Selama ini, banyak pemain yang membela dua negara berbeda. Namun, apa yang terjadi pada legenda Real Madrid kelahiran Buenos Aires, Argentina, Alfredo Di Stefano, terbilang langka. Dia pernah membela tiga negara yang berbeda.
Salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah itu membela Argentina di tahun 1947 pada gelaran yang kini dikenal dengan nama Copa America. Dua tahun setelahnya, Di Stefano membela Kolombia. Dia bermain untuk Timnas Kolombia empat kali dalam rentang waktu tiga tahun. Setelah membela Kolombia, dia sempat ingin membela Argentina. Namun, hal itu tidak diperbolehkan setelah FIFA karena Stefano telah membela Kolombia.
Pada tahun 1957, Di Stefano menjadi warga negara Spanyol. Karena itu, dia pun bisa membela Timnas Spanyol. Dalam rentang waktu 1957-1961, dia bermain 24 kali bagi Spanyol dan membuat 23 gol.
Kasus membela tiga negara juga pernah dialami Dejan Stankovic. Namun bedanya, Stankovic bermain untuk tiga negara yang semuanya tampil di Piala Dunia.
Sepanjang karirnya di Piala Dunia, Stankovic tercatat bermain bersama tiga negara, yang pertama bersama Yugoslavia (1998), kemudian Serbia Montenegro (2006), lalu pada tahun 2010 untuk Serbia.
Namun apa jadinya jika satu pemain pernah membela empat negara? Ya, hal itu dialami langsung oleh pria bernama Akhrik Tsveiba.
Pemain yang berposisi sebagai seorang bek ini melakukan debutnya untuk Uni Soviet pada 1990. Saat itu penampilan apiknya bersama sejumlah klub Soviet seperti Dinamo Sukhumi hingga Dinamo Tbilisi membuat Tsveiba mendapat panggilan timnas.
Tsveiba adalah bek kokoh yang mulai menjadi pemain reguler sepanjang 1991, menjalani 17 penampilan dan bahkan mencetak satu gol.
Tim nasional sepakbola Uni Soviet pernah berjaya. Gelar juara Piala Eropa 1960 dan dua medali emas Olimpiade 1956 dan 1988 adalah buktinya. Belum lagi keberhasilan mencapai final Piala Eropa 1964, 1972, dan 1988 serta semifinal Piala Dunia 1966. Namun pecahnya Uni Soviet memaksa tim nasional sepakbola mereka pecah pula.
Akhrik Tsveiba, le joueur qui a porté le maillot de 4 sélections : l’URSS, la CEI, l’Ukraine et la Russie. pic.twitter.com/yJan0jn6Kw
— Bilou (@BilouFCB) July 3, 2016
Di Swedia 1992, Uni Soviet ambil bagian sebagai pecahan dengan nama Persemakmuran Negara-Negara Merdeka atau dalam bahasa Inggris disebut Commonwealth of Independent States (CIS). Disebut demikian karena CIS sendiri adalah tim nasional masa transisi dan berada di bawah naungan Federasi Sepakbola Uni Soviet.
Negara-negara pecahan yang belum siap menjadi cikal bakal dibentuknya federasi transisi tersebut.
Dalam hal ini, CIS praktis menjadi timnas kedua Tsveiba. Tim itu total bermain sebanyak sepuluh pertandingan resmi pada 1992, dengan Tsveiba mencetak gol pertama tim lalu mencatat tujuh penampilan. Saat itu, ia tampil bersama pemain-pemain dari Belarusia, Georgia, dan Ukraina.
Pada akhirnya CIS pun bubar pasca Piala Eropa 1992. Tsveiba sempat memilih Ukraina sebagai timnas berikutnya. Ia sekali mengenakan seragam Ukraina di akhir tahun 1992 saat membela Dinamo Kiev. Namun Tsveiba pergi mencari tantangan baru ke Asia dan meninggalkan segala konflik dan krisis yang masih terjadi di Rusia meskipun Rusia sudah membentuk federasi negara baru pasca pecahnya Soviet.
Semenjak hijrah ke Asia, Tsveiba tidak pernah membela Ukraina lagi. Pada saat itu pula, lima tahun ia habiskan tanpa membela timnas.
#Efemérides 07/02/1997
Akhrik Tsveiba debuta en @TeamRussia, la tercera selección nacional en la que juega (estuvo en las de URSS y CEI) pic.twitter.com/uUMIAoN4kK— DeChalaca (@DeChalaca) February 7, 2017
Menceritakan karier sang pemain, The Guardian menulis,
“Tsveiba tampil satu kali saja untuk Ukraina. Berikutnya adalah lima tahun tanpa tim nasional, sementara Tsveiba menjalani karier klubnya di Tiongkok dan Jepang. Ia akhirnya pulang pada 1997 dan bermain delapan kali lagi, kali ini untuk Rusia.”
Ya, penantian Tsveiba selama lima tahun terbayar pada 1997 saat mendapat panggilan dari timnas Rusia. Debutnya bersama Rusia terjadi pada turnamen Carlsberg Cup saat menghadapi Yugoslavia. Ia menutup lembaran internasionalnya di tahun itu juga dengan total mencatat delapan caps bersama negeri Beruang Merah.
Namun menariknya meski telah membela total empat negara, Tsveiba tak sekalipun pernah membela negara kelahirannya, Georgia. Entah apa alasannya, hingga pensiun, ia tak pernah punya kesempatan untuk menjunjung tinggi panji Georgia.


