Bruno Fernandes yang Peranya Lenyap di Era Ralf Rangnick

spot_img

Manchester United telah memasuki era baru di tangan Ralf Rangnick. Pelatih berpaspor Jerman tersebut diyakini mampu mengubah MU dari yang memble menjadi garang kembali. Meski begitu, kedatangan Rangnick tidak selamanya menyenangkan banyak orang.

Sosok seperti Bruno Fernandes justru seolah hilang perannya ketika Ralf Rangnick masuk. Padahal pemain berdarah Portugal itu selalu menjadi andalan dan berperan penting dalam skema pelatih sebelumnya, Ole Gunnar Solskjaer.

Di tangan Rangnick, Bruno Fernandes cenderung tak terdengar tajinya. Bahkan pemain yang beberapa kali menyelamatkan muka Ole itu, seakan redup di telan teriknya sinar Rangnick dan tentu saja, Cristiano Ronaldo.

Kehadiran Cristiano Ronaldo

Kehadiran Ronaldo di MU awalnya mampu menciptakan keharmonisan antar duo Portugal. Akan tetapi, seiring berjalanya waktu kemunculan CR7 sedikit mengusik posisi dan peran yang sebelumnya dipegang Bruno.

Legenda Setan Merah, Andy Cole memberi pengamatannya, bahwa Bruno Fernandes telah dipaksa untuk mengubah peran dalam permainannya setelah kedatangan Cristiano Ronaldo. Dua matahari kembar di Setan Merah tampaknya tidak akan bisa berjalan mulus ketika ego masing-masing tidak terkontrol. Salah satunya sudah pasti akan luntur, dan dalam hal ini yang luntur adalah Bruno Fernandes.

Sebagai contoh soal set pieces. Musim lalu, sebelum Ronaldo datang, Bruno menjadi pemain yang dipercaya mengeksekusi bola mati. Namun kini, peran tersebut direbut oleh CR7, entah untuk eksekusi penalti maupun tendangan bebas.

Hal itu disinyalir karena mungkin saja Bruno Fernandes mengalah pada Ronaldo. Apalagi Ronaldo jelas lebih senior daripada Bruno, baik itu di Timnas Portugal maupun di Manchester United.

Kehadiran CR7 tentu saja membuat permainan MU terpusat pada dirinya. Para pemain The Red Devils lainnya menjadikan Ronaldo sebagai “center of point”, di mana semua bola mengarah ke Ronaldo. Padahal sebelumnya, Bruno Fernandes lah yang menjadi titik tujuan bola itu dialirkan.

Menonjolkan peran individu di permainan MU jelas mengundang risiko. Taktik jadi mudah terbaca lawan. Hasilnya, Setan Merah dibantai Liverpool 0-5, dan Manchester City 0-2 di kandang sendiri. Itu jelas sebuah pukulan besar bagi kedua bintang Portugal, apalagi Bruno Fernandes.

Gelandang yang memiliki tato di lengan itu, hampir tidak lagi mencetak gol dan assist selama bermain bersama Ronaldo. Sayangnya tak sampai di situ saja. Ole yang dipecat dan kedatangan Ralf Rangnick makin menenggelamkan nama Bruno Fernandes.

Kehadiran Ralf Rangnick dengan 4-2-2-2

Kehadiran Ralf Rangnick di Old Trafford seketika itu melahirkan optimisme fans Setan Merah. Gegenpressing ala Jerman dengan formasi 4-2-2-2 ala Rangnick dinilai akan menjadi solusi, terutama untuk mengembalikan peran Bruno. Walaupun sebetulnya, Rangnick sendiri belum percaya bahwa dia memiliki para pemain untuk beradaptasi secara efektif.

“Masalahnya adalah jika kami bermain dalam 4-2-2-2, itu berarti bahwa ruang di belakang dua striker dan dua pivot adalah dua tipe no 10 modern yang bisa bergerak mobile dan pressing tinggi, Ini adalah pekerjaan yang paling menantang dalam sistem 4-2-2-2,” kata Rangnick.

Kendati begitu, toh nyatanya Rangnick tetap memakai formasi 4-2-2-2 di pertandingan pembukanya melawan Crystal Palace. Lalu, ia lanjutkan ketika MU menghadapi Norwich City, Newcastle United, dan Wolverhampton.

Pressing ala Rangnick dieksekusi dengan formasi 4-2-2-2. Mekanisme yang mengharuskan pemain bergerak dan bergeser cepat, sirkulasi bola cepat, bola direct cepat ke depan, serta pemain tidak lama pegang bola.

Ironis, mekanisme semacam itu tampaknya akan sulit bagi tipe pemain seperti Bruno Fernandes. Mengingat performa terbaik mantan pemain Sporting itu datang ketika dia dibutuhkan dalam sistem 4-2-3-1.

Jika melihat statistik, Bruno telah mencetak 45 gol dan 35 assist dalam 105 pertandingannya sejak bergabung dengan United tiga tahun lalu. Namun, dia belum mencetak gol atau assist di bawah asuhan Rangnick.

Bahkan performa Bruno di Premier League cenderung menurun. Setelah mencetak hattrick pada akhir pekan pembukaan musim ini, dia hanya berhasil mencetak dua gol lagi sejak saat itu, dan hanya mengemas tiga assist.

Bukan hanya itu, rata-rata operan kunci yang biasanya dilakukan Bruno juga mengalami penurunan yang lumayan drastis. Pada enam pertandingan pertama liga musim ini, Bruno membuat 3,5 operan kunci, sedangkan di enam pertandingan terakhir, termasuk saat kalah dari Wolves di markas sendiri, Bruno hanya mencatat rata-rata 1,6 operan kunci.

Aliran bola yang sampai ke Bruno juga sedikit, seperti saat MU bersua Newcastle United, sehingga juga jarang melakukan operan sukses. Pun ketika MU mampu menaklukkan Norwich City, Bruno hanya sanggup membuat satu umpan kunci sepanjang pertandingan.

Praktis Ini menjadi awal musim yang sulit bagi playmaker Portugal. Alih-alih membaik, pergantian pelatih justru memperburuk situasinya sendiri. Bruno adalah paradoks di sistem 4-2-2-2. Tak ayal, ia tidak dipercaya Rangnick ketika Manchester United memetik kemenangan atas Burnley 3-1.

Belum selesai, Bruno kembali dicadangkan saat MU menghadapi Wolves. Kala itu, Rangnick lebih memilih memasang pemain bertipe sayap murni, seperti Sancho dan Greenwood di format 4-4-2.
Namun begitu, Bruno Fernandes masih diberi kesempatan ketika MU bertemu Aston Villa di Piala FA pada 11 Januari 2022 kemarin. Pelatih asal Jerman yang menerapkan skema 4-2-3-1, menjadikan Bruno sebagai satu-satunya pemain nomor 10 dalam skema itu. Dan, kebetulan saat itu Ronaldo tidak bermain.

Pertandingan terakhir MU itu menjadi semacam titik balik peran Bruno Fernandes. Bruno akhirnya kembali ke posisinya, meskipun tidak mencetak gol. Paling tidak, perannya sebagai “center of point” permainan MU seperti di musim lalu kembali terlihat. Tersingkirnya Ronaldo di match melawan Aston Villa tersebut bisa jadi faktor yang membuat Bruno Fernandes kembali ke peran terbaiknya.

Well, kedatangan Ronaldo, serta perubahan taktik Rangnick menjadi dua faktor penting bagi menurunnya peran Bruno selama ini. Hal itu menjadi semacam dilema, karena MU awalnya sangat optimis menduetkan Bruno dan Ronaldo, tapi yang terjadi sebaliknya. Salah satu dari dua pemain itu memang harus dipadamkan dulu apinya.

Pun soal peran berbeda yang diemban oleh Bruno di era Rangnick. Dulu, Ole lebih mengedepankan peran seorang playmaker “ortodoks” nomor 10 dari segi penyerangan dan itu cocok bagi Bruno. Peran yang pas bagi Bruno dalam pola permainan 4-2-3-1 ala Ole.

Sementara, strategi Rangnick yang menuntut kolektivitas antar gelandang, serta pressing tinggi belum mampu dieksekusi oleh Bruno sejauh ini. Hasil-hasil mengecewakan peran pribadi seorang Bruno menjadi bukti kalau dia tak berguna di era Rangnick. Hmmm… untuk mengembalikan peran Bruno, apa mungkin dengan memunculkan #rangnickout, dan memanggil kembali Ole Gunnar Solskj

Sumber Refernsi : manchestereveningnews, mirror, unitedfocus, fourfourtwo, livescore

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru