Masih segar dalam ingatan ketika Christian Eriksen menjadi gelandang terbaik milik Tottenham, dan begitu diminati oleh banyak klub besar. Eriksen yang ketika itu berada dibawah asuhan Mauricio Pochettino sukses bertransformasi menjadi salah satu gelandang kreatif terbaik di dunia.
Sejak digaet dari Ajax pada 2013, Eriksen selalu menjadi tumpuan di lini tengah Tottenham Hotspur. Pesepakbola berusia 28 tahun itu menjadi pemain kunci yang membantu timnya finis empat besar dalam empat musim belakangan. Lebih dari itu, dia juga menjadi bagian penting dari suksesnya Tottenham Hotspurs di kompetisi benua biru. Meski harus kandas di final, Spurs berhasil menunjukkan sebuah hiburan sempurna yang tak terbayang sebelumnya.
Namun sayangnya, seiring kontraknya di Spurs berakhir, Eriksen terus diisukan hengkang dari London. Pikiran yang bercabang dari sang pemain ditengarai menjadi penyebab turunnya performa Spurs. Ya, bebarengan dengan meredupnya performa Spurs, meredup pula performa Christian Eriksen. Menurut Mourinho, yang pada akhirnya ditunjuk sebagai pelatih Spurs, mundurnya performa Eriksen adalah karena dia banyak diganggu dengan aktivitas transfer.
Tanpa pikir panjang saat datang tawaran dari Inter Milan, Mou langsung mempersilahkan Eriksen pergi. Seperti diketahui, sebelum kepindahannya ke Inter Milan, Mou mengambil tindakan dengan membatasi menit bermain dari Eriksen di berbagai kompetisi. Suatu hal yang juga telah dilakukan oleh Pochettino sejak awal musim kemarin. Mou mengakui bahwa dirinya sudah sempat membujuk Eriksen untuk tetap bertahan di Spurs. Akan tetapi sang pemain sudah memutuskan untuk tidak akan memperpanjang kontraknya.
Jadilah pada Januari 2020, Eriksen resmi diumumkan sebagai penggawa baru Inter Milan. Eriksen menjadi pemain ketiga setelah Young dan Victor Moses yang berhasil didapatkan pada bursa transfer musim dingin. Eks Ajax Amsterdam itu tercatat sebagai pemain ke-15 yang datang sejak musim panas musim 2019/20.
Gelandang berusia 28 tahun itu menjadi pemain keempat Denmark yang bermain untuk Inter setelah Harald Nielsen, Thomas Helveg, dan Patrick Olsen.
Ketertarikan Antonio Conte terhadap Eriksen sendiri memang cukup beralasan. Eks pelatih Chelsea itu memandang Eriksen sebagai sosok gelandang kreatif yang diharapkan mampu mengakomodir para pemain depan. Eriksen memiliki tipikal bermain yang berbeda dengan gelandang Inter lainnya. Setidaknya kehadiran Eriksen juga mampu menjadi pelapis bila lini serang Inter Milan tengah tumpul.
Hal itu memang cukup beralasan karena selama membela Spurs, Eriksen setidaknya mampu mencetak 8 gol per musim. Bila dilihat dari caranya membuat peluang, Eriksen tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Dia yang disebut gelandang super kreatif sempat menciptakan 62 assist di kompetisi Premier League, yang mana catatan tersebut berada diatas nama-nama Kevin De Bruyne, hingga Mesut Ozil ketika itu.
Namun ternyata, semua yang diharapkan sama sekali tidak berujung sesuai rencana. Eriksen yang baru setahun tinggal di kota Milan sudah diminta pergi. Tidak hanya oleh pelatih Antonio Conte, namun juga seluruh manajemen. Mereka tidak melihat adanya perkembangan dari sang pemain. Eriksen dianggap gagal dengan penilaian mereka sudah melahirkan keputusan yang bulat, yaitu menjual sang pemain secepat mungkin.
Bahkan menurut Beppe Marotta, timnya tidak merasa bersalah menjual Eriksen meski baru satu tahun merekrutnya. Ia menilai sang playmaker tidak bermain dengan baik di Inter sehingga ia sudah selayaknya didepak.
“Dia [Eriksen] mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan tim ini. Dia tidak berfungsi dengan baik di tim, dan itu adalah fakta yang objektif.” (via Sky Sport)
Dari awal kedatangan Eriksen ke kota Milan memang tampak menyedihkan. Dia datang di awal masa pandemi yang kemudian memaksa banyak orang melindungi diri. Eriksen sulit mendapat tempat tinggal. Sempat meminta bantuan ke rekan setimnya, dia akhirnya malah menetap di kamp latihan Inter. Beruntung, dia bertemu dengan koko dan sejumlah anggota staf yang menyambutnya dengan begitu baik.
“Aku tinggal di tempat latihan klub. Di sana ada seorang koki dan lima anggota staf yang memilih untuk karantina mandiri demi melindungi keluarga mereka,” kata Eriksen (via The Sun)
Satu hal awal yang didapatnya itu seolah mengisyaratkan ketidak cocokannya dengan klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza. Benar saja, apa yang diharapkan Antonio Conte tidak berjalan sesuai rencana. Eriksen masih kalah pamor dengan nama Arturo Vidal, Brozovic, Sensi, hingga Barella. Perbedaan yang diharapkan dari seorang Eriksen malah menguncinya dalam bangku cadangan.
Dia yang tidak mampu menguasai atribut bertahan harus tersingkir oleh nama-nama yang telah disebutkan.
Menanggapi jebloknya performa sang pemain, Antonio Conte membela diri terkait cara dia memperlakukan Christian Eriksen di tim. Beberapa pihak memandang Conte tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaik pemain internasional Denmark itu sehingga lebih sering menjadikannya pemain pilihan kedua.
Meski begitu, Conte menegaskan, dirinya selalu memberi kesempatan pada Eriksen untuk memperlihatkan kemampuan terbaiknya, tetapi terkadang yang bersangkutan sendiri yang tak sanggup memberinya impresi ketika latihan. Musim ini saja, dia baru tampil dalam empat laga Serie A.
Dengan begitu, resmi sudah kalau nama Christian Eriksen masuk ke dalam daftar jual pemain Inter Milan dalam waktu dekat.
Sejauh ini memang sudah ada sejumlah peminat yang menginginkan jasa Eriksen. Namun dari sekian banyaknya nama, ada yang kemudian mundur setelah tahu gaji Eriksen yang terbilang tinggi. Padahal di masa pandemi banyak klub yang mengalami kemerosotan finansial.
Kendati demikian di tengah situasi itu, ada beberapa nama termasuk PSG yang kabarnya siap menukarkan pemainnya dengan Eriksen. Lalu, ada juga Arsenal dan FC Bayern, yang siap menampung dengan memberikan pemain mereka, bila Eriksen membutuhkan tempat bernaung.
Menanggapi semua permasalahan yang terjadi, Christian Eriksen mengakui kepindahannya ke Inter Milan tidak berjalan sesuai harapan. Dengan itu, dia meminta semua pihak menunggu, apa yang akan terjadi pada bursa transfer yang telah dibuka.
“Ini jelas bukan yang aku impikan,”
“Aku berkonsentrasi pada karir sepakbola ku, kemudian ketika jendela transfer dibuka, kami akan melihat apakah sesuatu akan terjadi atau tidak,” kata Eriksen. (via goal)


