Seorang maestro sepak bola asal Prancis, Zinedine Zidane telah memutuskan untuk gantung sepatu tak lama setelah final piala dunia 2006. Tak lama setelah pensiunnya mantan pemain Real Madrid tersebut, muncul beberapa sosok pemain muda yang disebut-sebut sebagai titisan Zidane.
Selain Samir Nasri dan Karim Benzema yang juga seorang imigran seperti Zidane. Ada lagi pemain yang kerap disebut-sebut akan menjadi Zidane berikutnya di tim nasional Prancis, pemain itu bernama Yoan Gourcuff.
Yoan Gourcuff mendapat julukan “sang suksesor” murni karena kualitas permainan yang ia tampilkan di atas lapangan. Dan julukan tersebut datang dari sumber yang tidak sembarangan yakni L’Equipe yang biasanya hati-hati dalam melontarkan pujian.
Rennes have released Yoann Gourcuff, widely regarded as one of the handsomest footballers of his generation pic.twitter.com/ao1ybtqiKR
— Nooruddean (@BeardedGenius) June 4, 2018
Mantan pemain Prancis, David Ginola menggambarkan Yoan Gourcuff sebagai pemain terbaik Prancis di generasinya. Potensi dan bakatnya, gaya bermainnya yang elegan, keuletan di atas lapangan, keterampilan teknis dan menjadi dewasa sebelum waktunya telah menjadikan Gourcuff selalu dibanding-bandingkan dengan Zinedine Zidane.
Christophe Duggary, pemain prancis di piala dunia 1998 dan piala eropa 2000 yang juga sahabat dari Zidane menilai Gourcuff lebih lengkap dari sahabatnya tersebut. Gourcuff dapat bermain di lebih banyak posisi walau ia seringkali bermain di posisi gelandang serang atau penyerang lubang.
“Terlepas dari imajinasi seorang nomor 8 dan bakat serta teknik seorang nomor 10, ia memiliki kekuatan seorang nomor 6,”ujar Christophe Dugarry.
Sejak remaja talenta Gourcuff memang luar biasa. Di usia 20 tahun, ia sudah direkrut AC Milan yang masih berstatus raksasa Italia. AC Milan saat itu masih diperkuat gelandang-gelandang jempolan macam Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf dan si pria ajaib, Kaká.
Di usia yang baru menginjak kepala dua, ia sudah berbagi ruang ganti dengan Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Filippo Inzaghi, Nélson Dida, Marcos Cafu dan Il Phenomenon, Ronaldo.
Akan tetapi, ekspektasi itu tak pernah terwujud. Di Milan ia gagal total, hanya cetak 3 gol dari 54 pertandingan. Gourcuff lalu dipinjamkan ke Bordeaux, di negara sendiri lah ia bersinar terang. Bermain untuk Bordeaux, gelandang yang saat itu berusia 22 tahun terpilih sebagai pemain terbaik Liga Prancis musim 2008/09.
Dari 38 pertandingan yang telah dilakoni Bordeaux, Gourcuff 36 kali terlibat di dalamnya. Dari jumlah itu ia mencetak 12 gol dan menghasilkan 11 assist. Tak pelak ia adalah salah satu kunci utama Bordeaux menjadi juara Ligue 1.
Perlu diketahui, Bakat besar Gourcuff dan kemampuannya menggantikan Zidane baru benar-benar menjadi perbincangan nasional sejak 11 Januari 2009 pada pertandingan Bordeaux melawan Paris Saint-Germain.
Menghadapi PSG, Gourcuff menerima bola dengan posisi membelakangi gawang dan dalam tekanan dua pemain lawan. Dengan empat sentuhan dalam satu rangkaian gerakan, Gourcuff membebaskan diri dari Sylvain Armand dan Sammy Traore. Sebuah Trivela menjadi sentuhan kelima dan terakhir sebelum bola melewati garis melewati sudut atas gawang.
Tampil gemilang, Bordeaux akhirnya mempermanenkan Gourcuff di musim selanjutnya. Dalam dua tahun, Gourcuff mencetak total 24 gol dan 27 asisst dari total 95 penampilan bersama Les Girondins. Harga pasarnya pun melonjak ke angka 22,5 juta euro atau sekitar Rp 350 miliar dan ia pun mendapat panggilan untuk tampil di Piala Dunia 2010.
Pada Piala Dunia 2010, Gourcuff mengambil alih peran pengatur serangan utama yang pada Piala Dunia edisi sebelumnya milik Zidane. Sayang, di gadang-gadang bakal bersinar terang bersama Les Bleus, Gourcuff gagal menampilkan permainan terbaiknya selama di Afrika Selatan.
Di laga pembuka kontra Uruguay yang berakhir imbang tanpa gol, Gourcuff tak bermain penuh, ia diganti di babak kedua karena kontribusinya sangat minim. Just Fontaine,pemain prancis dan topskor piala dunia 1958 pun sempat berujar bahwa di pertandingan itu Gourcuff seperti hilang ditelan bumi.
Beberapa saat kemudian tersiar kabar bahwa saat melawan Uruguay, Franck Ribéry dan Nicolas Anelka memang sengaja mengisolir Gourcuff karena iri padanya. Meski mendapat “pembelaan”, nyatanya Gourcuff kembali tampil mengecewakan di laga pemungkas penyisihan grup.
Melawan tuan rumah Afrika Selatan, di bawah puluhan ribu pasang mata dan riuhnya suara vuvuzela, Gourcuff melayangkan sikutnya ke wajah pemain Afsel. Kartu merah pun keluar dari kantong wasit dan Prancis pun ikut keluar dari turnamen piala dunia.
Namun, berkat performa apiknya di Bordeaux, Olympique Lyon kemudian membelinya. Musim pertamanya di Lyon tak berjalan mulus. Ia merasa sangat kecewa dan frustrasi dengan dirinya sendiri. Di musim itu, Gourcuff hanya torehkan 4 gol dari 33 pertandingan.
Happy Birthday Yoann Gourcuff !!! #yoanngourcuff #gourcuff #gorcuff #yoan #football #soccer #happybirthday #OL #Lyon pic.twitter.com/U8wSufnr
— Hameed (@memyselfis1) July 10, 2012
Di kemudian hari, kontribusinya tak kunjung membaik. Berbagai hantaman cedera menghampirinya dan membuat ia absen dalam 90 pertandingan Lyon secara keseluruhan. Hal itu pula yang membuatnya kesulitan menemukan klub baru sejak dilepas Lyon pada bulan Juli 2015.
Gourcuff baru menemukan klub barunya pada januari 2016, saat Rennes meminangnya. Bersama Rennes pun Gourcuff gagal menunjukan kualitas dirinya. Selama dua setengah musim, ia hanya 53 kali tampil dan hanya mencetak 7 gol. Setelah itu, ia bermain untuk Dijon, namun lagi-lagi cedera dan permainan inkonsistennya membuatnya gagal bersinar.
Di pentas Internasional, hanya turnamen piala dunia 2010 lah yang Gourcuff ikuti, seiring dengan kondisi dan performanya yang menurun, ia tak diikut sertakan dalam ajang selanjutnya seperti piala eropa 2012 dan piala dunia Brasil 2014.
Melihat perjalanan karirnya, Gourcuff telah gagal disebut sebagai suksesor Zinedine Zidane. Selain performa yang mengecewakan di level klub, ia juga tampil buruk bersama tim nasional Prancis. Gourcuff hanya menorehkan 5 gol serta 8 assist dalam 31 pertandingan.


