DNA UCL Tapi Keok! Ini Kesalahan Stefano Pioli Yang Buat Milan Kalah dari Inter

spot_img

AC Milan dan Inter sudah sering berhadapan di Serie A. Setidaknya dua kali dalam semusim. Tapi derby della madonnina kali ini berbeda. Kali ini Derby Milan di San Siro diiringi oleh lagu Liga Champions yang bergema dinyanyikan para pendukung kedua tim.

Inter Mendominasi San Siro

Sayangnya Milan tidak diperkuat oleh Rafael Leao yang sedang cedera. Posisinya digantikan oleh Alexis Saelemaekers. Di lini yang lain, Fikayo Tomori dimainkan sebagai starter sedangkan Olivier Giroud bertugas sebagai ujung tombak.

Untuk Inter Milan sendiri, Simone Inzaghi juga melakukan perubahan. Romelu Lukaku dibangku cadangkan. Ia digantikan oleh Edin Dzeko yang lebih berpengalaman. Mantan pemain Manchester City itu dipasangkan dengan Lautaro Martinez sebagai tumpuan serangan.

Sama seperti ketika kedua tim bertemu di Liga Champions pada tahun 2005. Dimana para pendukung Inter melemparkan flare, membuat San Siro seakan meledak. Di Laga ini Inter pula yang memberikan ledakan di San Siro.

Pertandingan baru berjalan delapan menit, nerazzurri sudah unggul lebih dulu lewat gol Volley dari Edin Dzeko. Keunggulan di awal pertandingan itu memberikan semangat tersendiri bagi pasukan biru hitam. Hasilnya, hanya tiga menit berselang Inter kembali menggandakan keunggulan. Kali ini lewat gol dari Henrikh Mkhitaryan di menit ke-11.

Itu jadi malam yang buruk untuk rossoneri. Dan bertambah buruk ketika sebelum jeda, tepatnya di menit ke-31 Martinez terjatuh di kotak penalti. Wasit memberikan hadiah penalti dan Milan beresiko ketinggalan tiga gol di leg pertama. Untungnya setelah wasit mengecek VAR, ia membatalkan keputusan itu. Kartu kuning yang diterima Kjaer juga ditarik kembali.

Milan sempat mendapatkan beberapa peluang untuk mencetak gol balasan. Tapi tidak satupun dari peluang itu sampai ke tujuan. Sampai peluit panjang dibunyikan, papan skor tidak berubah. Milan harus puas mengakhiri pertandingan leg pertama ini dengan kekalahan 2-0. Ini juga jadi kali pertama Inter mengalahkan Milan di Champions League

Kesalahan Strategi Pioli

Milan sebenarnya sudah biasa kalah lawan Inter akhir-akhir ini. Di lima pertemuan sebelumnya saja, Milan hanya menang sekali dan imbang sekali. Hasil di laga ini menambah catatan buruk bagi AC Milan.

Sayangnya Stefano Pioli tidak belajar dari pertemuan-pertemuan terakhir mereka. Milan tetap memainkan formasi 4-2-3-1. Itu formasi yang sama ketika Milan kalah 3-0 lawan Inter di Supercoppa Italia bulan Januari kemarin.

Formasi ini memang biasa Milan gunakan ketika ingin melakukan strategi serangan balik. Tapi Pioli seharusnya bisa mengubahnya di malam ini. Mengingat, rossoneri tidak diperkuat Rafael Leao yang merupakan inti dari serangan balik Milan selama ini.

Yang terjadi malah Milan ditekan penuh oleh 3-5-2 milik Inter. Di 18 menit pembuka laga, Inter sudah punya lima shot on target. Dua diantaranya bahkan berbuah jadi gol. Dan bagi tim yang mengandalkan serangan balik, akan sulit untuk mengejar ketertinggalan jika lawan sudah merasa aman dengan keunggulan dua gol.

Rossoneri tidak bisa menekan balik Inter di sepertiga lapangan depan. Formasi 3-5-2 membuat nerazzurri tidak tertembus. Anak asuh Stefano Pioli tidak bisa mendapatkan ruang karena formasi ketat dari Inter itu.

Dzeko Si Paling Berpengalaman

Hal tersebut dibantu juga dengan duet lini serang Inter, Martinez dan khususnya Edin Dzeko. Sebelum pertandingan ini, salah satu perbincangan yang muncul adalah apakah Inzaghi akan menurunkan Lukaku atau Dzeko sebagai pasangan Martinez.

Lukaku dan Dzeko menikmati kemitraan yang terkenal ketika Inter meraih scudetto musim 2020/21. Dan Dzeko sebenarnya justru tidak tampil baik semasa Lukaku pergi ke Chelsea. Tapi pilihan Inzaghi untuk memainkan Dzeko daripada Lukaku di pertandingan ini terbukti sangat tepat.

Dzeko memiliki apa yang tidak dimiliki Lukaku, yaitu pengalaman. Pemain berusia 37 tahun itu menggunakan pengalamannya yang luas untuk mengobrak abrik duo bek tengah Milan, Tomori dan Kjaer.

Luar biasanya lagi, meskipun Dzeko sudah tidak muda lagi tapi ia masih bisa mengimbangi permainan cepat Inter. Ia mampu menciptakan momentum-momentum yang membangkitkan kepercayaan diri para rekannya.

Golnya di pertandingan itu menunjukan Dzeko bisa menempatkan diri di posisi yang tepat. Ia punya visi dimana bola akan jatuh dan dimana bola harus diarahkan. Meskipun dijaga oleh pemain bertahan Milan, ia masih bisa membuat bola tiba di kakinya dengan tepat.

Dzeko juga berperan dalam terciptanya gol kedua. Gol itu memang terjadi berkat pergerakan cepat Mkhitaryan yang menyusuri celah pertahanan rossoneri. Tapi jika dilihat kembali, Dzeko lah yang membuat celah itu. Ia memancing bek Milan untuk berlari ke sisi lapangan. Memberikan ruang kosong menganga sampai Mkhitaryan dengan leluasa menembak bola.

Peluang Inter di Final

Bek Milan, Fikayo Tomori juga mengakui kalau ada kecemasan dari timnya di laga itu Itu yang membuat mereka tidak fokus. Kecemasan itu hadir setelah mereka kebobolan dua gol di menit awal. Dan itu yang membuat mereka tidak bisa menciptakan gol balasan di sisa waktu yang ada.

“Kami jelas kecewa, kebobolan dua gol di awal laga. Muncul sedikit kecemasan di dalam tim. Di pertandingan seperti ini, itu tidak boleh terjadi. Kami kecewa tapi kami akan bangkit di pertandingan setelahnya.” Ucapnya dikutip dari Sky Sports.

Tapi harapan Milan untuk bangkit di leg kedua akan terasa berat. Pertandingan memang sama-sama akan tersaji di San Siro. Tapi di leg kedua nanti, tifo di San Siro akan dipenuhi oleh warna biru hitam. Jumlah pendukung Inter akan lebih banyak di San Siro karena Inter berstatus sebagai tuan rumah. Itu jadi efek ngeri yang pasti akan berpengaruh ke Milan.

Seperti kata Inzaghi yang dikutip dari the athletic setelah pertandingan. “Kami berada di depan. Sekarang kami akan bermain di kandang dengan jumlah penonton suporter kami lebih banyak.”

Yang pasti adalah, satu kaki Inter kini sudah melangkah ke partai final. Penentuannya akan terjadi di leg kedua nanti. Meskipun begitu jika Inter sampai ke final, lawan mereka tidaklah mudah. Yaitu antara Manchester City atau Real Madrid. City dan Pep sedang berada di performa puncaknya. Sedangkan Madrid adalah raja di turnamen ini, dimana los blancos tidak pernah kalah jika sudah sampai ke final.

Terakhir kali tim Italia jadi juara Champions League adalah di tahun 2010. Ketika itu Jose Mourinho mampu membawa Inter tidak hanya juara, tapi juga meraih treble. Itu bisa jadi pemicu semangat mereka di leg kedua nanti.

Sumber referensi: Mirror, Talk, SportBible, Athletic, Sky, Sporting

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru