Jika dalam enam tahun terakhir Kawasaki Frontale dan tim satelit dari Manchester City, Yokohama F Marinos yang saling bergantian menjuarai Liga Jepang. Musim ini J League telah melahirkan juara baru. Mereka adalah Vissel Kobe. Klub yang dikenal kerap mendatangkan pemain-pemain top Eropa.
Yang menarik adalah gelar juara ini didapat setelah Vissel Kobe bangkit dari keterpurukan musim lalu. Musim 2022, Kobe bahkan nyaris terdegradasi ke kasta kedua Liga Jepang. Gelar juara kali ini jadi terasa makin spesial karena ini merupakan gelar J League pertama mereka selama keikutsertaannya di kompetisi Liga Jepang. Lantas, apa yang membuat mereka bisa bangkit dan merajai Liga Jepang?
Daftar Isi
Bukan Penantang Gelar
Didirikan sejak 1966, Vissel Kobe tidak membangun reputasi sebagai klub penantang gelar Liga Jepang. Kobe justru lebih tepat disebut sebagai klub medioker karena sering naik turun kasta dan kalau lagi waras, hanya berkutat di papan tengah Liga Jepang. Namun, pada tahun 2014, Rakuten Group membeli seluruh saham Crimson Group yang membuat mereka mengambil alih kepemilikan Vissel Kobe.
Dari situlah nasib Kobe mulai membaik. Dengan dana yang melimpah pemain bintang mulai berdatangan. Sebut saja macam Lukas Podolski, David Villa, dan Thomas Vermaelen. Bahkan pada tahun 2018 mereka mendatangkan Andres Iniesta yang dinilai masih layak bersaing di sepak bola Eropa.
Hal ini karena hubungan baik Rakuten dengan Barcelona. Bagaimana tidak? Wong waktu itu Rakuten masih aktif jadi sponsor utama klub asal Catalan tersebut. Namun, meski konsisten mendatangkan pemain-pemain bintang Kobe tetap kesulitan menjuarai Liga Jepang. Mereka kalah saing dari Yokohama F Marinos dan Kawasaki Frontale.
Musim 2022 yang Suram
Meski keuangan Vissel Kobe sudah membaik dan kerap dihuni oleh pemain-pemain kelas wahid, performa tim juga tak konsisten. Terutama dalam tiga musim terakhir. Musim 2021 Kobe mengakhiri liga di posisi ketiga, tapi pada musim berikutnya mereka justru sibuk menghindari degradasi.
Musim lalu Vissel Kobe benar-benar paceklik. Meski masih diperkuat oleh Andres Iniesta, perjalanan Kobe tak seindah yang diharapkan. Daripada berjuang untuk memenangkan gelar, Vissel Kobe justru lupa caranya menang.
Skuad asuhan Miguel Angel Lotina itu bahkan gagal meraih kemenangan dalam 12 pertandingan pertama Liga Jepang musim 2022. Kemenangan pertama Vissel Kobe baru didapat pada pertandingan ke-13 saat melibas Sagan Tosu dengan skor 4-0.
Fans mengira kalau kemenangan telak itu akan menjadi titik balik tim yang berjuluk Ushi tersebut. Namun, salah satu musim terburuk Kobe justru baru saja dimulai. Setelah itu, Ushi justru menelan beberapa kekalahan memalukan. Hingga pekan ke-25 Kobe bersama Jubilo Iwata menjadi tim dengan kekalahan terbanyak di J League, yakni 13 kekalahan. Rangkaian hasil buruk pun membuat Kobe sulit keluar dari zona degradasi.
Banyak faktor yang mendasari keterpurukan Kobe. Salah satunya pemilihan pelatih yang salah. Miguel sendiri memang berstatus sebagai pelatih ternama dan punya banyak pengalaman di sepakbola Eropa maupun Asia. Namun, ia datang sebagai pelatih yang gagal membawa Shimizu S-Pulse berjaya. Klub tersebut hanya finis di urutan 14 musim 2021. Jadi, mempekerjakannya sama saja meniru kesalahan Shimizu.
Pergantian Nakhoda
Sebelum semuanya terlambat, manajemen Vissel Kobe akhirnya memutuskan untuk memecat Miguel Lotano. Pihak klub akhirnya menunjuk Takayuki Yoshida pada pertengahan tahun 2022. Keputusan ini terbilang tepat, karena pertengahan musim adalah waktu yang pas untuk memperbaiki performa tim sebelum pada akhirnya terpuruk.
Yoshida datang dan melihat kondisi Vissel Kobe begitu mengenaskan. Berada di dasar klasemen J-League pada pekan ke-18, para pemain tampak tak bersemangat. Tatapan kosong seusai latihan pun sering menghiasi wajah mereka. Situasinya sangat jauh berbeda dengan dulu. Ya, Yoshida bukan orang baru bagi Vissel Kobe.
Ia pernah jadi asisten pelatih di Vissel Kobe pada 2015, sebelum akhirnya sempat menjadi pelatih kepala pada 2017 dan 2019. Artinya, tahun 2022 menjadi periode ketiga Yoshida menangani The Ushi. Sebelumnya, ia bahkan sudah berada di Kobe sejak tahun 2022. Namun, sebagai tim pemandu bakat, bukan pelatih.
Yoshida merasa senang bisa kembali menangani Kobe. Di sini lah Yoshida banyak mendapat ilmu tentang kepelatihan. Namun, disisi lain ia sedih karena melihat Vissel Kobe tengah berada di situasi rumit. Ia tak menyangka klub yang sudah membesarkan namanya kini jadi tim papan bawah.
Meski begitu, Yoshida yakin bisa memberikan memberikan nyawa tambahan agar Kobe bisa bertahan lebih lama di kasta tertinggi. Perubahan kebijakan pun langsung dilakukan Yoshida. Ia dikenal sebagai pelatih yang idealis dan tegas. Ia bahkan berani untuk mencadangkan Iniesta. Menurutnya, mau sebintang apa pun kalau sudah tak bisa berkontribusi penuh untuk tim ya singkirkan saja.
Dan benar, memangkas waktu bermain bagi pemain uzur dan sedikit perombakan di skuad utama membuat Kobe membaik. Yoshida langsung memberikan tiga kemenangan beruntun. Dari 16 laga, Kobe berhasil meraih sembilan kemenangan, dua hasil imbang dan hanya menelan lima kekalahan. Hasil itu sudah cukup untuk membawa Kobe lepas dari jeratan zona degradasi dan mengakhiri musim 2022 dengan finis di urutan ke-13.
Bangkit Menggunakan Talenta Lokal
Musim 2023 jadi musim penuh Vissel Kobe bersama Takayuki Yoshida. Perombakan besar-besaran pun dilakukan oleh pelatih berusia 46 tahun itu. Beberapa pemain asing dari Brazil didatangkan oleh Yoshida. Nama-nama tersebut adalah Phelipe di posisi kiper, Thuler di posisi bek tengah, dan Jean Patric, di posisi sayap. Tak ada pemain-pemain top Eropa lagi yang datang.
Yoshida justru lebih senang mengandalkan talenta lokal dalam skema permainan Vissel Kobe musim 2023. Pemain-pemain asing ternama hampir tak mendapat tempat di tim utama. Seperti misalnya Andres Iniesta yang hanya mengantongi empat caps J League musim 2023. Mantan pelatih Varen Nagasaki itu bahkan mempersilakan sang pemain untuk hengkang di pertengahan musim.
Meski tak memiliki pemain kelas dunia, permainan Kobe di bawah asuhan Yoshida justru berada di level yang lebih baik. Gaya bermainnya menjadi atraktif dan mengandalkan sisi lebar lapangan untuk menarik pemain lawan guna menciptakan ruang di area kotak penalti. Dari sepuluh pertandingan pertama, Vissel Kobe meraih tujuh kemenangan, sekali imbang, dan hanya dua kali kalah. Torehan 22 poin itu membuat mereka langsung memuncaki klasemen.
Juara
Takayuki Yoshida lebih mengandalkan nama-nama lokal dalam formasi 4-3-3 andalannya. Bahkan sang pelatih menciptakan trio Jepang rasa Eropa di lini depan Vissel Kobe. Yoshida mengandalkan Yoshinori Muto, Yuya Osako, dan Koya Yuruki untuk membongkar setiap pertahanan tim lawan.
Yoshida berhasil membangun komunikasi yang baik dengan pemain. Bahkan, Yuya Osako seperti terlahir kembali di bawah asuhannya. Setelah hanya mencetak tujuh gol saja di musim 2022, Osako menggila dengan mencatatkan 22 gol dari 33 pertandingan di Liga Jepang. Sang pelatih juga memanfaatkan kecerdasan dan kreativitas dari Muto di lini depan. itu dibuktikan dengan sepuluh assist yang sudah diciptakannya.
Mengakhiri musim 2023 dengan raihan 68 poin, Vissel Kobe keluar sebagai juara baru Liga Jepang. Ini jadi trofi pertama mereka di kasta tertinggi sekaligus penanda masa kejayaan Vissel Kobe baru saja dimulai.
Sumber: J-League, BBC, Japan Times, Goal, Total Football Analysis


