Dalam beberapa tahun terakhir, FIFA terus berinovasi dan memanfaatkan berbagai teknologi untuk menunjang pertandingan sepak bola. Mulai dari Goal-line technology, VAR, hingga yang terbaru Semi-automated offside technology yang secara resmi mulai digunakan di Piala Dunia Qatar 2022.
Tujuan utama dari penggunaan teknologi tersebut adalah untuk membantu wasit mengambil keputusan serta mencegah hasil kontroversial yang kerap terjadi dalam sebuah pertandingan. Namun nyatanya, penggunaan berbagai teknologi tadi tetap tidak menjamin 100% sebuah pertandingan lepas dari kontroversi. Sebab, pada akhirnya keputusan akhir tetap keluar dari peluit dan tangan wasit yang bertugas.
🏆⚽🇳🇱Netherlands 2-2 🇦🇷Argentina (3-4 after penalties)
Argentina qualifies to the semifinals of the World Cup after defeating the Netherlands 4-3 on penalties, at the World Cup in Qatar, Dec. 9, 2022. pic.twitter.com/iat1fBMSiE
— Voice of America (@VOANews) December 9, 2022
Hujan Kartu di “Battle of Lusail”
Seperti yang baru-baru ini terjadi di Piala Dunia 2022, tepatnya di laga perempat final antara Belanda vs Argentina yang digelar di Lusail Iconic Stadium pada 9 Desember 2022. Dalam laga yang bertajuk “Battle of Lusail” tersebut, terjadi banyak drama dan insiden yang tersaji baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.
Tak bisa dipungkiri kalau laga ulangan final 1978 dan semifinal 2014 tersebut memang berjalan dengan tensi panas. Diawali dengan pernyataan kontroversial Louis van Gaal yang dianggap Lionel Messi telah merendahkan Argentina. Pelatih Belanda tersebut juga sesumbar bisa memenangi laga jika terjadi adu penalti, sebuah pernyataan yang membuat Emiliano Martinez kebakaran jenggot.
Di lapangan, aksi Leandro Paredes yang menendang bola ke arah bench Belanda usai menekel keras Nathan Ake jadi pemicu berbagai insiden lainnya. Seperti selebrasi Argentina yang mengejek pemain Belanda usai menang adu penalti. Belum lagi hinaan Lionel Messi kepada Wout Weghorst di lorong pemain. Sebelumnya, La Pulga juga terlibat konfrontasi dengan tim pelatih Belanda.
Akan tetapi, yang jadi headline di “Battle of Lusail” adalah banyaknya kartu yang diberikan wasit kepada kedua tim. Sebanyak 15 pemain dan dua ofisial tim dihadiahi kartu kuning. Wasit asal Spanyol, Antonio Miguel Mateu Lahoz, jadi fokus lain di laga tersebut karena total mengeluarkan 18 kartu kuning.
Memang, laga tersebut diwarnai 30 pelanggaran dari Belanda dan 18 pelanggaran dari Argentina. Namun, Mateu Lahoz dianggap terlalu ringan tangan dalam memberi kartu. Berbagai keputusan wasit asal Spanyol itu juga dinilai kontroversial hingga membuat “Battle of Lusail” memecahkan rekor sebagai pertandingan paling kotor dalam sejarah Piala Dunia.
Netherlands: 30 fouls, 8 yellow cards, 1 red card (Dumfries at 129th min)
Argentina: 18 fouls, 8 yellow cards, 0 red
They kept fighting throughout the match and even after the final whistle. pic.twitter.com/atIRe4yG5R
— 🏴☠️ NOMAD D. ISLAMIST 🏴☠️ (@nomad_islamist) December 9, 2022
Antonio Miguel Mateu Lahoz, Wasit Kontroversial dari Spanyol
Atas berbagai keputusannya yang dianggap kontroversial, kepemimpinan Mateu Lahoz di laga Belanda vs Argentina tersebut mendapat berbagai kritik. Salah satu yang paling keras datang dari Lionel Messi yang mengungkapkan kemarahannya terhadap kepemimpinan Mateu Lahoz.
“Saya tidak ingin berbicara tentang wasit karena setelah itu mereka akan menghukummu. Tetapi orang-orang melihat apa yang terjadi. Saya pikir FIFA harus mengurus ini, mereka tidak bisa menempatkan wasit seperti itu untuk pertandingan sebesar dan sepenting itu. Wasit tidak bisa gagal untuk melakukan tugasnya. Kami takut sebelum pertandingan karena kami tahu seperti apa dia,” kata Lionel Messsi dikutip dari Daily Mail.
Pada intinya, kepemimpinan Mateu Lahoz di laga tersebut tak disukai oleh kedua belah pihak, baik Argentina maupun Belanda. Tak butuh lama, FIFA kemudian membuat keputusan untuk memulangkan Antonio Miguel Mateu Lahoz ke Spanyol dan memastikan kalau laga perempat final Piala Dunia 2022 antara Belanda vs Argentina jadi tugas terakhirnya di Qatar.
Antonio Mateu Lahoz has been sent home.
He will not referee any further games at the World Cup. pic.twitter.com/O08hHvBgrM
— Football España (@footballespana_) December 12, 2022
Qatar sendiri merupakan Piala Dunia kedua bagi Mateu Lahoz setelah memimpin 2 pertandingan fase grup di Piala Dunia 2018. Sebelum jadi pusat perhatian di “Battle of Lusail”, wasit berusia 45 tahun itu menjadi pengadil utama di laga penyisihan grup antara Qatar vs Senegal dan Iran vs USA.
Tak ada kartu merah yang dikeluarkan Lahoz di dua laga tersebut, tetapi ia mengeluarkan 6 kartu kuning di laga Qatar vs Senegal dan 4 kartu kuning di laga Iran vs USA. Sebuah jumlah yang cukup banyak bukan?
Namun, sebetulnya itu bukanlah hal yang mengejutkan. Dari data yang dihimpun Whoscored, Lahoz rata-rata memberi 30,33 pelanggaran di hanya 3 pertandingan yang ia pimpin di Piala Dunia 2022.
Masih dari sumber yang sama, sepanjang kariernya, Mateu Lahoz tercatat telah memimpin 334 laga di level tertinggi. Selama itu, ia telah memberi 1542 kartu kuning dan mengeluarkan 67 kartu merah.
Sebelum membuat sensasi di laga Belanda vs Argentina, Mateu Lahoz juga telah sering membuat keputusan kontroversial di beberapa pertandingan yang ia pimpin. Salah satu yang paling kontroversial terjadi di laga Liga Europa musim lalu antara Rangers dan Borussia Dortmund.
Lahoz dianggap membuat salah satu keputusan terburuk dalam sejarah Liga Europa ketika menganulir gol Ryan Kent yang membuat Rangers unggul 3-2 di menit ke-67. Usai melihat VAR, Lahoz menganulir gol tersebut karena menganggap telah terjadi pelanggaran terlebih dahulu kepada Emre Can sebelum Alfredo Morelos mengirim umpan ke Ryan Kent.
Ciri Khas Unik Antonio Miguel Mateu Lahoz: Suka Jadi Pusat Perhatian
Dua kejadian tersebut tentu membuat orang-orang penasaran tentang sosok Antonio Miguel Mateu Lahoz. Wasit asal Spanyol tersebut sebetulnya sudah memiliki pengalaman selama 14 tahun sebagai wasit. Sayangnya, akhir-akhir ini reputasinya makin memburuk.
Sebelum jadi wasit, ia adalah seorang guru penjas. Namun, kini Mateu Lahoz bisa dibilang sebagai wasit paling populer di Spanyol. Pria kelahiran Valencia, 12 Maret 1977 tersebut sudah memimpin pertandingan La Liga sejak musim 2007/2008. Itulah kenapa Messi tahu betul soal dirinya.
Mateu Lahoz adalah salah satu wasit terunik atau mungkin teraneh di dunia. Lahoz kerap kali datang ke stadion dengan kacamata hitam bak bintang rock n roll. Gayanya tak lazim sebagai wasit. Kedipan mata, seringai, dan acungan jempol jadi gaya eksentriknya ketika mendapat sorotan kamera.
Mateu Lahoz has been sent home and will no longer referee at the World Cup. pic.twitter.com/O2apPDnBpL
— SPORTbible (@sportbible) December 12, 2022
Di atas lapangan hijau, tidak ada wasit yang lebih cerewet dari Mateu Lahoz. Ia suka meladeni protes dari para pemain dan terlibat berbagai pembicaraan, bahkan untuk hal-hal di luar sepak bola, seperti sekadar memberi selamat kepada pemain atas kelahiran anak mereka. Kebiasaan tak lazim tersebut berawal dari kebiasaannya membaca media sebelum pertandingan.
“Bagi saya, membaca apa yang dikatakan di media menjelang pertandingan adalah hal mendasar. Saya ingin tahu bagaimana setiap pemain masuk ke dalam permainan, jika ada tekanan, jika mereka dituduh melakukan diving, berapa banyak kartu kuning yang mereka dapatkan. Saya menghabiskan berjam-jam membaca, menonton video, dan membuat catatan tentang pertandingan saya berikutnya,” kata Mateu Lahoz dikutip dari Tifo Football.
Kebiasaan tersebut memang bagus dan membuat reputasi Mateu Lahoz di awal kariernya di La Liga cukup baik. Jose Mourinho bahkan pernah menjulukinya sebagai “wasit dengan filosofi yang baik”. Namun, makin ke sini, reputasi Lahoz telah berubah sebagai wasit yang terlalu berusaha untuk jadi pusat perhatian di laga yang ia pimpin.
Sebetulnya, hal tersebut bisa dipahami, sebab Lahoz kerap memimpin laga-laga besar seperti final Liga Champions 2021, Euro 2020, hingga El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid. Panggung besar tersebut kemudian ia manfaatkan untuk tampil dengan gayanya yang tak lazim.
Antonio Miguel Mateu Lahoz será o árbitro para a final de Champions League. Tinha que ser ele… pic.twitter.com/0EhoQcnALT
— Man City Brazil (@ManCityBrazil) May 12, 2021
Lahoz seperti punya metodenya sendiri dan sepertinya ia hobi meniup peluit dan menarik kartu dari kantongnya, hanya untuk sebuah pertengkaran atau protes kecil. Karena hal itu, Lahoz acap kali dipanggil sebagai Mike Dean dari Spanyol, seorang wasit kontroversial yang dibenci di Inggris.
Mateu Lahoz juga merupakan tipikal wasit yang membiarkan permainan mengalir apa adanya, memanjakan sisi fisik dari permainan, dan tidak banyak memberi interupsi. Dampak buruknya, ia kerap membiarkan sebuah pelanggaran besar dan meniup peluit di pelanggaran kecil. Alhasil, drama dan aksi teatrikal tanpa bola kerap tersaji di laga yang ia pimpin. Lahoz bak pemimpin keributan seperti yang terlihat di “Battle of Lusail”.
Jadi, bisa dibilang kalau Mateu Lahoz seperti ingin meraih ketenaran dengan membuat panggungnya sendiri di Piala Dunia Qatar 2022. Ya, memang seperti itulah karakter dan ciri khasnya.
Menjengkelkan, unik, dan eksentrik, semua jadi satu paket dalam diri Antonio Miguel Mateu Lahoz. Tak peduli teknologi seperti apa yang dipakai di sebuah pertandingan, selama Mateu Lahoz masih jadi wasit, mungkin masih akan ada pertandingan kontroversial yang akan ia orkestrasi. Jadi, siap-siap saja ya football lovers.
***
Referensi: Sporting News, Daily Mail, The Sports Grail, Whoscored, HITC, Tifo, AS.


