Carlo Ancelotti menjadi satu dari sekian nama pelatih hebat saat ini. Pria Italia yang kini memiliki bisnis di Merseyside tengah berusaha keras mengembangkan para anak asuhnya di atas lapangan sepak bola. Bersama tim bercorak biru, Ancelotti memiliki tugas yang cukup berat. Namun itu tidak mengapa, dalam lembaran cv nya, dia punya banyak prestasi untuk dibanggakan. Dia punya banyak capaian yang barangkali bisa dijadikan sebagai motivasi dalam mengarungi kompetisi tertinggi.
Ancelotti memang termasuk ke dalam salah satu pelatih legenda. Dia sudah banyak melatih klub-klub besar, termasuk FC Bayern, AC Milan, dan Real Madrid. Bagi Ancelotti, satu klub terindah yang pernah ia latih mungkin AC Milan. Selain karena dia pernah bermain untuk klub tersebut, di AC Milan, dirinya juga berhasil torehkan banyak prestasi besar.
AC Milan tak ubahnya menjadi penyelamat bagi karir kepelatihannya. Setelah sempat dibuang oleh Juventus, AC Milan melalui Silvio Berlusconi langsung memberinya kepercayaan. Ketika itu, pada tahun 2001, Ancelotti datang dengan kepercayaan diri yang telah hancur. Namun sekali lagi, Milan memberinya banyak kesempatan. Mereka membuatnya merasa nyaman dan terus berkembang.
Hingga pada akhirnya, di tempat itulah ia temukan banyak kebahagiaan.
“Aku selalu punya hubungan bagus dengan Presiden [Berlusconi], walau orang-orang sering mengatakan bahwa ia mengatur susunan pemain tim ku. Dia tidak pernah mengkritik ku saat aku menghadapi momen sulit,”
“Faktanya, ia justru mengkritik ketika kami sedang berada di puncak klasemen atau setelah menjuarai Liga Champions: cara dia untuk memotivasi kami,” tutur Ancelotti (via football-italia, 2014)
Menyoal tentang perjalanan indahnya selama kurang lebih delapan musim, Ancelotti punya banyak cerita, dimana salah satunya adalah tentang formasi yang ia gunakan. Satu trofi Serie A dan dua gelar Liga Champions Eropa menjadi bukti dari kejeniusannya dalam meracik strategi. Ketika itu, Ancelotti mengenalkan taktik 4-3-2-1 yang kemudian populer dengan istilah taktik pohon cemara.
Taktik tersebut hadir setelah dia memiliki banyak sekali stok gelandang hebat.
Secara historis, formasi semacam ini belum terlalu populer di telinga orang. Menurut sports-nova, taktik ini pertama kali digunakan oleh Crystal Palace sekitar tahun 1970. Manajer Palace saat itu, Bert Head, memiliki ide untuk melempar satu penyerang handal ke depan, untuk kemudian dibantu oleh dua gelandang serang. Selain itu, taktik ini juga pernah digunakan oleh Den Haag ketika mereka berada dibawah asuhan Terry Venables. Namun begitu, formasi ini benar-benar berkembang ketika Ancelotti menerapkannya di klub yang dibelanya saat itu, AC Milan.
Formasi 4-3-2-1 merupakan taktik bertahan, dimana lini tengah nya terdiri dari lima orang. Fundamental dari taktik ini didasarkan pada soliditas dan ketegasan. Dalam hal ini, kiper dilindungi oleh empat pemain belakang, yang juga sewaktu-waktu bisa dibantu oleh tiga gelandang tengah.
Dari tiga gelandang tengah yang ada, pemain yang menempati posisi sentral memiliki peran paling penting. Disaat dua lainnya turut membantu serangan sekaligus memutus serangan, pemain tersebut memiliki peran dalam mengatur tempo permainan.
Peran para pemain yang cenderung membentuk pertahanan kokoh inilah yang pada akhirnya memungkinkan tiga pemain depan lebih leluasa untuk menusuk lini pertahanan lawan. Mereka yang beroperasi sebagai gelandang serang serta penyerang tunggal akan lebih fokus untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya.
Perlu dicatat bahwa penyerang tunggal dalam pola ini memiliki tugas yang cukup berat. Dia harus mengejar bola-bola panjang, memiliki sentuhan pertama yang luar biasa, serta memiliki kecerdasan dalam menempatkan posisi. Dengan begitu, segala bola yang mengalir kepadanya akan dengan mudah dimanfaatkan.
Dalam hal ini, Ancelotti berhasil memenuhi komposisi pemain pada setiap pemain. Maka dari itu, dia bisa dikatakan berhasil ketika menggunakan pola tersebut dalam setiap pertandingan. Dalam menerapkan pola ini, Ancelotti masih mengikuti sisa-sisa filosofi yang ia dapat dari guru besarnya, Arrigo Sacchi. Dari filosofi Sacchi, Ancelotti memahami tentang pentingnya kontrol bola. Bola hanya ada satu dan tim harus melakukan penguasaan bola agar lawan tidak bisa mencetak gol.
Hal itulah yang membuat dirinya selalu memiliki deep-lying playmaker atau gelandang bertahan dengan tipe pengatur ritme bermain di tim-tim yang pernah dilatihnya. Misalnya saja Andrea Pirlo di Milan, Xabi Alonso di Real Madrid dan FC Bayern Munchen, Marco Verratti di PSG, serta John Obi Mikel di Chelsea. Ancelotti tahu pentingnya penguasaan bola.
Dalam buku otobiografi “Preferisco La Coppa”, Ancelotti menuturkan bagaimana proses ia mencari cara memaksimalkan stok gelandang berkelas yang dimiliki Milan, hingga akhirnya menjadi taktik 4-3-2-1.
“Musim penuh pertama ku di Milan, 2002/03, berkaitan dengan formasi ‘Pohon Cemara’. Itu terjadi karena ada peluang. Jendela transfer kami mendatangkan dua pemain: Clarence Seedorf dan Rivaldo.”
“Tugasku adalah mencari cara agar keduanya bisa bermain bersama, sementara sudah ada Andrea Pirlo dan Rui Costa. Empat pemain ini harus bermain, sesuai filosofi klub, yaitu hiburan dan sepak bola indah harus ada.”
“Pirlo benar-benar membantu ku. Suatu hari ia mendekatiku dan mengatakan bahwa dia bisa bermain lebih dalam, persis di depan empat pemain belakang. Aku sangat meragukannya. Dia seorang gelandang serang, ia cenderung berlari dengan bola.”
“Dan sebelumnya, itu bekerja baik. Dia menjadi pemain terbaik dunia dengan peran seperti itu. Aku menempatkan Seedorf ke sayap, dengan Rui Costa dan Rivaldo berada di belakang satu striker. Simsalabim, itulah 4-3-2-1 atau ‘Pohon Natal’.”
Seperti apa yang dikatakan Ancelotti, Pirlo memang sangat membantu tugas nya untuk bisa mengembangkan formasi ini. Dia mampu menjaga keseimbangan tim. Dia memberi peluang yang lebih besar kepada Seedorf dan Gattuso untuk menunjukkan kreativitasnya. Gerakannya sangat luar biasa. Itu mengapa tak heran bila Pirlo layak disebut sebagai salah satu gelandang terbaik Italia sepanjang masa.
Jangan lupakan pula ketika Massimo Ambrosini terlihat begitu berjaya di lini tengah Milan. Dia sempat mengisi barisan tiga gelandang tengah, setelah Seedorf diduetkan dengan Ricardo Kaka tepat di belakang penyerang tunggal.
Selain Pirlo yang berhasil dikonversi dari gelandang serang menjadi gelandang bertahan, ada juga Ricardo Kaka yang berhasil meraih penghargaan Ballon D’or pada tahun 2007. Selain itu, Dida merasa begitu nyaman dengan keberadaan Paolo Maldini dan Alessandro Nesta di lini pertahanan. Dalam menjaga konsistensi lini pertahanan Milan, Ancelotti juga sesekali menempatkan Alessandro Costacurta yang meski sudah tergolong tua namun tetap tampilkan permainan berkelas. Belum lagi peran Marcos Cafu dan Marek Jankulovski di sisi sayap yang begitu luar biasa.
Di depan tiga gelandang tengah, pada awal pembentukan taktik ini, nama Rui Costa dan Rivaldo dimanfaatkan untuk mengakomodasi Andriy Shevchenko, Alberto Gilardino, atau Jon-Dahl Tomasson, hingga Filippo Inzaghi di lini serang.
Taktik itu, sekali lagi, berhasil menempatkan Milan sebagai raksasa Eropa.


