Putra Ole Gunnar Solskjaer, Noah Solskjaer mengaku terkejut dengan pernyataan yang diucapkan oleh Jose Mourinho soal ayahnya. Noah menganggap Mourinho hanya mengalihkan isu, usai kalah dari tim ayahnya, Manchester United. Perseteruan kedua manajer terjadi setelah kemenangan setan merah 3-1 atas Spurs. Ketika itu Solskjaer mengkritik pemain depan Spurs Son Heung-min karena melebih-lebihkan pukulan yang mengenai wajahnya. Solskjaer menegaskan jika dia tidak akan memberikan anaknya makanan, jika bertingkah seperti Son. Tentu saja, Mourinho memanfaatkan hal itu untuk menuduh Solskjaer sebagai ayah yang buruk. Tuduhan itu dijawab oleh Noah. Ia memastikan ayahnya tak seperti yang dikatakan Mourinho.
Fikayo Tomori, Dibuang Chelsea, Bangkit di AC Milan
Pada Januari lalu, AC Milan kedatangan pemain berusia 23 tahun bernama Fikayo Tomori. Tomori datang ke San Siro dengan status pinjaman dari Chelsea. Bergabung dengan Milan membuat Tomori menjadi orang Inggris kedua yang bermain untuk tim tersebut setelah David Beckham pada 2009. Tomori bisa saja terus membela Milan dengan banderol senilai 26 juta pounds atau setara 519 miliar rupiah, bila dia mampu kesankan manajemen tim.
Kepindahan Tomori dari Chelsea memang sudah banyak diprediksi. Betapa tidak, dia menjadi pemain yang dikucilkan oleh bos Chelsea ketika itu, Frank Lampard. Dalam sebelas bulan lamanya, Tomori hanya diberi kesempatan main sebanyak empat kali di liga.
Tomori terakhir kali tampil bersama the Blues di laga melawan Bournemouth pada musim lalu. Dia tidak diberi kesempatan, apalagi setelah Chelsea kedatangan bek asal Brasil, Thiago Silva. Thiago Silva jelas membuat peluangnya untuk bermain semakin kecil. Terlebih, masih ada nama-nama seperti Antonio Rudiger, Andreas Christensen dan Kurt Zouma.
Tidak dimainkan Fikayo Tomori dalam waktu lama adalah karena Lampard menganggap kalau sang pemain tidak memiliki kemampuan terbaik dalam duel udara. Lampard berujar kalau kemampuan duel udara bagi seorang bek adalah salah satu elemen penting untuk bisa menjaga pertahanan dengan baik. Karena hal tersebut tidak dimiliki Tomori, maka Lampard lebih terkesima dengan sosok Kurt Zouma yang memang jago urusan bola-bola atas.
Meski tersingkirkan di Chelsea, Paolo Maldini yang kini bekerja untuk Milan, melihat ada sesuatu yang spesial dalam diri Tomori. Dia percaya bila sang bek punya karakter kuat, yang nantinya akan sangat cocok bermain di Italia. Perlu diketahui kalau Maldini sudah mengamati Fikayo Tomori sejak musim panas lalu, namun baru berkesempatan mendatangkan sang pemain di musim dingin tahun ini.
“Jika kami mengikutinya dan mencoba membawanya beberapa bulan lalu, di musim panas, itu berarti kami telah melihat sekilas karakteristik yang tepat dalam dirinya untuk hidup berdampingan dengan para bek kami, ” kata Maldini.
Setelah Maldini menjadi sosok yang menginginkan pemain seperti nya, tanpa pikir panjang pemain Internasional Inggris itu langsung menerimanya.
Dengan perasaan yang cukup kecewa, Tomori pun bertekad akan memberikan yang terbaik tepat saat dia diperkenalkan sebagai pemain baru I Rossoneri.
“Halo semuanya, aku Fikayo Tomori. Aku senang bisa gabung di sini, klub besar dengan sejarah hebat,”
“Aku janji akan memberikan segalanya untuk AC Milan. Aku akan berjuang demi jersey kebanggaan ini,” ujarnya.
Benar saja, apa yang diungkapkan oleh Fikayo Tomori bukanlah bualan belaka. Dia melakoni debut bersama Milan pada laga derby melawan Inter di ajang Copa Italia. Milan memang kalah dengan skor 1-2. Tidak ada kegembiraan, apalagi perayaan kemenangan ala derby. Namun meski kecewa, Maldini yang melihat pemain bawaannya tampil di atas lapangan ketika itu langsung terkesima.
Bek legendaris tersebut beranggapan bila Tomori langsung menjawab kesempatan yang diberikan. Hanya mengikuti latihan sebanyak dua kali sebelum akhirnya turun ke lapangan, Tomori sudah menunjukkan sebuah hal luar biasa, yang mungkin tidak banyak orang bisa melakukannya.
Tak hanya Maldini, pelatih Stefano Pioli juga langsung terkesan dengan apa yang ditunjukkan oleh Tomori. Pioli menyebut bila Tomori punya mental yang cukup kuat untuk bisa bersaing dengan bek-bek tangguh lainnya.
Perjalanan Tomori bersama Milan di awal memang tidak terlalu mulus. Dia menjadi bagian dari tim yang kalah secara memalukan dari Spezia dan juga Inter Milan. Namun setidaknya, dia mulai bangkit dari bangku cadangan yang dulu begitu akrab dengannya.
Tomori sudah tampil dalam lebih dari 500 menit bersama Milan di kompetisi liga. Secara statistik, dia juga berhasil mencatatkan 2,3 tekel per pertandingan. Lebih dari itu, 1,1 intersep per pertandingan juga sukses dicatat. Yang tak kalah penting, sapuan sebanyak 3,1 per laga juga menjadi catatan yang tidak bisa disingkirkan begitu saja.
Dia membuktikan bahwa tim utama adalah tempat terbaik baginya. Dia bahkan berhasil mengancam tempat milik Alessio Romagnoli yang belakangan tampil kurang maksimal bersama tim merah hitam. Bila hal itu terjadi, maka pasangan duetnya adalah Simon Kjaer yang memang menjadi bek terbaik yang dimiliki Milan saat ini.
Ketenangan dan kepercayaan diri tinggi menjadi sejumlah faktor yang membuat permainan Tomori layak dipuji. Lalu, dia juga punya kecepatan recovery yang menjadikannya sebagai pemain penting bagi lini pertahanan Milan. Selain diperlukan untuk meredam serangan balik lawan, kecepatan ini juga sangatlah vital untuk mengoreksi kesalahan pemain Milan yang bisa saja membahayakan gawang sendiri.
Lebih lanjut, Tomori sangat lihai dalam membuat tekel tegas nan bersih. Dalam sebuah kesempatan, Tomori berhasil membuat tekel yang begitu luar biasa di laga melawan Manchester United. Ketika itu, dia sukses membuat Greenwood frustasi karena kehilangan bola di dalam kotak penalti Milan.
Kemudian, yang tak kalah luar biasa adalah aksinya ketika sukses memblok tendangan pemain AS Roma di kompetisi Serie A, sehingga gawang Milan aman dari serangan.
Dengan segala performa luar biasa yang berhasil ditunjukkan Tomori sejauh ini, Milan tentu akan berusaha mempermanenkan jasanya. Selain itu, Tomori juga memiliki keunggulan lainnya seperti masih berusia muda. Di usianya yang masih menginjak 23 tahun, Tomori jelas mampu memberi jaminan kepada Milan untuk memiliki lini pertahanan terbaik. Rekam jejaknya sudah sangat banyak. Mulai dari tampil di tim muda Chelsea sampai dipinjamkan ke Hull City dan Derby County.
Fikayo Tomori layak disebut sebagai investasi jangka panjang bagi Milan. Lagi-lagi, sebagai bek berusia muda, dia akan membuat AC Milan tidak perlu repot untuk mencari pemain belakang anyar dalam beberapa tahun kedepan.
Dilihat dari luar sepak bola, Tomori bisa menjadi penghapus stigma pemain Inggris yang kerap kesulitan kala tampil di Italia. Maldini tentu tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia yang sudah mengetahui langsung kualitas yang dimiliki Tomori akan berusaha untuk membuat pemain 184 cm itu bertahan di San Siro.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=AkVlQmqquvw[/embedyt]
Sumber referensi: the flanker, goal, indosport
Derby della Lanterna, Rivalitas Genoa vs Sampdoria, Warisan Mussolini
Lazimnya, laga derby tercipta dengan sendirinya. Entah karena persaingan prestasi, gesekan antarsuporter, atau kebencian tertentu antara dua klub rival. Namun, apa jadinya kalau derby timbul karena diciptakan?
Inilah derby della lanterna. Sebuah laga derby yang mempertemukan dua klub dari kota pelabuhan tersibuk nan ikonik di pantai utara Italia. Di balik gemerlapnya kota Genoa yang terletak di pinggir laut Mediteranian, tersaji duel panas antara Genoa CFC versus UC Sampdoria.
Nama derby della lanterna itu sendiri diambil dari ikon kota Genoa, yakni Torre della Lanterna, sebuah mercusuar kuno yang terletak di pelabuhan kota. Mercusuar yang ada sejak abad 12 itu juga jadi pintu masuk sejarah sepak bola Italia.
The Lanterna dates back to 1543, replacing the original that was destroyed in a fire in 1514. It stands a total of 177 meters and the light is visible for 36 nautical miles. This square tower is perched above a working port which dates back to the Roman era.#AprilTowers #Genoa pic.twitter.com/83viBbk2Do
โ augusthats (@AugustHats) April 4, 2021
Pelabuhan itu pula yang jadi cikal bakal terbentuknya klub Genoa. Banyak ekspatriat dan imigran Inggris yang datang lewat pelabuhan kota. Mereka tak cuma bekerja, tapi juga menyebarkan sepak bola dan membentuk kesebelasan Genoa Cricket & Athletic Club pada 7 September 1893.
Pada awalnya, Genoa hanyalah klub untuk orang Inggris di Italia. Namun, pada 10 April 1897, Genoa membentuk klub sepak bola dan perlahan orang Italia dilibatkan. Sampai pada akhirnya mereka jadi juara gelaran pertama Italian Football Championship, cikal bakal Serie A pada 1898.
Singkat cerita, Genoa berganti nama menjadi Genoa Cricket and Football Club (Genoa CFC) pada 1899. Setelah itu, mereka langsung jadi penguasa Liga Italia pada medio 1900an. Klub yang berjuluk Il Grifone itu mendominasi Liga Italia selama 3 dekade awal di bawah asuhan 2 pelatih asal Inggris, James Richardson Spensley dan William Garbutt.
#OnThisDay in 1964 ๐
William Garbutt, the father of Italian football, died ๐๐ pic.twitter.com/mJXHTkJiQWโ ForzaItalianFootball (@SerieAFFC) February 24, 2019
Di awal abad 20 itu, Genoa mampu memenangi 9 gelar scudetto dan 1 gelar Coppa Italia. Sebuah rekor pada zamannya yang menjadikan Genoa klub sepak bola Italia terkuat pada masa itu. Di kota asalnya sendiri, Genoa takada lawan. Dua klub lain dari kota pelabuhan, yakni Society Andrea Doria dan Sampierdarense tak mampu mengimbanginya.
Dominasi itulah yang memicu rivalitas antarklub di kota Genoa. Pendukung Andrea Doria dan Sampierdarense jelas iri dengan pencapaian Genoa. Bumbu kebencian mulai tumbuh saat itu. Namun, rupanya tak cuma pendukung dua klub tersebut saja yang tak suka melihat dominasi Genoa di Liga Italia.
Di masa itu, Italia dipimpin oleh seorang diktator dari Partai Fasis, Benito Mussolini. Mussolini yang mulai jadi perdana menteri pada 1922 tak menyukai dominasi Genoa di Liga Italia. Alasan utamanya, Genoa dianggap antek asing dan tidak nasionalis.
On this date March 23 in 1919, Benito Mussolini formed the fascist movement in Milan, Italy. Photo source: German Federal Archives. #OTD pic.twitter.com/QtEOz0e4zk
โ Dr. Jeffrey Guterman (@JeffreyGuterman) March 24, 2021
Kebencian Mussolini bukan tanpa sebab. Pasalnya, bila kita menilik sejarahnya saja, Genoa dibentuk oleh orang-orang Inggris dan kebetulan pula, Genoa mampu meraih 9 trofi scudetto berkat andil beberapa pemain Inggris dan pelatih asal Inggris dalam skuadnya.
#GenoaHeritage ๐
13 Aprile 1902, il #Genoa conquista in finale contro il Milan il suo quarto scudetto! ๐ฎ๐นโฝ pic.twitter.com/BszGdJSY8vโ Museo del Genoa (@museodelgenoa) April 13, 2021
Akhirnya, pada 1927, Mussolini memerintahkan Andrea Doria dan Sampierdarense untuk melakukan merger. Maka terciptalah La Dominante Genova yang dibentuk dengan tujuan untuk meruntuhkan dominasi Genoa di sepak bola Italia.
Sejak saat itulah derby della lanterna tercipta dan mulai dipertandingkan. Sayangnya, laga tersebut hanya bertahan 3 tahun saja setelah La Dominante bubar. Tak hanya gagal menyaingi Genoa, La Dominante justru mengakhiri liga di posisi buncit.
Andrea Doria dan Sampierdarense memutuskan berpisah kembali. Namun, bumbu-bumbu rivalitas di kota pelabuhan Italia masih tetap terjaga. Hingga akhirnya setelah perang dunia kedua berakhir dan Benito Mussolini dieksekusi, Andrea Doria dan Sampierdarense memutuskan kembali bersatu.
Kali ini takada ikut campur fasisme dalam pembentukannya. Kedua klub saling menyatukan visi tanpa paksaan dan menggabungkan kekuatannya untuk membentuk kesebelasan Unione Calcio Sampdoria pada 12 Agustus 1946.
๐ฅ Andrea Doria, Sampierdarenese, Dominante and Liguria: the 4 clubs behind Samp’s birth โก https://t.co/VtupJqJpqh pic.twitter.com/eC4P6NUXAK
โ Sampdoria English ๐ท (@sampdoria_en) June 3, 2016
Pada saat itulah dimulai babak baru dari derby della lanterna. Sampdoria dan Genoa bertemu pertama kali di Serie A musim 1946/1947. Dalam dua laga di musim tersebut, Sampdoria selalu menang, masing-masing dengan skor 3-0 dan 3-2.
Kalah dari sang rival bukan satu-satunya hal yang membuat pendukung Genoa benci kepada Sampdoria. Pasca Sampdoria terbentuk, mereka mengajukan proposal kepada dewan kota untuk memakai Stadion Luigi Ferraris yang selama ini hanya dipakai oleh Genoa. Kesepakatan dicapai dan sejak saat itu, laga derby della lanterna digelar di tempat yang sama hingga detik ini.
Bagaimana peta derby della lanterna sekarang?
Hingga musim 2020/2021, Genoa dan Sampdoria sudah bertemu dalam derby della lanterna sebanyak 103 kali di berbagai ajang domestik, seperti Serie A, Serie B, dan Coppa Italia. Sampdoria unggul dengan 40 kemenangan, sementara Genoa cuma menang 26 kali, sisanya laga berakhir imbang.
Ya, pertemuan dua klub asal kota pelabuhan di laut mediterania yang tadinya selalu dikuasai Genoa, telah berpindah kekuasaan ke tangan Sampdoria. Titik baliknya terjadi di tahun 80 dan 90an. Pada tahun 1979, Sampdoria dibeli oleh Paolo Mantovani, seorang taipan minyak ternama kala itu.
Suntikan dana dari Mantovani berbuah manis. Investasinya kepada pemain dan pelatih apik berbuah berbagai trofi juara. Dihuni pemain hebat semacam Gianluca Viali, Roberto Mancini, dan Attilio Lombardo, klub berjuluk I Blucerchiati itu meraih 4 gelar coppa Italia, 1 supercoppa, dan masing-masing 1 scudetto dan trofi Piala Winners di tahun 1990.
Sampdoria with the Cup Winners’ Cup, 1990. pic.twitter.com/lqKUMCGs5C
โ 90s Football (@90sfootball) April 3, 2018
Sejak saat itu, dimulailah babak baru rivalitas Genoa dan Sampdoria. Adu prestasi jadi bumbu di tiap laga. Pendukung Genoa patut berbangga dengan 9 scudetto-nya, tapi pendukung Sampdoria selalu membanggakan trofi Piala Winners mereka yang tak mampu disamai Genoa.
Derby della lanterna mungkin memang tak setenar derby lain semacam derby dโitalia, derby della madonnina, maupun derby roma. Namun, ini adalah derby tertua di Italia dan salah satu yang paling panas. Laga kedua tim selalu dijaga ketat kepolisian dan mobil ambulans tersebar di sekitar Stadion Luigi Ferraris.
๐ DERBY DELLA LANTERNA ๐
The magnificent Derby della Lanterna from Genoa gets underway at 7.45pm.
One of the best, and most underrated, derbies in Europe.
Enjoy ๐ฅ pic.twitter.com/GCtWRBR0jH
โ WeLoveBetting (@WeLoveBettingUK) November 1, 2020
Meski saling membenci satu sama lain, pada kenyataannya kedua pendukung klub saling menghormati. Bukan karena fakta keduanya yang belum mampu berprestasi lagi seperti di masa lalu. Namun, rivalitas di derby della lanterna hanya terjadi di ranah sepak bolanya saja.
Ada satu perisitiwa yang mampu menyatukan kedua suporter Genoa dan Sampdoria. Momen itu terjadi di tahun 2018 silam tepatnya setelah terjadi tragedi Ponte Morandi. Pada 14 Agustus 2018, Ponte Morandi, jembatan jalan raya di kota Genoa runtuh akibat badai. Sebanyak 43 orang tewas. Peristiwa tersebut menjadi duka bagi warga kota.
Pada laga derby yang digelar bulan November, kedua pendukung kompak memberi penghormatan sebelum laga dimulai. Tak hanya itu, masing-masing pendukung ikut serta membantu pemulihan dengan memberi bantuan kepada para korban. Sebuah momen yang indah meski kedua tim saling menyakiti di atas lapangan.
Selain itu, kedua pendukung juga berbagi stadion dan hidup bersama di kota yang sama. Pendukung Genoa dan Sampdoria juga sering bertemu di satu tempat. Di bar misalnya, pemilik yang merupakan fans Genoa sering kali menyajikan minuman untuk fans Sampdoria. Begitu pula sebaliknya. Asalkan tidak terjadi saat laga derby berlangsung, pertemuan keduanya tak akan berakhir dengan pertengkaran.
Derby della lanterna adalah sebuah contoh laga derby yang sebenarnya. Meski rivalitas keduanya kerap keluar dari stadion Luigi Ferraris, namun jarang kita mendengar kericuhan antar suporter timbul hingga menelan korban jiwa.
The Derby della Lanterna is living up to the hype ๐
Fabio Quagliarella has put @sampdoria_en 1-0 up already ๐ฅ pic.twitter.com/VfEtyszW3W
โ Dugout (@Dugout) November 25, 2018
Meski saling menghormati dan hanya berjarak selama 90 menit, rivalitas kedua tim tetap terjaga. Salah satu buktinya, dulu sempat ada wacana agar Genoa dan Sampdoria melakukan merger demi mendongkrak prestasi kedua tim. Namun, gagasan tersebut ditolak keras.
Derby memang lazim dengan kebencian dan kekerasan. Namun, derby della lanterna berbeda. Kedua pendukung boleh saja saling ejek dan bersaing di dalam lapangan. Akan tetapi, selebihnya mereka bersahabat. Sebuah contoh bagus yang patut ditiru.
Tak disangka, rivalitas yang pada awalnya dibentuk akibat paham fasisme, kini justru berbuah menjadi rivalitas panas yang terus diwariskan masing-masing pendukung. Inilah derby della lanterna, duel Genoa vs Sampdoria yang tetap berlangsung meriah, panas, dan bergairah meski kedua pendukungnya saling bersahabat.
***
Sumber Referensi: LigaLaga 1, LigaLaga 2, Urban Pitch, Marking the Post
AFC Wimbledon, Proyek Sakit Hati Suporter Wimbledon FC
AFC Wimbledon. Namanya memang asing. Namun, klub asal London, Inggris ini pernah memberi kejutan di beberapa gelaran Piala FA.
Yang terbaru terjadi pada Sabtu, 26 Januari 2019. Bertempat di stadion Kingsmeadow, sang tamu yang merupakan peserta Premier League, West Ham United tunduk atas tuan rumah AFC Wimbledon dengan skor 4-2 dalam laga babak keempat Piala FA.
Dua gol tim tuan rumah di masing-masing babak hanya mampu dibalas dua gol West Ham di babak kedua. West Ham yang kala itu dilatih Manuel Pellegrini akhirnya tersingkir dari Piala FA. Menjadi hasil menyakitkan kala mereka disingkirkan oleh kontestan League One.
Ya, AFC Wimbledon adalah kesebelasan yang berlaga di League One, divisi ketiga sepak bola Inggris. Kemenangan tim ini atas West Ham di masa lalu tentu sangat mengejutkan. Apalagi, dibanding West Ham yang berdiri sejak 1900, AFC Wimbledon baru terbentuk pada tahun 2002 lau. Jadi, siapa sebenarnya AFC Wimbledon?
Kontroversi Dibalik Pembentukan AFC Wimbledon
Sejarah terbentuknya AFC Wimbledon sangatlah kontroversial. Pada mulanya, masyarakat distrik Wimbledon, wilayah Merton di barat daya London sudah punya klub sepak bola bernama Wimbledon FC.
Wimbledon FC sendiri merupakan klub legendaris di Inggris. Dengan didukung basis penggemar yang kuat, klub ini pernah membuat kejutan kala menjadi juara Piala FA 1988 dengan mengalahkan Liverpool asuhan Kenny Dalglish.
Wimbledon FC
Great Pic Of Captain Dave Beasant Receiving The FA Cup Trophy From HRH The Princess Of Wales In 1988 pic.twitter.com/zHJ0gTgVrWโ Superb Footy Pics (@SuperbFootyPics) December 20, 2020
Namun, sejarah panjang klub yang pernah dibela Dennis Wise itu redup kala Wimbledon turun ke divisi 2 pada tahun 2000. Setahun berselang, manajemen berencana memindah markas klub ke kota lain, yakni Milton Keynes yang berjarak 90 km di barat laut kota London.
Tak disangka, pada 28 Mei 2002, FA menerima keputusan panel independen klub dan mengizinkan Wimbledon FC untuk pindah homebase dan melakukan relokasi penuh ke Milton Keynes. Keputusan tersebut jelas membuat suporter berang.
Hanya berselang 6 minggu dari keluarnya izin FA, kelompok suporter Wimbledon memutuskan membentuk klub baru. Dan klub tersebut diberi nama AFC Wimbledon.
18 years ago today the decision to relocate Wimbledon FC was approved.
The same spirit that drove @AFCWimbledon‘s rebirth drives @DonsLocalAction today ๐๐#TogetherWeCan pic.twitter.com/dojklikcdd
โ Dons Local Action Group (@DonsLocalAction) May 28, 2020
Ada beda pendapat soal maksud dan tujuan Wimbledon FC pindah ke kota lain. Mantan pemain Wimbledon FC, Malvin Kamara, menuturkan fakta versi klub yang ia sampaikan dalam sebuah podcast. Menurutnya, ada alasan bisnis dibalik kepindahan Wimbledon ke Milton Keynes dan suporter jadi salah satu penyebabnya.
โSelhurst Park kosong. Itu bukan model bisnis yang berkelanjutan seperti yang saya lihat. Jika kami beruntung, kami punya 2.000, mungkin 3.000 penonton di Championship. Tidak mungkin klub sepak bola mana pun dapat mempertahankan stabilitas keuangan di depan penonton seperti itu di Championship, melawan klub lain yang bermain di depan 20.000 penonton,โ kata Malvin Kamara dikutip dari miltonkeynes.co.uk (28/1/2019).
Sebelum terdegradasi ke divisi dua, Wimbledon FC bermarkas di Selhurst Park, berbagi dengan Crystal Palace. Pasca terdegradasi, jumlah kehadiran penonton Wimbledon turun drastis. Alhasil, stadion menjadi sepi, pemasukan berkurang.
Hal itulah yang memicu rasa frustasi ketua Wimbledon FC saat itu, Sam Hamann hingga memutuskan untuk menjajaki kemungkinan pindah homebase. Bak gayung bersambut, Peter Winkelman ,CEO Inter MK, sebuah konsorsium pengembangan properti asal Milton Keynes tertarik mengakuisisi Wimbledon FC.
Singkat cerita, pasca diakuisisi Inter MK, Wimbledon FC berganti nama menjadi MK Dons pada tahun 2004 dan mulai berkompetisi di League One, kasta ketiga sepak bola Inggris. Sejak saat itu, Wimbledon FC telah sepenuhnya sirna dan digantikan oleh MK Dons.
Just a couple of pages from a book published by Wimbledon FC #mkdons pic.twitter.com/1zdRo9xpyp
โ MKDSA Archive and Programmes (@MKDSAarchive) February 12, 2021
Meski begitu, suporter Wimbledon tetap sakit hati dan merasa dicurangi hingga sempat melakukan boikot. Kelompok suporter Wimbledon yang tergabung dalam organisasi bernama WISA atau Asosiasi Pendukung Independen Wimbledon menduga klub telah bersikap arogan dengan membuat keputusan sepihak.
Berbeda dengan MK Dons yang dapat memulai perjalanannya dari kasta ketiga, AFC Wimbledon sebagai klub yang benar-benar baru mesti memulai dari level kompetisi paling bawah, yaitu liga amatir. AFC Wimbledon bahkan mengadakan seleksi pemain besar-besaran di awal pembentukannya untuk membentuk skuadnya.
Diurus langsung oleh The Dons Trust, sebuah organisasi bentukan Asosiasi Pendukung Independen Wimbledon, AFC Wimbledon memilih Stadion Kingsmeadow yang berkapasitas 4.850 bangku sebagai kandangnya. Perjalanan AFC Wimbledon di level amatir hingga semi-profesional sungguh luar biasa.
The Dons -julukan AFC Wimbledon- memulai perjalanannya sebagai klub profesional dari kompetisi Premier Division of the Combined Counties League, divisi kesembilan sepak bola Inggris. Butuh 2 musim bagi The Dons naik kasta. Mereka jadi juara dengan catatan impresif, 42 kemenangan dan 4 kali imbang tanpa kekalahan.
Hanya semusim di Isthmian League Division One atau divisi 8 sepak bola Ingris, AFC Wimbledon langsung promosi ke Isthmian League Premier Division, divisi ketujuh sepak bola Inggris. Di divisi 8 ini, The Dons mencetak rekor 78 laga tanpa kekalahan alias unbeaten terhitung dari 22 Februari 2003 – 4 Desember 2004.
Catatan tersebut jadi rekor unbeaten terpanjang di seluruh level kompetisi sepak bola se-Britania Raya, baik level amatir maupun profesional. Meski terjadi di level bawah, belum ada tim lain yang mampu menyamai rekor AFC Wimbledon tersebut.
The Dons butuh 3 musim untuk promosi ke divisi 6. Hanya semusim di National League South, AFC Wimbledon langsung naik ke National League, divisi 5 sepak bola Inggris. Di musim 2010/2011, AFC Wimbledon finish sebagai runner-up dan memenangi play-off promosi melawan Luton Town lewat babak adu penalti.
Hasil tersebut membawa AFC Wimbledon naik kasta dari kompetisi non-liga ke divisi 4 sepak bola Inggris, League Two. Pencapaian tersebut juga spesial. The Dons hanya butuh waktu 9 tahun sejak klub didirikan untuk mendapat 5 kali promosi dan jadi klub tercepat sepanjang sejarah sepak bola Inggris yang promosi ke League Two.
Tak cuma itu saja, AFC Wimbledon bisa dibilang sebagai klub bentukan suporter paling sukses. Pasalnya, The Dons jadi satu-satunya klub Inggris yang dibentuk di abad ke-21 yang mampu promosi ke League Two. Hingga kini, belum ada yang mampu menyamai catatan tersebut.
Kini, AFC Wimbledon sudah berkompetisi di League One, divisi 3 sepak bola Inggris sejak memenangi play-off promosi melawan Plymouth Argyle di tahun 2016 lalu. Terus promosi ke level yang lebih tinggi dan terus mendapat kenaikan dukungan membuat klub merencanakan pembangunan stadion baru.
Di tahun 2017, AFC Wimbledon mulai membangun stadion baru mereka yang letaknya tak jauh dari stadion legendaris Wimbledon FC di masa lalu. Memakai nama yang sama seperti stadion lawas Wimbledon FC, Plough Lane telah resmi menjadi markas The Dons sejak dibuka pada 3 November 2020.
Just been fortunate enough to have a look round AFC Wimbledon’s new Plough Lane ground. Just 250 yards from the former ground, it has a capacity of 9,300, including some rail seats. Look out for a full feature in Groundtastic #105. pic.twitter.com/rCqgJxARoh
โ Paul Groundtastic (@paul_gtastic) April 7, 2021
Plough Lane adalah stadion yang unik. Dewan wilayah Merton tak ingin Plough Lane hanya jadi stadion sepak bola biasa tanpa memberi manfaat kepada masyarakat. Akhirnya, pembangunan stadion juga diikuti dengan pembangunan 600an properti hunian, retail, dan berbagai fasilitas komunitas setempat termasuk area rekreasi yang berdiri di sekitarnya.
Inilah yang menjadikan Plough Lane unik. Stadion yang punya kapasitas maksimal 9.215 bangku penonton itu dikelilingi oleh sejumlah blok hunian permukiman masyarakat Wimbledon. Sebuah bantuk tanggung jawab nyata klub yang 100% didirikan oleh suporternya sendiri.
Imagine a women’s tournament final being held here… ๐๐
๐๐ @AFCWimbledon @afcw_ladies @KdfFoster pic.twitter.com/rly968USrw
โ International Surrey Women’s Football ๐ (@IntSurreyWomen) April 9, 2021
Lalu, bagaimana dengan rivalitas AFC Wimbledon dan MK Dons?
AFC Wimbledon bisa dibilang sebagai reinkarnasi dari Wimbledon FC, sementara MK Dons sejak berganti kepemilikan dan berpindah markas bisa dibilang sebagai sebuah kesebelasan baru. Namun, karena unsur sejarah kontroversialnya di masa lalu, pertemuan dua klub ini selalu panas dan tak jarang kedua kelompok suporter terlibat insiden, baik di dalam maupun di luar stadion.
Laga kedua tim ini masuk kategori derby, bahkan termasuk derby terpanas di kompetisi Football League. Sejauh ini, keduanya sudah bertemu sebanyak 11 kali dengan pertemuan pertama terjadi pada Desember 2012.
MK Dons masih lebih unggul dengan meraih 7 kemenangan. Sementara itu, AFC Wimbledon baru memenangi 2 pertandingan saja. MK Dons juga lebih produktif dengan 17 kali membobol gawang Wimbledon. Sementara Wimbledon cuma membalasnya dengan 11 gol.
AFC Wimbledon:
2002: Club founded in a pub ๐ป
2017: Beat MK Dons in League One ๐
Incredible journey! ๐ pic.twitter.com/uZeY6kc07d
โ SPORF (@Sporf) March 14, 2017
Meski begitu, dengan fakta bahwa kini keduanya berada di level yang sama, yakni sama-sama berada di League One, divisi ketiga sepak bola Inggris, pertemuan antara AFC Wimbledon dan MK Dons bakal lebih sering terjadi.
Yang awalnya hanya sekadar proyek sakit hati, AFC Wimbledon justru bertransformasi jadi sebuah kesebelasan profesional yang juga dikelola dengan cara profesional, meski tim ini pada awalnya dibentuk oleh suporternya sendiri.ย The Dons bahkan sudah punya tim sepak bola wanita dan akademi pemainnya sendiri. Kini, AFC Wimbledon juga jadi pesaing kuat bagi MK Dons, klub yang dulu telah merebut klub kesayangan mereka dari tanah Wimbledon.
***
Sumber Referensi: PanditFootball, AFC Wimbledon, Outside Write, Football Paradise, Milton Keynes
Hanya Berjalan Seminggu, Ini Kompetisi Sepakbola Terpendek Di dunia
Footballovers, pernahkah kamu mendengar tentang sebuah kompetisi sepakbola yang punya durasi waktu hanya seminggu dalam setahun?
Ternyata, di dunia ini memang ada kompetisi dengan waktu sependek itu. Tentu saja ini sangat berbeda dengan kebanyakan kompetisi-kompetisi sepakbola di beberapa negara. Karena, umumnya kompetisi digelar selama 8-10 bulan per-tahun, dengan masa libur dua sampai tiga bulan.
Di liga-liga eropa sendiri, biasanya musim baru dimulai pada bulan Agustus hingga Mei. Sementara di Asia dan Amerika Serikat, liga dimulai sejak awal tahun hingga akhir tahun.
Namun, durasi selama itu ternyata tidak bisa diterapkan di Greenland.
Greenland merupakan salah satu negara benua Eropa yang menjadi bagian dari otonom kerajaan Denmark, dengan jumlah penduduk sangat sedikit yakni sekitar 56.000 jiwa. Wilayahnya berada di utara bumi, di antara Samudra Arktik dan Atlantik. Dan merupakan pulau terbesar di dunia.
Namun, kendati Greenland memiliki tanah yang sangat luas, sayangnya tidak semua wilayah di negara ini layak dijadikan tempat untuk bermain bola.
Bahkan, kabarnya, hanya 20% dari tanah Greenland yang benar-benar layak huni. Sisanya adalah hamparan es. Tak cukup sampai disitu, di Greenland daerah berumputnya juga sangat sedikit.
Lalu, bagaimana negara tersebut menyelenggarakan kompetisi sepakbola?
Kompetisi sepakbola Greenland diberi nama Gronlandsbanken Final 6 atau disebut juga Greenlandic Football Championship. Kompetisi tersebut telah ada sejak tahun 1971, yang mana setiap tahunnya pesepak bola terbaik di Greenland pasti akan berkumpul untuk bermain di kompetisi itu.
Tapi, tidak seperti kompetisi di negara Eropa lainnya yang bisa berjalan sangat lama, di sini hanya berlangsung selama seminggu dalam setahun. Kondisi alam menjadi alasan mengapa Greenland tidak bisa menyelenggarakan kompetisi sepakbola terlalu lama.
Namun meskipun dibatasi oleh alam, kecintaan warga Greenland terhadap dunia si kulit bundar, menjadi alasan kuat penduduk negara ini tetap menggelar kompetisi sepakbola.
Karena hanya berlangsung selama tujuh hari dalam setahun, Gronlandsbanken Final 6 dinobatkan sebagai kompetisi terpendek di dunia. Setiap tahunnya, sekitar 5.000 warga atau 10 persen dari total penduduk Greenland ikut serta dalam kompetisi ini.
Kompetisi di Greenland biasanya digelar di sebuah tempat bernama Qeqertarsuaq, sebuah lapangan buatan yang terletak di pulau Disko.ย
Qeqertarsuaq sendiri bisa dibilang merupakan satu bukti kemajuan dari pengelolaan sepakbola di Greenland. Sebelumnya. untuk mencapai tempat ini setiap tim harus berlayar ke pulau Disko terlebih dulu.
Ada delapan tim yang siap bersaing dalam kompetisi tersebut. Kedelapan tim ini sebelumnya telah lolos kualifikasi regional yang biasanya digelar pada bulan Juli.
Kompetisi ini tidak menggunakan sistem home and away, tapi lebih kepada sistem home turnamen. Sejauh ini, di antara semua klub yang ada di negara ini, tim paling sukses adalah B-67 Nuuk, yang telah memenangkan kompetisi pada sebelas kesempatan.ย
Sebelum tahun 2016, para pesepak bola Greenland bermain di tempat yang seharusnya tidak mereka gunakan. Lapangan yang mereka gunakan untuk berlaga adalah tanah berpasir dan berbatu. Selain masalah kondisi tanah, arena yang digunakan untuk menggelar kompetisi ini juga terdapat gunung es.
Tak mengherankan jika kemudian banyak pemain yang alami cedera.ย
Bisa dibayangkan, jika bermain di lapangan normal saja bisa terkena cedera parah, bagaimana jadinya jika bermain di lapangan tanah berbatu?
Patah kaki, patah hidung, dan patah lengan menjadi mimpi buruk pesepakbola di Greenland. Biasanya pemain yang mengalami cedera paling parah adalah penjaga gawang, hal ini karena ia harus jatuh bangun di atas lapangan bertekstur keras.
Mantan kapten klub Godhavn-44 , Johan Frederik Zeeb, pernah mengatakan, “Untuk menjadi penjaga gawang di lapangan-lapangan itu, Anda harus benar-benar memberikan diri Anda sepenuhnya. Anda harus memiliki beberapa lapis pakaian untuk menjadi penjaga gawang di tanah yang kotor. Anda mendapat banyak goresan di sekujur tubuh Anda.”
Kondisi yang seperti ini tentunya sangat tidak diinginkan oleh para pemain.
Selain itu, lokasi pertandingan yang mereka miliki selama sembilan bulan dalam setahun juga akan tertutup salju yang sangat tebal. Bahkan, kabarnya salju disini bisaย setebal 3 m.
Dengan kondisi cuaca yang menantang, jangankan untuk bermain bola, untuk sekedar bepergian pun seringkali sulit – bahkan di musim panas.
Kondisi itu membuat warga Greenland hanya bisa menggunakan tanah mereka untuk bermain sepakbola di luar waktu 9 bulan tersebut, karena saat itu salju di lapangan mulai mencair dan mulai bisa digunakan.
Tapi masyarakat Greenland tidak mau pasrah begitu saja dengan kondisi alam mereka. Kecintaan mereka dengan dunia bal-balan, membuat penduduk Greenland berupaya untuk memajukan olahraga terpopuler di dunia itu. Salah satunya dengan membuat lapangan rumput sintetis di Qaqortoq.
Dalam beberapa tahun terakhir, dengan rumput sintetis yang mereka bangun, membuat perkembangan sepakbola di sana terus melesat. Cuaca dingin jadi terlupakan seiring tingginya keinginan mereka untuk terus mengolah bola.
Bahkan di tahun 2021 yang awalnya ditargetkan hanya akan membuat enam lapangan buatan, sekarang justru sudah ada 11 atau 12 lapangan.
Dan yang lebih membahagiakannya lagi, kabarnya Federasi Sepakbola Greenland (KAK) akan mendapat status resmi dari FIFA. Dalam hal ini, FA Denmark adalah pihak yang membantu mereka, dengan membangun lebih banyak lapangan buatan.
“Kami memiliki kesepakatan antara Asosiasi Sepak Bola Denmark dan Persatuan Permainan Bola Greenland untuk mengembangkan sepak bola di Greenland,” ujar presiden FA Denmark, Jesper Moller.
“Itu adalah rencana kami untuk membangun enam lapangan buatan berukuran penuh pada tahun 2021, tetapi sudah ada 11 atau 12. Ini merupakan kesuksesan besar. Ini perjalanan yang panjang tapi kami telah memulainya. Masa depan sepak bola Greenland cerah.”
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=H1RPQNOyGJc[/embedyt]
