Buruknya Kebijakan Pemain Muda di Bundesliga

spot_img

Jerman gagal total di Kejuaraan Eropa tahun 2000. Bahkan Der Panzer tak mampu lolos dari jerat fase grup. Jerman hanya mampu finis di posisi juru kunci dengan poin satu. Hasil dari imbang atas Rumania 1-1.

Kegagalan menyedihkan Jerman di Piala Eropa tahun 2000 itu tentu saja membuat federasi sepak bola Jerman berbenah. Bagaimanapun pasti ada yang salah dari sepak bola Jerman sendiri. Dan benar saja, mereka baru menyadari bahwa pengembangan bibit muda adalah suatu yang penting dalam sepak bola.

Direktur olahraga Timnas Jerman, Olivier Bierhoff, seperti dikutip Forbes, kala itu mengatakan bahwa Jerman masih memiliki kelemahan. Menurutnya, klub-klub di Jerman masih mengandalkan bakat-bakat dari luar, seperti dari Prancis, Inggris, dan Belgia.

Bierhoff mengatakan, karena itulah pemain muda Jerman tidak mendapat kesempatan mencicipi persaingan di level profesional. Hal itu pula berbuntut pada kualitas Tim Nasional yang cenderung kempes dan kurang angin. Sejak saat itu, sepak bola Jerman mulai mereformasi kebijakannya.

Reformasi itu menyangkut juga pada kebijakan pemain muda. Mulai saat itu, klub-klub Jerman diminta lebih mengutamakan pengembangan bibit muda. Kebijakan itu kemudian dipakai ketika klub-klub dari liga lainnya, seperti Inggris dan Spanyol membeli pemain mahal.

Pemain Mahal

Seiring perkembangan dunia sepak bola, harga pemain-pemain mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Terutama memasuki tahun 2005 ke atas. Namun, bagi klub-klub seperti di Inggris dan Spanyol, kenaikan harga pemain bukanlah masalah rumit.

Toh, klub-klub di negara itu masih sanggup memborong pemain yang berstatus termahal. Sebut saja, Fernando Torres yang ketika pertama kali datang ke Liverpool tahun 2007 harganya mencapai 38 juta euro atau Rp594,1 miliar kurs sekarang.

Maka wajar saja, klub-klub di Inggris maupun Spanyol terpaksa mengeluarkan jutaan euro untuk sekadar mendatangkan pemain bola. Sementara di Jerman tidak begitu. Klub-klub di Bundesliga mulai tahun 2006 sudah beranjak dari sekadar menjadi konsumen ke menjadi produsen.

Klub-klub Bundesliga, di musim 2006/07 saja sudah menghabiskan setidaknya 44 juta euro atau Rp688 miliar lebih kurs sekarang untuk membangun akademi, dan menghasilkan pemain muda berbakat.

Menemui Kegagalan

Dari usaha pengembangan pemain muda, cita-cita federasi sepak bola Jerman pun pelan-pelan tercapai. Jerman mampu kampiun di ajang Piala Eropa U-17 dan U-21 pada tahun 2009. Pelatih yang pernah membawa Jerman juara Piala Dunia 2014, Joachim Loew, mengutip Deutsche Welle sangat senang atas langkah jitu ini.

Menurut Loew, Bundesliga menjadi semacam akademi elit, dan menjadi lembaga unggulan untuk menghasilkan pemain hebat. Namun, meskipun membawa prestasi bagi Tim Nasional, nyatanya pengembangan pemain muda semacam ini tak selamanya menguntungkan klub.

Alih-alih memahat prestasi, pemain-pemain muda yang mentas tak sanggup membawa klub ke satu prestasi yang cukup gemilang. Banyak klub Jerman yang justru kesulitan bersaing di kompetisi Eropa, kecuali Bayern Munchen. Klub-klub di Bundesliga lain terseok-seok di Eropa.

Pengembangan bakat muda di Bundesliga pun mengendur. Klub-klub di Jerman justru mulai melirik pemain muda dari luar. Mengapa? Karena seandainya membeli pemain yang sudah matang, biayanya tak sedikit.

Perubahan Tren

Tren klub-klub Bundesliga pun mengalami perubahan, dari yang semula menghasilkan pemain muda, menjadi pembeli pemain muda. Faktanya, talenta muda saat ini justru kebanyakan dihasilkan oleh negara Eropa lain, seperti Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa Timur.

Klub Bundesliga pun memanfaatkan pemain muda dari Bangsa Eropa lainnya. Seperti Borussia Dortmund yang memboyong Jadon Sancho dari Inggris. Eintrancht Frankfurt yang merekrut Luka Jović, sampai Alassane Pléa yang diangkut Monchengladbach.

Klub-klub Bundesliga, juga pada akhirnya mulai mengimpor pemain muda dari benua lain, misalnya Amerika. Banyak talenta Negeri Paman Sam yang merapat ke klub kenamaan di Bundesliga. Sebutlah misalnya Christian Pulisic yang merapat ke Borussia Dortmund.

Ada pula Alphonso Davies, pemain muda yang diimpor Munchen dari Kanada seharga 10 juta euro (Rp156,3 miliar). Hal itu menunjukkan bahwa pengembangan pemain muda di Bundesliga sedang kusut.

Akademi Bayern Munchen, menurut laporan Forbes, menjadi salah satu yang gagal menelurkan pemain muda berbakat secara berkelanjutan. Reputasi Jerman sebagai penghasil pemain muda pun makin meredup. Apalagi eksodus pemain Amerika di Bundesliga menemui titik sensasinya sendiri.

Selain Pulisic dan Davies, pemain-pemain asal Amerika lainnya juga turut menguasai klub papan atas di Bundesliga. Josh Sergent yang bermain untuk Werder Bremen dan Weston McKennie yang pernah bermain di Schalke adalah contohnya.

Pemain Muda Tertekan

Perubahan haluan di mana klub-klub Bundesliga justru menjual diri sebagai tempat bagi pemain muda asing, alih-alih menjadi produsen malah menciptakan semacam lingkaran setan. Kebijakan soal pemain muda yang berubah inilah yang justru imbasnya pada pemain muda asing itu sendiri.

Misalnya, ketika Jude Bellingham dan Ricardo Pepi datang ke Bundseliga, tentu akan menciptakan hype dan ekspektasi yang selangit. Resikonya, klub pun akan memberikan tekanan pada pemain muda tersebut. Hal itu pula yang terkadang justru merusak reputasi pemain muda tersebut.

Mengutip The Athletic, Direktur Dortmund, Carsten Cramer menjelaskan bahwa mendatangkan pemain muda juga artinya mempertaruhkan reputasi Bundesliga sebagai penghasil pemain. Dengan memberi tekanan pada pemain muda, menurut Cramer itu tidak efektif.

Sebab, masalah olahraga dan kesejahteraan pemain harus selalu didahulukan. Maka dari itu, klub-klub Bundesliga memiliki PR besar untuk menyejahterakan pemain muda yang mereka kembangkan ataupun rekrut.

Pemain Muda Justru Banyak yang Pergi

Strategi menjual diri untuk pemain muda dari Bundesliga nyatanya tak selamanya berhasil. Bundesliga tak selamanya cocok untuk wadah pengembangan pemain muda dari luar. Bisa jadi para pemain muda itu akhirnya justru memilih hengkang dari Bundesliga.

Misalnya, Emile Smith Rowe yang tak mendapat cukup kesempatan bermain di RB Leipzig tahun 2019 memilih pergi ke London. Di Arsenal, Smith Rowe mendapat tempat yang layak. Begitu pula Ousmane Dembele yang hengkang ke Barcelona, dan Jadon Sancho yang memilih tanda tangan kontrak dengan Manchester United.

Ketidakbetahan pemain muda di Bundesliga disinyalir karena klub-klub Bundesliga tidak sabaran. Rekan Sancho di Dortmund, Giovanni Reyna, dikutip The Athletic, mengatakan pemain muda terutama yang dari Amerika sekarang sulit untuk beradaptasi di Bundesliga.

Karena kebijakan pemain muda semacam itu, yang terkesan inkonsisten antara melahirkan atau menampung, justru membuat reputasi pemain muda Bundesliga buruk. Kita mungkin akan kesulitan menemukan hasil didikan klub Bundesliga, seperti Thomas Muller maupun Toni Kroos yang masyhur sebagai pemain berkelas.

https://youtu.be/ZbAafX50Pqw

Sumber referensi: theathletic.com, dw.com, forbes.com, debuts.eu

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru