpool. Pasalnya, dia berhasil melabuhkan tiga gelar dengan memenangkan Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA. Gelar tersebut makin terasa lengkap karena Houllier juga berhasil mengantar Liverpool juara Piala Super Eropa usai menaklukkan Bayern Munchen dengan skor 3-2.

Selain mengantarkan Liverpool berprestasi selama enam musim di sana, Houllier juga terbilang sukses bersama Olympique Lyon. Tercatat, Houllier sukses membawa Lyon dua kali juara Ligue 1 sekaligus Trophee des Champions pada 2005 dan 2006.

Dari penghargaan individu, Houllier pernah meraih gelar Pelatih Terbaik Eropa 2001 dan Manajer Terbaik Ligue One 2007.

Setelah dirasa cukup menekuni petualangan sebagai seorang pelatih, Gerard Houllier lalu memutuskan pensiun bersama Aston Villa pada musim 2010/11.

Mengapa Banyak Pemain Muda Amerika Yang Main Di Bundesliga?

Bagi para pecinta sepakbola Jerman, atau Bundesliga, tentu sering sekali melihat bakat-bakat muda asal Amerika yang bermain di sana. Yang masih hangat diperbincangkan dan baru saja hijrah ke London, Christian Pulisic, pernah menjadi nama Amerika yang begitu sukses di kompetisi Bundesliga.

Meski masih berusia muda, Pulisic mampu menjawab tantangan serta keinginan para penggemar untuk bisa tampil maksimal dalam setiap pertandingan.

Pulisic menorehkan prestasi gemilang bersama Borussia Dortmund. Promosi ke tim utama pada tahun 2015, Pulisic sukses menjadi andalan Dortmund, hingga Chelsea berani membayar besar talenta sang pemain.

Sukses yang diraih oleh Pulisic ini rupanya menjadi inspirasi bagi banyak pemain lain. Salah satunya adalah bintang muda RB Leipzig yakni Tyler Adams. Adams bergabung dengan RB Leipzig pada Januari 2019 yang lalu. Sebelumnya, dia bermain untuk klub Major League Soccer, New York RB. Leipzig adalah klub Eropa pertama yang dibela oleh pemain kelahiran Wappingers Falls tersebut.

Dalam hal ini, Adams tidak menampik jika keputusannya dipengaruhi oleh sukses yang diraih oleh Pulisic.

Para pemain muda berbakat Amerika memang tampak begitu nyaman ketika tampil di kompetisi Bundesliga. Kebanyakan dari mereka kerap berhasil menjadi bintang hingga sukses meneruskan petualangan ke klub yang lebih besar. Namun sekali lagi, Jerman adalah negara pertama yang jadi tujuan mereka ketika pertama kali injakkan kaki di Eropa.

Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa Jerman? Mengapa bukan Liga Inggris, Serie A, atau bahkan La Liga, yang disitu juga terdapat beberapa klub terkenal seantero dunia.

Perlu diketahui bahwa kompetisi sepak bola kasta tertinggi Jerman tersebut untuk saat ini memiliki jumlah pemain Negara Paman Sam yang lebih banyak dari sejumlah liga lainnya.

Dalam hal ini ada sejumlah alasan yang mendasari mengapa banyak sekali pemain Amerika yang lebih memilih untuk merumput di Jerman ketika mendatangi Eropa. Pertama, bermain di Eropa tentu menjadi impian setiap pemain sepakbola.

Tak bisa dipungkiri jika benua biru memiliki kompetisi yang jauh populer dari yang lainnya. Oleh karena itu, banyak sekali pemain yang bercita-cita tampil di Eropa. Soal Jerman sendiri, Bundesliga Jerman memiliki daya tarik dan selalu memberi kesempatan bagi talenta-talenta muda untuk bersinar.

Sekali lagi, nama Christian Pulisic bisa dijadikan sebagai patokan.

Setelah berpartisipasi sebagai pemain di level U-17 dan U-19, pemain kelahiran 18 September 1998 ini meraih momen breakthrough-nya pada 2016. Namanya semakin dikenal luas dan predikat pemain termuda Amerika di Bundesliga Jerman pun diraihnya, meskipun kini rekor tersebut sudah dipatahkan oleh pemain Borussia Dortmund lainnya yakni Gio Reyna.

Selain itu, alasan paling umum mengapa banyak pemain Amerika yang memilih berkarir di Jerman adalah karena budaya bermain kedua negara tersebut sangat cocok, dengan Jerman maupun Amerika kerap menekankan pada skill berlari dan sepak bola menyerang cepat.

Pemain sepak bola muda Amerika biasanya dianggap kuat dan atletis, serta memiliki mentalitas juara yang tajam. Dalam hal ini, Jerman bertindak sebagai semacam sekolah sepak bola, yang membekali mereka dengan cara disiplin di luar lapangan dan pengetahuan taktis yang diperlukan untuk sukses di level tertinggi.

“Kami senang memiliki para pemain muda Amerika di Bundesliga, karena mereka adalah pemain yang luar biasa dan mereka memiliki semua yang kami ingin lihat di Jerman,”

“Mereka bagus dalam bertahan, mereka memiliki kecepatan dalam menyerang, dan mereka bisa mencetak gol dengan baik.” kata mantan kapten Jerman Lothar Matthaus (via Bleacher Report)

Matthaus, yang merupakan salah satu pesepakbola terhebat Jerman, percaya bahwa kemiripan antara cara bermain sepak bola di Amerika dan Jerman membuat Bundesliga menjadi kompetisi yang lebih mudah bagi pemain muda Amerika, untuk beradaptasi dengan beberapa liga top Eropa lainnya.

Selain memiliki gaya main yang mirip, satu alasan penting lainnya adalah Bundesliga mampu menjadi tempat yang begitu nyaman sekaligus memberi kesempatan bagi para pemain muda Amerika untuk berkembang.

Alasan lainnya adalah tentang masalah administratif. Pemain Amerika mengaku lebih mudah mendapatkan izin kerja di Jerman daripada di Inggris. Sebagaimana diketahui, di Inggris, pemain non-UE diharuskan untuk tampil dalam persentase tertentu dari pertandingan kompetitif senior negara mereka. Di Jerman, pemain tidak harus melewati banyak hal hanya untuk bisa mendapatkan izin kerja.

Selain itu, dibandingkan dengan Bundesliga, Liga Primer juga merupakan kompetisi dimana para pemain muda tidak terlalu diperhatikan. Hal tersebut juga lah yang lantas menjadi alasan mengapa sejumlah prospek berbakat Inggris justru mengikuti jejak pemain-pemain muda Amerika untuk menuju ke Jerman. Satu contoh nyata dalam kasus ini adalah Jadon Sancho.

Lantas bagaimana ketika sudah menyoal kompetisi lainnya seperti Serie A, La Liga, dan juga Ligue one?

Hambatan bahasa merupakan salah satu pertimbangan penting. Pemain Amerika jauh lebih mungkin untuk dapat berkomunikasi secara teratur dalam bahasa Inggris di Jerman, yang berada di peringkat 10 pada Indeks Kecakapan Bahasa Inggris, jauh di atas Spanyol (ke-32), Italia (ke-34) dan Prancis (ke-35).

Seperti diketahui, komunikasi yang tepat adalah bagian penting dalam proses adaptasi pemain, terutama bagi remaja yang telah terbang ke belahan dunia lain untuk mengejar impian sepak bola mereka.

Seperti yang sudah disinggung di awal, setelah mendapat sejumlah penjabaran mengapa Jerman menjadi negara favorit yang didatangi pemain muda Amerika, Bundesliga menjadi kompetisi yang banyak menelurkan bakat-bakat hebat asal Negeri Paman Sam.

Sejauh ini, sudah ada banyak nama yang layak diperhitungkan untuk beberapa tahun ke depan.

Misalnya saja Gio Reyna. Reyna yang saat ini membela Dortmund merupakan putra dari Claudio Reyna mantan pemain andalan di Timnas Amerika. Reyna yang masih berusia 17 tahun ini dianggap sebagai calon bintang Amerika.

Kemudian ada nama Josh Sargent. Penyerang berusia 20 tahun ini sudah memiliki tempat di Timnas Amerika dan menjadi andalan Werder Bremen.

Beberapa tahun ke depan, bukan tak mungkin bila akan ada lebih banyak lagi pemain muda Amerika yang memilih untuk memulai karir di Eropa bersama kompetisi Bundesliga Jerman.

Kisah Lee Martin, Pemain Yang Selamatkan Karir Sir Alex Ferguson Namun Dilupakan

Sir Alex Ferguson, dikenal sebagai salah satu pelatih terhebat sepanjang masa. Dalam karirnya, dia sudah banyak sekali telurkan pemain jempolan. Malah ada sejumlah pemain yang diberi pertandingan debut olehnya, dimana salah satu diantaranya adalah Lee Martin.

Lee Martin bukanlah pemain dengan kualitas super. Dia juga bukan pemain dengan segudang kenangan. Satu lagi, dia bukan pemain yang banyak mendapat sanjungan dari banyak penggemar. Namun begitu, dia menjadi sosok penting dari keberadaan Sir Alex Ferguson di kursi kepelatihan Manchester United.

Boleh dikatakan, bila tidak ada dirinya, Fergie mungkin sudah kehilangan pekerjaan dan tidak akan mampu mengukir sejarah bersama tim berjuluk Setan Merah.

Lee Martin memulai karirnya di tim junior MU. Setidaknya enam tahun dia tampil di tim muda sebelum akhirnya dipromosikan ke tim utama, pada tahun 1988. Debutnya bersama MU datang pada bulan Mei tahun 1988 ketika dia masuk ke dalam tim yang bermain melawan Wimbledon. Saat itu, MU berhasil menang dengan skor 2-1.

Gol pertamanya untuk MU datang pada Januari tahun 1989, ketika klub yang bermarkas di Old Trafford takluk dari West Ham United dengan skor 3-1.

Perlu diketahui bahwa sepanjang perjalanannya bersama MU, Lee Martin hanya mampu mencetak dua gol saja, dimana selain di laga melawan West Ham, satu gol lainnya menjadi yang paling bersejarah dalam karirnya.

Lee Martin layak disebut sebagai pahlawan, meski pada akhirnya namanya tidak terlalu diingat oleh khalayak.

Tepat pada 9 Desember 1989, MU bermain di Old Trafford untuk menjamu Crystal Palace. Akan tetapi, MU malah menelan kekalahan dan membuat klub keluar dari posisi 10 besar. Saat itu, mereka terdampar ke posisi 12 klasemen. Hal itu membuat para penggemar Setan Merah naik pitam. Fergie yang sudah diberi kesempatan selama setidaknya tiga tahun, sama sekali tidak bisa memberi perubahan bagi klub.

Dia dianggap gagal, hingga memunculkan sebuah banner yang berbunyi,

“3 years of excuses and we’re still crap. Ta-ra Fergie.”

Kalimat tersebut memiliki arti yang sudah jelas bahwa MU tetap menjadi tim semenjana, meski Sir Alex sudah menjabat disana selama tiga tahun lamanya. Malah, MU disebut sebagai sampah oleh para penggemar. Mereka begitu kecewa dengan tahun-tahun tiada arti yang dialami. MU gagal meraih gelar juara dan sama sekali kesulitan mengangkat performa.

Lebih dari itu, para penggemar semakin dibuat geram setelah MU benar-benar terjungkal. Mereka harus tenggelam di posisi ke 17 setelah menerima rentetan hasil minor. Dikatakan bahwa MU tidak pernah menang hingga membuat mereka berada di posisi yang sama sekali tidak diinginkan.

Ditengah situasi yang begitu runyam, Lee Martin yang baru saja menjalani debut seolah belum paham betul apa yang sebenarnya terjadi. Dia, sebagai seorang pemain muda, hanya ingin bermain dan membantu tim untuk keluar dari jurang kehancuran.

Di musim tersebut, Lee Martin yang berposisi sebagai bek kiri menjadi andalan Fergie, dengan total tampil dalam 32 pertandingan liga.

Di masa tersebut, kala manajemen meminta Fergie untuk memenangkan gelar, tidak ada yang dilakukan selain saling percaya. Akan tetapi, para petinggi klub juga tidak akan mudah terlena dengan hanya percaya. Mereka benar-benar menginginkan gelar untuk bisa yakin mempertahankan posisi Fergie.

Tanpa pikir panjang, Fergie langsung tertuju pada gelar Piala FA, karena memang ketika itu, turnamen tersebut menjadi yang paling realistis baginya.

Benar saja, perjalanan MU di turnamen tersebut terbilang mulus. Mereka berhasil melibas segala hadangan dalam diri Nottingham Forest, Hereford United, Newcastle United, dan Sheffield United. Meski langkah mereka sempat ditahan oleh Oldham, United kemudian melangkah ke final melawan Crystal Palace, setelah menang 2-1 ketika partai ulangan digelar tiga hari setelahnya.

12 Mei 1990, Lee Martin saat itu diturunkan sebagai starter beserta tiga pemain belakang lain seperti Steve Bruce, Gary Pallister, dan Mike Phelan. Namun begitu, dia tampil teledor dengan menjadi penyebab dari gol yang diciptakan oleh Gary O’Reilly.

Di laga itu, Lee Martin harus digantikan oleh Clayton Blackmore karena tampil begitu buruk. Dirinya menjadi penyebab dari gol yang dicetak tim lawan. Beruntung, laga berakhir imbang 3-3 sampai 120 menit lamanya.

Belum adanya babak adu pinalti membuat kedua tim harus melakoni partai ulangan lima hari setelahnya.

Uniknya, meski tampil buruk di pertandingan pertama, Fergie seolah masih menaruh yakin dalam diri Martin. Hasilnya, sang manajer hanya mengganti posisi kiper, sementara Martin tetap tampil dalam tim utama.

Dirinya yang mendapat kesempatan pun tak mau menyia-nyiakannya. Benar saja, di laga itu, dia mencetak gol yang pada akhirnya membuat Fergie terselamatkan.

Tepat pada menit ke 50, dia berhasil memenangi adu lari menghadapi John Pemberton untuk memanfaatkan umpan matang Neil Webb. Bola pun masuk ke gawang Nigel Martyn dan skor 1-0 bertahan hingga akhir pertandingan.

Gol ini jelas menjadi satu-satunya yang begitu berharga bagi Setan Merah. Pasalnya, gol tersebut sukses membuat MU memenangi piala FA pertama mereka setelah lima puluh tahun lamanya.

Tidak hanya itu, seperti yang sudah dijelaskan, ini menjadi gelar pertama yang diraih Ferguson, dan sekaligus membuat pekerjaannya sebagai manajer MU aman dari pemecatan.

Di akhir musim, setelah menjadi pahlawan Setan Merah, Lee Martin dianugerahi gelar pemain muda terbaik oleh klub.

Namun sayang, karir Lee Martin seolah hanya tampak pada laga final itu saja. Karena selebihnya, dia gagal bersinar dan lebih sering duduk di bangku cadangan. Hal tersebut juga diakibatkan dengan keberadaan Denis Irwin yang berhasil mengambil posisinya di tim utama.

Minimnya kesempatan bermain lalu membuat Lee Martin pindah ke Celtic dan melanjutkan karir ke sejumlah klub semenjana.