Beranda blog Halaman 6

Niat Terselubung Dibalik Pertemuan Beruntun Real Madrid & Manchester City di Liga Champions

0

Masih ingat dengan lagunya Afgan yang berjudul “Jodoh Pasti Bertemu”? Lagu yang ikonik dari penyanyi berkacamata itu tampaknya jadi lagu yang mesti masuk playlist fans Real Madrid dan Manchester City. Karena seolah telah ditulis oleh takdir, mereka kembali bertemu di Liga Champions edisi 2025/26. 

Dalam lima musim terakhir, Madrid dan City hampir tak pernah absen saling menjegal langkah. Dari drama legendaris di Santiago Bernabéu tahun 2022, pesta biru langit di Etihad 2023, hingga pertarungan taktis Carlo Ancelotti vs Pep Guardiola yang terus menciptakan cerita klasik. Setiap pertemuan selalu menghadirkan bab yang menegangkan.

Bagi Madrid, sang penguasa abadi Eropa, bentrokan ini adalah ajang menjaga wibawa. Sementara bagi Manchester City, klub modern dengan kekuatan finansial luar biasa, duel melawan Madrid adalah ujian supremasi. Namun, yang jadi pertanyaan, kenapa dua klub ini sering banget ketemu? Bahkan ini jadi pertemuan keempat secara beruntun di UCL!

Swiss System

Mulai musim 2024/25, format Liga Champions berubah total. Tidak ada lagi fase grup dengan empat tim seperti dulu. UEFA mengganti format undiannya dengan sistem baru bernama Swiss system. Dan sistem inilah yang memperbesar peluang Manchester City bertemu dengan Real Madrid di musim ini dan musim-musim berikutnya. 

Dengan adanya sistem ini, setiap klub akan menghadapi delapan tim berbeda di babak liga. Cara mencarikan lawan ya dengan sistem Swiss ini. Nantinya, baik Manchester City maupun Real Madrid akan menghadapi dua lawan dari POT unggulan yang sama, dua lagi dari POT lebih tinggi, dua lagi dari POT lebih rendah, dan dua lawan dari POT lain.

Kalau sudah terisi semua, hasil dari delapan laga itu dimasukkan ke satu tabel klasemen raksasa. Ketentuan harus menghadapi dua lawan dari POT yang sama jadi faktor kunci mengapa City dan Madrid rajin banget ketemu. Sejak musim lalu, Madrid dan City berada di POT yang sama, yakni POT 1.

Manchester City dan Real Madrid berada di POT 1 bersama klub-klub lain, seperti Barcelona, Inter Milan, Liverpool, Chelsea, Borussia Dortmund dan sebagainya. Maka dari itu, di pertandingan lain City juga menghadapi Dortmund. Dan Madrid juga menghadapi rival Eropanya, Liverpool.

Status Tim Besar dan Konsistensi

Nah untuk masuk POT 1, Manchester City dan Real Madrid harus memenuhi beberapa kriteria. Dalam skema Swiss, POT 1 diisi oleh delapan tim dengan koefisien UEFA tertinggi. Lalu, di tambah juara Liga Champions musim sebelumnya. Jadi, meski yang juara dari klub Siprus sekali pun, harus tetap masuk POT 1 di edisi berikutnya. Nah di edisi ini, PSG yang masuk POT 1 dengan jalur juara bertahan.

Lantas, koefisien macam apa yang dimaksud? Koefisien ini dihitung dari performa klub dalam lima musim terakhir di kompetisi Eropa, termasuk Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League. Poin diperoleh dari hasil pertandingan. Menang bernilai dua poin, seri satu poin. Lalu ditambah bonus prestasi, seperti lolos ke semifinal atau final. 

Maka dari itu, POT 1 berisi tim-tim berprestasi di Eropa dalam beberapa musim terakhir. Misalnya, ada Chelsea yang musim ini berstatus juara bertahan Conference League. Ada Inter Milan yang mencapai final Liga Champions sebanyak dua kali dalam lima tahun terakhir.

Sejak diberlakukannya sistem Swiss, klub juga mendapat bonus tambahan berdasarkan posisi akhir di klasemen fase liga. Di mana tim peringkat atas memperoleh poin lebih besar. Selain itu, UEFA memberi jaring pengaman berupa koefisien minimum sebesar 20% dari peringkat asosiasi negaranya. Sehingga klub dari liga top seperti Inggris, Spanyol, atau Jerman cenderung tetap stabil di posisi tinggi meski sempat tampil buruk dalam satu musim.

Dengan mekanisme ini, syarat utama masuk Pot 1 adalah konsistensi tampil baik di liga domestik dan di kompetisi Eropa selama beberapa musim, bukan hanya sesaat. Kalau enggak ya kayak Arsenal. Mainnya bagus tapi nggak pernah juara liga dan nggak konsisten di UCL. Jadinya nggak masuk POT 1.

Daya Survive

Faktor lain adalah daya juang dan kemampuan Real Madrid dan Manchester City dalam mempertahankan posisinya di Liga Champions. Karena pada dasarnya, City dan Madrid tidak hanya bertemu di fase grup. Sebelum berlakunya Swiss System, City dan Madrid sudah sering ketemu. Tapi di fase gugur.

Untuk bertemu di fase gugur, itu berarti daya survive keduanya sangat tinggi. Contohnya saat edisi 2021/22 dan 2022/23 di mana keduanya bertemu di semifinal. Itu artinya, kedua tim sebelumnya tidak bertemu di fase grup. Tapi, dengan meraih kemenangan di babak 16 besar dan perempat final, mereka akhirnya saling berhadapan. 

Akal-Akalan UEFA?

Namun, beberapa pihak merasa bahwa pertemuan antara Manchester City dan Real Madrid yang terus-terusan terjadi berkat adanya campur tangan dari UEFA. Sederhananya, publik menuding kalau ini cuma akal-akalan UEFA. Mungkin terlalu naif jika langsung menuduh demikian. Namun, asumsi seperti ini kenyataannya tak bisa sepenuhnya disalahkan.

Sejak penerapan format Swiss di Liga Champions 2024/25, UEFA tidak hanya sekadar menyusun jadwal secara acak. Mereka secara sengaja mengemas setiap laga agar atraktif untuk penonton global. Dengan begini, para penonton baik di stadion maupun di layar kaca tak perlu menunggu hingga fase gugur. Karena sudah disajikan Big Match sejak pekan pertama. 

Selain menghibur penonton, laga Manchester City vs Real Madrid yang hadir lebih awal bisa meningkatkan minat penonton, rating televisi, dan engagement di media sosial. Namun, yang bisa menjadi catatan adalah, UEFA tak memberlakukan ini pada Madrid dan City saja. Tapi semua. 

UEFA menyebar big match ini secara merata di kalender liga. Sehingga tiap pekan intensitas pertandingan tetap terjaga. Dengan cara ini, UEFA memastikan setiap pekan tetap menjadi magnet penonton. 

Rivalitas Baru

Khusus Real Madrid vs Manchester City, ada faktor kecil lain yang mempengaruhi terjadinya laga ini. Yaitu stigma masyarakat. Pertemuan berulang selama bertahun-tahun melahirkan anggapan bahwa Real Madrid dan Manchester City memiliki rivalitas kuat di panggung Eropa. Nah, di sinilah otak marketing UEFA jalan. Mereka ingin menjaga emosi ini dengan membuat laga tersebut terus terjadi setiap tahunnya. 

UEFA tak hanya fokus pada hasil pertandingan dan siapa yang memenangkan kompetisi. Tetapi juga pada kisah yang bisa membentuk cerita kompetisi tiap musim. Nantinya akan tercipta narasi pertandingan antara “Sang Penguasa Eropa vs Sang Kaya Raya dari Inggris”. 

Dengan kata lain, UEFA secara strategis membiarkan atau bahkan menyesuaikan undian dan jadwal agar pertemuan-pertemuan dramatis seperti ini tetap terjadi, sehingga musim Liga Champions selalu jadi obrolan warga setiap bulannya. Tapi kalau keseringan sih kayaknya bosen juga ya?

Kebetulan Saja

Ada faktor lain yang mungkin terlupakan oleh sebagian banyak fans sepakbola. Faktor itu adalah faktor kebetulan. Secara teori, faktor kebetulan memang bisa berperan, karena undian UEFA pada dasarnya masih memiliki elemen acak. Apalagi di format Liga Champions yang lama. 

Pertemuan City dan Madrid di fase gugur sangat tidak bisa diprediksi. Di format dulu, kita nggak tahu nih City akan lolos ke fase gugur sebagai juara grup atau runner up grup. Begitu pun dengan Real Madrid. Jadinya nggak tau nih mereka akan ketemu di babak 16 besar atau engga. Lalu, kalau pertemuan terjadi di semifinal, ya itu murni dari daya tahan klub. Bisa aja kan City atau Madrid sudah kalah duluan di perempat final?

Jadinya kita nggak tau nih kedua tim akan melaju sejauh apa sampai akhirnya bertemu. Musim lalu aneh lagi. Siapa yang menyangka kedua tim unggulan ini justru terseok-seok di papan tengah dan akhirnya bertemu di babak play off 16 besar. Terlepas dari settingan atau tidak, Real Madrid dan Manchester City memang representatif yang tepat dari lagu Afgan. Kalau sudah jodoh ya mau bagaimana pun akan tetap dipertemukan.

Sumber: ESPN, BBC, MEN

Chelsea Jadi Pintu Balas Dendam Garnacho ke Manchester United!?

0

Di tengah chaosnya Jakarta, eh maksudnya Manchester United, klub dikabarkan sudah mencapai kesepakatan dengan Chelsea. Kesepakatan ini terkait transfer salah satu talenta terbaik MU, Alejandro Garnacho. Warisan Erik Ten Hag ini pun sudah sejak Juli lalu memprioritaskan The Blues. Garna bahkan menepi dari skuad United demi melancarkan transfer ini.

Usut punya usut, kepindahan ini didasari dengan hubungan Garnacho dan Manchester United yang mulai retak. Ketidakpuasan Garnacho memuncak saat dirinya tak menjadi starter di laga final Europa League melawan Spurs. Bagi Garnacho, United yang telah ia bela selama bertahun-tahun seolah tidak melindungi dirinya dari keputusan taktik Ruben Amorim.

Keluar dengan membawa sekarung emosi yang tak selesai, Garnacho bisa menggunakan Chelsea sebagai media balas dendam paling epic abad ini. Dengan bergabung Chelsea, Garnacho bisa melakukan hal-hal ini demi bisa membuat Manchester United dan Ruben Amorim menyesal telah membuangnya.

Gabung Chelsea

Chelsea dipilih Alejandro Garnacho bukan tanpa pertimbangan matang. Bukan sekadar biar nggak ribet ngurus pindahan ke luar negeri. Selain karena masih ingin bermain di level tertinggi, yakni Liga Inggris, pindah ke Chelsea adalah sebuah pernyataan tegas seorang Garnacho kepada mantan klubnya. 

Setelah merasa diperlakukan tidak adil di Old Trafford. Entah karena menit bermain yang berkurang, perselisihan dengan manajer, atau kurangnya kepercayaan dari klub. Chelsea akan memberinya panggung untuk membuktikan kualitasnya. Dengan bermain di klub yang mana adalah rival United, itu akan membuat Garnacho terus berada di jangkauan mata eks klubnya itu.

Peluang Garnacho untuk menghadapi Manchester United juga tetap besar. Setiap kali bertemu United di Premier League atau di kompetisi domestik lainnya, Garnacho otomatis punya motivasi ekstra. Ini memberinya kesempatan nyata untuk menunjukkan performa terbaiknya di hadapan mantan klub dan fans yang dulu meragukannya. 

Selain itu, tetap bermain di Premier League dapat menjaga narasi rivalitas agar tetap hidup. Media dan penggemar akan terus membandingkan karir Garnacho di Chelsea dengan kiprahnya di Old Trafford. Sehingga setiap penampilan melawan MU menjadi momen simbolis yang mengukuhkan statusnya sebagai pemain yang berhasil lepas dari belenggu sang setan.

Cetak Gol dan Buktikan

Nah, dengan kesempatan melawan mantan yang masih terbuka lebar, Garnacho bisa tebar pesona tuh. Bukan hanya bermain bagus. Mungkin Garnacho bisa mencetak gol, assist, atau bahkan bikin Leny Yoro tergopoh-gopoh melalui kecepatannya. Ini adalah cara balas dendam paling profesional yang bisa dilakukan oleh Garnacho.

Gol tersebut bukan sekadar angka di papan skor, tapi simbol pembuktian bahwa MU salah menilai atau melepasnya. Setiap gol yang disarangkan Garnacho pasti langsung dikaitkan oleh media-media Inggris yang demen nyinyir itu. Nantinya, gol itu pun bakal dikaitkan dengan kisah Garnacho yang dibuang Setan Merah.

Jika ingin lebih emosional lagi, mungkin Garnacho tak perlu menahan diri untuk melakukan selebrasi. Luapkan emosi yang tertahan. Lakukan selebrasi yang sedikit bersifat provokatif dan ciumlah logo Chelsea di hadapan fans Manchester United. Dijamin, puluhan ribu fans United akan panas, marah, tapi secara bersamaan mereka juga malu. 

Apalagi, kalau semua skenario ini diwujudkan di Old Trafford. Beuhh, seru pasti. Jika di akhir musim nanti Alejandro Garnacho bisa jadi top assist atau masuk lima besar top scorer Chelsea, reputasinya akan melejit. Statistik ini pasti akan jadi komparasi performa antara versi Chelsea dan versi MU.

Peran Sentral di Chelsea

Namun, untuk mewujudkan selebrasi di hadapan publik Old Trafford, Alejandro Garnacho harus memenangkan hati Enzo Maresca terlebih dahulu. Di posisinya, yakni sayap kiri, Chelsea tak memiliki banyak opsi. Setelah dibannednya Mykhaylo Mudryk, praktis opsi Enzo Maresca hanya Tyrique George dan Jamie Gittens. Maka dari itu, Garnacho punya peluang untuk mendapat peran vital di tim.

Meski begitu, Garnacho tak selalu mendapat jaminan. Untuk mendapatkan peran sentral di Chelsea, Garnacho harus bekerja keras di setiap sesi latihan. Mengambil porsi tambahan dan mengangkat beban lebih sering ketika di Gym. Itu pula yang dilakukan Cristiano Ronaldo, idolanya sewaktu di Manchester United. 

Lantas, apakah skema permainan Enzo Maresca cocok untuk Garnacho? Maresca dikenal dengan filosofi possession-based, pressing tinggi, dan build-up dari lini tengah. Di sisi lain, Maresca menekankan peran winger yang aktif. Bukan sekadar menunggu bola di sayap, tapi ikut dalam kombinasi satu-dua, overload sisi, dan memberi opsi menyerang di tengah.

Maresca biasanya memberi kebebasan menyerang bagi pemain muda berbakat, sehingga Alejandro Garnacho bisa mengeksplorasi kecepatannya, dribel, dan kemampuan finishing. Nantinya, pemain sayap asal Argentina itu akan dibantu oleh Marc Cucurella. Pergerakan Cucurella yang agresif dapat membuka ruang untuk Garnacho.

Bantu Chelsea Juara

Kalau sudah menjadi bagian penting dari skema permainan Chelsea, Alejandro Garnacho akan membantu klub untuk meraih prestasi di setiap musimnya. Musim 2025/26, Chelsea jadi tim yang potensial. Pasca menjuarai Conference League dan Piala Dunia Antarklub musim lalu, Chelsea kembali ke perburuan gelar Premier League musim ini.

The Blues memiliki skuad yang relatif seimbang dengan kualitas winger, striker, dan lini tengah yang komplit. Dengan pelatih seperti Enzo Maresca yang mendorong permainan menyerang, Garnacho punya peluang besar jadi starter reguler dan kontributor gol atau assist bersama Cole Palmer dan Joao Pedro.

Jika gelar Liga Champions dirasa terlalu sulit, maka Chelsea bisa mengincar gelar-gelar domestik. Gelar Premier League? Mungkin saja. Tapi, merayakan gelar Carabao Cup atau Piala FA di hadapan Manchester United yang kian terpuruk bersama Ruben Amorim agaknya jadi momen yang cukup memuaskan bagi Garnacho.

Raih Gelar Individu

Jika prestasi tim sudah konsisten, performa juga terus menanjak, bukan tidak mungkin Alejandro Garnacho akan mendapatkan gelar individu. Itu akan menjadi bentuk balas dendam yang paling menyakitkan bagi Manchester United. Nggak usah muluk-muluk deh. Jadi Player of The Month Premier League aja udah bisa bikin fans United koar-koar pasti.

Lebih dari itu, kontrak Garnacho di Chelsea sangat panjang. Menurut cuitan Fabrizio Romano, pemain yang menyukai Captain Tsubasa itu menandatangani kontrak berdurasi tujuh tahun. Dengan durasi kontrak segitu, Garnacho punya waktu yang cukup untuk mencapai potensi maksimalnya bersama Chelsea. 

Jika Enzo Maresca berhasil mengeluarkan seluruh kemampuan dari Garnacho, maka dalam dua atau tiga tahun ke depan, Garnacho bisa menjelma sebagai kandidat kuat penerima penghargaan Pemain Terbaik Liga Inggris. Trofi yang dimenangkan oleh pemain-pemain yang mampu berkontribusi maksimal dan tampil konsisten bersama klubnya sepanjang musim.

Bahkan siapa tahu suatu hari Ballon d’Or bisa ikut menghiasi CV Garnacho. Setiap penghargaan yang ia raih akan menjadi pengingat pahit bagi Manchester United, yang dulu dengan enteng melepasnya. Nantinya, mereka hanya bisa menatap dari jauh sambil bergumam, “Seharusnya kami tidak pernah membiarkan Garnacho pergi.”

Jadi Legenda Chelsea

Apabila semua sudah diraih, Alejandro Garnacho efeknya akan jauh lebih dari sekadar statistik di lapangan. Itu akan membentuk narasi emosional yang membekas di kultur suporter. Ia bisa jadi pribadi yang mudah dicintai oleh fans Chelsea. Itu yang selama ini tak bisa ia dapatkan di United.

Fans Chelsea akan menjadikan Garnacho pahlawan, simbol kejayaan baru, bahkan legenda. Mereka akan mengenang setiap gol dan assist pentingnya, terutama momen-momen melawan klub-klub papan atas dan tentu saja Manchester United. Sementara itu, fans MU hanya bisa menatap dari jauh, melihat mantan pemain muda terbaik mereka bersinar bersama rival.

Sumber: Goal, BBC, The Athletic

Udah Nggak Ketolong! Saatnya Ruben Amorim Dipecat dari Manchester United?

0

Begitu peluit panjang dibunyikan, Stadion Blundell Park yang sederhana seketika berubah menjadi lautan manusia. Ribuan suporter Grimsby Town, yang sejak awal hanya berani bermimpi, mulai hidup di mimpi itu. Bukan, Grimsby sedang tidak merayakan promosi ke Premier League. Aksi meriah itu muncul secara naluriah setelah mengalahkan Manchester United di ajang Carabao Cup.

Sinar lampu stadion memantul pada bendera hitam-putih yang dikibarkan penuh kebanggaan, sementara chant khas Grimsby menggema semakin keras. Di tengah kerumunan, kita bisa melihat bagaimana Bruno Fernandes sedang berusaha menenangkan Bryan Mbeumo yang tampaknya menangisi sepakan penaltinya.

Lucunya, Ruben Amorim justru tak menampakkan batang hidungnya di situasi itu. Dalam wawancara seusai laga, ia mengaku tak menonton babak adu penalti. Ia merasa hasilnya tak akan berpengaruh banyak pada situasi tim. Ini adalah sikap seorang pengecut. Amorim langsung digoreng oleh media. Kata mereka, pelatih asal Portugal itu layak untuk dipecat! 

Digoreng Media

Tak butuh waktu lama untuk membuat Ruben Amorim menjadi buah bibir seantero negeri. Media-media kaliber ESPN, Sky Sport, Daily Mail hingga Detiksport semuanya membahas pelatih asal Portugal itu. Topik beritanya kurang lebih sama. Ruben Amorim adalah sosok yang layak untuk dikambinghitamkan atas situasi ini.

Beberapa dari mereka menyorot permintaan maaf Ruben Amorim atas kekalahan ini. Tapi The Sun justru mengartikannya sebagai tanda bahwa Ruben telah kehilangan kendali atas ruang ganti. Sementara yang lain menyebut kekalahan ini sebagai “malam paling memalukan dalam sejarah modern Manchester United”. Ya gimana lagi? MU dikalahin sama klub antah berantah. Publik Indonesia mungkin lebih kenal Grind Boys daripada Grimbsby.

Para pundit pun berkelakar kalau Amorim gagal membawa identitas permainan. Sedangkan di media sosial, tagar #AmorimOut sempat trending. Dalam kultur sepakbola Inggris yang kejam, satu hasil buruk melawan tim divisi empat bisa menghapus seluruh optimisme awal musim. Apalagi kalau tim yang kalah itu adalah Manchester United, si media darling.

Kolot Soal Taktik

Hasil negatif di markas Grimsby Town adalah puncak gunung es dari permasalahan Ruben Amorim di Manchester United. Ini adalah klimaks setelah masalah-masalah lain yang terus dimaklumi. Padahal sudah cukup dijadikan alasan memecat sang pelatih. Kenapa?

Yang pertama karena taktik. Ruben Amorim tuh kayak ABG yang lagi nyari jati diri. Kebanyakan ngasih makan ego daripada berpikir realistis. Amorim datang ke Manchester dengan label “si jenius dari Sporting” yang katanya punya filosofi modern dan sistem 3-4-3 yang bikin lawan sekaliber Manchester City kelabakan.

Tapi ketika dibawa ke Premier League? Gatot, alias gagal total. Yang kelabakan malah pemain Setan Merah sendiri. Bukannya jadi tim yang menyajikan sepakbola atraktif nan efektif, permainan United sering kelihatan membingungkan, setengah matang, dan tanpa identitas jelas. Build up dari bawah, tapi pas udah sampe depan malah bingung. Pemain bingung, yang nonton pun ikutan bingung.

Kalau di Portugal ia bisa disebut inovatif, di Inggris justru keliatan kayak coba-coba resep masakan baru tapi lupa baca takarannya. Jadi si jadi, tapi nggak karuan rasanya. Sama kayak gaya main MU. Nggak karuan. Yang bikin sebel, Amorim tetap kekeh mempertahankan skema permainan itu.

Udah tau skemanya nggak cocok, tapi tetep dipaksain. Amorim musti ingat. Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir tidak baik. Seharusnya, ketika skema andalan tak sesuai, Amorim bisa mengandalkan sepakbola pragmatis. Lebih adaptif dan efektif untuk pemain-pemain Manchester United yang dikenal punya IQ jongkok.

Terlalu Banyak Mengorbankan Pemain

Kekolotan Ruben Amorim akan taktik dan skema permainannya membawa dampak buruk bagi pemain-pemain yang tak masuk dalam rencananya. Kalau yang dibuang cuman Tyrell Malacia atau Jadon Sancho sih tak apa ya. Ini Amorim cukup berani. Di luar nama itu, nama-nama yang musim-musim sebelumnya jadi andalan juga perlahan disingkirkan.

Sejak awal, ia sudah menekankan bahwa hanya pemain dengan komitmen 100% yang layak bertahan. Dari mulai Antony, Rasmus Hojlund, hingga sang legenda, Marcus Rashford. Amorim benar-benar tega dalam memperlakukan pemain-pemain ini. Baginya, lebih baik bekerja dengan skuad yang lebih ramping tapi sesuai dengan apa yang ia mau, ketimbang mempertahankan bintang yang justru merusak komposisi permainan.

Yang terbaru, Ruben Amorim dikabarkan sedang berusaha menyingkirkan Alejandro Garnacho dan Kobbie Mainoo. Kedua pemain adalah hasil akademi Manchester United. Membuang mereka sama halnya dengan menghilangkan tradisi klub yang selalu memberikan peran vital kepada pemain lulusan akademi di setiap musimnya.

Untuk mewujudkan tim yang diidam-idamkan Ruben, klub memutuskan untuk tetap berinvestasi besar di tengah kondisi klub yang sedang ngirit. Pemain-pemain mahal macam Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, hingga Benjamin Sesko pun didatangkan. Namun, hilal kesuksesan belum terlihat. 

Butuh apalagi? Adaptasi? Sudah tak ada waktu untuk adaptasi. Lihat tuh bagaimana Viktor Gyokeres dan Tijjani Reijnders. Meski berstatus pemain baru di klubnya masing-masing, mereka langsung nyetel. Karena pada dasarnya kalau yang didatangkan adalah pemain yang diminta oleh pelatih, sudah pasti gampang untuk memasukan mereka dalam skema. Tak sepatutnya Manchester United berada di situasi seperti ini.

Bermasalah Soal Konsistensi

Ngomong-ngomong soal hasil buruk, Manchester United era Ruben Amorim ini bener-bener ampas. Kalau kita cari statistik performa United, Ruben tak pernah membawa tim menang dua kali beruntun di Premier League. Kemenangan beruntun yang diraih pasti di dua kompetisi yang berbeda. Misal abis menang di Europa League, mereka menang di Premier League.

Tapi nggak pernah tuh menang dua kali secara beruntun. Itu artinya, Amorim kesulitan untuk menjaga konsistensi performa tim. United di bawah Ruben Amorim sering terlihat seperti tim yang mudah kehilangan fokus. Setan Merah bisa tampil beringas di satu laga menghadapi Manchester City, lalu jeblok tak berdaya melawan tim kecil di pekan berikutnya.

Kekalahan dari Grimsby Town adalah contoh yang terpampang nyata. Sebuah pertandingan yang seharusnya jadi ajang pemanasan justru berubah jadi bencana sejarah. Dilansir ESPN, kekalahan ini merupakan kekalahan pertama United dalam pertandingan Carabao Cup melawan tim divisi empat.

Di babak pertama, mental para pemain rapuh. Gampang panik ketika ditekan lawan yang notabene berasal dari divisi bawah. Padahal Grimsby bukan level United. Ini jelas menunjukan bahwa Ruben tak mampu mendongkrak mental tim usai tim tuan rumah mencetak gol cepat di babak pertama. Miskin taktik, nggak solutif juga di ruang ganti. Ngapain masih dipertahankan?

Krisis Kepercayaan dan Momentum

Kabarnya, kepercayaan fans kepada Ruben Amorim pun mulai luntur. Para fans merasa proyek yang dicanangkan oleh Ruben adalah omong kosong belaka. Proyek Amorim tidak berjalan ke arah yang dijanjikan. Padahal saat pertama datang, fans sempat memberi harapan besar. Amorim dipuji sebagai “pelatih muda visioner” yang bisa membawa filosofi segar ke Old Trafford. 

Tapi seiring berjalannya waktu, permainan United tetap tidak stabil. Di media sosial, kekecewaan suporter makin lantang. Tagar #AmorimOut sempat trending. Bagi pendukung setia United yang terbiasa menuntut standar tinggi, kehilangan kesabaran pada Amorim rasanya hanya soal waktu.

Sama halnya dengan kesabaran fans, pemecatan Ruben Amorim tampaknya hanya menunggu waktu. Musim Premier League itu ibarat lari maraton. Momentum adalah bahan bakar utamanya. Jika tren seperti ini berlanjut, United bisa terjebak dalam lingkaran setannya sendiri. Gagal bangkit di laga berikutnya, kehilangan poin beruntun di liga, hingga akhirnya gagal lolos ke kompetisi Eropa dan ngejogrok lagi di papan bawah.

Maka dari itu, pemecatan Amorim di awal musim justru bisa jadi solusi kebangkitan Manchester United. Logikanya sederhana. Semakin lama ia bertahan dengan performa yang tak kunjung membaik, semakin dalam pula United terjebak dalam krisis. Manajemen harus bertindak cepat. Yang jadi masalah, siapa yang cocok untuk menggantikan Amorim? Gareth Southgate? Zinedine Zidane? Atau Indra Sjafri aja sekalian?

Sumber: The Athletic, ESPN, The Sun, Sky Sport

Klub Antah Berantah Ini Akan Main di Liga Champions 2025/26

0

Bagi Real Madrid atau PSG, Liga Champions barangkali sudah dianggap sebagai agenda tahunan. Namun, bagi klub-klub berikut ini tidak. Dalam konten kali ini, Starting Eleven akan membahas klub-klub antah berantah yang akan tampil di Liga Champions 2025/26. Beberapa dari mereka jauh dari pusat Eropa.

Bahkan bagi sebagian klub ini, sepakbola bukan olahraga nomor satu di negara mereka. Meski ada rasa gugup menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih berpengalaman, ada pula semangat membara untuk membuktikan diri. Setiap sentuhan bola, setiap sprint mengejar peluang, menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tamu di kompetisi ini.

Menjadi anak baru di Liga Champions bukan hanya soal bermain sepakbola, tetapi juga merasakan kebanggaan membawa nama klub ke panggung dunia. Menyaksikan bendera negara asal berkibar di stadion-stadion megah dan merasakan detak jantung jutaan fans yang berharap pada setiap langkah di lapangan. Dan berikut adalah klub-klub aneh yang akan meramaikan panggung UCL musim ini.

Pafos FC

Klub antah berantah pertama yang akan kita bahas adalah Pafos FC. Klub asal Siprus ini mencatatkan sejarah dengan lolos ke putaran final Liga Champions musim ini. Pencapaian ini menjadi sorotan karena mereka berhasil menyingkirkan tim-tim besar seperti Red Star Belgrade dengan agregat 3-2 di babak play-off.

Perjalanan Pafos menuju Liga Champions musim ini dimulai dengan kemenangan 2-1 atas wakil Israel, Maccabi Tel Aviv di babak kualifikasi kedua. Hasil itu membawa mereka ke babak ketiga. Di babak tersebut, mereka menghadapi Dynamo Kyiv dan berhasil lolos setelah pertandingan yang ketat. 

Dalam tiga tahun terakhir, Pafos mengalami perkembangan yang signifikan di bawah asuhan Juan Carlos Carcedo. Pelatih asal Spanyol ini tak bisa dianggap remeh. Dia adalah anak didik dari Unai Emery. Carcedo sudah menjadi tangan kanan Emery sejak di Almeria tahun 2006. Semenjak itu, ia selalu ikut ke mana pun Emery pergi. Ke Sevilla, PSG, bahkan hingga Arsenal.

Itu berarti, Carcedo merupakan bagian penting dari tim Sevilla yang menjuarai Europa League selama tiga musim beruntun. Dengan begitu, Carcedo memiliki pengalaman dan ilmu sepakbola yang sangat tinggi. Tak heran apabila Pafos berhasil ia bawa ke tangga juara Liga Siprus musim 2024/25.

Karena akan menghadapi tim-tim kuat di UCL, klub yang logonya mirip logo barbershop itu baru mendatangkan bek kawakan asal Brazil, David Luiz. Pengalaman dan aura kebintangannya akan membantu Pafos menghadapi dinginnya malam Liga Champions. Pencapaian ini telah membuktikan bahwa semangat, kerja keras, dan strategi yang tepat, tim dari negara kecil pun bisa bersaing di panggung terbesar sepakbola Eropa.

Bodo/Glimt

Selanjutnya ada tim dari negaranya Erling Haaland, Bodo/Glimt. Melihat klub Norwegia ini di Liga Champions seperti melihat ikan hiu di tambak bandeng. Nggak nyambung. Karena Liga Champions bukan habitat asli mereka. Selama beberapa musim terakhir, publik lebih sering mengaitkan Glimt dengan Europa League. Wong musim lalu aja masih lawan Manchester United di sana.

Di saat image kasta kedua Eropa sudah melekat di diri Bodo/Glimt, identitas itu seketika luntur saat mereka menginjakkan kaki di UCL. Dengan konsistensi luar biasa di Eliteserien dan perjalanan play-off yang mengesankan, Bodø/Glimt berhasil menembus fase grup Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Rasanya benar-benar di luar ekspektasi, seolah ada yang loncat level dalam semalam. Klub yang biasanya dipandang “underdog Eropa” kini berdiri sejajar dengan para elite benua biru. Setelah menjadi klub Norwegia pertama yang mencapai semifinal Europa League, kini Glimt ingin menjajal tantangan yang lebih besar di UCL.

Di satu sisi, pencapaian ini jadi bukti betapa dinamisnya sepakbola modern. Bodo/Glimt adalah simbol perlawanan dari dominasi Eropa yang selama ini dipegang oleh klub dari liga-liga top. Glimt menunjukan bahwa satu tempat di UCL juga bisa direbut tim dari kompetisi kecil yang punya perencanaan jangka panjang dan identitas permainan jelas.

Kairat Almaty

Sejarah juga lahir di Kazakhstan. Suatu wilayah yang sangat jauh dari pusat peradaban Eropa. Negara yang cukup besar memang. Namun, secara letak geografis, Kazakhstan lebih dekat dengan Asia. Sebagian besar wilayahnya bahkan masuk dalam Benua Asia Tengah. Ya gimana, wong negaranya aja nempel sama China dan Uzbekistan. Hanya sebagian kecil wilayah Kazakhstan saja yang masuk Benua Eropa.

Di Liga Champions musim ini, Kazakhstan mengirimkan satu wakilnya. Mereka adalah Kairat Almaty. Klub ini memiliki basis penggemar yang solid dan identitas budaya yang kuat. Mereka mewakili kebanggaan sepakbola kota Almaty dan negara secara keseluruhan. Bahkan, saking eratnya dengan masyarakat, Kairat mendapat julukan “Tim dari Rakyat”.

Klub yang satu ini menorehkan sejarah dengan menjadi klub kedua dari Kazakhstan, setelah Astana di musim 2015/16 yang berhasil lolos ke putaran final Liga Champions. Jalan menuju elite Eropa makin dramatis karena Kairat mengalahkan Celtic, tim ikonik dari Skotlandia di babak play-off melalui skema adu penalti.

Pencapaian ini membuat Kairat menjadi anomali bagi banyak penggemar Eropa. Karena ya jarang aja gitu ada klub dari liga “pinggiran” yang bisa melaju sejauh itu. Celtic pula yang dikalahkan.

Anyway, meski baru pertama kali mentas di UCL, bukan berarti Kairat Almaty tak mempunyai reputasi di Kazakhstan. Secara nama, mungkin kalian baru dengar. Tapi, Kairat adalah klub sepakbola legendaris asal Kazakhstan yang berdiri sejak 1954. Mereka bahkan mengoleksi empat gelar Liga Kazakhstan, yang salah satunya diraih pada tahun 2024 kemarin.

Union Saint-Gilloise

Union Saint-Gilloise seperti sedang menulis bab dongeng paling indah dalam sejarah panjangnya. Klub tua asal Brussel yang pernah tenggelam di kasta bawah kini tiba-tiba berdiri di panggung termegah, Liga Champions. Berbeda dari klub lain, Union muncul di Liga Champions bukan melalui babak play-off. Mereka mengamankan satu tiket di UCL melalui gelar juara Liga Belgia musim 2024/25. 

Dari tribun kecil Stadion Joseph Marien yang penuh atmosfer magis, mimpi kolektif seluruh pendukungnya akhirnya jadi nyata. Yang awalnya cuma jadi pelengkap di liga, kini Union siap menjadi wajah Belgia di panggung Eropa. Meski tak datang dengan status favorit, Union akan menunjukan kerja keras dan semangat untuk menembus ekspektasi.

Union juga tak memiliki materi pemain yang mewah. Mereka hanya mengandalkan talenta muda yang masih setengah matang. Namun, soal menggodok potensi pemain, Union tak bisa dianggap sepele. Sama halnya dengan Brighton, Union udah kayak Gordon Ramsay kalau soal menggodok pemain. Mereka jeli dan punya indra perasa yang peka akan bakat.

Banyak pemain-pemain top yang menimba ilmu di Union. Sebut saja seperti Kaoru Mitoma, Viktor Boniface, Denis Undav, hingga saudara Alexis Mac Allister, Kevin Mac Allister. Jadi, haram hukumnya tim-tim langganan Liga Champions meremehkan tim yang satu ini. Mungkin isinya cuma pemain-pemain nggak terkenal. Tapi, soal kemampuan bisa diadu.

Slavia Praha

Klub terakhir agak beda nih. Penampilan di Liga Champions 2025/26 bukan kali pertama bagi Slavia Praha. Ini jadi kali ketiga mereka berpartisipasi. Terakhir kali mereka mentas di UCL adalah musim 2019/20. Kala itu, Praha mentok di fase grup karena masuk grup neraka bareng Barcelona, Borussia Dortmund, dan Inter Milan.

Walaupun begitu, namanya tetap saja asing bagi level sepakbola top Eropa. Slavia Praha akhirnya kembali meresapi atmosfer Liga Champions musim 2025/26 lewat sebuah kisah kebangkitan yang penuh semangat. Dengan selisih 16 poin dengan peringkat kedua, yakni Viktoria Plzen, Praha menjuarai Liga Ceko musim 2024/25 diiringi decak kagum.

Kembalinya Slavia ke Liga Champions terasa seperti bab pembuka baru dalam era mereka. Setelah era yang sepi tanpa lampu sorot Liga Champions, kini klub yang punya logo bintang kebalik itu siap tunjuk pesona lagi. 

Mungkin agak aneh ya melihat klub-klub ini mentas di Liga Champions. Namun, keberadaan mereka justru mencerminkan keberagaman. Liga Champions bukan lagi milik klub-klub besar saja. Ini adalah tempat di mana mimpi, keberanian, dan determinasi bisa mengubah siapa pun jadi lakon di cerita dongeng sepakbola.

Sumber: BBC, UEFA, Goal

Ketika Gelar Liga Inggris MU Musim 2017/18 Dirampok Manchester City

0

Musim 2025/26 baru dimulai, tapi perasaan fans Manchester United sudah campur aduk. Fans seperti sedang dipermainkan. Kalau bahasa gaulnya sih, fans United tuh sekarang lagi ngerasain mixed feeling. Antara optimisme yang sudah terbangun dan kenyataan yang teramat pahit untuk ditelan.

Fans yang sudah rindu gelar juara Premier League awalnya yakin dengan persiapan matang, United akan kembali ke era kejayaan. Apalagi sejak persiapan United menunjukan tanda-tanda positif. Mendatangkan pemain-pemain haus gol, hingga menjuarai turnamen pramusim. Sayangnya, di awal musim MU justru tampil loyo.

Di balik kerinduan ini, ada kepercayaan yang muncul bahwa fans seharusnya tak serindu ini jika gelar Premier League United tak dirampas pada musim 2017/18. Eits, tunggu dulu. Apa nih maksudnya? Konon, yang seharusnya juara Premier League musim itu adalah United, bukan Manchester City. Namun, karena ada campur tangan UEFA, MU batal meraih gelar. Jika benar, bagaimana ceritanya?

Transisi Buruk

Setelah terakhir kali menjuarai Premier League musim 2012/13, Manchester United mengalami transisi besar-besaran. Itu jadi tahun terakhir Sir Alex Ferguson menangani Setan Merah. Kepergiannya bahkan dibarengi dengan resign-nya David Gill dari posisinya sebagai CEO klub. Manajemen dan petinggi klub diminta bekerja lebih keras untuk mencari solusi.

Saat itu, tugas utamanya adalah mencari pelatih baru. Pelatih yang cocok dengan skuad warisan Sir Alex, cocok dengan DNA klub, dan cocok dengan visi misi klub. Beberapa nama-nama besar pun sempat dikaitkan dengan United kala itu. Dari Carlo Ancelotti, Jurgen Klopp, Jose Mourinho hingga Pep Guardiola, berjejer untuk dikaji profilnya. 

Saat itu, manajemen klub merasa bahwa Jose Mourinho adalah kandidat terbaik. Dia memiliki karakter yang kuat dan tak bermasalah dengan adaptasi. Sebab, dirinya sudah pernah menangani Chelsea pada tahun 2004 hingga 2007. Kiprah Mourinho di Chelsea pun sangat memukau. Ia meraih dua gelar Premier League secara beruntun. Sang manajer pun setuju. Mourinho merasa terhormat apabila bisa menjadi suksesor Fergie. 

Namun, Sir Alex pergi bukan tanpa permintaan terakhir. Sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di United, Fergie menyodorkan satu nama yang out of knowhere. Bukan Pep, bukan Klopp, tapi David Moyes. Alasannya, karena Moyes memiliki DNA yang sama dengannya, yakni sama-sama berasal dari Skotlandia.

Moyes punya reputasi pekerja keras, disiplin, dan berkomitmen jangka panjang. Fergie merasa Moyes cocok dengan filosofi MU yang sudah terbangun. Selain itu, berbeda dengan Mourinho yang penuh drama dan instan, Moyes dianggap lebih stabil dan konsisten. Ya, pelatih asal Portugal itu baru saja keluar dari Real Madrid dengan reputasi buruk. Penuh konflik dan buruk dalam bertutur kata di depan media. Itu bukan MU banget, kata Fergie.

Masa Kelam

Manajemen dan para petinggi klub pun manut sama sang legenda. David Moyes ditunjuk sebagai pelatih berikutnya pada tahun 2013. Muncul respons beragam soal keputusan ini. Kebanyakan bernada ragu. Dan keraguan itu terbukti di akhir musim. Berstatus sebagai juara bertahan, United tampil begitu buruk di musim 2013/14.

Moyes gagal meneruskan aura Ferguson. Permainan nggak jelas, taktik itu-itu saja, dan lini depan terlihat sangat tumpul. Strategi Moyes yang defensif membuat MU kehilangan identitas “serangan cepat” ala Ferguson. Pemain kaliber Robin Van Persie saja sampai tak bisa tampil maksimal. 

Kran golnya menurun drastis. Ia hanya mencetak 12 gol di Premier League, padahal musim 2012/13, ia mampu mengemas 26 gol. Bahkan rumornya saat itu ruang ganti juga kurang respek pada Moyes karena ia belum pernah menang trofi besar. Rangkaian hasil buruk membuat pemain-pemain ikonik macam Rio Ferdinand dan Patrice Evra mulai kehilangan motivasi bermain.

Baru pada tahun 2014, nama pelatih besar pun datang dalam bentuk Louis Van Gaal. Trofi Piala FA diraih musim 2015/16. Tapi performa tim gitu-gitu aja. Bahkan United cuma main di Europa League musim berikutnya.

Mourinho Akhirnya Datang

LVG tak dipertahankan, United mencari pelatih baru lagi. Nama yang sempat tertunda tiga tahun lalu, yakni Jose Mourinho pun benar-benar datang tahun 2016. Mourinho dipilih setelah sekali lagi membuktikan diri di periode keduanya bersama Chelsea. Pria nyentrik itu membawa The Blues menjuarai Premier League musim 2014/15. 

Setelah memutuskan berpisah pada akhir 2015 dan menganggur kurang lebih setengah tahun, Mourinho menerima pinangan United. Kedatangan Mourinho ke Old Trafford disambut meriah. Publik Manchester melihatnya sebagai tokoh besar yang mampu mengembalikan kejayaan setelah klub terombang-ambing sejak kepergian Sir Alex.

Namun, begitu ia resmi duduk di kursi manajer, bayangan kebesaran Ferguson terasa seperti hantu yang masih bergentayangan. Mourinho mewarisi klub yang secara nama masih raksasa, tetapi di dalamnya tidak lagi sekuat dulu. Struktur manajemen berantakan. Ed Woodward dan jajaran direksi lebih sibuk mengurusi kontrak sponsor dan pemasukan komersial, sementara arah proyek sepakbola belum jelas.

Treble Mini

Tapi bukan Jose Mourinho namanya kalau tak melahap setiap tantangan. Mourinho berusaha menunjukan bahwa keputusan Manchester United untuk mempekerjakannya adalah pilihan yang tepat. Musim pertamanya terlihat menjanjikan. 

Saat datang, Mourinho sudah tahu ekspektasi yang ditaruh di pundaknya sangat besar. United haus akan kejayaan setelah masa-masa kelam bersama David Moyes dan permainan membosankan ala Louis Van Gaal. Mourinho akhirnya memilih pendekatan pragmatis. Bukan sepakbola paling indah, tapi sepakbola yang efektif.

Dengan bantuan Zlatan Ibrahimovic, Paul Pogba, hingga Henrikh Mkhitaryan, Mourinho membangun kerangka tim yang lebih kompetitif dibanding musim sebelumnya. Di akhir musim, Jose Mourinho pun mempersembahkan Community Shield, Piala Liga, dan Europa League musim 2016/17.

Mourinho menyebutnya “treble kecil”, seakan ingin menegaskan bahwa dirinya masih bisa memberi gengsi pada klub yang sedang goyah. Tetapi di balik keberhasilan itu, masalah mendasar tidak teratasi. Perekrutan pemain tetap acak, visi jangka panjang tak pernah jelas, dan ketegangan dengan beberapa pemain senior membuat ruang ganti panas.

Kembalikan MU ke UCL

Itu dibuktikan dengan ketidakmampuan Mourinho memperbaiki peringkat tim di Premier League. Meski meraih tiga trofi, United hanya finis di urutan enam. Setelah meyakinkan publik di musim pertama, Mourinho mulai fokus memperbaiki performa tim di liga. Trofi lain agaknya diabaikan karena ini.

Fokusnya di musim 2017/18 adalah menjadi yang terbaik di Premier League dan mengembalikan United ke Liga Champions. Di musim keduanya, Mourinho memperbaiki kualitas pertahanan dan lini depan. Mourinho juga mengembalikan identitas United sebagai tim yang memiliki serangan balik mematikan. 

Mourinho mengandalkan kecepatan di lini depan dengan adanya Marcus Rashford dan Jesse Lingard. Dengan konsistensi tim, pertahanan yang kokoh, serangan balik efektif, serta kemampuan menghadirkan performa maksimal di laga krusial membuat United mengumpulkan 81 poin.

FFP yang Tak Ditegakkan

Nah, di musim 2017/18 itu seharusnya kinerja Jose Mourinho menghasilkan trofi Premier League pertama MU usai ditinggal Sir Alex. Konon, di musim itu banyak yang berpendapat bahwa Manchester United seharusnya bisa meraih gelar juara Premier League jika Manchester City dinyatakan bersalah karena telah melanggar aturan Financial Fair Play.

Dalam dua tahun, yakni 2016 hingga 2018, City benar-benar edan dalam belanja pemain. Menurut situs Transfermarkt, hanya dalam kurun waktu tersebut, City mengeluarkan uang hampir 600 juta euro hanya untuk belanja pemain. Pembelian mahal kala itu adalah Aymeric Laporte, Benjamin Mendy, John Stones, hingga Bernardo Silva.

Dari situ, City mencatatkan kerugian sekitar 350 juta euro. Itu sangat melebihi ambang batas FFP. Mourinho menyatakan bahwa United secara hukum menjadi juara Premier League 2017/18. Sebab, City seharusnya mendapat hukuman pengurangan poin yang cukup masif. 

Sayangnya, UEFA justru melunak pada City. Klub yang dilatih Pep Guardiola itu bahkan lolos dari sanksi larangan aktivitas di bursa transfer dan hanya dihukum untuk membayar denda sebesar 315 ribu pound. Mourinho pun merasa UEFA hanya tegas pada klub-klub kecil. Sementara klub-klub berduit tak mendapat hukuman yang setimpal. Padahal pelanggaran yang dilakukan sangat fatal.

Apabila saat itu UEFA sudah tegas pada peraturannya sendiri, maka gelar Manchester City di musim itu harus dicabut. Setelah beberapa tahun, kini sengketa gelar itu sedang diperjuangkan. Premier League dan FA sedang menggodok 115 tuduhan pelanggaran aturan FFP milik City. Jika terbukti bersalah, jumlah trofi Premier League United akan bertambah satu. 

Sumber: Goal, BBC, The Guardian, Daily Mail, Sky Sport

Ada Sabotase?! Dibalik Laga Timnas Indonesia vs Kuwait yang Batal

0

PSSI boleh berencana, tapi Kuwait yang menentukan. Rencana besar menghadirkan Timnas Kuwait ke Surabaya pada FIFA Matchday September nanti harus pupus di tengah jalan. Tanpa arah dan tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba batal aja gitu. Kabar ini diungkapkan langsung oleh Ketua PSSI, Erick Thohir.

Kabar ini jelas menghadirkan rasa kecewa, bukan hanya bagi pemain yang sudah menanti ujian penting, tetapi juga bagi ribuan suporter yang berharap menyaksikan atmosfer laga internasional di Gelora Bung Tomo. Namun, di balik kekecewaan itu, ada kecurigaan yang muncul di benak Erick. Mantan Presiden Inter Milan itu merasa ada yang tak beres di balik keputusan mendadak ini.

Erick curiga ada sabotase yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab. Sebab, tak seperti biasanya hal ini terjadi. Indonesia sedang naik daun. Harusnya banyak tim yang mengantre untuk uji ketangkasan. Tapi, Kuwait malah PHP. Apakah dugaan Erick soal sabotase itu benar adanya?

Sepihak

Yang mungkin kalian belum tahu, Federasi Sepakbola Kuwait membatalkan agenda ini secara sepihak. Sebab, tak ada pemberitahuan atau peringatan sebelumnya. Dan inilah yang membuat situasi menjadi kurang elegan. Tanpa pemberitahuan, tiba-tiba surat pembatalan sudah di meja Erick Thohir, di saat persiapan hampir 80%.

Padahal laga melawan Kuwait telah diumumkan secara publik oleh PSSI sejak jauh hari. Harga tiketnya pun sudah muncul. Yang paling murah ada Rp75 ribu dan yang termahal mencapai Rp250 ribu. Laga ini menjadi bagian dari agenda FIFA Matchday di Surabaya bersama Lebanon. Dua laga tersebut diharapkan jadi persiapan Indonesia menjelang pertarungan sebenarnya di Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Tindakan sepihak ini tentu memunculkan rasa kecewa, karena menunjukkan kurangnya koordinasi profesional dari pihak Kuwait. Dampaknya bukan hanya pada timnas Indonesia yang kehilangan satu lawan berkualitas untuk menguji kekuatan, tetapi juga pada publik sepak bola nasional yang sudah menanti-nanti dan mungkin sudah membeli tiketnya. 

Erick Thohir dan kolega pun harus memutar otak. Sebab, Timnas Indonesia butuh dua lawan dari Timur Tengah karena bakal menantang Timnas Arab Saudi dan Irak di Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Menghadapi lawan sesama negara Timur Tengah dapat membantu Indonesia untuk menakar lawan di ronde 4.

Dugaan Sabotase

Keputusan yang mendadak membuat Erick Thohir sedikit curiga. Mengutip dari Bola.com, ini adalah rencana yang sudah tersusun rapi. Agak aneh jika Kuwait tiba-tiba mengundurkan diri. Erick Thohir tidak menutup mata terhadap kejanggalan yang muncul dari pembatalan mendadak Kuwait. 

Sebab, tak seperti biasanya. Indonesia cukup kesulitan untuk mencari lawan tanding di edisi September kali ini. Erick curiga ada unsur sabotase atau intervensi tertentu yang membuat Kuwait tiba-tiba menarik diri dari agenda uji coba ini.

Kecurigaan ini beralasan karena Indonesia bukan satu-satunya yang jadi korban. Di periode yang sama, Kuwait juga membatalkan laga uji coba melawan Uni Emirat Arab. Namun, yang membuat situasi ganjil adalah timnas Indonesia yang justru paling dirugikan, mengingat laga di Surabaya sudah disiapkan matang-matang. 

Bagaimana tidak? laga ini akan dimainkan dalam jangka waktu kurang dari sepuluh hari lagi. Erick menyebut bahwa federasi harus waspada terhadap kemungkinan ada pihak luar yang sengaja mencoba mengganggu persiapan Skuad Garuda. Meski begitu, belum ada bukti yang cukup. Ini masih bersifat dugaan sementara. Erick pun menegaskan PSSI tidak akan larut dalam drama ini. Fokus utama tetap menjaga ritme persiapan tim.

Kemungkinan-Kemungkinan

Tapi, apa yang sebenarnya terjadi pada Kuwait? Karena belum ada konfirmasi atau penjelasan lebih lanjut dari pihak federasi, muncul beberapa spekulasi yang menyebabkan hal ini terjadi. Masalah internal kabarnya masih jadi salah satu potensi masalah utama di tubuh federasi sepakbola Kuwait.

Dilansir Kuwait Times, pasca laga kontroversial menghadapi Irak pada tahun lalu, kondisi federasi tidak stabil. Laga itu dimainkan di tengah suhu ekstrim yang mencapai lebih dari 40 derajat celcius. Di luar itu, terdapat banyak suporter kelaparan, kehausan hingga pingsan lantaran tidak bisa masuk stadion meski sudah membeli tiket. Sementara lainnya masuk tanpa tiket.

Kejadian ini memicu protes publik. Federasi Sepakbola Kuwait kemudian menanggapi dengan menangguhkan sekretaris jenderal dan kepala hubungan masyarakat, lalu pengurus federasi mundur secara massal. Insiden ini menciptakan periode transisi struktural yang cukup kacau. Dan perkiraannya, masih kacau hingga sekarang.

Lalu, ada dugaan persiapan tim yang kurang. Sebab, bukan hanya laga melawan Indonesia saja yang dibatalkan. Kuwait sedang berada dalam masa transisi pelatih dan perombakan skuad. Mereka baru saja menunjuk Helio Sousa sebagai pelatih anyar pada 31 Juli kemarin. Maka dari itu mereka diduga tidak cukup siap untuk tampil di laga uji coba internasional.

Kemungkinan lain adalah soal pertimbangan logistik dan finansial. Bagi Kuwait, bertandang ke Indonesia bukanlah agenda murah. Perjalanan melintasi benua, biaya akomodasi tim nasional, transportasi, hingga keamanan merupakan pos pengeluaran yang besar. Mengingat federasi mereka sedang berada dalam situasi transisi pasca-pengunduran diri massal, alokasi anggaran bisa saja terhambat atau bahkan dibekukan sementara.

Sikap PSSI

Namun, itu masih bersifat asumsi belaka. Lebih baik, kita menunggu konfirmasi lebih lanjut dari Kuwait. Itu juga kalau mereka nggak ghosting ya. Jika sudah kadung begini, gimana respons PSSI? Erick Thohir selaku ketua meminta seluruh elemen yang terlibat tetap tenang dan fokus pada persiapan pertandingan.

Meski demikian, Erick menegaskan bahwa PSSI tidak akan tinggal diam menghadapi pembatalan sepihak yang dilakukan Kuwait. Sebagai presiden federasi, ia menilai sikap Kuwait merupakan bentuk pelanggaran etika dalam hubungan antar federasi. Karena itu, Erick menyatakan akan segera meminta klarifikasi langsung dari federasi sepakbola Kuwait.

Tak berhenti di situ, PSSI juga menimbang opsi untuk melaporkan kasus ini ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Tujuannya bukan semata mencari hukuman bagi Kuwait atau cari perhatian sama yang berkuasa di Asia. Tetapi agar ada kejelasan prosedur dan kepastian hukum dalam menjaga integritas kalender FIFA Matchday.

Cari Lawan Baru?

PSSI juga tak hanya mengeluh dan meminta kejelasan ke AFC, tapi juga akan segera mencari solusi cepat dari persoalan ini. Salah satu yang sedang dicoba adalah mencari lawan baru untuk mengisi ruang yang ditinggalkan Kuwait. Kabarnya, dengan pertimbangan waktu yang mepet, negara Asia Tenggara bakal jadi target.

Namun, komposisi skuad dan kualitas tim sangat dipertimbangkan. Menurut beberapa sumber yang ada, Vietnam jadi negara yang berpotensi menggantikan Kuwait. Sejauh ini, Indonesia sudah beberapa kali berhadapan dengan Vietnam dalam dua tahun terakhir. Dari laga-laga tersebut, PSSI merasa Vietnam bisa jadi lawan yang merepotkan.

Selain Vietnam, negara ASEAN yang layak buat ngelawan Indonesia ya paling Thailand. Malaysia? Mereka sombong. Udah diajak malah nolak. Di sisi lain, cukup sulit jika ingin tetap menghadapi tim Timur Tengah. Mereka sudah mengatur agenda tanding sendiri. Oman misalnya. Mereka akan ikut serta di turnamen CAFA yang dimulai sejak akhir Agustus hingga awal September. Yordania pun demikian. 

Sudah lolos putaran final Piala Dunia 2026, mereka akan menjajal kekuatan Rusia dan Republik Dominika di jeda internasional Bulan September. Kalau ngotot melawan tim Timur Tengah sih paling dapetnya Palestina. Mereka tanggal 8 September main sama Malaysia. Kayaknya bisa ya tanggal lima mampir dulu ke Surabaya. Masa sama saudara sendiri nggak mau bantu?

Sumber: Bola, Bolasport, Detik, Kuwait Times

Alexander Zwiers: Pencetak Sejarah Piala Dunia, Dirtek Baru Timnas Indonesia

0

Setelah sekian purnama. Setelah banyaknya pemain diaspora yang dipanggil pulang. Dan setelah para abang-abangan sepakbola Belanda diminta terjun langsung mengurusi sepakbola Indonesia. Akhirnya, sosok yang benar-benar tepat untuk mengawal arah pembangunan sepakbola Indonesia pun tiba. Dia adalah Alexander Zwiers. Ia ditunjuk sebagai direktur teknis yang baru, menggantikan Indra Sjafri yang teramat versatile itu.

Sudah pasti, kabar ini disambut dengan antusias yang amat besar dari para pecinta sepakbola tanah air. Karena hadirnya Alexander Zwiers bukan hanya sekadar pergantian jabatan, melainkan sebuah harapan baru. Zwiers datang membawa optimisme dan ilmu sepakbola yang tak terbantah. Ia akan membangun pondasi sepakbola Indonesia agar lebih kokoh, terarah, dan berkesinambungan.

Namun, di tengah hingar bingar kegembiraan, ada sedikit keraguan. Dari nama-nama yang dipanggil Erick Thohir, Zwiers jadi yang paling asing. Ia bahkan tak punya riwayat sebagai pesepakbola profesional. Beda banget sama Simon Tahamata, Patrick Kluivert, atau mungkin Jordi Cruyff yang namanya harum di panggung sepakbola Eropa. Lantas, bisa apa Alexander Zwiers di sepakbola Indonesia?  

Siapa Alexander Zwiers?

Sebelum mengorek lebih dalam tentang prestasi dan sepak terjang Alexander Zwiers, mari kita berkenalan lebih dulu. Siapa bapak-bapak yang satu ini? Sama halnya dengan nama-nama di manajemen tim nasional Indonesia, Zwiers merupakan orang Belanda tulen. Ketimbang sebagai seniman lapangan hijau, Zwiers lebih dikenal sebagai akademisi dan praktisi sepakbola di bidang kepelatihan, pendidikan pelatih, serta pengembangan pemain.

Dengan kata lain, pria bernama lengkap Alexander Thijs Jetse Zwiers ini adalah tipe figur sepakbola yang karirnya berkembang dari luar lapangan dengan hasil kerja yang bisa dilihat di lapangan. Bukan sebaliknya. Ada fakta menarik tentang direktur teknis Timnas Indonesia ini. Meski tak memiliki darah Indonesia, Zwiers punya kaitan erat dengan Indonesia.

Pria berzodiak Gemini ini menikahi wanita asli Indonesia. Mereka telah menikah selama kurang lebih 25 tahun. Menariknya lagi, Zwiers ternyata pernah tinggal di Indonesia, tepatnya di Karawaci, Tangerang. Setidaknya, Zwiers pernah menetap di sana selama empat tahun. Bahkan, istri dan anaknya sudah berada di Indonesia sejak pertengahan tahun. Hal ini membuatnya memiliki kedekatan dengan Indonesia. 

Sepak Terjang Di Dunia Sepakbola

Sudah cukup dengan kehidupan pribadi Alexander Zwiers, kini kita akan membahas tentang perjalanan karir dan sepak terjangnya di dunia sepakbola. Tidak berangkat dari lapangan hijau, Zwiers pertama kali berkecimpung di dunia sepakbola melalui bantuan SC Cambuur. Ia ditunjuk sebagai pelatih akademi di Cambuur pada tahun 1998.

Selama kurang lebih dua tahun, Zwiers juga merangkap sebagai asisten pelatih di Cambuur U-19. Lalu berlanjut ke Crewe United tahun 2001, pindah ke Groningen U-17 dan U-19 sebagai asisten pelatih, dan langsung hijrah ke Asia bersama ASPIRE Academy di Qatar. Zwiers kala itu menjabat sebagai asisten pelatih di sana.

ASPIRE Academy sendiri merupakan kiblat pengembangan usia muda di sepakbola Asia. Ia bukan sekadar akademi, tetapi katalisator dari strategi ambisius yang menempatkan Qatar sebagai kekuatan olahraga di Asia. Akademi ini memiliki fasilitas kelas dunia, termasuk Aspire Dome yang menjadi arena olahraga dalam ruangan terbesar di dunia, laboratorium sains olahraga modern, serta lapangan sepak bola yang memenuhi standar FIFA.

Bahkan, kalau kalian ngeh, hampir seluruh pemain yang membawa Qatar juara Piala Asia 2019 adalah lulusan ASPIRE. Jadi, secara tidak langsung, ada sedikit sentuhan Zwiers di kesuksesan Qatar dalam mencetak pemain-pemain top di era sekarang. ASPIRE jadi pembuka jalan bagi Zwiers untuk mengenal lebih dalam sepakbola Asia.

Setelah dari ASPIRE, pria asal Belanda itu berkelana ke beberapa negara Timur Tengah. Selain Qatar, Zwiers pernah bekerja di Al-Ahli di Arab Saudi, sebagai pelatih tim junior. Ia juga pernah menjadi Direktur Akademi di Al-Wahda dan Al-Nasr SC, tim asal Uni Emirates Arab. Bukan cuma itu, Zwiers juga sempat jadi Direktur Akademi di klub Kazakhstan, Kairat Almaty.

Kerja Bareng Johan Cruyff

Di tengah-tengah petualangannya di Asia, Alexander Zwiers pernah hijrah ke Meksiko pada Mei tahun 2012. Kala itu, ia menjadi Direktur Akademi di Chivas atau yang kini dikenal sebagai Deportivo Guadalajara. Klub ini sekarang dibela oleh legenda Manchester United, Javier Hernandez, alias Chicharito. 

Nama Zwiers muncul setelah mendapat rekomendasi dari legenda hidup Belanda, Johan Cruyff. Saat itu Cruyff menjabat sebagai konsultan di klub Meksiko tersebut. Zwiers bekerja langsung di bawah arahan sang legenda. Meski cuma enam bulan, ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi Zwiers.

Kontribusi Luar Biasa di Yordania

Bermodalkan Ilmu yang tinggi, pengalaman, dan kerja keras, Alexander Zwiers akhirnya kembali ke Asia untuk menjadi Direktur Teknis Timnas Yordania. Ini jadi kali pertama Zwiers menjabat di tim nasional. Namun, di sinilah Zwiers mencapai puncak karir. Kontribusinya terpampang nyata bagi perkembangan sepakbola Yordania.

Menjabat sejak 2019, sepakbola Yordania mengalami lompatan kualitas yang signifikan. Kinerjanya mulai diapresiasi saat membantu Yordania menembus final Piala Asia 2023 di Qatar. Itu jadi pencapaian terbaik Yordania selama berkiprah di turnamen tersebut. Sayangnya, mereka kalah dari Qatar di partai puncak. Tidak berhenti di situ, Zwiers juga menjadi arsitek di balik keberhasilan Yordania memastikan tiket ke Piala Dunia 2026.

Lolos ke Piala Dunia 2026 juga jadi kali pertama bagi persepakbolaan Yordania. Zwiers jadi bagian penting dalam membangun pondasi tim untuk mencatatkan sejarah ini. Dengan arahannya, perkembangan sepakbola Yordania lebih terarah dan punya tujuan yang jelas. Di luar itu, kesuksesan kinerja Zwiers di Yordania juga ditandai dengan lonjakan ranking FIFA Yordania dari posisi 97 hingga mendekati 64 besar dunia

Bagaimana Ia Melakukannya?

Tapi bagaimana Zwiers melakukannya? Bagaimana seorang direktur teknis berperan besar dalam kemajuan sepakbola sebuah negara? Sebagai seorang direktur teknis, Alexander Zwiers menjadi otak dan pengendali arah sepakbola Yordania. Dari hal fundamental hingga output di lapangan, Zwiers punya andil.

Dilansir CNN Indonesia, Zwiers punya banyak lisensi ahli. Ia memegang lisensi UEFA A, AFC Pro, AFC Pro Instructor, dan Technical Leadership Diploma (TD Diploma) FIFA. Menurut hasil kerjanya di Yordania, program-program yang terstruktur dari U-10 sampai U-23 serta football for schools menjadi unggulan Zweirs.

Program ini bukan sekadar mengajarkan teknik dasar bermain bola, melainkan dirancang untuk menjangkau puluhan ribu anak usia sekolah di seluruh penjuru Yordania melalui kerja sama erat antara federasi sepak bola, Kementerian Pendidikan, serta FIFA. Sederhananya, Zwiers ingin memperkenalkan sepakbola sejak dini melalui sekolah.

Zwiers melihat bahwa fondasi pembinaan tidak bisa hanya mengandalkan akademi elite, tetapi harus ditanamkan sejak dini di sekolah sebagai lingkungan paling dekat dengan anak-anak. Karena itu, F4S menyediakan kurikulum sepak bola sederhana, inklusif, dan menyenangkan, sehingga bisa diikuti oleh anak-anak dengan berbagai latar belakang, baik laki-laki maupun perempuan.

Selain kurikulum sepakbola di sekolah, Zwiers juga meminta Federasi Sepakbola Yordania untuk bergabung dengan AFC Pro Convention. Tujuannya, untuk menyusun kurikulum lisensi kepelatihan yang lebih spesifik serta sistem pengembangan personal untuk pelatih. Upaya yang membantu meningkatkan kualitas pelatih di seluruh tingkatan sepakbola Yordania. 

Daya Tawar Zwiers Untuk Indonesia?

Apakah proyek yang sama bisa diaplikasikan saat Alexander Zwiers menangani Timnas Indonesia? Belum tentu. Tapi tetap bisa diupayakan. Yang bisa dilakukan Zwiers dalam waktu dekat adalah perencanaan atau blueprint bagi sepakbola Indonesia.

Zwiers nantinya bisa mengatur manajemen tujuan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Jangka pendek, mungkin lebih ke memilih SDM yang tepat untuk mengisi seluruh elemen tim nasional. Dari staf hingga pemain. Agar performa tim lebih stabil. Baru masuk ke jangka menengah.

Alexander Zwiers bisa mengaplikasikan programnya untuk meningkatkan kualitas pelatih-pelatih lokal. Sebab, sejauh ini klub-klub lokal lebih percaya pada pelatih asing. Soal ini, harus bersabar. Tidak bisa instan. Hasilnya bertahap. Nah, kalau jangka panjang Zwiers akan bekerjasama dengan Simon Tahamata untuk mengembangkan pemain muda. 

Mengutip Bolasport, Simon ingin Indonesia tak usah naturalisasi pemain lagi. Sudah seharusnya, Indonesia bisa mengembangkan talenta-talenta lokal yang ada untuk membela tim nasional. Nah, dengan adanya Alexander Zwiers, ide ini bisa diwujudkan. 

Gagasannya sederhana tapi fundamental. Membangun sistem pengembangan usia muda yang terstruktur sejak usia 9 tahun. Perpaduan dua sosok hebat ini membuka peluang bagi lahirnya generasi emas yang kelak mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

___

Sumber: CNN Indonesia, Jawapos, Bola.net, FIFA Training Centre

Berita Bola Terbaru 24 Agustus 2025 – Starting Eleven News

0

HASIL PERTANDINGAN

Dalam lanjutan pertandingan Liga Spanyol, Barcelona susah payah menang 3-2 dari Levante. La Blaugrana tertinggal lebih dulu melalui dua gol Levante di babak pertama. Namun, anak asuh Hansi Flick berhasil bangkit di babak kedua. Tiga gol Barca lahir dari aksi Pedri menit 49, Ferran Torres menit 52, dan satu gol bunuh diri dari Unai Elgezabal menit 90+1. Kemenangan ini bikin Barca stay di puncak klasemen dengan torehan enam poin. 

Di pertandingan lain, ada Atletico Madrid yang justru ditahan imbang Elche dengan skor 1-1. Atletico unggul lebih dulu melalui Alexander Sorloth menit 8. Namun, berhasil disamakan oleh Rafa Mir tujuh menit kemudian. Ini jadi poin perdana bagi Los Rojiblancos di La Liga musim 2025/26. Dengan hanya meraih satu poin dalam dua pertandingan, Atletico terperosok di urutan 13 klasemen sementara.

Bergeser ke Italia, ada hasil yang mengejutkan saat AC Milan takluk dari Cremonese 1-2. Gol Cremonese dicetak oleh Federico Baschirotto dan Federico Bonazzoli. Sedangkan Milan hanya membalas sekali melalui aksi Strahinja Pavlovic. Emil Audero yang tampil sebagai kiper utama Cremonese pun bermain sangat apik. Ia mencatatkan empat penyelamatan krusial di laga ini. 

Di laga lain, ada AS Roma menang 1-0 atas Bologna. Gol semata wayang dicetak oleh Wesley menit 53. Kemenangan ini membawa Roma naik ke urutan tiga klasemen sementara Serie A di bawah Cremonese.

Sementara dari Inggris, ada Arsenal yang menang telak 5-0 atas Leeds United. Viktor Gyokeres dan Jurrien Timber sama-sama mencetak brace di pertandingan kali ini. Kemenangan ini bawa The Gunners memuncaki klasemen sementara dengan torehan 6 poin.

LAGI-LAGI, SPURS JADI OBAT PENAWAR KEGANASAN CITY

Di pertandingan lain, ada Manchester City yang lagi-lagi menuai hasil buruk saat menghadapi Tottenham Hotspur. Meski sudah berganti pelatih, Spurs tetap terlalu kuat bagi City. Anak asuh Thomas Frank bermain sangat baik. Mereka percaya diri dan tampil menyerang meski bermain di kandang lawan. Dilansir The Guardian, Spurs menang dua gol tanpa balas. Kedua gol tersebut dicetak oleh Brennan Johnson dan Joao Palhinha. Kemenangan ini bikin Spurs memenangkan tiga dari empat pertemuan terakhir dengan City.

JELANG LAWAN LIVERPOOL, SAKA DAN ODEGAARD CEDERA

Masih dari London, meski Arsenal menang telak dari Leeds, kemenangan itu harus dibayar mahal dengan sejumlah cedera. Dilansir Sky Sport, Bukayo Saka dan Martin Odegaard mengalami gangguan di pertandingan semalam. Menurut laporan yang ada, Odegaard mengalami cedera bahu di babak pertama. Sementara Saka kabarnya mengalami masalah otot paha. Saka akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui separah apa cederanya. Ini jelas jadi pukulan telak bagi Mikel Arteta menjelang pekan berikutnya. Yang mana, mereka harus menghadapi sang juara bertahan, Liverpool.

LAMMENS SEPAKAT GABUNG MU

Manchester United kabarnya akan kedatangan kiper baru sebelum bursa transfer musim panas ditutup. Negosiasi dengan kiper Royal Antwerp, Senne Lammens berjalan lancar. Mengutip cuitan Fabrizio Romano, sang pemain menyatakan sepakat dengan proposal yang disodorkan United. Lammens sangat bersemangat untuk bergabung klub asal Manchester itu. Kabarnya, United kini tinggal mencari kesepakatan harga dengan Antwerp. Klub Belgia itu menginginkan 25 juta euro. Sedangkan United ingin mencapai kesepakatan di angka 20 juta euro plus add ons.

ASTON VILLA DEKATI CASADO

Di sisi lain, ada Aston Villa yang kabarnya sedang memantau pemain muda Barcelona Marc Casado. Dilansir The Hard Tackle, Villa ingin memperkuat lini tengahnya. Casado jadi opsi yang menarik saat ini. Ia muda, berbakat, dan punya pengalaman di La Liga. Kabarnya, The Villans sudah mengajukan tawaran senilai 30 juta euro. Itu harga yang diminta Barcelona, ​​untuk merekrut pemain Spanyol tersebut. Bukan cuma itu, Villa kabarnya berani menaikan gaji Casado agar ia tertarik pindah ke Inggris. Kini, keputusan ada di tangan Barca.

BARCA BERNIAT JUAL 4 PEMAIN INI

Ngomong-ngomong soal Barcelona, mereka memang sedang berusaha merampingkan skuadnya. Selain Marc Casado, kabarnya ada tiga pemain lagi yang akan senang hati dilepas di musim panas ini. Dilansir ESPN, Ronald Araujo, Andreas Christensen, dan Fermin Lopez jadi nama yang masuk dalam daftar jual Barca. Dengan menjual pemain-pemain ini diharapkan Barca mempunyai saldo yang cukup untuk mendaftarkan beberapa pemain baru dan membeli pemain top di Januari mendatang.

BELUM DIRESMIKAN, CAMP NOU MALAH KEBANJIRAN

Masih dari Barcelona, ada kabar lucu yang datang dari Camp Nou yang sedang direnovasi. Dilansir The Sun, karena masih tahap renovasi, atap Camp Nou belum sepenuhnya terpasang. Situasi ini menyebabkan stadion bocor dan tergenang saat Spanyol diguyur hujan deras beberapa hari lalu. Pemasangan atap, tribun ketiga, dan area VIP masih dalam progres, sehingga struktur stadion belum terlindungi sepenuhnya dari cuaca buruk. Ketika hujan deras melanda, air mulai masuk dan menggenangi lorong serta tribun sementara stadion. Itu menyebabkan banjir lokal dan mengganggu persiapan pertandingan maupun kunjungan tur publik. 

CEBALLOS PRIORITASKAN KEMBALI KE BETIS

Football Espana melaporkan bahwa salah satu gelandang Real Madrid, Dani Ceballos sedang mempertimbangkan untuk hengkang. Menurut laporan, Ceballos mendapat banyak tawaran dari Arab Saudi. Namun, dirinya memprioritaskan untuk stay di Eropa. Beberapa klub yang tampil di Liga Champions berusaha mendekati Ceballos. Tapi, sang pemain hanya mau pindah ke Real Betis, klub masa kecilnya. Sayangnya, Betis saat ini lebih fokus untuk mencari cara bagaimana mendatangkan kembali Antony. 

DIREKTUR ROMA KONFIRMASI KEPERGIAN PELLEGRINI

Spanyol sudah, kini kita bergeser ke Italia. Direktur Olahraga AS Roma, Frederic Massara telah mengkonfirmasi kepergian sang kapten, Lorenzo Pellegrini. Mengutip cuitan Fabrizio Romano, Massara mengatakan bahwa Lorenzo akan segera pergi dari Roma. “Kami tidak akan memperpanjang kontraknya dan kami mencari solusi agar tidak kehilangan dia sebagai agen bebas,” kata Massara. Dengan begini, Pellegrini akan hengkang musim panas ini atau pada Januari mendatang. 

VLAHOVIC DIINCAR NEWCASTLE

Dusan Vlahovic yang sudah tak mendapat tempat di Juventus kabarnya sedang mencari klub baru. Kini, Vlahovic kabarnya masuk radar Newcastle United yang juga mulai frustrasi dengan masa pencarian striker baru. Menurut Tribalfootball, Newcastle yang kesulitan mencari striker baru mulai memalingkan pandangannya kepada striker buangan Juventus itu. Belum ada langkah konkret yang diambil Newcastle. Namun, klub kabarnya sangat mempertimbangkan sosok Vlahovic sebagai pengganti Isak musim ini.

TAK MAINKAN IDZES, SASSUOLO KALAH

Masih dari Italia, ada Jay Idzes yang tak kunjung dimainkan oleh Sassuolo. Dilansir CNN Indonesia, saat Sassuolo menghadapi Napoli, Idzes kembali tak masuk starting line up. Hingga laga berakhir, Idzes hanya duduk manis di bangku cadangan. Fabio Grosso sebetulnya melakukan lima pergantian pemain di laga ini. Namun, tak satu pun digunakan untuk memasukkan Bang Jay ke lapangan. Tanpa Idzes, Sassuolo pun bertekuk lutut di hadapan sang juara bertahan. Kekalahan dengan skor 2-0 pun tak terelakkan. 

DI AL-NASSR, RONALDO GAGAL RAIH TROFI LAGI

Melipir ke Asia, ada Cristiano Ronaldo yang melanjutkan tren buruknya di Al-Nassr. Bang Do menghadapi Al-Ahli di ajang final Saudi Super Cup 2025. Sayangnya, Bang Do kalah di momen adu penalti dengan skor akhir 3-5. Dilansir Bein Sport, hasil ini membuat Al Nassr gagal juara lagi. Untuk dua musim beruntun Ronaldo dkk kalah di final Saudi Super Cup, usai tahun lalu juga dikalahkan Al Hilal. Kalah dan gagal juara kini sudah jadi suatu hal yang akrab dengan sang mega bintang.

HAYE MERAPAT KE PERSIB?

Sedangkan dari Indonesia, ada rumor terbaru tentang masa depan Thom Haye. Dilansir Bolasport, Haye yang sampai saat ini belum menemukan klub baru dikaitkan dengan kepindahan ke Persib Bandung. Haye gencar dibicarakan akan merapat ke Maung Bandung karena mereka juga bermain di ACL League Two 2025/26. Jika transfer ini terjadi, tentunya akan menarik. Sebab, sebelumnya Haye erat dikaitkan dengan Persija Jakarta, rival abadi Maung Bandung. 

WEST HAM SUDAH JALANI KOMUNIKASI DENGAN AGEN STERLING

West Ham United dilaporkan menaruh harapan untuk mendatangkan Raheem Sterling sebelum jendela transfer ditutup. Melansir dari Caughtoffside, perwakilan The Hammers disebut telah menjalin komunikasi dengan agen Sterling. Dalam pertemuan tersebut, agen Sterling menyebut kalau sang klien masih memprioritaskan menetap di Inggris, terutama London. Oleh karena itu, Sterling disinyalir terbuka melanjutkan pembicaraan. Chelsea kini berniat melepas Sterling baik secara permanen maupun pinjaman. 

SORLOTH JUGA MASUK DALAM OPSI NEWCASTLE

Tak hanya menjadi target Tottenham Hotspur, Alexander Sorloth juga masuk dalam opsi yang potensial bagi Newcastle United. Menurut Football Insider, Eddie Howe mulai menerima masukan dari staf kepelatihannya untuk coba memantau Sorloth. Kendati bermain cukup tajam bersama Atletico musim lalu, Sorloth dibayangi masa depan yang abu-abu di Spanyol. Ada desas-desus yang menyebut Diego Simeone tak lagi mengandalkannya. Karena itulah, Newcastle mulai cek ombak ketersediaan Sorloth. 

AKE BISA IKUTI GREALISH KE EVERTON

Sebagai bagian dari upaya perampingan skuad Manchester City, Nathan Ake diisukan menjadi pemain selanjutnya yang akan dikorbankan. Mengutip dari Football Insider, Pep Guardiola diprediksi memasukkan Ake sebagai pemain yang akan disingkirkan berikutnya. Ake dirumorkan akan mengikuti Jack Grealish yang pindah ke Everton. Sejauh ini, belum ada tawaran resmi dari Everton alias baru sebatas ketertarikan saja. Namun, City mungkin akan membuka opsi peminjaman semusim pada Ake.

SPURS BERANI BAYAR MAHAL UNTUK PAZ

Tottenham Hotspur mulai menjajaki peluang ambisius untuk menebus Nico Paz dari Como. Melaporkan dari TeamTalk, Spurs berani menguras kantongnya cukup dalam untuk mendatangkan Paz. The Lilywhites dilaporkan menyiapkan anggaran besar senilai 80 juta euro demi bisa merayu pemain Spanyol berdarah Argentina itu. Namun ketertarikan Spurs itu mendapat halangan dari Manchester City yang dirumorkan juga berniat berinvestasi jangka panjang pada Paz. 

BARCA BUKA JALAN FORT KE INGGRIS

Pindah ke Spanyol. Barcelona mulai mempercepat proses kepindahan sementara Hector Fort ke Premier League. Mengabarkan dari Fichajes, Los Cules sudah memberikan restu kepada Fort untuk pindah ke West Ham United. Kesepakatan ini sebatas peminjaman semusim saja tanpa adanya opsi wajib beli di akhir. Walau juga diminati oleh Como dan Mallorca, West Ham jadi pemenangnya karena merupakan pilihan langsung dari Fort. Peminjaman ini diambil demi memberi Fort ajang berkembang di liga yang kompetitif. 

MADRID PASANG HARGA UNTUK ASENCIO

Meskipun sang pemain menyatakan ingin bertahan di Santiago Bernabeu, Real Madrid sudah menetapkan harga jual yang tepat untuk Raul Asencio. Melansir dari Fichajes, Los Merengues memasang harga untuk Asencio sebesar 35 juta euro. Tak butuh waktu lama setelah menentukan harga Asencio, mulai banyak bermunculan pendekatan yang datang dari klub Premier League dan Serie A. Asencio sendiri belum berniat meninggalkan Madrid dan ingin fokus untuk membuktikan kemampuannya kepada Xabi Alonso. 

AL-AHLI MASIH TERUS KEJAR LOCATELLI

Spanyol sudah, waktunya ke Italia. Setelah tawaran pertamanya untuk Manuel Locatelli ditolak Juventus, Al-Ahli tak patah arang untuk tetap mengejarnya. Mengutip dari Foot Italia, terbaru klub asal Saudi itu meningkatkan tawaran mereka untuk Locatelli. Tawaran kedua Al-Ahli dilaporkan sebesar 35 juta euro. Nilai tersebut bertambah dari tawaran pertama yang ditolak senilai 25 juta euro. Menanggapi Locatelli yang terus diganggu Al-Ahli,  Igor Tudor tetap tegas bahwa kapten timnya itu tak akan dijual musim panas ini. 

DEMIRAL JADI IDAMAN ALLEGRI

Guna semakin mempertebal tembok pertahanan AC Milan, Massimiliano Allegri meminta klub bergerak mengajukan proposal untuk Merih Demiral. Menurut Calciomercato, Allegri meyakini Demiral mampu melengkapi kekuatan pertahanannya untuk merebut posisi klasemen yang lebih baik. Allegri terpikat dengan bek asal Turki itu karena pengalamannya berlaga di Serie A bersama Juventus, Atalanta, dan Sassuolo. Milan bisa memanfaatkan kondisi kontrak Demiral yang hampir habis bersama Al-Ahli. 

ICARDI CARI RIBUT SAMA FANS GALATASARAY

Menyeberang ke Turki. Mauro Icardi kembali menjadi sorotan bukan karena kehebatannya di lapangan, melainkan karena skandal dengan fans. Melaporkan dari Bein Sports, sebuah video viral menampilkan penyerang Galatasaray itu melakukan tandukan cukup keras terhadap seorang fans dalam sebuah acara resmi klub di Istanbul. Icardi tampak melakukannya dengan sengaja. Galatasaray masih belum mengeluarkan pernyataan resmi, dan belum diketahui apakah akan ada sanksi atau denda kepada Icardi. 

STADION BIS TERMASUK CALON KANDANG TIMNAS 

Kita kembali ke tanah air. Selain Jakarta International Stadium, PSSI juga memasukkan Banten International Stadium sebagai calon kandang Timnas Indonesia. Mengabarkan dari Detik Sport, Erick Thohir menyatakan bahwa Banten International Stadium layak menjadi opsi alternatif sebagai kandang Timnas Garuda. Hal itu disampaikan setelah melakukan kunjungan langsung bersama Gubernur Banten. Erick melihat kapasitas dan fasilitas stadion sudah lumayan mumpuni. Tinggal membutuhkan beberapa penambahan lagi untuk mendukung pelaksanaan laga Timnas di stadion ini.