Rekor 100% kemenangan Liga Champions Julian Nagelsmann musim ini masih terlalu buruk bagi petinggi Bayern Munchen. Alih-alih diberi perpanjangan kontrak, Nagelsmann justru jadi tumbal ekspektasi The Bavarians. Kabar pemecatannya pun mengguncang jagad media olahraga.
Menariknya, Bayern dikabarkan akan menggantikan Nagelsmann dengan Thomas Tuchel, seniornya sewaktu masih di Augsburg II. Jika menengok ke belakang, kedua pelatih ini memiliki karir yang kerap bersinggungan. Bahkan beberapa pengamat sepakbola menganggap hubungan Nagelsmann dan Tuchel sebagai murid dan guru.
Namun, kini situasinya berbeda. Sebagai guru, kemampuan Tuchel nyatanya lebih dipercaya oleh manajemen Bayern untuk menggantikan posisi Nagelsmann sebagai pelatih kepala.
Daftar Isi
Beda Angkatan, Tapi Bernasib Sama
Sepak terjang Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann di dunia sepakbola sebelas dua belas. Meski berbeda angkatan, keduanya memulai karir sebagai pemain profesional di Liga Jerman.
Khusus untuk Tuchel, ia yang lahir di Krumbach dan memutuskan untuk bergabung dengan klub lokal yang dilatih oleh ayahnya sendiri, TSV Krumbach sebelum akhirnya pindah ke akademi Augsburg tahun 1988. Namun, di Augsburg Tuchel tak pernah mendapat menit bermain di skuad utama. Akhirnya ia memutuskan untuk hengkang ke SSV Ulm dan mengakhiri karirnya di usia 24 tahun karena cedera tulang rawan di bagian lutut.
Sama halnya dengan Tuchel, Julian Nagelsmann juga mengawali karir di dunia sepakbola sebagai pemain. Ia juga sempat bergabung dengan tim muda Augsburg sejak akhir 90-an hingga 2002. Karena tak mendapat menit bermain yang cukup, ia pindah ke 1860 Munich. Di sana ia bahkan sempat menjadi kapten tim U-17 Munich.
Namun, setelah empat tahun di Munich, ia kembali ke Augsburg II pada tahun 2006. Saat kembali ke Augsburg itu lah ia bertemu dengan Thomas Tuchel yang sudah menjadi pelatih Augsburg II. Namun, pada periode keduanya di tim itu, Nagelsmann mengalami cedera lutut yang parah dan terpaksa mengakhiri karirnya sebagai pemain di usia 20 tahun.
Uluran Tangan Tuchel Selamatkan Nagelsmann
Melihat kegigihan Nagelsmann untuk tetap berkecimpung di sepakbola, Thomas Tuchel memberinya kesempatan untuk belajar dan membantu Tuchel menangani tim cadangan Augsburg. Pada tahun 2008 Nagelsmann membantu Tuchel sebagai pemandu bakat dan mempelajari tentang pengembangan pemain muda.
Selain itu, Tuchel juga memberi tugas tambahan kepada Nagelsmann sebagai analis. Tuchel menginginkan Nagelsmann untuk menganalisis kekuatan lawan. Hasil analisa Nagelsmann sangat membantu Tuchel untuk mempersiapkan tim jelang laga. Apalagi jika akan menghadapi tim yang kekuatannya jauh di atas mereka.
Menariknya lagi, demi menekuni dunia kepelatihan, Nagelsmann Nagelsmann sampai berganti konsentrasi kuliahnya yang tadinya Administrasi Bisnis menjadi Ilmu Olahraga. Mengambil kuliah jurusan Ilmu Olahraga membantu Nagelsmann mempelajari tentang manajemen sepakbola secara teori, termasuk bagaimana mengelola sebuah tim.
Terpisah
Keduanya pun terpisah. Tuchel lebih dulu hijrah ke Mainz sebagai pelatih U-19. Pelatih asal Jerman itu berhasil mengantarkan Mainz U-19 menjuarai Bundesliga U-19 musim 2008/09. Pencapaiannya itu yang membuat klub memberikan penghargaan dengan menunjuknya sebagai pelatih tim utama pada tahun 2009.
Debut Tuchel dengan tim utama pun cukup meyakinkan, tak mengalami satu kekalahan pun dalam tiga pertandingan awal, dan membawa Mainz finis di urutan kesembilan di musim 2009/10. Itu cukup baik mengingat Mainz berstatus sebagai tim promosi. Di musim kedua Tuchel baru menunjukan tajinya. Ia membawa Mainz finis di urutan kelima sekaligus mengamankan satu tiket kualifikasi Europa League musim berikutnya.
Lantas bagaimana dengan Nagelsmann? Tak mau kalah dengan gurunya, ia yang merasa sudah cukup ilmu kembali ke mantan klubnya, TSV Munich sebagai asisten pelatih Alexander Schmidt. Di sana ia kembali berfokus pada pembinaan usia muda bersama Munich U-17. Posisi tersebut ia emban selama kurang lebih dua tahun sebelum akhirnya ditunjuk untuk menangani tim muda Hoffenheim pada tahun 2011.
Sama halnya dengan Tuchel, selama menukangi tim U-19 Hoffenheim, Nagelsmann mengantarkan tim menjuarai Bundesliga U-19 pada musim 2013/14. Pencapaiannya yang luar biasa itu membuat Nagelsmann dihadiahi kontrak tiga tahun sebagai pelatih utama Hoffenheim. Padahal usianya baru 28 tahun. Dari situlah ia mendapat julukan “The Baby Mourinho”
Bertemu di Bundesliga
Saat Nagelsmann mengambil alih Hoffenheim pada awal tahun 2016, klub sedang berada di situasi rumit. Pasalnya, mereka berada di zona degradasi dan berjarak tujuh poin dari posisi aman. Namun, kecerdasan Nagelsmann membawa Hoffenheim memenangkan tujuh pertandingan dari 14 pertandingan Bundesliga yang tersisa. Itu sudah cukup untuk mengamankan posisi 15 klasemen akhir Bundesliga musim 2015/16 dan terhindar dari degradasi.
Di musim yang sama, Thomas Tuchel sudah menapaki jenjang karir yang lebih baik dengan menukangi Borussia Dortmund. Di musim perdananya, ia berhasil mengantarkan Die Borussen jadi penantang gelar dan menempel Bayern Munchen di peringkat kedua klasemen akhir Liga Jerman musim 2015/16.
Di musim tersebut pula kedua pelatih ini kali pertama bertemu sebagai lawan. Bermain di Signal Iduna Park, Borussia Dortmund terlalu perkasa untuk Hoffenheim asuhan Nagelsmann. Pertemuan pertama pun dimenangkan oleh sang guru dengan skor 3-1.
Di musim 2016/17, jadi pembuktian Nagelsmann. Ia membawa Hoffenheim melesat ke papan atas Bundesliga. Hoffenheim finis di urutan keempat dan hanya selisih dua poin saja di bawah Dortmund asuhan Tuchel. Meski demikian, Nagelsmann belum mampu mengalahkan Tuchel di dua pertemuan liga musim tersebut. Ia hanya meraih hasil imbang 2-2 di pertemuan pertama dan kalah 2-1 di pertemuan kedua.
Bertemu di Panggung yang Lebih Besar
Setelah tak mampu mengalahkan gurunya, Nagelsmann ingin mencobanya lagi di musim 2017/18. Namun sayang, Tuchel sudah tak bekerja di Dortmund. Ia mengundurkan diri di akhir musim 2016/17 menyusul perselisihan yang terjadi antara dirinya dengan manajemen klub. Sempat menganggur selama satu tahun, Tuchel akhirnya menukangi PSG pada tahun 2018.
Kembali berpisah dan kini makin jauh membuat Tuchel dan Nagelsmann tak lagi berhadapan hingga tahun 2020. Entah jodoh atau bagaimana, keduanya menjalani karir yang mengharuskan mereka untuk saling berhadapan. Setelah hanya bertemu di kompetisi domestik, kali ini mereka berhadapan di panggung yang lebih besar, yakni semifinal Liga Champions musim 2019/20
Saat itu, Julian Nagelsmann masih berkarir di Jerman namun dengan klub yang berbeda, yakni RB Leipzig. Klub siluman racikan Nagelsmann itu berjumpa PSG asuhan Tuchel pada babak semifinal. Sebagai guru, Tuchel lagi-lagi memenangi duel taktik ini. Ia membawa PSG menang dengan skor 3-0 dan lolos ke babak final. Dengan hasil tersebut, Nagelsmann tercatat belum pernah mengalahkan Tuchel di ajang resmi.
Setelah menjaga rekor tak terkalahkan dari Julian Nagelsmann, Thomas Tuchel kembali mengalahkan Nagelsmann di aspek lain. Selain beradu taktik di atas lapangan, Tuchel baru saja menggeser Nagelsmann dari kursi kepelatihan Bayern Munchen. Dulu saling membantu, kini kedua pelatih berkebangsaan Jerman itu tengah bertukar nasib.
Sumber: UEFA, Bundesliga, These Football Times, Panditfootball, Transfermarkt, Bola


