Brazil makin kasihan, namun Argentina justru makin melesat. Sebuah catatan penting dari nasib duo raksasa Amerika Latin di beberapa turnamen internasional terakhir. Paling tidak sejak 2019, kedua raksasa tersebut nasibnya berbeda. Lalu apa yang menyebabkannya?
Daftar Isi
Brazil Pasca Copa America 2019
Mari mundur sejenak ke tahun 2019. Sejak tim Samba berpesta di negeri sendiri ketika menjuarai Copa America 2019. Stadion Maracana jadi saksi pasukan Tite menghancurkan Peru di final. Neymar dan kawan-kawan bersuka cita, berpesta merayakan kesuksesan yang direbut kembali. Pasalnya Selecao terakhir kali meraih juara Copa America yakni pada tahun 2007.
ON THIS DAY: In 2019, Brazil beat Peru to win their first Copa America trophy since 2007.
— Squawka (@Squawka) July 7, 2020
An incredible moment for the host nation. 🇧🇷 pic.twitter.com/sxRdVuYUN0
Saking larutnya dalam euforia, Brazil tak menyadari bahwa pesta itu mungkin adalah awal dari keterpurukan. Karena pasca juara mereka terbukti makin menurun secara performa.
Lihat saja di lima laga pasca mereka menjadi juara.
Anak asuh Tite harus seri lawan Kolombia 2-2, lalu kalah atas Peru 1-0. Kemudian Brazil juga imbang lawan Nigeria dan Senegal 1-1, lalu harus kalah 1-0 atas Argentina. Rentetan hasil minor tersebut cambukan bagi Tite. Pasalnya mereka pada tahun 2021 akan kembali menghadapi gelaran Copa America.
Gagal Di Copa America dan Piala Dunia
Bertitel juara bertahan Brazil ditargetkan untuk mempertahankanya di Copa America 2021. Tite dihadapkan kondisi yang serba dituntut sempurna. Pasalnya kondisi terakhir Brazil jelang Copa America 2021 terbukti mulus secara performa. Seperti tak ada kendala untuk mempertahankan gelar juara.
Pada akhirnya, mental Neymar dan kawan-kawan sebagai juara bertahan tak bisa bohong. Meskipun tim Samba sering menang tipis, mereka toh mampu melaju hingga partai puncak. Namun di partai final, Brazil justru ditaklukkan oleh sang rival, Argentina. Gol semata wayang Angel Di Maria memupuskan harapan Brazil untuk meraih back to back gelar Copa America.
ARGENTINA WIN THE 2021 COPA AMERICA AFTER FOUR TRY pic.twitter.com/15jdvTEIzf
— Joker's last laugh⚪ (@SAMASARE23) July 11, 2021
Mirisnya kekalahan itu tidak hanya sebuah kegagalan meraih trofi, melainkan rasa malu. Sebab final tersebut dihelat di rumah mereka sendiri, yakni Stadion Maraca. Tak pelak kekalahan tersebut justru memukul mental para pemain Timnas Brazil. Bahkan sampai terbawa di Piala Dunia 2022.
Brazil gagal total di Qatar. Mereka kalah di perempat final oleh Kroasia. Menurut laporan The New York Times, kekalahan itu merupakan akumulasi sengatan keterpurukan Brazil yang luar biasa sejak Copa America 2021.
Tak Punya Pelatih
Kehancuran Brazil di Piala Dunia 2022 akhirnya membuat umur kepelatihan Tite di Timnas Brazil tamat. Tite dipecat pasca dua kegagalan penting di Copa America maupun Piala Dunia. Pelatih yang sejak 2016 memegang tim Samba itu digantikan sementara oleh Ramon Menezes yang sebelumnya melatih tim U20.
GOOD NEWS: Adenor Tite sacked as Brazil head coach after the game lost against Croatia. It is kwinished! pic.twitter.com/cXRqRbuWMc
— Cornelius K. Ronoh (@itskipronoh) December 9, 2022
Kekosongan juru taktik handal turut membawa tim Samba larut dalam keterpurukan. Apalagi menurut kabar, federasi belum pasti menunjuk pelatih baru dalam waktu dekat. Hasilnya di beberapa laga persahabatan pasca Piala Dunia, Brazil kalah atas Maroko dan Senegal. Jabatan Menezes dicopot. Ia dikembalikan ke tim U20.
Chega Ramon Menezes, que com todo respeito, não tem um trabalho que se qualifique para a principal função do futebol brasileiro
— Guilherme Lopes (@Guilopesf) October 18, 2023
Era interino, ok. Rapidamente a seleção brasileira sentiu falta do comando e das ideias (que hoje também faltam na base) pic.twitter.com/BySTULXnp4
Brazil justru menunjuk pelatih ad interim lainnya. Orang itu adalah Fernando Diniz. Menariknya, Diniz ditunjuk saat ia masih berstatus sebagai pelatih Fluminense. Jadi, Diniz rangkap jabatan. Penunjukan Diniz justru dianggap menimbulkan konflik kepentingan. Misalnya, Diniz membawa serta pemain Fluminense seperti Andre Nino ke tim nasional. Padahal sang pemain belum teruji betul.
Diniz pada akhirnya belum bisa mendongkrak performa tim samba. Di kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Conmebol, mereka hanya bermain imbang 1-1 melawan tim seperti Venezuela dan terakhir kalah 2-0 oleh Uruguay.
Brazil lose their first game in South America since the Copa America final in 2021. 😳 pic.twitter.com/kyg9Zf9HVc
— CBS Sports Golazo ⚽️ (@CBSSportsGolazo) October 18, 2023
Faktor Lain
Selain tidak adanya sosok juru taktik yang paten, menurut The New York Times, perubahan gaya permainan yang jauh dari kata Jogo Bonito juga mempengaruhi performa Timnas Brazil. Gaya permainan yang lebih andalkan kedisiplinan dan kolektivitas tim malah membuat mereka hilang identitas aslinya.
Brazil malah mirip seperti tim-tim Eropa pada umumnya. Padahal kekuatan terbesar mereka menguasai dunia beberapa dekade lalu adalah bakat individunya. Maka dari itu, Brazil ngebet datangkan Carlo Ancelotti. Mereka menganggap Ancelotti adalah pelatih yang mengedepankan kekuatan para individu pemainnya.
🚨⚪️ Ancelotti: “Agreement with Brazil? It’s all about rumors, links… I feel very good at Real Madrid as things stand”.
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) October 16, 2023
“We started our season in excellent way and we hope to keep going at same level”, told Radio1. pic.twitter.com/FeF2T5T0la
Selain itu, ada juga faktor beban dan ekspektasi yang tinggi terhadap mereka. Tak dipungkiri dengan materi kelas dunia yang merata, mereka selalu menjadi unggulan di semua kompetisi. Hal itu ternyata membuat para bintang mereka penuh tekanan.
Ketidakmampuan Neymar sebagai orang yang diharapkan mampu menggendong Brazil juga jadi faktor. Brazil sudah terlalu lama menantikan mega bintangnya setelah Ronaldo, Rivaldo, maupun Ronaldinho yang bisa raih gelar juara dunia.
Ada juga analisis yang menyebutkan bahwa kemunduran Brazil ini berkaitan dengan kualitas liga domestiknya yang buruk. Hal ini berkaitan dengan bakat-bakat muda lokal yang sudah sedari dini memilih mengembangkan permainannya di Eropa.
Argentina Pasca Copa America 2019
Berbeda dengan seterunya, Argentina. Tim Tango malah kini makin gaspol berprestasi sejak kegagalannya di Copa America 2019. Ditangani juru taktik lokal, Lionel Scaloni sejak 2018, perlahan La Albiceleste bangkit dari keterpurukan.
Tak dipungkiri Argentina sudah lama mendambakan mega bintangnya Lionel Messi meraih gelar juara. Ketergantungan selama ini kepada Messi sangatlah tinggi. Mungkin hal itu adalah penghambat bagi mereka. Sejak Scaloni hadir, hal itu mulai dikikis.
Messi memang masih menjadi ikon di dalam tim. Tapi secara permainan, Messi berubah fungsi menjadi pemain yang dilindungi mati-matian oleh rekan-rekannya. Scaloni mampu membangun sistem yang sering disebut “bermain bersama Messi”. Jadi, Messi tak lagi ngoyo untuk berjuang sendirian. Menurut Scaloni, tak layak beban tinggi meraih trofi hanya dibebankan pada Messi seorang.
In 2018, Lionel Scaloni took over a broken Argentina squad that had lost three straight finals and had just been eliminated in the round of 16 of the 2018 World Cup.
— B/R Football (@brfootball) December 13, 2022
He won the Copa America in 2021, their first trophy since 1993.
He's one win away from the World Cup.
👏 pic.twitter.com/VnbQRYM8wR
Juara Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022
Betapa gembiranya rakyat Argentina menantikan trofi yang tak lagi diraih sejak 28 tahun silam. Sistem yang dibangun Scaloni tersebut berbuah hasil di Copa America 2021. Bukan gol dari Messi, melainkan gol semata wayang Di Maria yang menghancurkan Brazil di markas mereka sendiri.
Kesuksesan Argentina meraih trofi Copa America membuat Messi dan seluruh rakyat Argentina menangis gembira. Messi akhirnya mampu mewujudkan mimpinya mendapatkan trofi ketika berseragam Albiceleste.
Argentina weren’t playing as a team before the Copa 2021. When Copa got started everyone was united. Every players were so desperate to win something for Argentina & Messi.
— Tulip (@tulipfcb) February 20, 2023
Winning Copa America made the players & fans believe that this Argentina team could win the World Cup also pic.twitter.com/wBxzOexyzc
Namun Argentina dan Scaloni tak puas diri pasca jadi juara. Mereka tetap gaspol. Bahkan dilansir These Football Times, Argentina terlalu superior jelang Piala Dunia 2022. Bayangkan mereka tak terkalahkan sejak terakhir kali kalah atas Brasil di semifinal Copa America 2019.
Mereka baru kalah lagi atas Arab Saudi di laga pembukaan Piala Dunia 2022. Namun di balik kekalahan tersebut, mereka terbukti cepat berbenah. Sampailah pada laga puncak Piala Dunia 2022 yang penuh drama. Ya, Messi akhirnya benar-benar bisa menyamai pencapaian Maradona mengangkat trofi Piala Dunia setelah mengalahkan Prancis di final.
🚨BREAKING NEWS: On the 14th of December, 2023, a movie about how Lionel Messi and Argentina won the Qatar 2022 World Cup which is titled “I Choose To Believe” will be released in cinemas pic.twitter.com/TEFXeJcyY1
— Prince (@Prin__ceee) October 16, 2023
Belum Terkalahkan Maupun Kebobolan
Sejak euforia kemenangan bersejarah itu pun, Argentina tak cepat puas. Mereka terus berbenah dan berinovasi di bawah Scaloni. Kerangka tim yang sudah solid terus dipertahankan. Baik dengan Messi maupun tidak.
Hasilnya masih tokcer. Mereka belum lagi terkalahkan, paling tidak hingga babak kualifikasi Piala Dunia 2026 Bulan Oktober. Terakhir kali mereka menang atas Peru 2-0. Bahkan nih, mereka belum lagi kemasukan gol sejak terakhir kali kemasukan gol dari Prancis di final Piala Dunia 2022.
Argentina in World Cup qualifying:
— B/R Football (@brfootball) October 18, 2023
🔹 Four matches
🔹 Four wins
🔹 Seven goals scored
🔹 Zero goals conceded
🔹 Only perfect team left
The world champs keep on flying high 🇦🇷 pic.twitter.com/IJtCPoG1kH
Ya, sistem yang dibuat Scaloni sejak ia menangani Argentina bertuah. Berbeda dengan Brazil yang amburadul dengan segala macam masalah. Well, perbedaan nasib duo raksasa ini patut untuk dicatat dan dipantau ke depannya. Apakah Brazil akan terus merana dan Argentina akan terus melesat?
Sumber Referensi : newyorktimes, thesefootballtimes, copaamerica, eightyfifth


