Meruntuhkan dinasti tidaklah mudah. Tentu yang dimaksud dinasti di sepak bola. Meruntuhkannya akan lebih sulit kalau dinasti itu sudah bertahan lama. Butuh lebih dari keberanian untuk memutus dominasi sebuah klub.
Hal itu tidak dimiliki oleh banyak pelatih. Namun, para pelatih berikut mampu membuktikan kualitasnya sebagai pemutus dominasi di liga maupun kompetisi Eropa. Siapa saja para pelatih tersebut? Mari kita mengulasnya.
Daftar Isi
Xabi Alonso (Bayer Leverkusen)
Kita memulai dari yang terbaru. Selama 11 musim, Bundesliga hanya memiliki satu pemenang saja: Bayern Munchen. Namun, pada musim 2023/24 dominasi itu diputus oleh Bayer Leverkusen. Adalah Xabi Alonso yang bikin klub yang nyaris terlupakan menjadi tim yang sulit dikalahkan di Bundesliga, termasuk oleh Bayern Munchen.
Victor Boniface dibuatnya setajam Osimhen. Granit Xhaka yang dianggap habis malah jadi dinamo di lini tengah. Dengan gelar Bundesliga itu, Xabi tidak hanya memutus dominasi Bayern Munchen, namun juga menjadikan Bayer Leverkusen tim pertama yang meraih gelar Bundesliga tanpa satu pun kalah.
Xabi Alonso and Bayer Leverkusen win the Bundesliga with five games left to play 👏
29 played:
24 wins
4 draws
ZERO defeats
74 scored
19 concededSimply heroic. pic.twitter.com/iLTDSgjgeF
— B/R Football (@brfootball) April 14, 2024
Jose Mourinho (Chelsea)
Sejak tahun 1996, Premier League dikuasai oleh Manchester United. Arsenal yang dilatih Wenger sempat memutus dominasi itu, dan coba ikut mendominasi Premier League. Namun, di tengah dominasi Fergie-Wenger, muncul Jose Mourinho yang melatih Chelsea pada musim 2004/05.
Dengan membeli pemain-pemain macam Petr Cech, Drogba, Arjen Robben, hingga Ricardo Carvalho, plus lewat strategi yang menyebalkan, Mourinho memutus dominasi dua pelatih itu. Ia membawa The Blues juara Liga Inggris musim tersebut.
Carlo Ancelotti (Chelsea)
Setelah sempat tak mendominasi, Manchester United kembali mendominasi selama tiga musim dari 2007 sampai 2009. Namun, pada musim 2009/10, dominasi United itu putus di tangan The Blues. Aktor yang melakukannya tiada lain adalah Carlo Ancelotti.
Sejak kedatangannya, Carletto sanggup mengalahkan timnya Fergie. Di final Community Shield, Chelsea-nya Ancelotti mengalahkan MU lewat adu penalti. Di ujung musim, Carlo Ancelotti juga mengalahkan Fergie di perebutan gelar Liga Inggris.
Musim itu, Ancelotti juga menjadikan The Blues tim pertama yang mencetak 100 gol di Premier League. Jumlah gol yang dicetak Drogba dan kawan-kawan total menyentuh 103 gol.
Selamat ulang tahun yang ke-65 untuk eks pelatih Chelsea, Carlo Ancelotti! 🎂🎊🎉
Champions League 🏆🏆🏆🏆🏆
UEFA Super Cup🏆🏆🏆🏆
Club World Cup 🏆🏆🏆
La Liga 🏆🏆
DFL Cup 🏆🏆
Serie A 🏆
Premier League 🏆
Bundesliga 🏆
Ligue 1 🏆
FA Cup 🏆
Coppa Italia 🏆
Piala Super… pic.twitter.com/frXrvC97nD— Extra Time Indonesia (@idextratime) June 10, 2024
Leonardo Jardim (AS Monaco)
Dari Inggris kita melancong ke Prancis. Setelah juara di musim 2012/13, PSG lalu meraihnya dalam tiga musim berikutnya. PSG pun mengincar gelar kelimanya di musim 2016/17. Namun, anak muda AS Monaco seperti Kylian Mbappe, Fabinho, sampai Bernardo Silva sedang bergeliat.
Tim yang dipimpin Leonardo Jardim itu yang akhirnya keluar sebagai juara Ligue 1 di akhir musim 2016/17 dengan mengumpulkan 95 poin. Jardim bukan pelatih yang pengalamannya banyak, namun ia bisa menjadikan AS Monaco tim yang tangguh dan solid. Mereka juga sulit dikalahkan, termasuk oleh PSG. Terbukti mereka cuma kalah tiga kali musim tersebut.
🏆 Lo curioso es que con una idea austera, 4 años después, AS Mónaco quedaría campeón de la Ligue 1 y sería semifinalista de Champions con un equipo joven, encabezado por El Tigre en la cancha y Leonardo Jardim desde la raya.
¿Moraleja? 👀 pic.twitter.com/8IAuqOpD3K
— Bolavip Colombia (@BolavipCo) May 12, 2024
Christophe Galtier (Lille)
Setelah gelar di musim 2016/17 dicuri, PSG tidak ambruk. PSG justru menguasai Ligue 1 lagi, dengan mendominasi dari musim 2017/18 sampai 2019/20. Nah, di musim 2020/21, PSG yang mengincar gelar keempat berjumpa tim yang diisi pemain muda lagi. Kali ini LOSC Lille.
Pada musim itu, Les Dogues diperkuat pemain muda macam Mike Maignan, Sven Botman, Jonathan David, hingga Timothy Weah. Di bangku cadangan, pelatih kacangan Christophe Galtier mengomando. Meski pelatih medioker, nyatanya Galtier membuktikan kualitasnya. Ia menjadikan Lille tim yang penuh kehati-hatian.
Strategi itu yang akhirnya mengantarkan Lille ke gelar Ligue 1 pada musim 2020/21, sekaligus memutus dominasi Paris Saint-Germain. Mereka finis di posisi satu dengan 83 poin, berjarak satu poin saja dari PSG.
Diego Simeone (Atletico Madrid)
Di Spanyol, sejak musim 2004/05, Real Madrid dan Barcelona silih berganti menjuarai La Liga. Tidak ada satu pun yang sanggup memutus dominasi keduanya. Hingga datanglah musim 2013/14. Itu adalah musim ketiga Diego Simeone membesut Atletico Madrid.
Simeone yang membentuk tim tangguh, yang berisi pemain seperti Courtois, Koke, Arda Turan, Godin, hingga Gabi merusak dominasi Barca-Madrid. Musim itu, Los Rojiblancos bermain dengan gaya yang berbeda, yakni bertahan. Mereka mampu mendominasi laga tanpa menguasai bola.
Dengan cara itu Simeone membawa Atleti menjuarai La Liga musim 2013/14. Ini untuk kesekian kalinya Atletico Madrid memutus dominasi yang coba dibangun Real Madrid dan Barcelona. Sebelum itu, mereka pernah melakukannya di musim 1995/96 saat ditukangi Radomir Antic.
🏆 2014 ➡️➡️ 2021 🏆
Diego Simeone conquers LaLiga again, up against two of the biggest clubs in World football.
Cholismo on top again.#LLL
🧡🇪🇸⚽️ pic.twitter.com/oxBoWrHPbr— La Liga Lowdown 🧡🇪🇸⚽️ (@LaLigaLowdown) May 22, 2021
Louis Van Gaal (AZ Alkmaar)
Memutus dominasi juga pernah dilakukan oleh mantan pelatih Timnas Belanda, Louis Van Gaal. Penderita kanker prostat itu pernah membawa AZ Alkmaar juara Eredivisie pada musim 2008/09 dengan memutus dominasi PSV selama empat musim beruntun.
Padahal tidak ada satu pun yang menjagokan AZ kala itu. Bahkan para pakar memprediksi kalau Van Gaal hanya akan membawa timnya finis di posisi 13. Namun, prediksi itu kelewat keliru. Nyatanya Van Gaal membawa tim berisi pemain seperti Sergio Romero, Hector Moreno, Mousa Dembele, Mounir El Hamdaoui, hingga Graziano Pelle juara Eredivisie.
Hingga akhir musim, 25 kemenangan diraih. AZ asuhan Van Gaal hanya menelan empat kekalahan saja. Tidak hanya itu, AZ juga menjadi tim dengan kebobolan tersedikit, yakni 22 gol. Gelar itu biasa bagi Van Gaal, tapi bagi AZ itu adalah gelar yang istimewa karena merupakan trofi Eredivisie pertama sejak tim ini bernama AZ Alkmaar.
Louis Van Gaal managed tonights opponents AZ Alkmaar from 2005-09
–
🏆Van Gaal won the Eredivisie in 2009 before joining Bayern Munich.
–
What’s your predictions against Van Gaal’s former employers tonight? pic.twitter.com/cecNb6qNLx— Stretford Paddock FC (@SPaddockFC) October 3, 2019
Phillip Cocu (PSV Eindhoven)
Dua musim setelah AZ menjuarai Eredivisie, Ajax Amsterdam kembali mendominasi. Empat musim beruntun, dari 2011 hingga 2014, mereka menjuarai Liga Belanda. Namun, pada musim 2014/15 dominasi mereka terputus oleh PSV Eindhoven.
Philippe Cocu yang membangun PSV dengan mengandalkan pemain muda, seperti Memphis Depay hingga Georginio Wijnaldum menjuarai Eredivisie. Mereka mengumpulkan 88 poin dengan torehan selalu menang di 15 laga terakhir.
Antonio Conte (Internazionale)
Jika di Jerman ada Bayern Munchen yang berkuasa selama 11 musim, di Italia ada Juventus yang menjuarai Serie A dalam sembilan musim beruntun. La Vecchia Signora melakukannya dari tahun 2012 sampai 2020. Namun, kedatangan Antonio Conte ke Inter pada 2019 mengubah jalannya liga domestik.
Di tangan Conte, Inter memutus dominasi Juventus di Serie A. Meski menariknya, pada musim 2020/21, mereka justru bersaing bukan dengan Juventus, melainkan AC Milan. Conte dengan pemain seperti Perisic, Barella, Brozovic, Hakimi, hingga Lukaku dan Lautaro terus mengejar perolehan poin Milan di puncak klasemen.
Pada pekan ke-22, Inter menjatuhkan Milan dari puncak klasemen usai mengalahkan Lazio. Ini bukan cuma Inter yang jago, tapi Rossoneri yang ceroboh. Di pekan yang sama, daripada memetik kemenangan, Milan justru keok atas Spezia.
Setelah kemenangan itu, La Beneamata terus duduk di puncak klasemen. Kekalahan atas Juve di dua pekan sebelum berakhir tak berpengaruh. Conte sukses membawa Inter scudetto dengan 91 poin, terpaut 12 poin dari Milan di peringkat kedua.
🏆🇮🇹2 de maio 2021⚫🔵
Há um ano a Inter de Antonio Conte era consagrada como a campeã italiana, recebendo seu 19⁰ Scudetto!!! pic.twitter.com/TUiUKXxRdi
— Internazionalizando ⭐️⭐️ (@InterNZlizando) May 2, 2022
Jurgen Klopp (Liverpool)
Dari semua pemutus dominasi, barangkali Jurgen Klopp yang luar biasa. Begini ceritanya. Sebelum tahun 2014, tidak ada negara yang bisa mendominasi Liga Champions. Nah, pada tahun 2014, Spanyol mulai mendominasi. Selama lima musim, dari tahun 2014 sampai 2018 juara Liga Champions selalu dari Spanyol.
Empat kali Real Madrid, dan satu diberi jatah buat Barcelona. Klopp memutus dominasi itu. Pada musim 2018/19, Klopp membawa Liverpool, tim asal Inggris, menjuarai Liga Champions, setelah bahkan sejak 2012 tidak ada tim Inggris yang menjuarainya.
4K #wallpapers
└📂 Jurgen klopp 😔❤️
└📂 champions league 2019 🏆 pic.twitter.com/cLdPS3WVfh— Khaled #LFC 👨🏼🎨 (@okexr) May 19, 2024
Klopp sebetulnya nyaris melakukannya di musim sebelumnya. Namun, Mohamed Salah dipaksa berlinang air mata usai Real Madrid menghancurkan Liverpool di Kyiv. Kemenangan di final Liga Champions musim 2018/19 juga menghapus label ‘pecundang tak beruntung’ pada diri Klopp. Selama ini ia selalu kalah di final Liga Champions.
Kemenangan atas Tottenham Hotspur di final itu tak hanya istimewa bagi Klopp, tapi juga bagi Liverpool. Sebab gelar tersebut mengakhiri 14 tahun Liverpool berpuasa gelar Liga Champions. Mantap sekali, Pak Klopp!


