Era Keemasan Ketika Hungaria Mengajarkan Sepakbola Pada Dunia

spot_img

Hungaria, jika menarik ke belakang, menjadi negara yang mengalami banyak sekali tragedi. Invasi pasukan Soviet termasuk serangan Nazi menjadi segelintir kisah yang membuat negara tersebut berada dalam era kekacauan.

Tapi, setidaknya, mereka punya sejarah dalam olahraga sepak bola. Sepak bola Hungaria banyak dikenal sebagai salah satu yang terhebat di era 50 hingga 60-an. Hal itu terasa wajar menyusul prestasi gemilang yang memang berhasil didapat.

Namun sebelum melangkah ke era yang banyak dikatakan orang sebagai yang terhebat itu, ada baiknya kita mengais ulang sejarah yang sebenarnya.

Dikatakan oleh seorang bernama Jonathan Wilson, dalam bukunya yang berjudul “The Names Heard Long Ago: How the Golden Age of Hungarian Soccer Shaped the Modern Game”, era 50 hingga 60-an justru menjadi era keemasan terakhir sepak bola Hungaria. Pasalnya, mereka sudah dikenal kuat sejak era 20-an.

Wilson mengatakan bahwa Budapest di era 20-an merupakan ladang para pelatih dan pemain hebat, yang nantinya akan tersebar ke seluruh dunia. Mereka yang dikenal brilian punya perhitungan serta kekreatifan dalam sebuah permainan.

Buku karya Wilson tersebut seolah menjadi sebuah pembetulan dari sejarah yang selama ini tersiar. Hungaria sudah menjadi negara yang kaya akan sepak bola. Mereka melakukannya secara profesional. Bahkan, liga lokal disana banyak menjadi contoh bagi segala kompetisi yang tersebar

Pada tahun 30-an, Wilson mengatakan kalau revolusi sepak bola mereka telah berhasil mengajarkan Brasil untuk bermain lebih efektif. Selain itu, inovasi serta taktik juga mereka sampaikan langsung pada negara-negara Amerika lainnya, seperti Argentina dan Uruguay. Tokoh Yahudi yang begitu terkenal dalam sepak bola dahulu, Bela Guttmann, pantas disebut sebagai salah satu pelopor permainan sepak bola menyerang.

Guttmann, yang kita tahu telah melanglang buana ke negara seperti Austria, Denmark, Prancis, Jerman, Belanda, Italia, Portugal, Spanyol, Swedia, AS, dan negara-negara bekas Yugoslavia, telah menunjukkan reputasi nya sebagai seorang jempolan. Malah, ada yang menganggap bila negara-negara kuat sekarang telah berhutang budi pada Hungaria, yang beberapa diantaranya melalui sosok Guttmann.

Pada era 30-an, Hungaria menjadi runner up di ajang Piala Dunia 1938, yang digelar di Italia. Di babak pertama mereka mengalahkan Hindia Belanda 6-0. Kemudian di perempat final mereka sukses membungkam Swiss dengan skor 2-0. Militansi pemain Hungaria berlanjut di babak semifinal, ketika mengalahkan Swedia dengan skor telak 5-1.

Raihan itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka memang punya kekuatan besar, terlepas dari kekalahan atas Italia di partai final dengan skor 4-2.

Perlu dicatat juga bahwa di era sebelum itu, Hungaria benar-benar menjadi raksasa setelah berhasil melibas Rusia dengan skor 12-0 pada 14 Juli 1912, serta menghancurkan Prancis dengan skor mencolok 13-1, pada 12 Juni 1927.

Namun sayang, penindasan yang dilakukan Soviet serta aksi genosida yang begitu mengerikan, membuat banyak tokoh Yahudi yang dikenal punya kejeniusan dalam sepak bola di sana terancam. Banyak yang menjadi korban dan pergi demi mencari keamanan.

Persepakbolaan mereka sempat goyah, meski pada akhirnya tetap berhasil melahirkan generasi emas selanjutnya di era 50-an.

Di era 50-an, Hungaria mendapat julukan Magical Magyars. Mereka punya pelatih sekaligus putra terbaik dalam memainkan sebuah pertandingan paling diinginkan. Dalam rentang waktu tahun 1950 hingga 1956, The Magical Magyars berhasil meraih 42 kemenangan, dengan rincian tujuh hasil imbang, dan sekali kalah. Di antara sederet pemainnya, satu nama yang dikenal sampai sekarang yaitu Ferenc Puskas.

Kemudian, satu pertandingan yang paling bersejarah adalah ketika mereka berhasil menghajar Inggris dalam dua pertandingan sekaligus.

Tepat pada tahun 1953, Inggris kala itu tidak pernah kalah oleh tim di luar Britania Raya saat bermain di Wembley. Namun, Hungaria berhasil mempecundangi mereka dengan skor 3-6. Enam bulan kemudian, Hungaria memastikan bahwa kemenangan itu bukan lah kebetulan. Pasalnya, saat kedua nya bertanding di Budapest, Hungaria masih terlihat perkasa dengan kemenangan 7-1.

Pertandingan itu pun seolah menjadi bukti bahwa sepakbola adalah permainan tim. Inggris yang perkasa kala itu amat mengandalkan kemampuan individu. Saat menghadapi Hungaria, terlihat kalau para pemain Inggris seperti tak memiliki visi.

Ini pula yang membuat mereka sepanjang permainan terlihat kebingungan dalam membangun serangan. Sementara itu, Hungaria terlihat lebih menguasai pertandingan lewat kerja sama yang apik.

Menyusun narasi tentang era keemasan Hungaria memang sangat mengagumkan. Dilatih oleh Gustav Sebes, kegemilangan mereka berlanjut. Banyak yang mengatakan jika Sebes menampilkan apa yang disebut dengan socialist football, sebuah versi awal dari Total Football, di mana setiap pemain mempunyai bobot yang sama dan bisa bermain di semua posisi. Sebes mendorong para pemainnya untuk menjadi versatile, atau yang bisa fleksibel bermain di posisi manapun.

Ramuan ala Sebes tertuang dalam ajang Piala Dunia 1954, yang kala itu dihelat di Swiss. Di turnamen akbar tersebut, Hungaria menampilkan permainan cantik, dimana mereka mampu menjadi juara grup dan bahkan sukses menceploskan 17 gol.

Korban keganasan Hungaria adalah Korea Selatan, yang dicukur habis 9-0, serta tim Jerman Barat yang dipermalukan dengan skor 8-3.

Di babak perempat final, kehebatan Hungaria kian tak tertandingi. Tim kuat Brasil di hempaskan dengan skor 4-2. Uruguay kemudian menjadi tim yang kurang beruntung, karena juga harus menghadapi Hungaria di semifinal. Dua gol Ferenc Puskas membawa Hungaria menang 4-2 atas Uruguay.

Nahas, kegemilangan mereka harus terhenti di partai puncak. Melawan Jerman Barat yang sempat mereka hempaskan di fase grup, Hungaria tak punya cukup kekuatan untuk menahan amarah dendam negara tersebut.

Jerman Barat, melalui Maximilian Morlock dan Helmut Rahn, berhasil menghentikan perlawanan Hungaria dengan skor 3-2. Padahal, Hungaria sempat memimpin dua gol terlebih dahulu di sepuluh menit pertama.

Akan tetapi, itu tak mengapa, karena meski mendapat predikat sebagai peringkat kedua, pemain mereka, Sandor Kocsis menyabet gelar top skor setelah mencetak 11 gol. Selain itu, Puskas juga dinobatkan sebagai pemain terbaik.

Duet penyerang, Kocsis dan Puskas berhasil mencetak 15 gol dari 27 gol yang disarangkan The Magical Magyars di turnamen itu.

Terlebih, mereka juga patut berbangga, karena pada dua tahun sebelumnya, turnamen Olimpiade berhasil diamankan. Hungaria, yang berpusat pada kuartet penyerang ampuh macam Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, Jozsef Bozsik dan Nandor Hidegkuti, adalah tim terbaik di dunia, dimana trofi Olimpiade pada tahun 1952 masuk ke lemari piala.

Selain medali tersebut, Hungaria juga masih berjaya di turnamen Olimpiade 1964, dan 1968. Yang tak kalah penting adalah medali perak di olimpiade 1972 dan 1 perunggu di olimpiade 1960. Lalu, di ajang Piala Eropa, mereka juga pernah meraih tempat ketiga di tahun 1964.

Setelah periode 70-an, timnas Hungaria tak pernah lagi berjaya. Pencapaian maksimalnya hanya sampai babak grup di Piala Dunia 1978, 1982, dan 1986. Bahkan mereka tidak pernah lolos kualifikasi ke Piala Eropa sejak tahun 1976, dan tidak lolos kualifikasi Piala Dunia sejak terakhir kali dilakukan pada tahun 1986.

Runtuhnya sisa-sisa kekuatan sepak bola Hungaria pada akhirnya temui titik kehancuran, menyusul keruntuhan rezim komunis di Cekoslowakia, Bulgaria, Polandia, termasuk Hungaria, dan negara-negara lainnya.

Hungaria pun harus menunggu waktu yang cukup lama untuk kembali berlaga di ajang bergengsi. Adalah Piala Eropa 2016. Turnamen yang dihelat di Prancis menjadi yang pertama bagi mereka setelah kurun waktu 30 tahun.

Kemenangan atas Norwegia di babak play off lah yang mengantarkan mereka lolos ke Piala Eropa 2016. Sukses ini tentunya disambut meriah oleh ribuan penonton di Stadion Groupama Arena, Budapest.

Namun sayang, mereka belum bisa berbicara banyak setelah di babak 16 besar dihancurkan Belgia dengan gelontoran 4 gol tanpa balas.

Nama besar Timnas Hungaria yang dulu berjaya kini belum mampu lagi diulang oleh Balasz Dzsudzsak dan kolega.

Mereka yang sempat diakui sebagai negara terkuat dalam dunia sepak bola, masih harus menunggu sampai entah kapan kejayaan kembali ingin bertemu.

https://www.youtube.com/watch?v=wDczC0Qur9Y

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru