Diego Maradona sudah menjadi satu nama yang tidak bisa disingkirkan dalam sejarah sepak bola. Terlepas dari segala kontroversi yang pernah menyelimuti, el Diego begitu populer dengan gocekan kelas atas. Datang dari sebuah wilayah di Argentina, semua sudah mengira jika pemain bernama lengkap Diego Armando Maradona akan menjadi pemain bintang di masa depan.
Sejak kecil ia sudah menunjukkan kehebatannya dalam bermain bola. Tak hanya sekali, namun berkali-kali. Menjebol gawang lawan sudah menjadi makanan sehari-hari, pun dengan gocekan yang terus tersaji, kerap menjadi sebuah imaji bagi siapapun yang datang menjadi saksi.
Diego Maradona memulai debut profesional bersama dengan klub Argentinos Juniors. Namanya kerap mengisi daftar yang akan diturunkan di atas lapangan. Dari total lima tahunnya bergelut di salah satu klub ternama asal Argentina itu, Maradona berhasil ceploskan bola sebanyak 116 kali, dari total 166 pertandingan yang dijalani.
Raihan itu jelas bukan sembarangan catatan. Di usianya yang masih tergolong muda, Maradona sudah berhasil menyihir seluruh penggemar. Berkat kehebatannya yang sampai hingga ke pelosok negeri, raksasa Tango, Boca Juniors, tanpa ragu datangkan sang pemain ke Stadion La Bombonera.
Tak mau berlama-lama membiarkan calon legenda bermain di hadapan warga tanah kelahiran, Barcelona tiba-tiba datang dengan sejumlah perjanjian. Selembar kertas yang berisi tentang segala kesepakatan pada akhirnya berhasil membawa Maradona menuju Katalan.
Tepat setelah gelaran Piala Dunia 1982, Maradona datang ke Spanyol dengan mahar 5 juta poundsterling. Bermain di bawah arahan pelatih Cesar Luis Menotti, Barcelona dan Maradona memenangkan Copa del Rey setelah berhasil menekuk Real Madrid. Ia juga turut sumbangkan trofi Piala Super Spanyol, setelah di partai final gagalkan ambisi Athletic Bilbao.
Namun sayang, sikapnya tak terlalu disukai oleh manajemen klub. Maradona kerap bertingkah semuanya sendiri, hingga sebuah perseteruan sudah menjadi hal biasa baginya.
Pada akhirnya, klub asal Italia, Napoli menampungnya dengan segala kemewahan. Mereka menyambut Maradona bak dewa. Kedatangan Maradona ke kota Naples mendapat salah satu penyambutan paling luar biasa sepanjang sejarah sepak bola.
Hal itu terasa wajar, pasalnya, ditengah ketertarikan klub yang masih naik daun seperti AC Milan hingga Juventus dan yang lainnya, Maradona malah mengusung misi untuk membangkitkan gairah klub yang berada di kawasan berbeda.
Apa yang diharapkan pun terwujud menjadi kenyataan. Total dua scudetto berhasil ia persembahkan untuk Napoli. Namanya mendunia, apalagi kala masih berseragam Napoli ia berhasil membawa Argentina menjuarai trofi Piala Dunia. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.
Dari 1984 hingga 1991, Maradona menjadi raja, bahkan dewa, untuk seluruh penggemar sepak bola di sana. Ia begitu diistimewakan.
Nahas, segala kecintaan penggemar tak dibalas dengan kegemilangan pada akhir karirnya di Italia. Maradona terlibat dalam kasus pemakaian kokain hingga harus menepi selama kurang lebih 15 bulan lamanya. Ia tak boleh bertanding, hingga membuat Napoli enggan untuk memperpanjang kontraknya.
Namun seolah kebiasaan buruk itu tak bisa membendung sejarah yang telah diberikan, klub yang bermarkas di San Paolo memutuskan untuk menarik nomor 10 dari peredaran, sebagai bukti dari kecintaan sekaligus penghormatan mereka kepada sang dewa sepak bola.
Meski terlibat dalam sebuah skandal tak sembarangan, nama Maradona masih begitu diinginkan oleh sejumlah klub ternama, termasuk Marseille dan Real Madrid. Namun, ia akhirnya memilih untuk gabung dengan Sevilla.
Banyak orang bertanya mengapa Maradona mau bergabung dengan Sevilla, yang pada dasarnya tidak terlalu punya reputasi mentereng kala itu.
Di Sevilla, ia dipertemukan lagi dengan pelatih Carlos Bilardo. Pelatih Sevilla dan pria yang telah memandu Timnas Argentina menjadi juara Piala Dunia 1986 itu memberinya jaminan padanya di klub Andalusia.
Selain pembicaraan pribadi dengan sang pemain, Carlos Bilardo juga memaksa klub untuk segera mengambil tanda tangan anak asuhnya itu di timnas Argentina. Awalnya, rencana Sevilla gagal. Uang senilai 2,5 juta pounds yang mereka gelontorkan ditolak. Namun pada akhirnya setelah segala cara dilakukan, Sevilla berhasil datangkan Maradona dengan harga 4,68 juta pounds.
Semua orang menyambut Maradona bak raja. Euforia disana sangat terasa. Orang-orang tumpah ruah di jalanan dan seolah tak percaya jika tim kesayangan mampu hadirkan bintang sekelas Maradona. Usia 31 saat bergabung dengan Sevilla juga tak menjadi halangan. Maradona diklaim masih bisa memberi setidaknya 2 hingga 3 tahun kebahagiaan bagi mereka.
Antusias penggemar benar-benar menggila. Kursi stadion yang biasanya hanya habis sebanyak 26 ribu saja, kini ludes di angka 40 ribu kursi, sejak kehadiran sang mega bintang. Jika dirata-rata, Sevilla berhasil meraup untung hingga 2,2 juta poundsterling, hanya dari tiket yang dijual. Mereka menggema dan siap membuat sejarah dengan nama Diego Armando Maradona.
Meski terkesan mendewakan sang bintang, perilaku semacam ini sudah sangat biasa terjadi, ketika seorang bintang berlabuh ke sebuah tim, apalagi jika menyoal tentang nama Maradona.
Sekali lagi, Sevilla telah mendewakan Maradona dalam arti sebenarnya. Mereka begitu memuji sang bintang, dan bahkan, pelatih juga sampai memindah jam latihan dari pagi ke sore, hanya untuk mengikuti pola hidup Maradona.
Kala itu, Maradona belum bisa tinggalkan kehidupan malamnya. Itu tampak sudah menjadi darah yang mengalir dalam tubuhnya. Sulit untuk mengatasinya. Namun bagi Sevilla itu tak mengapa. Toh mereka juga yang akan dapat keuntungannya.
Maradona menjalani laga pertama dalam pertandingan melawan FC Bayern. Pertandingan itu tidaklah resmi, hanya persahabatan semata, untuk “menguji’ kelayakan bintang baru Sevilla.
Pada akhirnya, Maradona berhasil tuntaskan misi dengan mengalahkan FC Bayern. Saat itu, di 28 September 1992, Sevilla dengan nama Maradona berhasil kalahkan Bayern dengan skor 3-1.
“Itu adalah laga persahabatan. Tapi itu bukan sembarang pertandingan. Itu adalah pertunjukan yang hebat.” Ungkap Jose Miguel Prieto, rekan satu tim Maradona di Sevilla. (via sky sport)
Kemudian, pertunjukkan sang bintang berlanjut dengan nama-nama Lazio, Sao Paulo, Galatasaray dan FC Porto.
“Aku belum pernah melihat fanatisme seperti itu, sampai aku melihatnya sendiri,” kata Juan Miguel Prieto.
Saat Maradona berada di Sevilla, banyak rekan-rekan setimnya yang turut bahagia. Bahkan, pemain sekelas Davor Suker juga dibuat girang oleh kehadiran el Diego di kubu Sevilla.
“Ketika masih kecil, aku biasa menonton Maradona di televisi di kamar,”
“Tiba-tiba aku menemukan diriku berbagi sarapan, latihan, dan ruang ganti dengan Maradona.”
Pada 4 Oktober 1992, Diego Maradona lalu menjajal debutnya di La Liga bersama Sevilla. Kala itu, Sevilla, pada jornada lima La Liga menghadapi Athletic Bilbao di San Mames. Sayang comeback-nya el Diego di panggung sepakbola tak berakhir gemilang. Terus diserang oleh tuan rumah, Los Nervionenses tak kuasa menyamakan keunggulan 2-1 milik Bilbao.
Semua penggemar tampak menyayangkan performa Maradona. Ia yang sebelumnya lihai menggocek bola, tiba-tiba menjadi pemain yang tak bisa apa-apa. Memang, segalanya patut dimaklumi, setelah dalam jangka waktu 15 bulan, ia tak pernah lagi bermain dalam atmosfer sebesar ini. Bahkan, tekanan yang dihadapi tak sebanding dengan sejumlah pertandingan uji coba yang dihadapi.
Perjalanan Maradona di laga-laga resmi banyak membuat semua tertunduk lesu. Entah mengapa, Sevilla tampak menjadi awal dari kejatuhan karirnya. Segalanya semakin memburuk karena Maradona tak juga menemukan kebahagiaan di stadion Ramon Sanchez Pizjuan. Hubungannya dengan presiden klub, Luis Chavez kian kacau.
Lebih dari itu, ia berseteru dengan pelatih sendiri, Carlos Bilardo. Konflik dengan sang pelatih menjadi puncak dari momen kelam Maradona di Sevilla. Ia yang saat itu marah ketika diganti, melanjutkan emosi hingga ke ruang ganti.
Setelah segalanya tak terkendali dengan nama keduanya terus berkelahi, Sevilla pada akhirnya menengahi. Mereka ingin pertunjukkan sang bintang berhenti sampai disini.
Maradona angkat kaki, meski kontraknya masih menyisakan satu bulan lagi.
Benar saja, pasca kejadian tersebut, karirnya terus merosot. Ia tak lagi dipedulikan. Namanya kian hilang. Sempat kembali ke Argentina dengan membela dua klub berbeda. Maradona pamit dari dunia sepak bola.
Segala kebahagiaan, tawa, dan suka cita yang sempat ia ukir di Sevilla hilang dalam sekejap. Satu musimnya disana tak berarti apa-apa, selain fakta bahwa klub tersebut pernah didatangi oleh bintang terbaik sepanjang sejarah.


