The Japan Times, melaporkan, pemain tertua asal Jepang bernama Kazuyoshi Miura akan terus bermain sepak bola sampai usia 54 tahun. Pemain berjuluk ‘King Kazu’ itu baru saja memperpanjang kontrak dengan klub nya saat ini Yokohama FC.
King Kazu will be looking to extend his record as the oldest J-League first-division starter when his club Yokohama FC kick off their 2021 season on Saturday. pic.twitter.com/ofEUlQwj4Y
— Asian Football (@AsianFootballs) February 24, 2021
Dia baru akan menginjak usia 54 tahun pada 26 Februari mendatang. Meski usianya sudah terlampau tua, King Kazu berniat untuk terus bermain bola.
“Semangat bermain sepak bola ku semakin meningkat,” ungkap Miura.
Miura sendiri dinobatkan sebagai pemain tertua yang berlaga di kompetisi J League, pada September 2020 lalu, di usianya yang menginjak 53 tahun, 6 bulan dan 28 hari. Dia telah melampaui rekor Masashi Nakayama bersama Consadole Sapporo di tahun 2012 lalu dengan usia 45 tahun, 2 bulan dan 1 hari.
Selain menjadi pemain tertua di kompetisi J League, Miura juga menjadi pencetak gol tertua di usia 50 tahun 14 hari. Saat itu pada Maret 2017 Miura membawa Yokohama FC menang 1-0 atas Thespakusatsu Gunma.
Kazuyoshi Miura memang tampak menjadi pemain yang begitu terobsesi dengan sepakbola. Ia mengaku ingin terus bermain, meski dia hanya tampil dalam 7 laga selama dua tahun terakhir.
Sejak kecil, Kazuyoshi Miura, seperti diceritakan situs bbc, sudah “mengikuti” gelaran Piala Dunia dari tahun 1970. Dia mengenal sepakbola dari sang ayah, yang lama tinggal di Meksiko. Ayahnya memang tergolong kedalam orang yang begitu mencintai sepakbola. Oleh sebab itu, ketika ada gelaran Piala Dunia, dia menonton langsung ke Stadion dan mengambil video dengan kameranya.
“Ayah ku berada di Meksiko pada tahun 1970 untuk menonton Piala Dunia,”
“Dia merekam pertandingan dengan kamera video 8mm. Saat itu, Pele sedang bermain, dan aku tumbuh besar dengan menonton video yang diambil oleh ayah ku.”
Miura saat itu baru berusia tiga tahun. Akan tetapi dia sudah sangat tertarik dengan aksi Pele di gelaran Piala Dunia 1970 yang sempat direkam oleh sang ayah. Dia menonton secara berulang-ulang hingga benar-benar tertarik dengan olahraga ini.
Miura dibesarkan di keluarga yang mencintai sepakbola di Shizuoka. Di kawasan tersebut, sepakbola memang menjadi olahraga yang sangat populer. Kakaknya yang bernama Yasutoshi juga menggeluti pekerjaan sebagai seorang pesepakbola. Oleh sebab itu, menjadi hal yang mudah bagi Miura untuk menekuni olahraga tersebut.
Miura tumbuh sebagai bocah yang mencintai sepakbola Brasil. Pele adalah idolanya dan dia ingin menjadi seperti sang pencetak gol terbanyak sepanjang masa itu. Ayah Miura yang kebetulan memiliki kerabat di Brasil pun langsung membawa sang anak menuju negeri Samba. Di usia 15 tahun, Miura meninggalkan Jepang dan terbang ke Brasil untuk menekuni karir sepakbolanya.
Selain karena ingin menekuni karir sepakbolanya, Miura juga merasa kesulitan bila harus bertahan di Jepang, mengingat kompetisi J League baru saja dimulai ada tahun 1993. Pertama kali mendarat di Brasil, Miura bergabung dengan Clube Atlético Juventus yang berbasis di Sao Paulo. Namun ternyata itu bukan awal yang mudah bagi Miura. Dia merasa kesulitan karena tidak terlalu memahami bahasa Portugis. Oleh sebab itu, dia mencoba untuk belajar bahasa Portugis, demi menunjang adaptasinya disana.
“Aku merasa kesulitan. Disana memiliki bahasa dan tradisi yang berbeda. Jadi aku sering merasa kesepian,”
Namun begitu, segala kondisi yang memberatkan tidak lantas membuat Miura menyerah. Dia yang memang bercita-cita menjadi pemain sepakbola terus mempelajari segala hal yang memang seharusnya dikuasai.
Hingga pada akhirnya, tepat pada tahun 1986, Miura berhasil menarik minat klub yang pernah dibela Pele, yaitu Santos. Dia berstatus sebagai pemain Santos selama kurang lebih empat tahun, meski karirnya lebih banyak dihabiskan di Palmeiras sebagai pemain pinjaman.
Pernah membela klub sekelas Santos, Miura langsung menarik minat media-media Jepang. Lalu di tahun 1990, dia tertarik untuk pulang ke Negeri Sakura dan memulai karir disana. Dia dipandang sebagai seorang superstars dan dianggap sebagai pemain yang akan memberi perubahan pada sepakbola Jepang.
Pada tahun 1993, ketika kompetisi Jepang dimulai, Miura sempat bermain di salah satu klub disana, sebelum akhirnya berkarir di Italia bersama Genoa. Bermain di Italia pada era tersebut jelas menjadi salah satu kebanggaan tersendiri, apalagi bagi pemain Asia yang dikenal sebagai benua yang belum banyak menelurkan pemain populer di kancah dunia.
Sayangnya, perjalanan di Serie A tidak berjalan mulus, setelah dia mengalami cedera pasca berbenturan dengan bintang AC Milan, Franco Baresi.
Bertahan selama semusim dan hanya mampu mencetak satu gol saja merupakan sebuah hal yang tidak menyenangkan bagi seorang Miura. Maka dari itu, jurnalis sepakbola di Jepang bernama Sean Carroll, mengatakan bila sama sekali tidak ada hal istimewa yang diciptakan Miura di Italia.
“Sama sekali tidak ada hal yang bisa dilebih-lebihkan,” ucap Sean Carroll.
Kendati demikian, Sean Carroll tetap mengakui bila Miura termasuk ke dalam pesepakbola paling populer di Jepang, sama seperti Diego Armando Maradona di Argentina. Malah, Miura menjadi pemain Jepang pertama yang meraih penghargaan Asian Footballer of the Year pada 1992.
Bersama timnas Jepang, Miura berhasil menciptakan sebanyak 5 gol dari 89 penampilan yang ia jalani dari 1990 hingga 2000. Lebih dari itu, dia juga berhasil menyumbangkan trofi Piala Asia pada tahun 1992.
“King Kazu” was born on this day. Long live the King!
.#KazuyoshiMiura was the first Japanese recipient of the Asian Footballer of the Year award. #KingKazu was arguably Japan’s first superstar in football.
He holds the records for being the oldest footballer and oldest… pic.twitter.com/zMhQVlDsbx— Fútbolismo ⚽️🌎🌍🌏⚽️ (@ftblsm) February 26, 2021
Memasuki milenium baru, atau tepat pada tahun 2005, Miura sempat akan diisukan pensiun. Akan tetapi, di usia yang menginjak 38 tahun saat itu, Miura secara mengejutkan malah resmi menandatangani kontrak dengan Yokohama FC. Dia menjadi pemain kunci di tim tersebut dan berhasil membawa Yokohama FC naik ke kompetisi tertinggi Liga Jepang pada tahun 2006.
Meski sudah berusia tua, dia ternyata masih bermain di sana sampai 10 tahun ke depan. Pada tahun 2016, ketika usianya menginjak 48 tahun, dia bermain sebanyak 20 kali dan sukses mencetak dua gol.
Di usia yang seharusnya sudah membuatnya beristirahat, Miura justru kian semangat bermain bola. Dia jarang mengalami cedera, dan berkata bahwa dia hanya memiliki masa pemulihan yang sedikit lebih lama dari para pemain muda, bila terjadi masalah pada kondisinya.
“Aku hanya memiliki pemulihan yang lebih lama dari pemain muda,”
“Aku semakin semangat bermain dan sama sekali tidak kehilangan hasrat untuk bermain,”
Apa yang dikatakannya sekitar lima tahun lalu pun masih terus dibuktikan hingga sekarang. Dia terus bermain di usia yang bakal menginjak 54 tahun dan masih belum memikirkan untuk pensiun dari dunia sepakbola.
Saat ditanya tentang rahasianya menjadi pesepakbola hebat hingga usia yang nyaris menginjak 54 tahun, Miura mengatakan bila kerja keras, dedikasi, dan bertindak sebagai seorang inspirasional, adalah kunci utamanya.
“Aku masih sangat menikmati sepakbola. Setiap saat.”
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=Si7JlWOr87k[/embedyt]
Sumber referensi: bbc, japantimes, ligalaga


