Gianluca Zambrotta & Seni Berlari Di Sisi Lapangan

spot_img

Italia menjadi gudang nya para pemain belakang tangguh. Tidak diragukan lagi seberapa sering mereka menelurkan bek-bek handal yang pandai menyapu bola. Bahkan, beberapa dari mereka tak jarang tunjukkan bakat dalam mencetak gol.

Gianluca Zambrotta, barangkali menjadi salah satu sosok yang tak pernah dilupakan para tifosi. Gaya berlari nya disisi lapangan selalu meneror banyak pemain lawan. Zambrotta akan dengan cepat menyisir lapangan, dan tak jarang ceploskan bola secara tiba-tiba kedalam gawang.

Umpan akurat serta kecepatan di atas rata-rata juga merupakan senjata andalan Zambrotta. Dengan kelebihan itu, Zambrotta pun menjadi langganan timnas Italia.

Gianluca Zambrotta lahir pada 19 Februari 1977 di Como Italia. Como bukanlah kota besar di Negeri Pizza. Wilayah itu terletak di ujung utara Italia yang berbatasan dengan Swiss.

Sejak kecil, ia memang sudah gemar bermain sepakbola dan itu terbukti dengan bergabung nya ia bersama kesebelasan lokal daerah, Como Calcio, pada 1994, ketika masih berusia 17 tahun.

Di klub tersebut, Zambrotta lebih dulu bermain di kompetisi Serie B. Namun saat itu ia jarang mendapat kesempatan. Barulah saat Como terdegradasi ke Serie C, Zambrotta mulai tampil lebih konsisten. Ia bermain di sisi sayap, dan terkadang mengisi pos gelandang tengah. Sepanjang 47 penampilannya bersama Como, Zambrotta telah berhasil mencetak enam gol.

Tiga tahun membela Como, akhirnya pada 1997, salah satu klub kenamaan Serie A saat itu, Bari, berhasil mengendus bakatnya dan menariknya untuk bergabung bersama Bari yang dilatih oleh Eugenio Fascetti.

Bari menjadi tim yang mungkin mulai memperkenalkan bakat Zambrotta yang sesungguhnya. Ia mulai memainkan lebih banyak pertandingan dan mencetak beberapa gol untuk tim tersebut. Dari membela Bari, Zambrotta bahkan berhasil masuk kedalam skuat Italia U21 pada tahun 1999. Kala itu, pelatih Dino Zoff sangat tertarik dengan performa nya di sisi lapangan.

Dengan masuknya Zambrotta ke timnas Italia, Bari secara resmi memiliki salah satu pemain nya di timnas, setelah 50 tahun berlalu.

Selama membela Bari, Zambrotta telah memainkan 32 laga dan mencetak empat gol. Dengan capaian tersebut, ia lalu digaet oleh raksasa Italia, Juventus, pada 1999.

Dibawah asuhan pelatih Carlo Ancelotti, Zambrotta tumbuh menjadi pemain yang jauh lebih berbakat. Bersama Juventus, banyak trofi bergengsi yang ia raih seperti trofi Scudetto Serie A, Supercoppa Italiana, dan UEFA Intertoto Cup. Ia juga menjadi bagian dari skuat Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006.

Laga melawan Ukraina pada Piala Dunia 2006 menjadi salah satu panggung kehebatan sang fullback. Ketika itu, ia menyumbang satu gol dan membawa Italia menang dengan skor 3-0. Gol Zambrotta pun mendapat apresiasi dari suporter Gli Azzurri lantaran diciptakan dengan proses yang sangat indah.

Setelah melewati sergapan pemain lawan, pria kelahiran 19 Februari 1977 tersebut melepaskan tembakan keras menggunakan kaki kiri dari luar kotak penalti. Tembakan itu tak mampu dibendung kiper lawan sehingga bola meluncur deras ke dalam gawang.

Di Juventus, Zambrotta mengalami sebuah transformasi posisi. Setelah alami cedera yang cukup lama pasca pertandingan Piala Dunia 2002 melawan Korea Selatan, ia melewatkan beberapa pertandingan bersama Juventus pada awal musim 2002/03. Saat inilah, posisi biasanya sebagai seorang winger terebut oleh Mauro Camoranesi yang bermain apik.

Namun kala Juve ditangani oleh Marcello Lippi, Zambrotta di tempatkan di sisi kiri. Hasilnya, ia benar-benar cepat beradaptasi. Ia menjadi pemeran utama di kubu tim Zebra yang memiliki posisi utama sebagai fullback.

Menjadi pemain serba guna, Zambrotta begitu lihai kala menjadi pemain bertahan maupun saat membantu serangan. Zambrotta terus tampil konsisten. Bahkan saat Fabio Capello duduk di kursi panas Juventus, posisi nya benar-benar tak tersentuh.

Namun skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Italia yang dilakukan Juventus membuatnya harus angkat kaki. Zambrotta meninggalkan Juventus dan Italia setelah kasus pengaturan skor atau Calciopoli muncul di sepak bola Negeri Pizza pada musim panas 2006. Selepas Piala Dunia 2006, ia memutuskan untuk menerima pinangan Barcelona.

Bersama Barcelona, ia sama sekali tidak meraih trofi La Liga. Ia hanya meraih trofi Piala Super Spanyol pada awal kedatangannya dan juga mengantarkan Barca menjadi runner-up Piala Dunia Antarklub.

Setelah itu, ia kembali ke Italia untuk bergabung dengan klub raksasa Serie A, AC Milan.
Saat meninggalkan Barcelona tahun 2008, Zambrotta tidak mengungkapkan alasannya hengkang dari tim yang kala itu masih diperkuat Pep Guardiola. Namun tujuh tahun setelah angkat kaki dari Spanyol, akhirnya dia membuka suara.

“Aku masih memiliki dua tahun tersisa di kontrak dengan Barcelona. Tapi ada masalah dengan Valentina, istriku,”

Valentina merasa tidak cocok dengan budaya dan suasana di Barcelona. Istri Zambrotta itu pun seperti seorang diri meski berada tengah lautan manusia.

“Dia telah meninggalkan semuanya demi bersamaku. Namun, suatu hari dia merasa sendirian di sebuah kota yang bukan kampung halamannya. Dia sangat depresi,”

“Jadi, ketika mendapat tawaran dari klub besar Italia seperti AC Milan, aku langsung mengambil kesempatan untuk pulang kampung,” ungkap Zambrotta. (via sport es, 2015)

Saat bermain untuk AC Milan, Zambrotta seperti terlahir kembali. Zambrotta yang sejatinya berposisi asli sebagai bek kanan dipindahkan ke sisi seberang oleh Leonardo, pelatih Milan kala itu, sejak kemunculan Iganazio Abate di posisi tersebut.

Eks pemain Juventus ini kemudian semakin mengukuhkan posisinya di bek kiri setelah Massimiliano Allegri didapuk sebagai pelatih anyar Rossoneri pada musim 2010/11.

Ia turut andil dalam kesuksesan Milan merengkuh Scudetto ke-18, sebelum dilepas klub yang bermarkas di San Siro pada musim panas 2012, bersamaan dengan sejumlah pemain veteran lainnya seperti Filippo Inzaghi, Alessandro Nesta, Mark van Bommel hingga Gennaro Gattuso.

Keberadaan Zambrotta saat itu pun semakin menguatkan status AC Milan sebagai tim yang gemar mengoleksi pemain-pemain bertahan potensial.

Pada tahun 2012, kontraknya tidak diperpanjang oleh AC Milan. Dirinya pun praktis berstatus free transfer. Sembari berlatih bersama Como, ia menanti tawaran yang hadir. Benar saja, tawaran kemudian muncul dari tim asal Swiss, Chiasso. Selama satu tahun, Zambrotta tampil membela Chiasso. Di klub tersebut pun ia sempat menjalani peran sebagai player-manager dan berhasil menyelamatkan Chiasso dari jurang degradasi.

Hingga pada akhirnya tepat pada tahun 2014, Gianluca Zambrotta resmi mengumumkan pensiun sebagai pemain. Ia melanjutkan pekerjaan sebagai manajer Chiasso. Namun, ia dipecat pada April 2015 karena dianggap tidak mampu mengantarkan Chiasso meraih prestasi bergengsi.
Pada tahun 2016, Zambrotta lalu ditunjuk untuk menangani tim asal India, Delhi Dynamo.
Kini, di usianya yang sudah menginjak 43 tahun, Zambrotta tercatat sebagai asisten pelatih Jiangsu Suning.

Melihat perjalanan kariernya yang begitu luar biasa, secara luas, Gianluca Zambrotta menjadi representasi dari seorang bek modern terbaik yang pernah dimiliki Italia.
Pelari yang tak kenal lelah, pemain yang miliki kecerdasan, dan seorang pelintas lapangan, itulah gambaran dari seorang Gianluca Zambrotta.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru