African Super League Hanya Jadi Alat Politik FIFA?

spot_img

Munculnya ide African Super League memunculkan banyak pertanyaan. FIFA selaku otoritas tertinggi sepakbola seakan tak konsisten dihadapkan dengan penyelenggaraan beberapa kompetisi baru. Kita tahu bahwa ide European Super League beberapa waktu lalu ditolak mentah-mentah oleh FIFA dan UEFA.

Memang sih, banyak protes terhadap munculnya ide European Super League yang konon katanya tak adil itu. Namun kenapa FIFA malah menggolkan adanya African Super League?

Tiba Tiba Muncul Afrika Super League

Memang beda cerita kalau di Afrika ini. African Super League diketok palu oleh FIFA sebagai kompetisi baru yang akan dihelat di Benua Afrika. Kompetisi baru ini nantinya akan diisi klub-klub terbaik di Afrika, yang bakal diselenggarakan di bulan Agustus 2023 mendatang. Dan jangan salah, sebagai prize money-nya akan disediakan sebesar 100 juta dolar (sekitar Rp1,4 triliun).

Presiden CAF, Patrice Motsepe membahas African Super League ini pada pertemuan para komite eksekutif CAF di Maroko, Juli 2022. Melihat sangkut pautnya dengan ide European Super League, Motsepe dan Gianni Infantino selaku presiden FIFA langsung menepisnya. Mereka mengklaim bahwa ide African Super League itu sudah ada sejak 2019 silam.

Sementara, European Super League yang diinisiasi oleh Florentino Perez dan kawan-kawan itu baru ada 2021 lalu. Artinya bagi FIFA, African Super League itu sudah ada duluan idenya dan tidak nyolong ide dari European Super League.

Ide African Super League itu awalnya diusulkan oleh presiden FIFA, Gianni Infantino pada 2019 ketika ia mengunjungi Republik Kongo pada peringatan 80 tahun pembangkit tenaga listrik nasional TP Mazembe. Infantino awalnya berambisi membuat kompetisi itu menjadi kompetisi papan atas dunia. Infantino selain juga akan menyediakan total uang yang signifikan, ia juga berambisi menyuntikan dana untuk perbaikan infrastruktur klub.

Sejumlah besar uang dari African Super League akan diinvestasikan kembali ke sepak bola Afrika. Termasuk pemberian suntikan dana 1 juta dolar (Rp14,9 miliar) setiap tahunnya kepada 54 anggota CAF sebagai kontribusi untuk pengembangan sepak bola.

Tim-tim yang bermain di African Super League juga harus memiliki kualifikasi tim akademi muda dan tim sepakbola wanita. Termasuk seperti Al Ahly, Raja Casablanca, Zamalek, Mamelodi Sundowns, TP Mazembe, dan lainnya. Nantinya di African Super League ini akan ada total 24 tim yang dibagi menjadi tiga grup berdasarkan jangkauan geografis.

African Super League ini akan diadakan di Tanzania. Di mana teknis pemilihan tim dan pembaharuan teknis lainnya termasuk pembagian grup akan dilakukan pada Agustus 2022 mendatang.

Politik FIFA

Nah, setelah ide African Super League itu diketok palu oleh FIFA, sekarang banyak muncul protes mengenai turnamen baru tersebut. Ya, meskipun alih-alih untuk meramaikan jagad sepakbola Afrika, turnamen ini dianggap hanya “mainan” FIFA saja.

Menurut konferensi “play the game” yang diselenggarakan di Odense Denmark, mengatakan bahwa FIFA secara tidak langsung menjadikan Afrika sebagai “boneka” mereka. Dengan memberi prize money, pengembangan fasilitas infrastruktur dan sebagainya, FIFA paling tidak sudah bisa menggenggam suara mereka.

Hal itu bertujuan supaya beberapa agenda penting FIFA dapat serta merta mulus didukung oleh beberapa anggota dari Afrika. Mengingat aturan dalam setiap pengambilan keputusan FIFA yakni “one country, one vote”. Dalam hal ini lebih tepatnya dikenal dengan politik utang budi antara FIFA dan Afrika.

Sudah jamak terendus, FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia hanya berkutat pada hal cuan. Kita tengok ide European Super League yang mereka tolak. Mereka ketar-ketir dengan ide para penggagas European Super League seperti Perez, Agnelli dan kawan-kawan. Mereka takut lumbung materi yang selama ini didapatnya dari sepakbola Eropa direbut oleh mereka.

Kembali lagi pada masalah African Super League. Jika ingin melihat sisi komersialitas jelas African Super League ini masih jauh kalah dengan European Super League. Dari segi pasar TV Rights, seberapa banyak sih yang mau menonton African Super League ini? Mentok hanya pada pasar negara-negara di Afrika saja.

Nasib Liga Champions Afrika dan AFCON 2023 Mundur Ke 2024

Terlepas dari politik bisnis yang dilakukan FIFA tersebut, sebenarnya CAF sendiri sudah memiliki turnamen yang serupa yakni Liga Champions Afrika yang sudah jalan dari musim ke musim. Sama halnya dengan Liga Champions Eropa. Bahkan mereka dalam pertemuan resmi komite eksekutif CAF di Maroko itu menyepakati perubahan regulasi final Liga Champions Afrika.

Di mana mulai musim depan final Liga Champions Afrika akan dilakukan dalam dua leg. Artinya dengan masih bergulirnya Liga Champions Afrika, kini berarti nantinya akan ada 2 kompetisi yang dijalankan klub-klub di Afrika.

Dengan adanya African Super League ini, ternyata justru berimbas pada kompetisi lainnya di Afrika. AFCON 2023, turnamen terbesar antar negara-negara di Afrika yang sedianya sudah tercatat akan diselenggarakan pada Juni-Juli 2023 di Pantai Gading, tiba-tiba diputuskan untuk diundur. Karena akan bertabrakan dengan rencana kompetisi baru yakni African Super League yang kebetulan disepakati diselenggarakan di bulan Agustus 2023.

FIFA dan CAF sudah menyepakati pengunduran itu karena beralasan bahwa pada musim Juni-Juli 2023 itu Pantai Gading sebagai host diperkirakan sedang dilanda cuaca ekstrim seperti hujan lebat dan banjir. Oleh sebab itu, dalam pertemuan komite eksekutif CAF juga disepakati kalau AFCON 2023 diundur ke tahun 2024 yakni di bulan Januari-Februari.

Nah, dengan ditundanya AFCON ke bulan Januari-Februari ini bukan tidak mungkin akan segera memunculkan permasalahan baru bagi tim-tim Eropa yang dihuni pemain-pemain dari negara Afrika. Yang sejatinya AFCON pada Juni-Juli 2023 yang notabene musim libur Liga-Liga Eropa, eh, malah mundur di Januari-Februari di mana Liga-Liga Eropa masih dalam mode sibuk-sibuknya.

Yang jelas semua permasalahan ini muaranya adalah dengan adanya pembentukan kompetisi baru yang namanya African Super League, dan distempel resmi oleh FIFA pula. Bagi sebagian publik sepakbola dunia mungkin memandang kompetisi ini memunculkan secercah harapan baru bagi majunya persepakbolaan Afrika.

Bagaimanapun persepakbolaan Afrika ini secara kualitas tak kalah dibanding Asia maupun Amerika. Banyak pemain hebat lahir dari benua ini. Dan tak ada salahnya FIFA terus memajukan pamor sepakbola Afrika di dunia. Namun perlu dicatat, hati-hati dengan FIFA, masalahnya organisasi ini juga sering banyak intrik di dalamnya.

Sumber Referensi : foottheball, cafonline, espn

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru