Dua gol cepat Marcel Sabitzer di laga perempat final Europa League kontra Sevilla belum cukup untuk membawa Manchester United ke tempat aman di semifinal. Pasalnya, kemenangan United digagalkan oleh dua gol bunuh diri konyol Tyrell Malacia dan sang kapten, Harry Maguire. Laga pun harus berakhir imbang 2-2 di Old Trafford.
Sabitzer tentu kecewa, performa apiknya dibuyarkan oleh rekan-rekannya sendiri. Meski demikian, performa gelandang berkebangsaan Austria itu tetap patut diapresiasi. Meski hanya sebagai pemain pinjaman, Sabitzer menjawab kebutuhan tim.
Selebrasi dan senyuman yang terpancar mencerminkan kalau Marcel Sabitzer sudah nyaman bermain untuk Manchester United. Meski begitu, hingga saat ini masa depannya di Old Trafford masih abu-abu. Lantas apa lagi yang harus dibuktikan Sabitzer? Beberapa poin berikut bisa jadi alasan yang cukup bagi United untuk mempermanenkannya.
Daftar Isi
Datang Sebagai Pemain Pinjaman
Selain karena minim bajet, sebuah ketidaksengajaanlah yang membawa Marcel Sabitzer ke Inggris. Tekel horor Andy Carroll yang menyasar pergelangan kaki Christian Eriksen di laga lanjutan Piala FA kontra Reading akhir Januari lalu jadi momen yang membuat Manchester United tergerak untuk mendatangkan gelandang lagi.
Karena Eriksen harus absen hingga bulan April, United dengan cepat memanfaatkan sisa waktu bursa transfer musim dingin untuk mencari gelandang lain guna menambal lubang yang ditinggalkan oleh pemain bernomor punggung 14 tersebut. Berbagai nama seperti Daichi Kamada, Isco, hingga Ryan Gravenberch sempat muncul sebagai opsi. Namun Marcel Sabitzer yang dirasa paling ideal.
Negosiasi antara Manchester United dengan Bayern Munchen berlangsung cepat. Sabitzer akhirnya merapat dengan status pinjaman hingga akhir musim. Menariknya United hanya meminjam Sabitzer tanpa mencantumkan klausul pembelian di akhir masa peminjaman.
Ten Hag mengungkapkan kenapa dirinya lebih memilih Sabitzer ketimbang beberapa opsi lain. Ia sudah mengikuti sepak terjang sang pemain sejak lama. Menurutnya, Sabitzer memiliki sikap yang baik serta berada di situasi dan usia yang tepat. Jadi, Ten Hag yakin kesempatan ini akan memotivasi sang pemain untuk tampil maksimal di United.
Langsung Nyetel
Alasan pertama adalah kecepatan sang pemain untuk beradaptasi. Didatangkan dengan status pinjaman membuat manajemen Setan Merah tak berharap banyak pada Sabitzer. Yang penting mereka punya pengganti saat Christian Eriksen tak bisa tampil lantaran cedera. Ternyata performa Sabitzer di luar ekspektasi. Tak butuh waktu lama baginya untuk melebur dalam skema permainan Erik Ten Hag.
Pada laga debutnya, Sabitzer memang tak langsung menjadi pilihan utama Ten Hag. Ia hanya bermain sembilan menit kala United menjamu Crystal Palace di Old Trafford. Namun, pembuktian sesungguhnya hadir di dua laga kontra Leeds United. Ketika diturunkan sejak menit pertama menggantikan Casemiro yang masih menjalani hukuman kartu merah, Sabitzer tampil gemilang.
Meski baru pertama kali bermain di liga yang memiliki tempo cepat, Sabitzer tampil dengan percaya diri. Ia bahkan jadi otak permainan Manchester United di dua laga tersebut. Berduet dengan Fred, pergerakan Sabitzer lebih bebas di sepertiga area pertahanan lawan. Ia bahkan sesekali mengancam gawang Ilan Meslier melalui sepakan kerasnya.
Kecerdasan dalam mencerna setiap instruksi pelatih membantu Sabitzer beradaptasi di MU. Sabitzer jadi pemain baru tapi rasa lama. Meski baru datang, penampilannya langsung nyetel dengan rekan-rekan satu tim. Faktor ini tentu bisa jadi pertimbangan United untuk mempermanenkan sang pemain di akhir musim nanti.
Gelandang Serba Bisa
Selain beradaptasi dengan cepat, alasan lain untuk mempermanenkan Marcel Sabitzer adalah kemampuannya dalam memainkan berbagai peran di lini tengah. Tak mengherankan karena saat masih di Jerman, Sabitzer terbiasa bermain di berbagai posisi. Ia bahkan pernah bermain sebagai gelandang serang dan bek kiri.
Namun Sabitzer lebih dikenal sebagai mesin pressing dalam skema high press saat bermain di RB Leipzig. Sayang, ketika di Bayern Munchen ia hanya berstatus sebagai pemain pelapis. Jadi potensinya kurang terlihat.
Ten Hag menyadari kualitas yang dimiliki Sabitzer. Pemain berpaspor Austria itu menunjukan fleksibilitasnya di Manchester United. Ketika bertahan, tekelnya lugas dan posisinya selalu tepat untuk menutup jalur bola pemain lawan. Ia bahkan mencatatkan 2,8 tekel per laga musim ini.
Namun, Sabitzer bukan sekadar gelandang yang doyan nguber bola. Saat dibutuhkan, kemampuannya dalam mengirimkan umpan juga luar biasa. Ketika berduet dengan Fred, Sabitzer akan mengalirkan bola ke depan melalui umpan-umpan progresif. Sesekali bahkan ia melayangkan sepakan jarak jauh apabila menghadapi tim yang memasang garis pertahanan rendah.
Contohnya saja saat imbang 2-2 melawan Leeds United. Menurut Sofascore, Sabitzer mencatatkan akurasi umpan yang cukup tinggi yakni 84%. Selain itu, meski tak bermain 90 menit penuh ia mampu menciptakan tiga umpan kunci yang salah satunya berakhir menjadi gol Marcus Rashford.
Tak hanya bertahan dan distribusi bolanya saja yang keren, naluri menyerangnya juga sangat baik. Ketika Casemiro tampil, ia bisa memainkan peran sedikit lebih ke depan. Contohnya saja di laga perempat final Europa League kontra Sevilla. Bermain di belakang Anthony Martial, Sabitzer berhasil memborong dua gol sekaligus di laga tersebut.
Passion!
Seperti yang sudah disampaikan tadi, Sabitzer ini pemain baru tapi rasa lama. Berstatus pemain pinjaman tidak membuat Sabitzer bermain ala kadarnya. Ia menunjukan kualitas dan semangat yang berbeda. Teriakan dan selebrasi heboh ketika tim mencetak gol menandakan kalau Sabitzer bermain dengan hati di setiap pertandingan.
Mengingat hal-hal non teknis seperti ini sudah lama hilang dari identitas Manchester United. Pemain-pemain yang menunjukan dedikasi, mental petarung, serta semangat yang meledak-ledak seperti Sabitzer harus dirawat dengan baik oleh klub.
Perlu diketahui, bermain menggunakan hati dapat meningkatkan daya juang tim dan pemain itu sendiri dalam berkompetisi. Hal ini sudah ditunjukan oleh beberapa pemain Setan Merah seperti Scott McTominay, Bruno Fernandes, hingga Lisandro Martinez. Dan tampaknya semangat itu menjalar ke Sabitzer.
Opsi Paling Realistis
Tapi bagaimana dengan situasi kontraknya? United kan tak memiliki opsi pembelian di akhir musim? Dilansir Manchester Evening News, Manchester United mulai kesengsem dengan apa yang sudah dilakukan Sabitzer sejauh ini. Bahkan Ten Hag dilaporkan akan berupaya menekan manajemen untuk mengubah kesepakatan pinjaman menjadi permanen di musim panas mendatang.
Upaya Manchester United sepertinya tidak akan menemui perlawanan dari pihak Bayern Munchen. Sebab Sabitzer bukan pilihan utama di lini tengah The Bavarian. Mantan punggawa RB Leipzig itu hanya menjadi pilihan keempat di bawah Joshua Kimmich, Leon Goretzka, dan Ryan Gravenberch.
Namun, karena sang pemain masih terikat kontrak dengan Bayern hingga tahun 2025 mendatang, mempermanenkan Sabitzer tentu tak akan gratis. Tim langganan juara Bundesliga itu diperkirakan akan menuntut sekitar 25 juta pounds atau sekitar Rp459 miliar apabila United serius ingin menebus Sabitzer.
25 juta pounds tentu bukan angka yang tinggi bagi klub sekelas Manchester United. Daripada mengejar pemain-pemain mahal yang nggak tahu bakal cocok atau tidak bermain di Liga Inggris dan Manchester United, mending mempermanenkan Marcel Sabitzer yang sudah lolos quality control.
Sumber: Sky Sport, MEN, Metro, Daily Mail, Mirror


