Mengingat Claude Makelele, Dibuang Real Madrid Namun Malah Melegenda Di Chelsea

spot_img

Claude Makelele disebut sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah ada. Peran nya di lini tengah seringkali dianggap sebagai yang paling tangguh. Dalam perjalanan karirnya, Makelele memang punya kekuatan yang amat luar biasa. Dia tidak akan membiarkan satu pemain lawan pun melewati dirinya, ketika sudah berhadapan satu lawan satu.

Claude Makelele, yang berasal dari Prancis adalah sosok yang begitu ikonik di sektor gelandang. Meski tubuhnya tergolong kecil untuk ukuran pemain Eropa, Makelele mampu menuntaskan tugasnya dengan baik. Dia pandai memotong aliran serangan dan merebut bola dari lawan.

Lahir di Zaire, Kongo, Makelele lalu pindah ke Savigny-le-Temple, pinggiran kota Paris di Seine-et-Marne, pada tahun 1977. Saat itu usianya baru menginjak empat tahun. Memiliki ayah pemain sepak bola profesional membuat Makelele bisa dengan mudah mengenal olahraga tersebut.

Dia lalu mulai menimba ilmu di sebuah akademi pada usia 15 tahun. Dia tampil bersama Lilian Thuram sebelum akhirnya bergabung dengan pusat pelatihan Brest-Armorique di Brittany. Tempat tersebut menjadi perjalanan sesungguhnya bagi Makelele. Karena ia harus benar-benar fokus terhadap sepakbola dalam situasi jauh dari orang tua.

Berkat kerja kerasnya, tepat di tahun 1991, Makelele akhirnya ditemukan oleh Nantes. Selama lima tahun berada di Nantes, Makelele sukses membangun reputasi sebagai pesepakbola top. Selama berkarir di sana, dia sukses sumbangkan satu gelar Ligue One, sekaligus mencapai fase semifinal Liga Champions Eropa.

Pada tahun 1997, Makelele resmi hijrah ke Marseille dan menetap selama satu musim lamanya. Menjalani pengalaman yang cukup singkat dengan Marseille, dia lalu putuskan hijrah ke luar Prancis.

Dia bergabung dengan Celta Vigo dan semakin mengembangkan bakatnya sebagai salah satu gelandang paling dicari. Bakat sang gelandang ternyata menarik minat raksasa Spanyol, Real Madrid. Ketika itu, el real rela mengeluarkan dana senilai 12 juta pounds untuk menebus Makelele dari Vigo.

Real Madrid yang memang sudah menjadi skuad luar biasa telah diisi oleh nama Zinedine Zidane, Ronaldo, Luis Figo, Raul, Steve McManaman dan Roberto Carlos. Praktis, kehadiran Makelele pun menjadi penyeimbang di lini tengah. Namun sayang, keberadaannya kurang diapresiasi oleh manajemen Real Madrid.

Dia yang meminta untuk dinaikkan gajinya malah mendapat balasan mengejutkan. Padahal bila diperhatikan, Makelele sangat pantas mendapat bayaran tinggi, mengingat kontribusinya yang begitu luar biasa bagi tim. Pada akhirnya, Real Madrid melakukan cara yang memang mengejutkan. Mereka melepas Makelele ke Chelsea pada 2003 silam.

Perez dengan sombongnya melepas Claude Makelele pada 2003 ke Chelsea setelah tuntutan kenaikan gaji dalam kontraknya ditolak. Perez yakin Makelele tidak akan dirindukan. Namun ternyata, hal yang sebaliknya justru diutarakan rekan setimnya kala itu seperti Zinedine Zidane. Zidane menyesal karena Madrid dengan mudahnya melepas pemain sekelas Makelele.

Benar saja, Real Madrid kehilangan mesin di lini tengah mereka dan terpaksa tertinggal dari Barcelona milik Frank Rijkaard.

Sementara itu, The Blues sepertinya harus berterima kasih kepada Los Blancos atas kedatangan gelandang asal Prancis tersebut.

Chelsea menggaet Makelele di angka 16,8 juta pounds dan sukses menjadikan sang pemain sebagai andalan. Bersama Chelsea, di musim pertamanya 2003/04, Makelele mengantarkan klub tersebut sampai runner-up Liga Premier. Di musim berikutnya, ketika pelatih Jose Mourinho mulai mengambil alih kursi kepelatihan, membuat Makelele makin berkembang hingga berbuah pada gelar juara Liga Primer Inggris.

Posisi Makelele di lini tengah membawa pengaruh yang tiada habisnya bagi Chelsea. Bagi Mourinho, kehadiran Makelele merupakan penyeimbang di lini tengah Chelsea. Seperti yang sudah disinggung di awal, Makelele menjadi penjagal utama bagi pemain lawan, sebelum mereka berhadapan dengan palang pintu selanjutnya dalam diri John Terry.

Pada periode itulah, “Makelele Role” terbentuk, sekaligus mendiskreditkan peran Patrick Vieira dan Roy Keane. Pada musim 2004/05, Chelsea sukses meraih gelar Premier League, dengan mengalahkan Manchester United dan Arsenal dalam perburuan gelar. Mourinho membawa taktik yang terbukti sukses bersama Porto, yakni 4-4-2 diamond dan 4-3-3. Sesuatu yang menjadi antitesis dari permainan Keane dan Vieira.

Di tengah hiruk pikuk para pemeran utama di lini tengah kompetisi Liga Premier, Makelele datang sebagai pembeda. Dia mampu membuat pertahanan dan serangan terlihat begitu sederhana. Dia tahu kapan harus berada dalam benteng pertahanan dan kapan harus memegang bola.

Lebih dari itu, dia juga paham kapan harus memainkan bola ke depan, bagaimana mendikte aliran permainan, dan bagaimana menggagalkan lawan atau memotong bola dari tengah.

Eks pelatih Fulham, Chris Coleman, memahami betul bagaimana pentingnya peran Makelele bagi kubu Chelsea. Oleh sebab itu, ketika timnya berhadapan dengan Chelsea, dia langsung memasang taktik, dimana para pemainnya bisa mematikan langkah Makelele.

Benar saja, Fulham berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 1-0 atas Chelsea pada Maret 2006. Dalam laga itu, Makelele mendapat penjagaan yang begitu ketat hingga gerak-geriknya sangatlah terbatas.

Ya, Makelele memang layak disebut sebagai titik fokus serangan Chelsea. Dia memiliki peran yang sangat vital, dengan mampu mencegah serangan lawan melalui intersep atau tekel bersih, untuk kemudian dijadikan sebagai awal dari serangan Chelsea. Dengan begitu, Chelsea saat itu bisa mengubah situasi bertahan menjadi menyerang dalam waktu sekejap saja.

Jika melihat ke posisinya di atas lapangan, maka Makelele berada di ujung segitiga pertahanan, dan alas dari lini tengah the Blues. Dia sangat istimewa, hingga membuat pelatih Chelsea, Claudio Ranieri begitu terkesima.

Dalam hal ini, Frank Lampard menjadi saksi dari betapa pentingnya peran Makelele. Dia bisa banyak mendapatkan bola dan melakukan serangan dari bola yang dialirkan Makelele. Lebih dari itu, Makelele juga bisa dijadikan sebagai pelindung ketika rekan setimnya itu tengah membawa bola.

Setelah mendapat banyak sekali pengalaman berharga di Chelsea, Makelele akhirnya putuskan mundur. Deretan trofi bergengsi menjadi peninggalannya sebelum putuskan pulang ke Prancis. Tepat pada Juli 2008, salah satu gelandang terhebat Liga Inggris ini bergabung dengan Paris Saint Germain, dan mengakhiri karirnya di sana.

Makelele bermain sampai usianya menginjak 38 tahun. Selama itu, dia telah menunjukkan konsistensi yang begitu luar biasa. Meski tak benar-benar mendapat sorotan luar biasa, nama Makelele akan selalu pas ketika dimasukkan ke dalam sejarah sepak bola.

Setelah beberapa tahun lamanya, kini Stamford Bridge kembali diisi oleh gelandang tangguh yang gaya permainannya begitu mirip dengan Makelele. Dia adalah Kante. Sejak didatangkan dari Leicester, pemain yang juga berasal dari Prancis itu bahkan langsung mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris.

Menyusul kontribusinya yang luar biasa bagi Chelsea, wajar bila kita sering mendengar ungkapan “Kantelele”, sebagai bentuk penghargaan kepada sang legenda dalam diri N’Golo Kante.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru