Dalam sebuah olahraga, tak terkecuali di sepakbola, cedera memang resiko yang akan selalu dihadapi. Namun, belakangan ini tampaknya satu persatu pesepakbola mulai menepi lantaran cedera, baik yang ringan maupun serius. Bahkan terbilang dalam setiap pertandingan, ada saja pemain yang ditarik keluar maupun mendapat cedera saat latihan.
Para pemain, seperti Virgil van Dijk, membutuhkan operasi karena tabrakan di lapangan, lalu ada lebih banyak pemain yang absen karena cedera lainnya. Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka ?
Jawaban yang paling wajar dari alasan cedera itu adalah padatnya jadwal pertandingan tahun ini ditambah situasi pandemi global virus menular. Akibatnya para pemain harus bekerja ekstra keras sehingga tubuh menjadi kram, tegang dan rentan cedera.
Jadwal pertandingan yang padat – dengan tujuan untuk mengisi waktu yang hilang selama tiga bulan di musim semi – berarti bahwa para pemain telah menjalani lebih banyak pertandingan dalam waktu yang singkat. Terlebih lagi, tidak ada istirahat pramusim yang tepat untuk para pemain di musim panas, yang berarti tidak ada kesempatan bagi mereka untuk beristirahat menjelang musim baru.
Akibatnya, para pemain harus berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi jadwal pertandingan yang menuntut. Sebagian besar pemain sepakbola papan atas memainkan beberapa turnamen sekaligus secara berurutan lebih cepat. Mulai dari liga domestik, Liga Champions / Liga Europa serta pertandingan piala domestik mereka – yang dianggap beruntun bahkan sebelum pandemi.
Dari musim 2019/2020 ke 2020/2021 memang cuma ada waktu tujuh minggu untuk beristirahat. Normalnya adalah 12 minggu. Belum lagi, masih ada beberapa klub yang berlaga di kompetisi antarklub Eropa dalam periode waktu tersebut.
Jeda internasional November pun terasa seperti film horor bagi manajer klub yang menerima kabar bahwa satu per satu pemainnya cedera. Salah satu klub yang terpukul akibat krisis cedera adalah Liverpool. Selain Van Dijk, Joe Gomez juga mengalami cedera. Ia menderita cedera saat menjalani latihan bersama timnas Inggris. Akibat cederanya itu, Gomez harus absen selama beberapa bulan.
Lalu ada sang kapten, Jordan Henderson yang dikeluarkan dari lapangan pada babak pertama saat Inggris takluk 0-2 dari Belgia. Andy Robertson juga mengalami cedera hamstring selama play-off Euro 2021 dengan Skotlandia, tetapi dia diizinkan untuk bermain tidak lama setelah itu.
Trent Alexander-Arnold turut absen selama beberapa minggu setelah dia mengalami cedera betis melawan Manchester City, sementara Fabinho dan Thiago Alcantara sudah dalam rencana perawatan untuk beberapa waktu.
Lebih lanjut lagi ada Real Madrid yang kehilangan pemain penting akibat cedera seperti Sergio Ramos dan Karim Benzema. Sementara itu, mantan pemain Liverpool, Dejan Lovren mencuit di Twitter tentang cedera yang dialami para pesepakbola. Menurutnya, itu disebabkan banyaknya pertandingan dan kurangnya waktu pemulihan yang tepat, serta fakta bahwa tidak ada persiapan pramusim.
Selain padatnya jadwal, kelelahan mental tambahan dalam menghadapi pandemi juga telah berdampak buruk. Jelas, dengan virus yang masih merajalela, virus menular menjadi ancaman tambahan bagi kesehatan pemain. Beberapa pemain terkenal yang berbasis di Eropa telah dites positif terkena virus menular, elemen lain yang menambah kekhawatiran cedera klub.
Tokoh sepak bola mengkritik pertandingan internasional yang masih dimainkan di tengah pandemi. Bukan hanya karena jadwal pertandingan yang sudah padat, tetapi fakta bahwa jeda internasional hanya akan bertindak sebagai kesempatan untuk menyebarkan virus lebih jauh ke seluruh dunia.
Salah satu pemain yang melontarkan kritik adalah gelandang Real Madrid, Toni Kroos. Ia melontarkan kritikan pedas kepada dua badan sepak bola, FIFA dan UEFA. Menurut Kroos, kedua badan sepak bola itu menjadikan pemain sebagai boneka karena banyaknya turnamen yang digulirkan.
Kroos merasa dirinya sebagai pemain menjadi korban dari keputusan para pemangku kebijakan yang ia tuding hanya mementingkan bagaimana mengeruk uang.
Keresahan Kross tersebut memang cukup beralasan. Pasalnya, padatnya jadwal kompetisi semakin terasa pada musim ini, dengan imbas dari pandemi. Jadwal padat di level klub masih ditambah dengan sesaknya pertandingan ketika jeda internasional tiba. Apalagi para pemain juga memiliki waktu libur yang lebih singkat pada musim panas kemarin.


