Kisah Dario Conca Yang Karirnya Hancur Setelah Jadi Pemain Dengan Gaji Termahal Ketiga Dunia

spot_img

Pada tahun 2011 silam, nama Cristiano Ronaldo sudah menjadi pemain dengan bayaran tertinggi di dunia. Setelah itu, ada nama Lionel Messi yang berada tepat di bawahnya. Di posisi ketiga, terdapat nama yang mungkin asing di telinga. Adalah Dario Conca, pemain asal Argentina yang kini berumur 37 tahun pernah masuk ke dalam daftar nama pemain dengan gaji tertinggi di dunia.

Dilaporkan, Dario Conca, ketika masuk ke dalam jajaran pemain dengan gaji tertinggi pernah menerima sekitar 170 ribu pounds atau setara 3,2 miliar rupiah per minggu.

Dario Conca merupakan pemain asal Argentina, yang berposisi sebagai seorang gelandang serang. Meski begitu, dia juga mahir ketika harus ditempatkan di sisi kanan maupun kiri. Conca memulai karirnya di Primera B Nacional Argentina dan melakukan debutnya untuk Tigre pada usia 15 tahun.

Pada tahun 2000, River Plate yang meyakini Conca punya bakat luar biasa langsung membawanya menuju Estadio Monumental. Dia begitu berkembang disana. Apalagi ketika berada di bawah asuhan pelatih Manuel Pellegrini, Conca dipercaya untuk masuk ke tim utama hingga meneruskan perjalanan yang begitu luar biasa.

Untuk menambah jam terbangnya, River Plate saat itu membawanya menuju ke sejumlah klub untuk dipinjamkan, termasuk Universidad Catolic, Rosario Central, hingga Fluminense. Pada masa peminjaman nya di Fluminense, Conca bermain sangat gemilang.

Dia menjadi pemain kunci dibawah asuhan pelatih Renato Gaucho. Dia memainkan peran yang sangat krusial ketika tim tampil di kompetisi Copa Libertadores pada 2008, bersama dengan nama-nama seperti Thiago Neves, Thiago Silva, Washington dan Cícero.

Menyusul permainan apiknya, dia lalu diganjar kontrak permanen oleh klub tersebut. Dia terpilih sebagai pemain terbaik Brasil dan dinobatkan sebagai pemain terbaik ke-15 di Amerika Latin. Lebih dari itu, dia juga mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik Brasil oleh majalah ternama el Pais.

Dari situ, selain menandatangani kontrak permanen, Conca juga diminta bertahan selama kurang lebih lima tahun lamanya.

Permainannya yang semakin populer lalu sukses membawa Fluminense menjuarai Campeonato Brasileiro Série A pada tahun 2010. Perlu diketahui bahwa gelar itu merupakan yang pertama bagi Fluminense sejak tahun 1984.

Fluminense, dengan nama Conca saat itu benar-benar menjadi tim terbaik di Brasil. Mereka menampilkan permainan spektakuler dan sangat layak mendapat julukan sebagai The Dream Team. Conca menjadi bintang dengan namanya mulai tersiar ke seantero Eropa.

Dengan torehan sembilan gol dan 18 assist dalam 38 penampilan ketika itu, Conca dinobatkan sebagai pemain terbaik di musim tersebut.

Conca yang sekali lagi menjadi nama paling populer pun sempat dikabarkan bakal dinaturalisasi oleh timnas Brasil.

Namun begitu, hubungan Conca dan Brasil seketika kandas, setelah dirinya secara mengejutkan memilih untuk meneruskan karir di Liga Super China. Padahal ada beberapa klub Eropa yang juga tertarik pada jasanya.

Tepat pada 2 Juli 2011, klub asal Cina, Guangzhou Evergrande sukses merampungkan proses transfer sebesar 10 juta euro untuk Conca dari klub Brasil, Fluminense. Di kontrak barunya itu, gelandang asal Argentina ini dilaporkan menerima sebesar 26,5 juta euro dalam kurun waktu 2,5 tahun.

Perlu diketahui, besaran gaji yang diterima oleh Conca ketika itu sukses mengungguli pemain sepak bola tersohor lainnya, seperti Xavi, Iniesta, Tevez, Neymar, Aguero, Wayne Rooney, Samuel Eto’o, Diego Forlan, hingga Luis Suarez.

Kedatangan Dario Conca di Liga Super China disambut bak dewa. Dia yang sebenarnya belum menjadi pemain yang begitu luar biasa sudah mendapat atensi mengagumkan dari para penggemar di China.

Menyusul kepindahannya ke Liga Super China, pihak Fluminense malah sama sekali tidak menyayangkan keputusan sang pemain. Mereka justru mendukung penuh dan berharap kalau pemain yang sudah sangat berjasa bagi klub itu akan menemui masa depan yang diharapkan.

“Ini menjadi tawaran dari klub yang bagus. Tidak ada kata-kata lagi untuk menjelaskan siapa Conca. Kesepakatan ini akan memberi dia dan keluarganya jaminan finansial hanya dalam kurun waktu 2,5 tahun,” kata manajer Fluminense Abel Braga. (via planetfootball)

Conca sendiri menyadari bahwa Liga Super China belum terlalu hebat di mata dunia. Namun dalam hal ini, dia ingin memberi sesuatu yang lebih pada keluarganya.

“Aku tahu ini keputusan sulit. Namun aku ingin membahagiakan keluargaku,” ujar Conca (via planetfootball)

Dalam menjalani karir di China, Conca memang mampu beradaptasi dengan baik. Sempat dilatih oleh manajer Marcelo Lippi, Conca berhasil mempersembahkan gelar Liga Super China. Dia juga turut tampil spartan selama gelaran Liga Champions Asia. Performa tersebutlah yang membuatnya dijuluki The King of Tianhe Stadium. Conca menyebut penampilan bersama Evergrande menjadi performa terbaiknya selama karir sebagai pesepak bola.

Namun meski mendapat perhatian dan sukses persembahkan gelar, nama Conca tidak dipandang luar biasa.

Conca mungkin mendapat gaji besar, namun disisi lain, dia kehilangan esensi dari perjalanan karir seorang pesepakbola itu sendiri. Tidak pernah tampil membela tim Tango, nama Conca hanya dipanggil untuk masuk dalam skuad Albiceleste tanpa sekalipun diberi kesempatan untuk tampil.

Setelah bergabung dengan Shanghai SIPG, namanya sudah tak lagi populer seperti sebelumnya. Dia gagal persembahkan gelar dan tak lagi menjadi pemain vital di tim yang dibelanya.

Dari situ, seperti kebanyakan pemain yang sudah merasa tak dibutuhkan lagi, Conca akhirnya kembali ke Brasil. Setelah sebelumnya sempat pulang ke Fluminense, pada tahun 2017, ia membelot ke tim rival, Flamengo, sebagai pemain pinjaman. Kepulangannya ke Brasil untuk kali kedua pun tak luput dari masalah cedera parah yang sempat menimpanya.

Di Flamengo, Conca hanya diberi kontrak murah dan cuma tampil dalam dua penampilan saja.

Hingga setelah usianya menginjak 36 tahun, Conca resmi putuskan berhenti dari dunia sepakbola. Klub terakhir yang dibelanya adalah Austin Bold FC asal Amerika.

Nama Conca mungkin layak disebut sebagai fenomena uang lebih penting daripada prestasi. Dia tak peduli ketika Argentina tidak datang memanggil, yang terpenting, banyak uang yang didapat dengan dirinya mampu memberi kebahagiaan bagi keluarganya.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=XeO6YXbOT74[/embedyt]

 

Sumber referensi: planetfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru