Setelah kepergian sejumlah legenda sepakbola pada tahun ini, dunia si kulit bundar kembali berduka. Kali ini, mantan manajer Liverpool, Gerard Houllier menghembuskan nafas terakhirnya.
Gerard Houllier yang merupakan sosok legenda Liverpool meninggal dunia di usia 73, pada pertengahan Desember 2020. Houllier meninggal dunia beberapa hari setelah menjalani operasi jantung. Sejak 2001, ia memang diketahui memiliki riwayat penyakit dalam tersebut. Tercatat, pelatih asal Prancis itu memanajeri Liverpool pada periode 1998–2004.
Manajer Legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, melabeli mendiang eks juru taktik Liverpool tersebut sebagai “Laki-laki sejati”.
“Gerard Houllier masih tampak muda pada usia 73 tahun. Gerard menjadi teman yang sangat baik selama waktunya di Liverpool.”
“Kami tetap berteman baik setelah dia meninggalkan liga dan dia selalu menjadi sahabat yang hebat. Dia memiliki pengetahuan sepakbola yang fantastis yang dia peroleh selama karirnya yang luas dan bervariasi.” (via goal)
Salah satu mantan anak asuhnya, Steven Gerrard, juga tidak bisa menyembunyikan kesedihan kala mengetahui kabar kematian sang pelatih. Mantan kapten Liverpool itu secara terbuka mengungkapkan rasa kesedihannya di tengah-tengah konferensi pers menjelang laga St Mirren vs Rangers. Gerrard mengaku sangat kehilangan sosok pelatih dan ayah yang membuatnya menjadi pemain yang lebih baik sebelum akhirnya menjadi pelatih di klub Glasgow Rangers.
“Houllier lebih dari sekadar pelatih untuk ku. Dia adalah sosok yang penuh perhatian, pria yang penuh cinta kasih,” kata Steven Gerrard. (via bbc)
Tidak hanya Gerrard, dua legenda Liverpool lainnya, yakni Jamie Carragher dan Michael Owen juga merasa sangat sedih dan berduka mendengar Gerard Houllier meninggal dunia. Kedua mantan pemain itu melalui akun media sosial pribadinya mengungkapkan rasa kesedihan yang mendalam.
Michael Owen yang meraih Ballon d’Or saat diasuh Houllier pada 2001 mengaku sangat terpukul karena kehilangan sosok pelatih hebat yang penuh perhatian. Di sisi lain, Jamie Carragher juga turut menceritakan tentang betapa berjasanya Houllier terhadap karier sepak bola dirinya dan kejayaan Liverpool.
Lahir di Therouanne, Houllier masuk ke Universitas Lille untuk mengejar gelar pendidikan bahasa Inggris. Akan tetapi pada tahun pertamanya di studi tersebut, penyakit ayahnya yang serius memaksa Houllier untuk keluar dari kampus dan mulai bekerja. Ketika itu, setelah mencari beberapa pekerjaan yang dirasa cocok, akhirnya ia bertindak sebagai seorang guru sekolah.
Houllier, dalam masanya menjadi guru juga sempat diangkat sebagai wakil kepala sekolah, di sebuah sekolah yang terletak di Prancis. Setelah benar-benar ingin mengabdikan dirinya dalam dunia sepakbola, dia lalu berhenti dan keluar dari sekolah untuk meneruskan pekerjaan sekaligus hobi, yaitu menjadi seorang player-manager di usianya yang baru menginjak 26 tahun.
Sebagai seorang pesepakbola, Houllier bukanlah sosok spesial. Dia tergolong pemain biasa saja dan jarang mendapat sorotan. Sepanjang karirnya sebagai seorang pemain, Houllier juga tidak pernah membela tim-tim besar. Dia hanya bermain untuk tim semenjana Prancis.
Ketika tampil untuk Le Touquet, Houllier dipercaya sebagai pelatih karena dinilai punya jiwa kepemimpinan tinggi, meski skil olah bolanya tidak terlalu baik.
Sejak saat itu, dia terus menekuni pekerjaannya sebagai seorang pemain-pelatih, setidaknya sampai tahun 1980. Sempat membesut Mines dan Lens, Houllier lalu dipercaya untuk melatih Paris Saint Germain pada tahun 1985.
Di PSG, dia memberikan perubahan besar bagi klub tersebut. Dia berhasil mengangkat performa PSG yang biasa duduk di tangga bawah sampai ke puncak kompetisi Liga Prancis. Berkat kemampuannya yang cukup menarik di PSG, timnas Prancis lalu memboyongnya ke kursi kepelatihan tim.
Sejak tahun 1988 sampai 1997 Gerard Houllier menangani Prancis dari tim utama sampai ke berbagai jenjang usia. Bersama timnas senior dia memang tidak berhasil memenangkan piala, tapi bersama tim muda, dia berhasil membawa trofi Piala Eropa untuk timnas Prancis U-18.
Dari tim muda tersebut, Houllier termasuk mengelola salah satu pemain yang nantinya bakal menjadi bintang, yaitu Thierry Henry.
Hingga tepat pada tahun 1998, perjalanan emas Gerard Houllier mulai ditapaki. Dia pergi ke Inggris dan menerima tawaran untuk melatih Liverpool.
Saat pertama kali menjabat sebagai pelatih Liverpool, dia berduet dengan Roy Evans dalam menukangi Liverpool sebelum mengemban tugas tersebut sendirian empat bulan berselang. Di awal kedatangannya, Houllier melepas pemain macam Paul Ince dan David James. Steve McManaman juga pergi dengan status bebas transfer.
Kepergian para pemain membuat Houllier mendatangkan delapan pemain baru untuk membentuk skuad tangguh. Delapan pemain itu adalah Sami Hyypia, Dietmar Hamann, Vladimir Smicer, Sander Westerveld, Titi Camara, Erik Meijer, Djimi Traore, dan Stephane Henchoz.
Setelah itu, dia juga turut mendatangkan Markus Babbel, Emile Heskey, hingga Christian Ziege, untuk kemudian dikombinasikan dengan pemain jebolan akademi, termasuk Jamie Carragher, Steven Gerrard, hingga Michael Owen.
Ketiga pemain tersebut, seperti diketahui, sukses menjadi bintang sepakbola. Jamie Carragher bahkan mengatakan kalau Houllier sukses membentuk sebuah budaya yang kuat di Liverpool. Dia sangat berjasa bagi siapapun, khususnya proses perkembangan The Reds menuju gelar juara.
Bersama skuad, fasilitas latihan di Melwood juga disulap menjadi sesuatu yang ‘istimewa’. Gerard Houllier, seperti Arsene Wenger di Arsenal, adalah orang Prancis yang tahu apa yang perlu dilakukan untuk mengubah timnya menjadi pemenang.
Musim 2000/01 mungkin jadi yang terbaik bagi perjalanan karirnya di Liverpool. Pasalnya, dia berhasil melabuhkan tiga gelar dengan memenangkan Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA. Gelar tersebut makin terasa lengkap karena Houllier juga berhasil mengantar Liverpool juara Piala Super Eropa usai menaklukkan Bayern Munchen dengan skor 3-2.
Selain mengantarkan Liverpool berprestasi selama enam musim di sana, Houllier juga terbilang sukses bersama Olympique Lyon. Tercatat, Houllier sukses membawa Lyon dua kali juara Ligue 1 sekaligus Trophee des Champions pada 2005 dan 2006.
Dari penghargaan individu, Houllier pernah meraih gelar Pelatih Terbaik Eropa 2001 dan Manajer Terbaik Ligue One 2007.
Setelah dirasa cukup menekuni petualangan sebagai seorang pelatih, Gerard Houllier lalu memutuskan pensiun bersama Aston Villa pada musim 2010/11.


