Mengapa Ligue 1 Di Ejek Sebagai Liga Petani ?

spot_img

Liga Champions musim 2019/20 memunculkan banyak tim kejutan. Antara lain ada Atalanta yang sukses menembus delapan besar dalam musim debutnya di Liga Champions.

Tim asal Italia itu bahkan menyingkirkan Valencia lewat dua kemenangan dalam babak 16 besar. Klub kejutan lain yang muncul adalah RB Leipzig. Leipzig berhasil mencapai babak semifinal ketika klub tersebut baru berumur 11 tahun.

Dari beberapa tim kejutan yang ada, tak adil rasanya jika tak menyebut nama Olympique Lyon. Ya, klub asal Prancis tersebut merupakan pembunuh raksasa pada Liga Champions musim ini. Bayangkan saja, dua tim kuat eropa berhasil mereka singkirkan, siapa lagi kalau bukan Juventus dan Manchester City.

Lyon memupus harapan Juventus untuk merengkuh trofi si kuping besar musim ini. Memphis Depay dan kolega menyingkirkan Si Nyonya Tua di babak perdelapan final dengan agregat 2-2. Lyon lolos ke perempat final berkat keunggulan produktivitas gol tandang. Kejutan Lyon tak berhenti sampai disitu, di fase delapan besar yang menerapkan sistem satu pertandingan, mereka menghajar Manchester City 3-1.

Laga antara Lyon kontra City merupakan laga terakhir babak perempat final. Atas kemenangan itu, Lyon menjadi wakil Prancis kedua yang menjejakkan kakinya ke semifinal setelah sebelumnya sudah ada PSG. Keberhasilan Lyon melaju ke semifinal juga sekaligus membuat Inggris tanpa wakil di babak semifinal. Pasalnya, semifinal Liga Champions musim ini menghadirkan empat tim hanya dari dua negara, yakni Jerman dan Prancis.

Banyak pihak yang bersyukur atas tersingkirnya Man City dan lolosnya Lyon ke semifinal. Salah satu pihak tersebut adalah penyerang PSG, Kylian Mbappe. Mbappe tidak bisa menahan diri untuk membalas kritikan miring terhadap Ligue 1 usai menyaksikan Lyon menyingkirkan City. Dia mengucapkan selamat pada rival satu negaranya tersebut.

Tak lama setelah pertandingan selesai, Mbappe mengunggah sebuah cuitan di akun twitter pribadinya dengan tulisan: “FARMERS LEAGUE” disertai emoji badut dan tepuk tangan yang menandai akun resmi Lyon. Cuitan pesepakbola berumur 21 tahun tersebut dimaksudkan untuk menyindir para pecinta sepak bola yang menyebut Liga Prancis dengan sebutan farmers league alias liga untuk para petani.

Lalu yang jadi pertanyaan, mengapa Liga Prancis disebut dengan Liga Petani ?

Istilah Farmers League dipopulerkan penikmat sepak bola untuk mengejek kompetisi papan atas Prancis, Ligue 1. Ada beberapa alasan mengapa Ligue 1 diejek dengan sebutan Liga Petani. Pertama, Ligue 1 menjadi liga yang kurang kompetitif karena hanya didominasi satu tim. Perlu kita ingat bahwa pada era 2000-an, Lyon sempat menjadi juara selama tujuh musim beruntun, sebelum kemudian PSG merajalela di dekade 2010-an.

Kedua, di antara lima liga top Eropa yakni Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, dan Prancis, Ligue 1 yang disebut sebagai kompetisi paling lemah. Selain itu, koefisien mereka di UEFA juga sangat kecil dibanding 4 liga lain sehingga wakilnya di Liga Champions lebih sedikit. Prancis hanya mendapat jatah tiga tim di Liga Champions, bandingkan dengan empat liga top lainnya yang mendapat jatah empat klub.

Namun sejatinya, seiring waktu, PSG terutama, perlahan-lahan coba menaikkan level Ligue 1 dengan mendatangkan bintang-bintang mahal dunia seperti Neymar, David Beckham, Keylor Navas, Mauro Icardi, serta Zlatan Ibrahimovic. Namun, anggapan Farmers League tak kunjung hilang karena kemewahan PSG membuat dominasi mereka terlalu kuat dan dianggap “mematikan” level kompetitif dengan klub lain.

Alasan lain Ligue 1 disebut liga petani adalah karena Ligue 1 hanya dianggap sebagai tempat untuk para pemain muda mematangkan kemampuannya. Setelah pemain tersebut mencuat, klub-klub dari Liga Prancis kerap menjualnya ke klub-klub yang berada di liga top eropa lainnya.

Para pemain di Ligue 1 mendapat ejekan bahwa mereka sibuk bertani di pagi dan siang hari dan hanya bermain sepakbola di malam hari untuk bersenang-senang. Tidak ada ambisi untuk memenangkan pertandingan dari pada pemain karena sesungguhnya kegiatan utama mereka adalah bertani di pagi dan siang hari. Juga ada anggapan bahwa para pemain di Ligue 1 tak punya skill dan exposure yang selevel dengan pemain di Serie A atau Liga Primer misalnya.

Kini, dengan lolosnya Lyon dan PSG ke semifinal Liga Champions musim ini, ungkapan para fans dengan istilah farmers league untuk Liga Prancis nampaknya sedikit terbantahkan.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru