Pierre Emerick Aubameyang, masih menjadi salah satu bahasan terpanas di kompetisi Liga Primer Inggris. Klub tempatnya bernaung, Arsenal memilih untuk mencopot ban kapten dari Aubameyang.
Ia dicopot dari posisi kapten karena dianggap telah melakukan tindakan indisipliner. Auba disebut melanggar aturan yang sudah disepakati bersama dan akibatnya merusak keharmonisan tim. Meskipun Arsenal sendiri tidak menjelaskan secara detail apa saja kesalahan yang dilakukan Aubameyang.
Namun beberapa saat, The Athletic kemudian melaporkan apa kesalahan yang dilakukan Aubameyang. Menurut laporan The Athletic, bekas pemain Borussia Dortmund itu sempat diberi izin untuk terbang meninggalkan London karena alasan personal. Namun dia kemudian terlambat kembali karena aturan protokol kesehatan hingga membuatnya harus melewatkan latihan tim.
Juru taktik The Gunners, Mikel Arteta mengaku ini adalah keputusan sulit. Namun, bagaimanapun hal itu harus dilakukan. Apalagi ini bukan kali pertama Aubameyang membandel.
Di laga melawan Southampton beberapa waktu lalu, Aubameyang juga tidak diikutkan ke dalam tim karena masalah serupa. Jadi rasanya wajar kalau Arteta menyebut Aubameyang sangat tidak layak menyandang status sebagai kapten Arsenal.
“Those decisions are tough”
Mikel Arteta confirms Pierre-Emerick Aubameyang will MISS the Leeds game and explains how difficult it was to strip him of the Arsenal captaincy pic.twitter.com/KwU7CY8R9v
— The Sun Football ⚽ (@TheSunFootball) December 17, 2021
Dari bulan November lalu, penunjukkan Aubameyang sebagai kapten oleh pelatih Unai Emery memang bermasalah. Sang pelatih tidak berkonsultasi dulu kepada para pemain lain, sehingga membuat mereka marah. Terlebih saat menyandang ban kapten, Auba justru terlibat sejumlah kontroversi.
Dia disebut memiliki hubungan baik dengan AFTV, yakni saluran yang dibuat khusus oleh para penggemar Arsenal. Saluran ini sering menyampaikan kritik kepada tim. Aubameyang kedapatan sering menyukai postingan yang diunggah AFTV, dan itu dianggap tidak pantas karena dia adalah kapten. Bukan hanya itu, Auba juga sering datang terlambat ketika latihan.
Aubameyang hanya menambah deretan kapten Arsenal yang bernasib apes. Ban kapten Arsenal memang terkenal keramat. Dulu, sebelum era Aubameyang, banyak sudah pemain Arsenal yang bernasib kurang menyenangkan setelah diberi mandat sebagai kapten. Siapa saja mereka?
Granit Xhaka
Tahun 2019 Granit Xhaka resmi menggantikan Laurent Koscielny sebagai kapten Arsenal. Namun, tidak lama kemudian, Xhaka langsung mendapat masalah yang membuatnya sampai dibenci para penggemar.
Penampilan Xhaka terus dikritik. Dia disebut menjadi biang keladi kegagalan Arsenal dalam meraih kemenangan di beberapa laga beruntun. Puncaknya, pada Oktober 2019, dia mengecam balik pendukung dan melepas jersey saat ditarik dalam pertandingan melawan Crystal Palace. Dari situ fans semakin geram dan memaksa Emery untuk segera melakukan pemilihan kapten baru.
Pada awal November 2019, Emery kemudian mengonfirmasi bahwa Xhaka tidak akan lagi menjabat sebagai kapten Arsenal. Xhaka yang dinilai tidak punya sikap baik sebagai seorang pemimpin langsung dilengserkan. Ketika itu muncul nama Aubameyang serta Hector Bellerin sebagai calon pengganti.
Jeers, boos, tears, and the rest. The sorry tale of the public clash between Granit Xhaka and Arsenal’s fans. The devastated player was visited at home last night by three senior players. Not an easy one for Arsenal to move on from. https://t.co/SV6SpkshKk
— Amy Lawrence (@amylawrence71) October 28, 2019
Laurent Koscielny
Agustus 2019 Arsenal mengkonfirmasi kepergian kapten mereka, Laurent Koscielny ke klub asal Prancis, Bordeaux.
Keputusan Laurent Koscielny minggat dari Arsenal pun diliputi komentar penuh kekecewaan dari sebagian suporter. Betapa tidak? Koscielny meninggalkan Arsenal secara tiba-tiba dan terkesan menimbulkan drama.
Dia sempat menolak ikut rombongan tim yang bakal melakoni tur pra musim ke Amerika. Karena sikapnya itu, para penggemar pun kemudian memilih untuk membiarkan sang kapten pergi. Walaupun sejatinya mereka mengharapkan Koscielny untuk tetap bertahan.
Gallas: sat on the pitch after conceding a goal
Fabregas: forced through a move to Barcelona
Van Persie: publicly expressed desire to leave
Koscielny: refused to travel on pre-season tour
Xhaka: verbal clashes with fans after being booedIt’s hard being Arsenal captain 🙃 pic.twitter.com/ImIDnnXXIi
— B/R Football (@brfootball) October 28, 2019
Per Mertesacker
Bek asal Jerman, Per Mertesacker, sudah bergabung dengan Arsenal sejak tahun 2011. Dia sempat menjadi andalan di lini belakang hingga membuat Arsene Wenger percaya untuk menaruh ban kapten di lengannya. Akan tetapi, keputusan sang profesor sempat membuat para penggemar kesal lantaran Mertesacker dianggap bukanlah sosok yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin.
Selain ketidakpercayaan penggemar terhadap Mertesacker, pria jangkung yang mulai ditunjuk sebagai kapten sejak 2016 itu, juga mulai memperlihatkan performa tak memuaskan. Inti dari masalah penurunan performa yang ditunjukkan adalah cedera.
Tercatat selama menjabat sebagai kapten dari tahun 2016 sampai 2018, Mertesacker hanya tampil dalam 14 pertandingan saja. Usai tak lagi jadi andalan, apalagi dipercaya menjadi kapten, dia memilih pensiun sebagai pesepakbola profesional.
Arsène Wenger confirms Per Mertesacker will be out for “a few months” with a knee injury. #UCL pic.twitter.com/RPSzaUGba3
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) July 27, 2016
Thomas Vermaelen
Thomas Vermaelen didatangkan Arsenal dari Ajax Amsterdam tahun 2009 silam. Sang pemain asal Belgia punya potensi terbaik untuk jadi andalan. Hal itu dibuktikannya dengan penampilan yang cukup konsisten dalam beberapa musim pertamanya.
Pada tahun 2012, Thomas Vermaelen ditunjuk menjadi kapten Arsenal menggantikan peran Robin van Persie. Penunjukkan Vermaelen sebagai kapten pun tampak logis, karena memang dia selalu tampil prima dan punya mental seperti seorang pemenang.
Namun dasar ban kapten keramat, usai menjabat sebagai kapten, performanya justru terbilang menurun. Dia seolah mendapat kutukan sebagai kapten Arsenal dengan diterjang banyak cedera. Karena masalah tersebut, dia kemudian dilepas ke Barcelona sebelum akhirnya merapat ke klub Jepang, Vissel Kobe.
€19m for Vermaelen. Nineteen fucking million for a 28 year old injury prone Arsenal backup centre back. Holy shit.
— Rafael Hernández (@RafaelH117) August 8, 2014
Mikel Arteta
Mikel Arteta yang kini berstatus sebagai pelatih Arsenal, menjadi sosok yang meneruskan tongkat estafet dari Vermaelen sebagai kapten The Gunners.
Namun, tak jauh berbeda dari Vermaelen, Arteta juga mengalami masalah yang sama. Cedera menjadi momok menakutkan bagi pemain asal Spanyol. Hasilnya, Arteta jarang mendapat kesempatan bermain karena kondisinya terus mengalami penurunan. Arteta yang seharusnya hadir sebagai sosok pemimpin malah mendapati karir sepakbolanya habis usai menjabat sebagai kapten Arsenal.
Pada tahun 2016, Arteta putuskan pensiun untuk gabung ke staf kepelatihan Manchester City, sebelum akhirnya kembali ke Emirates Stadium hingga sekarang.
🔴The “curse” of the Arsenal captaincy
Henry: Left for Barca
Gallas: Stripped
Fabregas: Left for Barca
RvP: Left for Utd
Vermaelen: Lost place, left for Barca
Arteta: Injuries, hardly played
Per M: Injuries, hardly played
Koscielny: Went on strike
Xhaka: Stripped
Auba: Stripped— Sam Dean (@SamJDean) December 14, 2021
William Gallas
William Gallas disebut sebagai pembawa kutukan kapten Arsenal. Dia menjadi penerus Thierry Henry sebagai kapten Arsenal pada tahun 2007. Namun, keputusan ini banyak tidak disukai fans hingga berpengaruh ke ruang ganti.
Gallas merupakan sosok yang mudah emosi dan meledak karena hal kecil. Di laga melawan Birmingham, ia sempat menendang papan iklan dan menolak keluar lapangan usai pertandingan. Di ruang ganti, ia juga ribut dengan Gilberto Silva, dan mengecam beberapa pemain muda dalam sebuah wawancara.
Karena berperilaku buruk, ban kapten Gallas dicopot dan diberikan kepada Cesc Fabregas.
Jens Lehmann has said that making William Gallas captain represented one of the biggest mistakes of Arsene Wenger’s entire spell as Arsenal boss… pic.twitter.com/oRFACPSDIK
— AFTV (@AFTVMedia) November 15, 2017
Cesc Fabregas
Fabregas adalah sosok muda yang begitu dicintai penggemar. Dia berbakat dan disebut menjadi masa depan cerah Arsenal. Akan tetapi, semua berubah ketika ban kapten mulai melingkar di lengannya. Fabregas yang menerima ban kapten Arsenal di usia 21 tahun mulai mengalami banyak cedera.
Selain itu, dia juga mulai dirumorkan pindah ke Barcelona. Hal itu sangat mengganggu kariernya di Arsenal. Fabregas dianggap tidak betah bertahan di London dan menginginkan hengkang. Apalagi dia pernah terlihat liburan meski klub baru saja mendapatkan hasil imbang.
Dengan segala rumor dan permasalahan yang terjadi, Fabregas benar-benar pergi dan menyerahkan ban kapten Arsenal ke tangan Robin van Persie.
Fabregas. Captain of FC Loyalty. pic.twitter.com/1HdIBYgrwV
— FootballFunnys (@FootballFunnnys) September 19, 2014
Robin van Persie
Robin van Persie, yang sama-sama jadi andalan Arsenal, juga ternyata tak kuasa membendung kutukan kapten Arsenal.
Dia dipercaya mengenakan ban kapten setelah menikmati musim terbaiknya pada musim 2011/12, 30 gol di Premier League dibungkus Van Persie. Namun Arsenal justru mendapat hal yang tidak mengenakkan.
Mereka terlibat permasalahan dengan kontrak van Persie hingga membuat pemain andalan itu malah membelot ke Manchester United.
“When Robin van Persie left, yeah, I was devastated. I think he had just scored 30 goals the season before and he was our captain, he was massive. Especially when he went to United. It was like, ‘argh’”
– Jack Wilshere pic.twitter.com/G97H8h5k1x
— AFTV (@AFTVMedia) May 27, 2020


