Pada tahun 2017 silam, AC Milan melakukan perubahan besar-besaran. Mereka nyaris melepas semua pemain yang sebelumnya diandalkan, dan membeli setidaknya 11 pemain, dari yang berposisi kiper sampai dengan stiker. Salah satu pemain yang digadang-gadang bakal jadi bintang AC Milan ketika itu adalah Andre Silva. Andre Silva menjadi salah satu pemain yang didatangkan Milan era Yonghong Li. Dia menjadi satu bakat emas yang berhasil didapat Milan dari klub asal Portugal, FC Porto.
Porto sendiri memang mengakui kalau Andre Silva merupakan salah satu bakat yang banyak diinginkan klub Eropa. Saat masih kecil, dia bahkan dijuluki sebagai “Deco” karena memang punya kemampuan untuk mengkreasikan serangan. Silva lebih sering beroperasi di sisi sayap bahkan gelandang serang ketika masih belia. Dengan posisi tersebut, tak jarang dia membantu para penyerang untuk mencetak gol. Maka dari itu, julukan “Deco” yang tersemat pada dirinya pun tampak serasi.
Seperti yang kita tahu, Deco merupakan mantan pemain timnas Portugal yang memang punya kemampuan komplit sebagai seorang gelandang.
Silva yang saat itu bermain untuk tim junior Salgueiros pun bakatnya disadari oleh Porto. Tak lama kemudian, setelah sempat bermain untuk Padroense, Silva direkrut tim muda Porto pada tahun 2011.
Perlahan tapi pasti, dia mulai berkembang menjadi seorang striker dan siap membuang stigma buruk yang banyak menyebut bila Portugal selalu gagal ciptakan penyerang-penyerang ganas.
Andre Silva, yang pada musim 2016/17 berhasil mencetak sebanyak 21 gol dari 44 penampilan bersama Porto lalu sukses menarik minat AC Milan. Tak tanggung-tanggung, pemain yang masih tergolong muda itu digaet dengan banderol senilai 37 juta euro atau setara 631 miliar rupiah. Praktis, Silva menjadi salah satu pembelian terbesar yang pernah dilakukan Milan.
Dengan datangnya Silva, AC Milan berharap kalau lini serang mereka akan semakin baik. Lebih dari itu, Silva bersama dengan pemain anyar lainnya dituntut untuk membawa Milan kembali menuju era kejayaan yang telah lama hilang.
Namun sayangnya, kompetisi Serie A masih terlalu keras untuknya. Silva gagal beradaptasi dan selalu gagal tunjukkan momen impresif pada setiap kesempatan yang diberi. Malah, dia tak jarang mendapat cemoohan dari penggemar karena kerap mengunggah foto dirinya sedang bergaya di sosial media. Para penggemar I Rossoneri banyak yang meminta Andre Silva untuk fokus pada penampilan di dalam lapangan, bukan di luar lapangan.
Hanya semusim bermain untuk Milan, Silva lalu dilepas dengan status pinjaman ke Sevilla. Selama membela klub asal Italia itu, dia hanya mampu ciptakan 2 gol dari 24 penampilan di Serie A, dan 10 gol dari 40 pertandingan di semua kompetisi.
Sebuah catatan yang kurang baik dan berhasil meyakinkan AC Milan untuk melepas sang pemain.
Pada musim 2018/19, Silva dipinjamkan ke Sevilla dengan harapan mampu mengembalikan performa terbaiknya. Namun ternyata, itu semua tidak ada bedanya. Silva memang tampil luar biasa di awal-awal musim bersama klub asal La Liga. Dia mampu mencetak hattrick di laga pembuka dan setidaknya mampu mencetak 7 gol hanya dalam 6 pertandingan saja.
Nahas, kran golnya seketika mampet. Silva tak lagi mampu berjaya dan lebih sering membuang peluang dalam setiap kesempatan yang didapat. Di akhir musim, dia hanya mampu menambah dua gol. Catatan golnya kalah jauh dari Wissam Ben Yedder yang ketika itu menjadi top skor klub dengan raihan 18 gol.
Dengan performa yang bahkan tak mendekati kata lumayan, tidak terbesit sedikitpun niat dari Sevilla untuk mempermanenkan jasa Silva. Hasilnya, Silva bingung tak tau harus kemana. Pulang ke Milan bukan pilihan. Apalagi, mereka sudah dapatkan penyerang yang cukup tajam bernama Krzysztof Piatek. Disana juga terdapat satu bocah asli akademi klub bernama Patrick Cutrone, meski pada akhirnya dilepas ke Wolverhampton Wanderers.
Setelah menunggu beberapa saat, Milan lalu berniat untuk melepas Silva ke Eintracht Frankfurt, dengan syarat mereka menginginkan nama Ante Rebic. Usai dilakukan pembicaraan, keduanya pun sepakat. Silva ke Jerman, sementara Rebic bakal kembali menjajal kompetisi Serie A.
Berada di Frankfurt bukanlah keputusan buruk bagi Silva. Pasalnya, tim ini, setidaknya sejak musim 2016/17 mampu menunjukkan konsistensinya. Mulai dari berhasil meraih gelar DFB-Pokal sampai masuk ke semifinal kompetisi Liga Europa.
Mujur bagi Silva. Dua penyerang mereka, Luka Jovic dan juga Sebastien Haller masing-masing dilepas ke Real Madrid dan West Ham United. Terlebih disana juga dia dibantu oleh pemain sesama Portugal bernama Goncalo Paciencia.
Di musim perdananya, Silva tampil cukup memuaskan. Dia sangat terbantu dengan kehadiran pelatih Adi Huetter. Gaya permainan yang diusung sangat cocok dengannya. Dia tidak hanya berfokus pada mencetak gol saja, namun juga terkadang menyempatkan diri untuk turun ke belakang guna ikut membangun serangan.
Silva berhasil mencetak 12 gol dari 25 laga di liga musim 2019/20. Secara keseluruhan, dia mampu catatkan 16 gol di semua ajang. Hal ini jelas menjadi sebuah peningkatan yang cukup impresif bagi Silva.
Merasa yakin dengan sang penyerang, Frankfurt lalu meminta Silva untuk jadi pemain mereka seutuhnya. Di musim ini, tanpa embel-embel pemain pinjaman, penampilan Silva makin garang. Dia tampil begitu tajam di setiap laga yang dijalani. Bahkan tak hanya itu, dia juga turut membantu rekan-rekan setimnya untuk mencetak gol.
Namanya kini masuk ke dalam jajaran top skor Bundesliga Jerman dengan raihan sebanyak 21 gol dari 25 laga. Dia juga mampu catatkan tiga assist dan melakukan tembakan ke gawang sebanyak 71 kali.
Dalam hal ini, penampilan Silva lebih dari seorang pencetak gol. Dari segi umpan, Silva membuat umpan kunci senilai 0.94 per 90 menit dengan rata-rata umpan ke area kotak 16 lawan sebanyak 1.21 kali per 90 menit. Angka ini jauh meningkat dari saat dia berada di AC Milan, dimana ia hanya mampu ciptakan rata-rata 0.29 kali umpan ke kotak 16, per 90 menit.
Silva kini tampak nyaman berada di Jerman. Dia memiliki hubungan baik dengan banyak orang disana. Sepertinya, dia akan terus bermain gemilang, sebelum tim-tim besar termasuk FC Barcelona yang terus memasang mata, akan membawanya pergi dari Commerzbank-Arena.
Sumber referensi: bolanet, the flanker, indosport


