Manchester United dikabarkan ingin mendatangkan Harry Kane atau Erling Haaland pada musim panas mendatang. Namun, ketimbang merekrut kedua striker tersebut, MU disarankan untuk mempertahankan Edinson Cavani. Saran itu dilontarkan oleh Eks pemain MU, Owen Hargreaves yang menyebut meski sudah tidak muda lagi, akan tetapi Cavani masih menjadi sosok menakutkan bagi lawan. Lebih lanjut, Hargreaves menyebut bahwa daripada mengeluarkan uang dalam jumlah fantastis untuk membeli satu pemain, United lebih baik berbelanja pemain di sektor lain yang tak kalah vital.
Giuseppe Rossi, Talenta Berbakat Yang Karirnya Hancur Karena Cedera
Cedera masih menjadi momok menakutkan bagi setiap pemain sepakbola. Masalah tersebut kerap menjadi suatu hal mengerikan yang berpotensi membuat karir seorang pemain mandek. Salah satu pemain yang sangat tidak beruntung meski memiliki talenta luar biasa adalah Giuseppe Rossi.
Nama Giuseppe Rossi tentu tidak asing di telinga para penggemar sepakbola, khususnya di Italia. Meski memiliki tubuh yang relatif kecil, Rossi dikenal sebagai pemain yang mampu memanfaatkan berbagai kesempatan.
Kisah Giuseppe Rossi dimulai dari sebuah wilayah bernama Teaneck, New Jersey, Amerika Serikat. Kendati lahir di Negeri Paman Sam, Rossi yang memiliki darah Italia lebih memilih untuk membela negara yang beribukota di Roma itu. Bakat sepakbola Rossi lahir dari sang ayah yang memiliki pekerjaan sebagai seorang pelatih sepakbola sekaligus guru bahasa Italia di sebuah sekolah.
Rossi kecil tumbuh di tim junior Parma. Dia yang ketika itu masih berusia 12 tahun sudah terlihat memiliki bakat yang menjanjikan. Setelah selama kurang lebih empat tahun membela Parma, Rossi yang usianya mulai menginjak angka 17 tahun langsung diminati oleh manajer legendaris Setan Merah, Sir Alex Ferguson. Fergie mengaku senang ketika melihat Rossi bermain.
Di usia yang masih tergolong muda, dia langsung mendapat kontrak professional dan tampil di tim utama United tahun 2004. Debutnya di tim utama terjadi pada 20 November 2004 ketika MU berhadapan dengan Crystal Palace di kandang. Di kompetisi Liga Primer Inggris sendiri, dia memulainya pada Oktober 2005 di laga melawan Sunderland. Ketika itu, Rossi masuk pada menit ke 78 untuk menggantikan Ruud van Nistelrooy.
Dirasa butuh memperbanyak jam terbang, Rossi lalu dilego ke Newcastle dengan status pinjaman. Akan tetapi, dia tampil di luar harapan. Hanya setengah berada disana, Rossi lalu dipinjamkan ke Parma yang ketika itu berkompetisi di Serie A.
Di klub Italia itu, dia berhasil menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemain berbakat. Dia membantu klub lolos dari jurang degradasi dengan mengemas sebanyak sembilan gol dari total 19 kali kesempatan yang diberi.
Sayangnya, selama dipinjamkan oleh Manchester United, dia gagal kembali menembus tim utama Setan Merah, dan malah dilepas ke klub asal Spanyol, Villareal. Rossi dijual dengan harga sebesar 10 juta euro atau setara 170 miliar rupiah pada tahun 2007. Selama membela MU di liga, dia hanya tampil dalam lima laga dengan total capaian satu gol saja.
Beruntung, keputusannya dalam bergabung dengan tim kapal selam kuning berbuah manis. Disana, dia berhasil menemukan jati diri. Dia mendapat kepercayaan penuh dan mulai dipandang sebagai pemain yang memang punya bakat luar biasa. Rossi berhasil mencetak gol untuk Villarreal di laga debutnya melawan Valencia pada 26 Agustus 2007. Musim pertamanya dijalani dengan baik. Dia tampil dalam 27 penampilan liga dan mampu torehkan sebanyak 11 gol. Sementara di semua kompetisi, dia berhasil mencetak sebanyak 13 gol.
Di musim keduanya bersama Villarreal, Rossi lalu berhasil mencetak 12 gol dalam 30 penampilan liga, plus memproduksi tiga gol dalam delapan penampilan di kompetisi Liga Champions.
Sampai setidaknya musim 2010/11, Rossi telah tampil dalam lebih dari 30 pertandingan liga. Torehan golnya pun selalu mencapai dua digit. Pada musim 2010/11 sendiri, Rossi benar-benar tampil brilian. Saat itu, Rossi bermain pada 56 pertandingan dan mengemas 32 gol di semua kompetisi. Tidak hanya itu, di musim yang sama, Rossi juga berhasil membawa Villarreal melaju sampai fase semifinal Liga Europa dan perempat final Piala Raja.
Berkat penampilan luar biasanya itu, nama Rossi bahkan dimasukkan ke dalam timnas Italia yang menjalani sejumlah turnamen penting. Dia ikut membela Italia di Olimpiade 2008 dan Piala Konfederasi 2009. Bahkan di era kepelatihan Cesare Prandelli, dia sempat ditunjuk sebagai kapten tim.
Nahas, meski menjalani musim yang amat luar biasa, itu juga menjadi musim terakhirnya dia mampu bersinar. Sejak performa apik bersama Villarreal, nama Rossi malah melempem pada musim-musim berikutnya.
Rossi mengalami cedera ACL pada laga melawan Real Madrid dimana Villarreal kalah dengan skor 3-0. Cedera itu pun membuatnya harus absen sampai setidaknya enam bulan lamanya.
Baru saja pulih dari cedera tersebut, dia kembali mendapat cedera yang lebih parah pada April 2012 di sesi latihan, dimana itu membuatnya harus berhenti bermain sepakbola sampai 10 bulan lamanya.
Kejadian itu jelas menjadi yang paling menyakitkan bagi Rossi. Di saat dirinya mulai temukan jati diri, cedera lutut malah membuatnya hancur dan kehilangan tempat di Villarreal. Buktinya, tim asal Spanyol yang tidak mau ambil resiko itu langsung menerima tawaran Fiorentina yang menginginkan jasa Rossi.
Ketika itu dia digaet dengan harga sekitar 11 juta euro atau setara 187 miliar rupiah. Tepat pada 7 Januari 2013, Rossi menandatangani kontrak selama empat tahun dengan klub berjuluk La Viola.
Awal perjalanan Rossi dengan Fiorentina mulanya berjalan baik. Dia beberapa kali diturunkan dan berhasil mencetak gol krusial. Bahkan, tepat pada 20 Oktober 2013, dia mampu menginspirasi kemenangan Fiorentina atas Juventus dengan skor 4-2. Rossi mencetak hattrick dalam waktu 14 menit saja. Kemenangan itu terasa sangat spesial mengingat dalam kurun waktu 15 tahun, La Viola selalu gagal memetik kemenangan atas Si Nyonya Tua.
Akan tetapi, lagi-lagi, Rossi kembali mengalami masalah yang tampak sudah melekat pada dirinya. Dia mengalami cedera pada lutut kanan nya di laga melawan Livorno. Pemain bernama Leandro Rinaudo yang melakukan tekel keras terhadap Rossi ketika itu pun langsung mendapat banyak kecaman.
Sempat kembali setelah sekitar empat bulan absen, Rossi kembali mengalami cedera dan harus beristirahat selama kurang lebih 4-5 bulan lamanya.
Fiorentina yang merasa kurang puas pun pada akhirnya melepas sang pemain ke Spanyol, dimana klub Levante dan Celta Vigo menjadi tempat yang ditinggal Rossi selama dua musim.
Ketika itu, Rossi tampak frustasi karena cedera telah merenggut karirnya. Dia bahkan sempat ingin putuskan pensiun di usia 31 tahun meski hal tersebut urung dilakukan.
“Aku lupa sudah berapa kali menjalani operasi lutut. Mungkin empat? Atau lima? Tiap kali aku duduk merenung dan memikirkan lutut yang rentan cedera ini, aku merasa terganggu. Itu selalu terngiang-ngiang di kepala. Benar-benar menyiksa. Itu benar-benar berat bagiku,” ungkap Rossi
Tidak lagi diharapkan untuk tinggal, Rossi lalu bergabung dengan Genoa pada tahun 2018 dengan status bebas transfer. Namun begitu, performanya sudah tak lagi sama. Rossi tampak kesulitan mengembalikan segalanya, hingga membuat perjalanan karirnya compang camping.
Sempat kembali berstatus tanpa klub, dia lalu pergi ke Amerika Serikat untuk bermain dengan Real Salt Lake, untuk kemudian kembali menyandang status sebagai pemain tanpa klub, di usianya yang telah menginjak 34 tahun.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=SuEzyQhWWHQ[/embedyt]
Sumber referensi: setanmerah, punditfeed, gorilasport
Mengenal Abdoulaye Dabo, Pemain Yang Dijuluki Campuran Pogba & Kante
Prancis kembali melahirkan calon bintang masa depan. Dia adalah Abdoulaye Dabo yang belum lama ini direkrut oleh raksasa Serie A, Juventus dengan status pinjaman. Kedatangan Dabo diumumkan melalui akun media sosial Juventus FC Youth pada 13 Januari 2021. Dabo bukan pemain sembarangan. Ia merupakan salah satu talenta berbakat di negara Prancis.
Sebelum bermain di tim utama Juventus, pemain yang diboyong dari Nantes ini akan terlebih dulu menjalani karir bersama Juventus U-23, yang dilatih oleh eks pemain Bologna, Lamberto Zauli. Kubu Nyonya Tua punya opsi untuk membeli Dabo secara permanen pada akhir musim ini. Kabarnya, Juventus telah mencapai kesepakatan dengan Nantes terkait perpindahan Dabo sejak pekan pertama Januari lalu.
Banyak pihak yang penasaran dengan profil pemain asal Prancis tersebut. Lalu siapa sebenarnya Abdoulaye Dabo?
Dabo lahir di Nantes, Prancis pada 4 maret 2001. Dabo telah menggemari sepakbola sejak kecil. Untuk mengasah bakatnya, ia memutuskan bergabung dengan klub lokal JSC Bellevue Nantes pada tahun 2008. Enam tahun kemudian, ia bergabung dengan tim junior Nantes ketika usianya 13 tahun. Dabo mulai bermain untuk Nantes dan melewati semua jenjang tim junior klub mulai dari U-17, U-18 hingga tim B.
Berkat kualitas apiknya, Dabo lalu mendapat kontrak profesional pertamanya pada Oktober 2017, ketika usianya masih tergolong remaja yakni 16 tahun. Ia menjadi pemain termuda dalam sejarah klub yang menandatangani kontrak profesional.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan Dabo semakin berkembang. Hingga tepat pada 11 Agustus 2018, pemain yang memiliki darah Guinea itu sukses mendapat kesempatan melakoni debut bersama tim senior Nantes di ajang Ligue 1, kompetisi tertinggi sepakbola Prancis, melawan AS Monaco. Di musim tersebut, Dabo mendapat kesempatan unjuk gigi bersama Nantes di Ligue 1 sebanyak dua kali.
Setelah dua kali tampil di kasta tertinggi sepakbola Prancis, Dabo kembali ke tim junior namun sering dilibatkan berlatih bersama tim utama. Pada musim 2019-20, ia bermain dalam 14 pertandingan bersama Nantes II, mencetak tiga gol, sedangkan pada paruh pertama musim 2020-21 ini ia telah memainkan lima pertandingan sebelum direkrut Juventus.
Tidak hanya perkuat klub, Dabo juga sudah membela timnas Prancis. Tercatat, ia pernah jadi andalan timnas Prancis level U-16, U-17 dan U-18, namun dalam dua tahun ke belakang namanya tidak masuk dalam skuad.
Dari segi permainan, pemain berpostur 181 cm itu bisa bermain sebagai gelandang serang atau winger kiri. Namun, sebelum itu, Dabo lebih dahulu menjalankan peran sebagai seorang gelandang bertahan, mirip dengan apa yang dilakukan N’golo Kante, pemain idolanya. Pergantian posisinya dari gelandang bertahan ke gelandang serang karena Dabo adalah pesepakbola eksplosif, cepat dan punya kemampuan menggiring bola jempolan.
Karakter tersebut amat mirip dengan apa yang dimiliki oleh N’golo Kante dan Paul Pogba. Sama-sama berposisi sebagai gelandang, Dabo dianggap mirip dengan kedua seniornya di timnas Prancis tersebut. Sama-sama kita ketahui, baik Pogba dan Kante merupakan pemain yang enerjik di lapangan tengah, keduanya bisa bermain cepat dan mampu melindungi bola dengan baik.
Kini, Dabo bakal mengikuti jejak Pogba yang pernah bermain di Juventus, meski terlebih dahulu ia harus bermain di Serie C atau level ketiga di piramida sepak bola Italia bersama Bianconeri U23.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=J-mQu-MZ9d8[/embedyt]
Sumber Referensi : Goal, Tribunnews
7 Striker “Late Bloomer” yang Bersinar di Usia Tua
Mekar di usia senja. Mungkin itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan pesepakbola “late bloomer”. Berbeda dengan wonderkid yang sudah bersinar sejak usia muda, “late bloomer” adalah pemain yang justru baru bersinar di usia tua.
Bila jumlah wonderkid sangat banyak, populasi pemain yang masuk kategori “late bloomer” hanya sedikit. Hanya segelintir pemain yang bisa dikategorikan sebagai “late bloomer”.
Apalagi striker. Tak banyak striker yang mampu menjaga performanya hingga tua. Sedikit pula striker yang justru baru menorehkan prestasi di akhir kariernya.
Lalu, siapa saja pemain “late bloomer” yang justru bersinar di usia tua? Berikut daftarnya.
Daftar Isi
1. Miroslav Klose
Mantan striker timnas Jerman yang pensiun pada 2016 lalu itu adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia dengan 16 gol. Di timnas Jerman, Klose juga memegang rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa Der Panzer dengan torehan 71 gol.
Voetballer uit verleden (70):
Miroslav Klose viert z’n doelpunt voor Duitsland tegen Ierland op het WK van 2002 ⚽🇩🇪#MiroslavKlose #Klose #Kaiserslautern #WerderBremen #FCBayern #LazioRoma #WorldCup2002 #Deutschland #voetballeruitverleden pic.twitter.com/u4FjufQ8Zx— Kenny Romer (@kfwromer) April 10, 2021
Yang membuat rekor tersebut mengejutkan, Klose baru mencatat debut untuk timnas Jerman di usianya yang ke-24 tahun. Sementara itu, di level klub, loncatan karier Klose terjadi saat ia dibeli raksasa Bavaria, Bayern Munchen. Saat itu usianya sudah 29 tahun.
Klose menghabiskan empat musim di Munchen dan memenangi 6 trofi. Namun, dua musim terakhirnya di Allianz Arena tak berjalan baik. Ia hanya mencetak 12 gol di 65 laga terakhirnya. Klose lalu dilepas ke Lazio di tahun 2011 saat usianya sudah 33 tahun.
Tak disangka, bersama Lazio di Serie A, Klose menemukan kembali ketajamannya. Ia juga sukses mempersembahkan 1 trofi Coppa Italia di musim 2012/2013.
Lima musim membela Biancocelesti, Klose sukses mencetak 63 gol dari 170 penampilannya. Jumlah gol yang membuatnya masuk daftar 10 besar pencetak gol terbanyak Lazio sepanjang masa.
2. Antonio Di Natale
Nama pemain yang akrab disapa Toto Di Natale ini memang tak setenar bintang Serie A lainnya semacam Del Piero, Batistuta, maupun Roberto Baggio. Namun, jumlah gol Di Natale di Serie A jauh melebihi mereka.
Happy 41st birthday to the legendary Antonio Di Natale.
🇮🇹 445 Serie A game
⚽️ 209 Serie A goals6th on the all-time top-scorers list. 🙌 pic.twitter.com/qw8ILS0H8v
— Squawka Football (@Squawka) October 13, 2018
Di Natale yang sepanjang kariernya membela 2 klub Serie A, yakni Empoli dan Udinese dari 1996 hingga pensiun pada 2016 lalu adalah salah satu pencetak gol terbanyak Serie A sepanjang masa. Ia berada di urutan keenam berkat torehan 209 golnya dari 452 penampilan.
Di Natale baru menjelma jadi striker berbahaya saat memasuki usia 30an. Tercatat, ia 2 kali meraih gelar top skor Serie A di musim 2009/2010 dan 2010/2011. Saat itu, usia Di Natale nyaris 34 tahun. Semusim sebelum pensiun, Di Natale masih mampu mencetak 18 gol untuk Udinese meski usianya sudah 38 tahun.
3. Aritz Aduriz
Pemain asli Basque ini merintis karier profesionalnya bersama Athletic Bilbao di musim 2002/2003. Gagal bersaing, Aduriz dijual ke Valladolid di tahun 2004. Dua musim bersama Valladolid di divisi dua, Aduriz tampil lumayan dengan mencetak 22 gol dari 52 penampilan.
Bilbao lalu merekrutnya kembali. Sayangnya, 3 musim di sana, Aduriz justru tampil di luar ekspektasi. Aduriz kembali dijual ke Mallorca dan Valencia sebelum akhirnya kembali membela Athletic Bilbao lagi di musim 2012/2013 saat usianya sudah 31 tahun.
After more than 150 goals for the club, Athletic Bilbao legend Aritz Aduriz has announced his retirement 👋
His career should have ended with the Basque derby in the Copa del Rey final at the end of this season 😢 pic.twitter.com/8fx61yaIXA
— Goal (@goal) May 20, 2020
Tak disangka, Aduriz justru menemukan ketajamannya di usia tua. Aduriz 2 kali meraih Zarra Trophy, penghargaan kepada pemain Spanyol dengan gol terbanyak di La Liga. Ia meraihnya di musim 2014/2015 dan 2015/2016. Kala itu, Aduriz mencetak 18 dan 20 gol saat usia sudah 35 tahun.
Di kancah eropa, Aduriz dua kali mendapat gelar top skor Liga Europa di musim 2015/2016 dan 2017/2018. Hebatnya, Aduriz jadi top skor Liga Europa 2018 berkat torehan 11 gol. Padahal, kala itu usianya sudah 37 tahun.
Aduriz sudah memutuskan pensiun pada 2020 lalu setelah menderita cedera punggung cukup lama. Sepanjang kariernya, pemilik 13 caps bersama timnas Spanyol itu sudah mencetak 285 gol dan lebih dari setengahnya ia hasilkan saat berusia lebih dari 30 tahun.
4. Jamie Vardy
Kesuksesan Leicester City menjuarai Premier League pada 2016 lalu tak bisa dilepaskan dari jasa Jamie Vardy. Kala itu, Vardy mencetak 24 gol dan terpilih sebagai pemain terbaik Premier League.
100 – Jamie Vardy (81 goals, 19 assists) is only the sixth player in Premier League history to register 100 goal involvements after turning 30, after Teddy Sheringham (127), Frank Lampard (118), Ian Wright (110), Alan Shearer (102) and Gianfranco Zola (101). Bloom. pic.twitter.com/CzyZSK9dQo
— OptaJoe (@OptaJoe) March 14, 2021
Vardy adalah contoh terbaik dari “late bloomer”. Pemain 34 tahun kelahiran Sheffield itu masih berkompetisi di divisi 8 bersama Halifax Town saat usianya sudah 24 tahun. Vardy baru merasakan mentas di Premier League, kasta tertinggi sepak bola Inggris di usia 27 tahun setelah menghabiskan 2 musim awalnya bersama Leicester di divisi 2.
Sejak juara bersama Leicester di tahun 2016, penampilan Vardy terus konsisten dan selalu bersaing dalam daftar top skor Liga Inggris. Musim lalu, dengan koleksi 23 golnya, Vardy memenangi Sepatu Emas Premier League untuk pertama kalinya. Di usianya yang sudah 33 tahun saat itu, Vardy jadi pemain tertua yang memenangkan penghargaan tersebut.
5. Fabio Quagliarella
Quagliarella mencuri perhatian pecinta sepak bola kala dirinya terpilih sebagai top skor Serie A musim 2018/2019. Kala itu, striker Sampdoria mencetak 26 gol dan mengungguli Cristiano Ronaldo. Yang lebih mengejutkan, Ia mendapat gelar tersebut di usia 36 tahun.
ON THIS DAY: In 2019, Fabio Quagliarella won the 2018-19 Serie A Capocannoniere.
He became the first Sampdoria player to be crowned the league’s top scorer since Gianluca Vialli in 1990-91. pic.twitter.com/6JxShYPwNC
— Squawka Football (@Squawka) May 26, 2020
Raihan tersebut jadi titik balik karier Quagliarella. Pasalnya, dulu ia merupakan striker muda yang cukup diperebutkan di Italia. Sayangnya, penampilan Quagliarella meredup saat ia membela Napoli, Juventus, dan Torino di tahun 2010-2016. Selama itu pula, ia kehilangan tempat di timnas Italia.
Kini, Quagliarella masih jadi andalan Sampdoria di usianya yang ke-38 tahun. Di 2 musim terakhirnya, ia juga selalu sukses mencetak minimal 10 gol. Performa apiknya itu membuat Quagliarella kembali mendapat panggilan Roberto Mancini di timnas Italia.
6. Iago Aspas
Bisa dibilang bahwa Aspas adalah titisan Aritz Aduriz. Jalan karier kedua striker asal Spanyol itu cukup mirip. Digadang-gadang di usia muda, keduanya justru baru bersinar di usia tua.
Aspas dibeli Liverpool pada 2013 silam pasca tampil cukup menjanjikan bersama Celta Vigo. Sayangnya, Aspas gagal memenuhi ekspektasi. Ia hanya mampu mencetak 1 gol dari 15 penampilan.
Hanya bertahan semusim di Anfiled, ia kembali ke Spanyol membela Sevilla. Setelah mencetak 10 gol dari 26 penampilan selama semusim membela Sevilla, Aspas lalu kembali ke Celta Vigo di musim berikutnya.
Iago Aspas in La Liga this season:
◎ 26 appearances
◉ 12 goals
◉ 10 assistsAt the double tonight. ⚽️⚽️ pic.twitter.com/JKrR2mswgy
— Squawka Football (@Squawka) April 12, 2021
Bersama klub yang membesarkan namanya itu, Aspas menjelma jadi striker berbahaya. Ia langsung mencetak 14 gol di La Liga musim 2015/2016. Penampilan apiknya itu membuatnya mendapat panggilan pertama membela timnas Spanyol saat usianya sudah 29 tahun.
Secara berturut-turut, Aspas memenangi Zarra Trophy dari tahun 2017 hingga 2019. Kini, dia jadi salah satu pilihan utama di timnas Spanyol meski usianya sudah menyentuh angka tiga.
7. Luca Toni
Luca Toni menghabiskan masa awal kariernya di berbagai klub level bawah Italia. Ia baru menemukan ketajamannya saat berseragm Palermo pada 2003-2005. Mencetak 51 gol dari 83 penampilan, Toni lalu pindah ke Fiorentina.
Toni direkrut Fiorentina di musim 2005/2006 saat usianya sudah 28 tahun. Tak disangka, ia makin tajam di depan gawang dan langsung jadi topskor Serie A berkat torehan 31 golnya. Pasca membawa Italia juara dunia, Toni lalu menyebrang ke Bayern Munchen.
Dua musim awal di Munchen berjalan cukup apik. Namun, di musim terakhirnya, Toni mulai meredup. Cedera tendon yang ia derita di musim 2008/2009 jadi salah satu penyebabnya. Setelah itu, striker bertinggi badan 193 cm itu hengkang dari Allianz Arena.
Toni lalu berpindah-pindah klub, dari Genoa, Juventus, Al Nasr di Uni Emirat Arab, dan kembali ke Fiorentina sebelum dibeli klub promosi, Hellas Verona pada 2013. Di klub inilah Toni kembali menemukan penampilan terbaiknya.
Luca Toni has just scored his 22nd goal of the season. At 38-years old he’s the top scorer in Serie A this season. pic.twitter.com/YTyS4jltnp
— Football Factly (@FootballFactly) May 30, 2015
Di musim pertamanya, Toni langsung mencetak 20 gol untuk Verona. Torehan itu menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua di Serie A musim 2013/2014. Semusim kemudian, Toni akhirnya jadi top skor Serie A setelah mencetak 22 gol.
Toni menjadi top skor Serie A musim 2014/2015 saat berusia 38 tahun yang menjadikannya top skor tertua Serie A sepanjang masa. Luca Toni akhirnya pensiun pada 2016 silam setelah kembali bergelud dengan cedera lawasnya.
Itulah ketujuh striker “late boomer” yang justru baru bersinar dan mencatat prestasi di usia tuanya. Tentu tak mudah untuk tetap berada di level tertinggi saat badan mulai menua. Menurutmu, siapa lagi yang layak masuk daftar ini?
***
Sumber Referensi: Sportskeeda, Bolalob, Hitc, 90min
