Cedera masih menjadi momok menakutkan bagi setiap pemain sepakbola. Masalah tersebut kerap menjadi suatu hal mengerikan yang berpotensi membuat karir seorang pemain mandek. Salah satu pemain yang sangat tidak beruntung meski memiliki talenta luar biasa adalah Giuseppe Rossi.
Nama Giuseppe Rossi tentu tidak asing di telinga para penggemar sepakbola, khususnya di Italia. Meski memiliki tubuh yang relatif kecil, Rossi dikenal sebagai pemain yang mampu memanfaatkan berbagai kesempatan.
Kisah Giuseppe Rossi dimulai dari sebuah wilayah bernama Teaneck, New Jersey, Amerika Serikat. Kendati lahir di Negeri Paman Sam, Rossi yang memiliki darah Italia lebih memilih untuk membela negara yang beribukota di Roma itu. Bakat sepakbola Rossi lahir dari sang ayah yang memiliki pekerjaan sebagai seorang pelatih sepakbola sekaligus guru bahasa Italia di sebuah sekolah.
Rossi kecil tumbuh di tim junior Parma. Dia yang ketika itu masih berusia 12 tahun sudah terlihat memiliki bakat yang menjanjikan. Setelah selama kurang lebih empat tahun membela Parma, Rossi yang usianya mulai menginjak angka 17 tahun langsung diminati oleh manajer legendaris Setan Merah, Sir Alex Ferguson. Fergie mengaku senang ketika melihat Rossi bermain.
Di usia yang masih tergolong muda, dia langsung mendapat kontrak professional dan tampil di tim utama United tahun 2004. Debutnya di tim utama terjadi pada 20 November 2004 ketika MU berhadapan dengan Crystal Palace di kandang. Di kompetisi Liga Primer Inggris sendiri, dia memulainya pada Oktober 2005 di laga melawan Sunderland. Ketika itu, Rossi masuk pada menit ke 78 untuk menggantikan Ruud van Nistelrooy.
Dirasa butuh memperbanyak jam terbang, Rossi lalu dilego ke Newcastle dengan status pinjaman. Akan tetapi, dia tampil di luar harapan. Hanya setengah berada disana, Rossi lalu dipinjamkan ke Parma yang ketika itu berkompetisi di Serie A.
Di klub Italia itu, dia berhasil menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemain berbakat. Dia membantu klub lolos dari jurang degradasi dengan mengemas sebanyak sembilan gol dari total 19 kali kesempatan yang diberi.
Sayangnya, selama dipinjamkan oleh Manchester United, dia gagal kembali menembus tim utama Setan Merah, dan malah dilepas ke klub asal Spanyol, Villareal. Rossi dijual dengan harga sebesar 10 juta euro atau setara 170 miliar rupiah pada tahun 2007. Selama membela MU di liga, dia hanya tampil dalam lima laga dengan total capaian satu gol saja.
Beruntung, keputusannya dalam bergabung dengan tim kapal selam kuning berbuah manis. Disana, dia berhasil menemukan jati diri. Dia mendapat kepercayaan penuh dan mulai dipandang sebagai pemain yang memang punya bakat luar biasa. Rossi berhasil mencetak gol untuk Villarreal di laga debutnya melawan Valencia pada 26 Agustus 2007. Musim pertamanya dijalani dengan baik. Dia tampil dalam 27 penampilan liga dan mampu torehkan sebanyak 11 gol. Sementara di semua kompetisi, dia berhasil mencetak sebanyak 13 gol.
Di musim keduanya bersama Villarreal, Rossi lalu berhasil mencetak 12 gol dalam 30 penampilan liga, plus memproduksi tiga gol dalam delapan penampilan di kompetisi Liga Champions.
Sampai setidaknya musim 2010/11, Rossi telah tampil dalam lebih dari 30 pertandingan liga. Torehan golnya pun selalu mencapai dua digit. Pada musim 2010/11 sendiri, Rossi benar-benar tampil brilian. Saat itu, Rossi bermain pada 56 pertandingan dan mengemas 32 gol di semua kompetisi. Tidak hanya itu, di musim yang sama, Rossi juga berhasil membawa Villarreal melaju sampai fase semifinal Liga Europa dan perempat final Piala Raja.
Berkat penampilan luar biasanya itu, nama Rossi bahkan dimasukkan ke dalam timnas Italia yang menjalani sejumlah turnamen penting. Dia ikut membela Italia di Olimpiade 2008 dan Piala Konfederasi 2009. Bahkan di era kepelatihan Cesare Prandelli, dia sempat ditunjuk sebagai kapten tim.
Nahas, meski menjalani musim yang amat luar biasa, itu juga menjadi musim terakhirnya dia mampu bersinar. Sejak performa apik bersama Villarreal, nama Rossi malah melempem pada musim-musim berikutnya.
Rossi mengalami cedera ACL pada laga melawan Real Madrid dimana Villarreal kalah dengan skor 3-0. Cedera itu pun membuatnya harus absen sampai setidaknya enam bulan lamanya.
Baru saja pulih dari cedera tersebut, dia kembali mendapat cedera yang lebih parah pada April 2012 di sesi latihan, dimana itu membuatnya harus berhenti bermain sepakbola sampai 10 bulan lamanya.
Kejadian itu jelas menjadi yang paling menyakitkan bagi Rossi. Di saat dirinya mulai temukan jati diri, cedera lutut malah membuatnya hancur dan kehilangan tempat di Villarreal. Buktinya, tim asal Spanyol yang tidak mau ambil resiko itu langsung menerima tawaran Fiorentina yang menginginkan jasa Rossi.
Ketika itu dia digaet dengan harga sekitar 11 juta euro atau setara 187 miliar rupiah. Tepat pada 7 Januari 2013, Rossi menandatangani kontrak selama empat tahun dengan klub berjuluk La Viola.
Awal perjalanan Rossi dengan Fiorentina mulanya berjalan baik. Dia beberapa kali diturunkan dan berhasil mencetak gol krusial. Bahkan, tepat pada 20 Oktober 2013, dia mampu menginspirasi kemenangan Fiorentina atas Juventus dengan skor 4-2. Rossi mencetak hattrick dalam waktu 14 menit saja. Kemenangan itu terasa sangat spesial mengingat dalam kurun waktu 15 tahun, La Viola selalu gagal memetik kemenangan atas Si Nyonya Tua.
Akan tetapi, lagi-lagi, Rossi kembali mengalami masalah yang tampak sudah melekat pada dirinya. Dia mengalami cedera pada lutut kanan nya di laga melawan Livorno. Pemain bernama Leandro Rinaudo yang melakukan tekel keras terhadap Rossi ketika itu pun langsung mendapat banyak kecaman.
Sempat kembali setelah sekitar empat bulan absen, Rossi kembali mengalami cedera dan harus beristirahat selama kurang lebih 4-5 bulan lamanya.
Fiorentina yang merasa kurang puas pun pada akhirnya melepas sang pemain ke Spanyol, dimana klub Levante dan Celta Vigo menjadi tempat yang ditinggal Rossi selama dua musim.
Ketika itu, Rossi tampak frustasi karena cedera telah merenggut karirnya. Dia bahkan sempat ingin putuskan pensiun di usia 31 tahun meski hal tersebut urung dilakukan.
“Aku lupa sudah berapa kali menjalani operasi lutut. Mungkin empat? Atau lima? Tiap kali aku duduk merenung dan memikirkan lutut yang rentan cedera ini, aku merasa terganggu. Itu selalu terngiang-ngiang di kepala. Benar-benar menyiksa. Itu benar-benar berat bagiku,” ungkap Rossi
Tidak lagi diharapkan untuk tinggal, Rossi lalu bergabung dengan Genoa pada tahun 2018 dengan status bebas transfer. Namun begitu, performanya sudah tak lagi sama. Rossi tampak kesulitan mengembalikan segalanya, hingga membuat perjalanan karirnya compang camping.
Sempat kembali berstatus tanpa klub, dia lalu pergi ke Amerika Serikat untuk bermain dengan Real Salt Lake, untuk kemudian kembali menyandang status sebagai pemain tanpa klub, di usianya yang telah menginjak 34 tahun.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=SuEzyQhWWHQ[/embedyt]
Sumber referensi: setanmerah, punditfeed, gorilasport


