Beranda blog Halaman 748

Leeds United Panaskan Perburuan Sergio Aguero

Dikutip Sportslens, Leeds United telah menjadi klub terbaru yang mengikuti perebutan Sergio Aguero. Aguero akan meninggalkan Manchester City dengan status bebas transfer musim panas ini setelah sepuluh musim yang sangat sukses. Setelah kabar dirinya bakal hengkang dari City, sejumlah klub pun mulai melirik Aguero. Terbaru adalah Leeds United. Dilaporkan, Leeds akan memotong gaji penyerang Rodrigo guna membantu mendanai gaji Aguero apabila jadi direkrut. Rodrigo hanya mencetak tiga gol dan mencatat satu assist dalam 21 penampilan liga musim ini.

Piala Eropa, Inggris Buka Stadion Wembley Untuk 22.500 Penonton

Inggris dikabarkan siap membuka Stadion Wembley untuk 22.500 penonton pada pertandingan Piala Eropa 2020 yang akan dimulai 11 Juni hingga 11 Juli 2021 mendatang. Di kejuaraan ini, Inggris berada satu grup bersama Skotlandia, Kroasia, dan Republik Ceko. Stadion Wembley juga direncanakan menggelar pertandingan babak semifinal dan final di Piala Eropa ini. Jumlah penonton yang bisa hadir tersebut, merupakan hasil dari pertemuan antara pihak asosiasi sepakbola Inggris (FA) dengan UEFA, pada Kamis (8/4) kemarin.

Pendapatan Komersial, Penyelamat Klub Sepak Bola di Tengah Pandemi

0

Tak bisa dipungkiri bahwa dampak ekonomi dari Covid-19 telah menelan banyak korban. Tak terkecuali klub sepak bola eropa. Pendapatan klub sepak Eropa mengalami kerugian di berbagai sektor dalam laporan keuangannya.

Seperti yang dilaporkan KPMG Football Benchmark dalam hasil auditnya yang berjudul “The European Champions Report 2021”. Para juara liga musim lalu kompak mengalami penurunan pendapatan opersional. KPMG juga melaporkan bahwa 20 besar klub kaya eropa kehilangan pendapatan hingga lebih dari 1 miliar euro selama setahun terakhir.

Bahkan, KPMG juga memperkirakan bahwa seluruh klub sepak bola eropa bisa mengalami kerugian operasional yang lebih parah. Kerugian hingga 5 miliar euro untuk musim 2019/2020 dan 2020/2021 sangat mungkin terjadi. Sungguh angka yang sangat besar bukan?

Dampak ekonomi lain yang ditimbulkan oleh Covid-19 membuat banyak klub besar eropa terpaksa berhemat. Memangkas gaji staf dan pemain adalah hal lumrah. Pemerintah Spanyol saja sempat memberi bantuan keuangan kepada klub La Liga lewat skema ERTE dengan syarat, klub telah memotong gaji karyawannya hingga 70%.

Selain itu, KPMG juga menyebutkan bahwa harga jual pemain mengalami penurunan sebesar 9,6% selama bulan Januari-Februari kemarin. Hal itu membuat bursa transfer pemain di dua jendela transfer sepi. KPMG memperkirakan bahwa selama pandemi ini klub bisa memberi diskon atas pemain terbaiknya demi mendapat pemasukan.

Senada dengan KPMG, badan audit keuangan lainnya, yaitu Deloitte juga mengeluarkan laporan serupa. Dalam laporannya yang berjudul “Deloitte Football Money League 2021”, Deloitte melaporkan bahwa 20 klub terkaya Eropa rata-rata mengalami penurunan pendapatan sebesar 12% di musim 2020 kemarin.

Lebih lanjut, Deloitte memperkirakan bahwa pendapatan klub dari sektor matchday revenue yang bergantung dari uang tiket menurun sebesar 17%. Sementara pendapatan dari broadcast revenue alias uang hak siar TV persentasenya menurun sebesar 23%.

Dengan masih digelarnya laga tanpa kehadiran penonton, otomatis klub tak bisa mendapat pemasukan dari uang tiket. Persewaan stadion dan berbagai fasilitas yang tersedia di stadion seperti tur stadion, museum, atau persewaan stadion untuk konser musik juga secara otomatis terhambat.

Setali tiga uang, akibat pertandingan yang masih digelar secara tertutup, pemasukan dari uang hak siar TV juga berkurang. Hal ini disebabkan oleh penundaan pertandingan musim lalu dan laga yang digelar tanpa penonton. Alhasil banyak kontrak kerja sama dengan sponsor yang tidak berjalan sesuai jadwal.

Dalam laporan KPMG juga terungkap bahwa 3 klub besar eropa yang jadi juara liga musim lalu, yaitu Juventus, PSG, dan Porto mengalami penurunan pendapatan terbesar dibanding para juara lainnya. Persentase kerugian yang diderita Porto bahkan mencapai 50%. Sementara Juventus dan PSG kehilangan pendapatan operasional sebesar 15%.

Sementara itu, dalam laporan versi Deloitte, Inter Milan, Tottenham Hotspur, dan Manchester United jadi klub besar eropa yang paling merugi. Pendapatan tahunan Inter turun 20%, sementara Tottenham dan MU turun masing-masing 15% dan 19%. Penyebabnya sama, yaitu pendapatan dari sektor broadcast dan matchday revenue yang turun.

Namun, laporan KPMG dan Deloitte kompak melaporkan bahwa pendapatan komersial klub sepak bola Eropa justru mengalami peningkatan. Rata-rata klub Eropa mencatat kenaikan pendapatan di sektor komersial sebesar 3%.

Juventus misalnya. Meski kehilangan pendapatan operasional sebesar 15%, juara bertahan Serie A Italia itu mencatat keuntungan sebesar 3,3 juta euro dari sektor komersial. Angka tersebut naik 2% dari catatan musim lalu. Hal itu disebabkan oleh perpanjangan kontrak kerja sama Si Nyonya Tua dengan 2 sponsor utamanya, Jeep dan Adidas.

Deloitte juga memperkirakan bahwa keuntungan Juventus di sektor komersial berpotensi mengalami peningkatan di masa yang akan datang. Pasalnya, klub yang bermarkas di J Stadium itu tengah fokus menjalin kerja sama dengan layanan streaming Amazon Prime untuk menyiarkan Juventus TV secara eksklusif demi menaikkan merek dagangnya di pasar internasional.

Hal serupa juga ditempuh rivalnya di Serie A, yakni AC Milan. Rossoneri jadi salah satu klub Italia paling merugi musim lalu bersama AS Roma. Sejak awal musim ini, rossoneri bergerak cepat menjalin kerja sama dengan berbagai platform digital dan start-up seperti Skrill dan Socios.

Sementara itu, langkah berbeda ditempuh jawara Ligue 1 musim lalu, PSG. Klub berjuluk Les Parisiens itu memanfaatkan dengan baik citra yang dimiliki Kota Paris sebagai pusat fashion dunia. Meski mengalami penurunan pendapatan, PSG berhasil menggaet brand fashion ternama asal Amerika, Jordan. Kerja sama itu sukses menaikkan penjualan jersey dan produk fashion PSG di Amerika.

Anomali terjadi di 3 klub terkaya dunia saat ini, yakni Barcelona, Real Madrid, dan Manchester United. Meski merugi di berbagai sektor, pendapatan komersial ketiganya tetap konsisten mencatat untung seperti musim-musim sebelumnya.

Ketiga klub itu secara berurutan menempati posisi teratas klub paling kaya di dunia versi Deloitte. Sebagai klub paling kaya, baik Barca, Madrid, dan MU juga jadi brand sepak bola paling terkemuka di pasar global. Penjualan jersey dan beragam produk merchandise mereka tak terganggu, alias tahan pandemi.

Pendapatan komersial MU bahkan jadi yang terbesar di Inggris. Setan Merah menghasilkan 282,1 juta poundsterling di tahun 2020 lalu. Investasi MU di sektor digital, aplikasi e-commerce dan MUTV terbukti ampuh.

Hal serupa juga dilakukan Barcelona. Meski punya banyak utang, Barca berhasil memanfaatkan merek dagangnya di pasar global dengan baik. Blaugrana berinvestasi dengan meluncurkan platform streaming baru, Barca TV+. Barcelona juga menjadi klub olahraga pertama yang mendapat lebih dari 10 juta subscribers di YouTube.

Sementara itu, rivalnya di El Clasico, Real Madrid tercatat dalam laporan KPMG sebagai satu-satunya juara bertahan liga yang mencatat laba bersih sebesar 0,3 juta euro dalam laporan keuangan mereka di musim 2019/2020. Keuntungan diperoleh Los Blancos dari sektor komersial setelah klub milik Florentino Perez itu mengendalikan sendiri penjualan produk komersilnya tanpa bantuan pihak ketiga.

Klub lain yang juga mencatat kenaikan pendapatan operasional adalah Borussia Dortmund. Selain karena prestasinya yang sedang meningkat dan pamor Haaland yang makin mendunia, dalam laporan keuangannya, penjualan produk komersial Dortmund mengalami kenaikan signifikan di kawasan Asia.

Dalam laporan audit KPMG dan Deloitte kita bisa menyimpulkan bahwa industri sepak bola sedang dan akan terus bergerak ke arah yang makin komersial. Perang dagang produk merchandise dan konten digital antar klub Eropa akan jadi hal lumrah di kemudian hari.

Sejalan dengan perkembangan media sosial yang makin besar, jumlah pengikut dan penggemar klub sepak bola di media sosial akan semakin menentukan arah bisnis klub di masa depan. Semakin banyak jumlah pengikut dan penggemarnya akan memberi keuntungan besar di pasar global.

Suka tidak suka, inilah masa depan sepak bola dunia. Sepak bola sudah bukan soal meraih prestasi semata atau bersaing memperebutkan prestige. Sepak bola bukan lagi olahraga biasa, melainkan telah bertransformasi menjadi produk infotainment, hiburan, dan produk bisnis yang menjanjikan.

Meski mencekik keuangan klub sepak bola, ternyata pandemi Covid-19 justru mengubah arah bisnis industri sepak bola dunia. Namun, bila kondisi pandemi ini terus berlanjut, tentu tidak akan sehat. Bagaimanapun, sepak bola tak bisa dilepaskan dari kehadiran penonton. Itulah hal yang hilang saat ini dan semoga kondisi ini akan segera berakhir.

 

Sumber Referensi: Deloitte Football Money League, The European Champions Report, The Guardian, Goal

10 Wonderkid Terbaik Asal Asia Yang Siap Guncang Dunia

Asia mungkin menjadi wilayah yang tidak terlalu hebat dalam telurkan bakat-bakat sepakbola. Kawasan ini masih tertinggal dari Eropa atau bahkan Amerika. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Asia mulai tampakkan sinarnya. Sudah ada banyak pemain besar yang tampil hebat di kompetisi Eropa.

Sampai saat ini, Asia juga masih terus ciptakan bakat-bakat mengagumkan. Seperti pada bahasan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan wonderkid terbaik Asia yang siap guncang dunia.

Keito Nakamura

Keito Nakamura merupakan pemain yang besar bersama dengan Gamba Osaka. Usia nya masih 20 tahun, namun begitu, dia sudah mewakili Jepang di berbagai usia, seperti U-17 sampai U-20. Di turnamen Piala Dunia U-20, dia bahkan berhasil mencetak empat gol untuk Jepang pada tahun 2017 lalu.

Setelah penampilan luar biasa nya, Keito Nakamura lalu direkrut tim asal Belanda, FC Twente. Klub yang bermarkas di De Grolsch Veste menyebut bila Keito Nakamura adalah permata kecil asal Jepang. Dalam dua penampilan pertamanya, Keito Nakamura berhasil mencetak dua gol untuk FC Twente.

Setelah bermain sebanyak 17 pertandingan untuk FC Twente, dia lalu dipinjamkan ke klub asal Belgia, Sint-Truiden. Kini, pemain yang berposisi sebagai winger kiri ini tercatat sebagai pemain FC Pasching yang tampil di kompetisi kasta kedua Liga Austria.

Jun Nishikawa

Masih dari Negeri Matahari Terbit, nama Jun Nishikawa juga menarik perhatian dengan permainan indahnya di sisi kanan lapangan. Pemain kelahiran 21 Februari 2002 ini menimbulkan kehebohan setelah tampil memukau bersama Yokohama F Marinos.

Bersama klub tersebut, dia menyita banyak perhatian. Selain itu, bersama timnas Jepang di turnamen AFC U-16 pada tahun 2018 lalu, Jun Nishikawa juga sukses menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik.

Saat ini, kabarnya, klub Bundesliga Jerman, Bayer Leverkusen, tertarik untuk memboyong Jun Nishikawa ke Eropa. Bila tertarik untuk tampil di Eropa, Jun Nishikawa yang diklaim punya gaya main seperti Shinji Kagawa diprediksi mampu meraih sukses besar.

Jeong Woo-yeong

Jeong Woo-yeong merupakan nama yang sudah banyak dikenal oleh para penggemar sepakbola Jerman. Pemain berusia 21 tahun ini sudah memenangkan trofi Bundesliga dan Piala Jerman bersama dengan FC Bayern.

Pemain asal Korea, yang berposisi sebagai seorang winger kanan itu memiliki semangat juang tinggi, persis seperti pemain asal Asia pada umumnya. Kini, demi meningkatkan jam terbangnya, Jeong Woo-yeong dilego ke SC Freiburg yang juga tampil di kompetisi Bundesliga.

Kim Min-Jae

Bek tengah yang diklaim punya kemampuan setara dengan bek-bek Eropa, Kim Min-Jae, masih menikmati masa indahnya bersama klub asal China, BJ Sinobo Guoan. Pemain asal Korea ini punya fisik luar biasa. Dia punya kemampuan terbaik dalam hal duel udara, maupun duel satu lawan satu. Lebih dari itu, dia juga dikenal sebagai bek yang pandai membangun serangan dari belakang.

Kemampuan Kim Min-Jae saat ini diminati oleh banyak klub Liga Inggris, termasuk Tottenham Hotspurs. Dengan tinggi tubuh yang begitu luar biasa serta kemampuan bertahan yang boleh diadu, Kim Min-Jae mendapat julukan sebagai Si Monster.

Ritsu Doan

Ritsu Doan masih berusia 22 tahun. Namun begitu, kini, dia sudah menjadi andalan tim asal Jerman, Arm. Bielefeld. Dia merupakan pemain asal Jepang yang mulai menarik perhatian di ajang Piala Dunia U-20.

Pertama kali tampil bersama Gamba Osaka, dia lalu langsung ditarik oleh klub asal Belanda, Groningen. Secara permainan, dia memiliki gaya seperti Arjen Robben. Maka wajar bila klub seperti Manchester City sampai Juventus sempat menunjukkan ketertarikannya kepada sang pemain.

Takehiro Tomiyasu

Takehiro Tomiyasu sudah menjadi bintang di Serie A bersama dengan Bologna. Dia telah tampil dalam banyak laga dan mulai diperhatikan oleh kebanyakan klub-klub Eropa. Takehiro Tomiyasu kini masih berusia 22 tahun, tapi bila melihat permainannya, dia terlihat sudah sangat matang berada di atas lapangan.

Berposisi sebagai bek, dia tak jarang melakukan penyelamatan-penyelamatan penting, sampai mencetak gol untuk tim yang dibelanya. Kehadiran Takehiro Tomiyasu ke kompetisi Serie A pun seakan membuka jalan bagi pemain Asia lainnya untuk unjuk bakat.

Hiroki Abe

Hiroki Abe mencuri perhatian dunia setelah resmi digaet oleh klub sebesar FC Barcelona. Barcelona begitu terkesan dengan penampilannya di ajang Copa America beberapa tahun lalu.

Memulai karirnya sejak tahun 2017, Hiroki Abe tampil apik bersama tim sekolah di Jepang, untuk kemudian direkrut oleh Kashima Antlers sebelum akhirnya menimba ilmu di Eropa. Usianya masih sangat muda, yaitu 22 tahun. Maka dari itu, masih banyak waktu bagi Hiroki Abe untuk terus kembangkan bakat dan membuat harum nama Jepang di kancah dunia.

Kang-in Lee

Nama Kang-in Lee yang berasal dari Korea Selatan juga cukup menyita perhatian. Dia merupakan pemain yang menyabet gelar pemain muda terbaik Asia dan juga pemain muda terbaik Korea pada tahun 2019 silam.

Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, dia sudah tampil bersama dengan Valencia di kompetisi La Liga. Perjalanannya di Spanyol memang patut diacungi jempol. Dia sudah tampil di sana sejak usia 10 tahun dan mengalami perkembangan yang sangat luar biasa.

Dengan permainan nya yang menawan, nama Kang-in Lee diminati oleh raksasa Inggris, Chelsea.

Daichi Kamada

Di usia 24 tahun, Daichi Kamada sudah tampak terbiasa dengan kompetisi Jerman. Dia yang bergabung dengan Eintracht Frankfurt sejak 2017 lalu telah berhasil memenangkan gelar Piala Jerman. Bakatnya ditemukan di klub bersama Sagan Tosu. Kemudian, dia juga sempat tampil menawan saat dipinjamkan ke Sint-Truiden pada 2018 lalu. Di klub yang berkompetisi di Belgia itu, Sint-Truiden berhasil tampil dalam 36 pertandingan, mencetak 16 gol dan juga mencatatkan sembilan assist.

Sebagai seorang gelandang serang, Daichi Kamada yang menjadi andalan Frankfurt sudah berhasil menciptakan setidaknya 12 assist musim ini. Torehan itu pun berpotensi bertambah mengingat dirinya menjadi favorit pelatih untuk mengisi pos terbaiknya.

Takefusa Kubo

Nama terakhir adalah Takefusa Kubo. Dia dijuluki sebagai Messi Jepang karena gaya permainannya yang memang begitu apik dilihat.

Kubo, panggilan akrabnya, masih berusia 19 tahun. Namun dia sudah memiliki banyak pengalaman dengan berbagai klub, khususnya yang tampil di kompetisi La Liga. Sempat menjadi milik FC Barcelona, Kubo akhirnya digaet oleh Real Madrid pada tahun 2019.

Dengan usia yang relatif masih sangat muda, Takefusa Kubo kini tengah menikmati masanya dengan berbagai klub, guna menambah jam terbang.

 

Sumber referensi: punditfeed

Terungkap, Ini Alasan Wasit Minta Tanda Tangan Haaland

Terungkap motif mulia di balik tindakan asisten wasit meminta tanda tangan Erling Haaland dalam laga Dortmund versus Manchester City beberapa hari lalu. Menurut laporan dari Goal, asisten wasit bernama Octavian Sovre itu mengumpulkan barang-barang yang bisa digunakan untuk lelang, yang digunakan sebagai donasi untuk terapi autisme di kampung halamannya. Sovre sendiri memang sudah membantu sebuah yayasan autisme di Bihor sejak tahun 2015. Dua tanda tangan pada kartu kuning dan kartu merah tersebut rencananya akan dilelang pada gala tahunan tahun ini.

Rashford Samai Catatan Lawas Sir Bobby Charlton

Marcus Rashford mencatatkan namanya dalam buku sejarah Manchester United usai cetak gol melawan Granada. Gol tersebut membuatnya sejajar dengan mantan gelandang MU, Sir Bobby Charlton, yang disebut sebagai salah satu pemain terbaik klub tersebut. Rashford telah mengoleksi delapan gol di kontinental musim 2020-2021, setelah memainkan 11 pertandingan di Liga Europa dan Liga Champions. Rashford menjadi pemain Inggris pertama yang mencapai jumlah tersebut sejak Charlton melakukannya pada 1964-1965.

Sumber : Goal

MU Dekati Bintang Juventus Kulusevsky

Penyerang muda berbakat milik Juventus, Dejan Kulusevski kembali masuk radar Manchester United. Dilansir Goal, kubu setan merah nampak serius untuk mencoba memboyong bintang Swedia itu. Meski dilaporkan masih merasa betah dan enggan berpisah dengan Bianconeri saat ini, nampaknya tidak menutup minat MU untuk mendapatkan jasanya. Terlebih, MU melihat adanya peluang untuk menggondol Kulusevski lantaran sulitnya mendapatkan tempat reguler di skuad Juventus dibawah asuhan Andrea Pirlo.

Sumber : Goal