Di Canio: Si Bengal Asal Italia Yang Temukan Rumah Di Tanah Britania

spot_img

Paolo Di Canio menjadi nama yang kerap bergonta-ganti klub. Pria Italia yang kini berusia 51 tahun setidaknya sudah mencicipi lebih dari 10 klub untuk dibela. Namun begitu, dari sekian banyak tim asal Italia yang dibela, Di Canio justru melegenda di tanah Britania.

Perjalanan panjang nya dimulai ketika ia mulai bermain sepak bola secara profesional bersama Lazio. Pada tahun 1985, Di Canio masuk ke dalam daftar pemain Lazio hingga setidaknya lima tahun kedepan. Bergabung dengan Lazio merupakan sesuatu yang tidak mudah bagi Di Canio. Pasalnya, dia berasal dari keluarga yang merupakan penggemar AS Roma.

Namun, untuk menunjang karir sepak bolanya, apalagi saat itu masih berusia sangat muda, Di Canio benar-benar memantapkan diri untuk berkarir bersama tim elang ibukota. Bersama Lazio, ia melakoni sebanyak 62 pertandingan. Meski tak menciptakan banyak gol, Di Canio tetap menjadi salah satu penyerang muda berbakat yang sangat diinginkan.

Benar saja, pada musim 1990/91, raksasa Italia, Juventus memberinya penawaran kontrak. Meski berhasil sumbangkan trofi Piala Europa pada tahun 193, nama Di Canio tidak benar-benar dimanfaatkan. Hal itu menyusul banyaknya pemain bintang yang berada di kubu Si Nyonya Tua. Sebut saja pemain seperti Roberto Baggio, Salvatore Schillaci, Pierluigi Casiraghi, Fabrizio Ravanelli, Gianluca Vialli, dan Andreas Möller.

Ia lalu putuskan pergi ke Napoli dan bermukim selama satu musim saja. Pada tahun 1994, Di Canio bergabung dengan AC Milan. Ia berhasil memenangkan trofi Serie A pada tahun 1996. Namun sayang, armada luar biasa yang dimiliki Fabio Capello membuatnya kehilangan tempat.

Di Canio kembali gugur dalam persaingan dalam sebuah raksasa. Ia hengkang dan tak lagi bermukim di Italia. Dua musim bersama Milan membuatnya pergi ke Celtic. Ia berhasil menjadi salah satu pemain yang diinginkan, pasca catatkan 15 gol dalam 37 penampilan. Penghargaan individu berhasil didapat namun perjalanannya di Skotlandia tak bertahan lama.

Di Canio yang memiliki sifat semaunya meminta kenaikan gaji pada Celtic. Ia beralasan kalau segala hal yang diberi telah membuat Celtic menjadi klub yang ditakuti. Akan tetapi, klub tersebut menolak. Jadilah Di Canio minggat dari skuad yang akan dibawa dalam pertandingan hingga kontraknya bersama klub tersebut putus.

Tak ikut serta dalam tur pra musim Celtic memunculkan nama Sheffield Wednesday sebagai tujuan berikutnya. Ia dibeli seharga 4,2 juta pounds. Ia berhasil tunjukkan ketajaman hingga menjadi andalan. Sebanyak 14 gol yang ditorehkan pada musim 197/98 membuat nama Di Canio menjadi top skor klub musim itu.

Namun lagi-lagi sikap bengalnya menjadi penghalang baginya untuk kembangkan bakat. Pada September 1998, Di Canio dikabarkan telah mendorong wasit Paul Alcock sampai terjatuh. Ia pun dikeluarkan dari pertandingan.

Tak sampai disitu saja, larangan 11 kali main ditambahkan. Selain itu, denda sebesar 10 ribu pounds juga disematkan pada hukuman yang telah dilakukan.

Nama Di Canio yang dikenal garang tak beraturan menjadi pembicaraan media. Hal itu benar-benar membatasi langkahnya. Bahkan, sikap buruk digadang-gadang menjadi penyebab baginya selalu gagal masuk ke skuad Italia.

Ditengah terik padang pasir, datanglah sebuah oase. West Ham memberikan segelas air untuk menghentikan dahaga sang pemain. Ditengah kesulitannya dalam mencari tim, Di Canio ditampung oleh West Ham yang masih percaya pada bakatnya.

Berkat perlakuan tersebut, Di Canio kembali bisa lanjutkan perjuangan dalam dunia sepak bola.

Saat itu, bos West Ham, Harry Redknapp, menggelontorkan dana senilai 1,5 juta pounds untuk datangkan Di Canio. Keputusan Harry Redknapp saat itu sempat menjadi perdebatan. Ia dianggap telah melakukan kesalahan, karena datangkan pemain yang memiliki reputasi tak beraturan.

Namun Harry Redknapp tetap teguh pada pendiriannya. Ia percaya bahwa keputusannya sudah benar dan akan mendatangkan keuntungan.

“Kalian semua punya pendapat. Tapi lihat saja siapa yang benar,” ujar Harry Redknapp (via These Football Times).

Di usianya yang sudah menginjak angka 30 tahun, Di Canio diberi kepercayaan oleh West Ham. Ia yang sempat tak termotivasi kembali temukan jati diri. Cinta yang telah diberikan West Ham dibayar lunas. Ia tak mau pihak yang telah memberinya kesempatan kecewa.

Pada akhirnya, Di Canio memang tampil begitu garang. Ia benar-benar tunjukkan kualitas dan selalu berikan performa kelas atas. Tak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Baik West Ham atau Di Canio, sama-sama merasakan hangatnya kasih sayang. Ucapan Harry Redknapp benar, dan Di Canio kembali menuju ke jalur yang diinginkan.

Dengan penuh semangat, Di Canio tampil luar biasa. Ia menjadi bintang dalam sejumlah laga, salah satunya dalam kemenangan 2-0 melawan Blackburn.

Dalam 12 pertandingan awal, Di Canio berhasil sumbangkan empat gol. Ia mulai menjadi sorotan dan dicintai banyak penggemar.

West Ham seolah menjadi rumahnya. Di Canio merasa bahagia. Meski berasal dari Italia, tanah Britania telah memberinya banyak pengalaman tak terhingga.

Salah satu prestasi terbaiknya bersama West Ham tentu saat ia berhasil sumbangkan trofi Intertoto pada tahun 1999. Ia bahkan berhasil bawa The Hammers bercokol di posisi kelima klasemen akhir.

Pada musim berikutnya, Di Canio tampil dalam 45 pertandingan di semua ajang dan berhasil sumbangkan 17 gol. Salah satu gol terbaiknya tentu tercipta pada laga melawan Wimbledon.

Tepat pada 26 Maret 2000, Di Canio menciptakan gol yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di kompetisi sepak bola Inggris. Gol itu bermula dari bola lambung yang dikirim oleh Trevor Sinclair dari sektor kanan, melewati para bek Wimbledon, sampai akhirnya tiba dalam bidikan Paolo Di Canio yang menanti di dalam kotak penalti.

Dari sudut sempit, Di Canio melepaskan tembakan yang sangat tidak terkira. Pria Italia bak berdansa di udara. Dengan rasa percaya diri tinggi, Di Canio terbang dan melepas tembakan secara voli sembari mengangkat kedua kakinya dari tanah.

Tanpa diprediksi, bola hasil tembakannya meluncur deras ke pojok kanan gawang Wimbledon, tanpa bisa dijangkau kiper Neil Sullivan.

Gol yang membuka kemenangan 2-1 West Ham atas Wimbledon itu pun dinobatkan sebagai gol terbaik musim 1999/00 oleh BBC.

Musim berikutnya, tak ada yang berkurang dari Di Canio. Ia masih terus menjadi andalan dengan gelontoran gol yang diciptakan. Sulit untuk menyingkirkan nama Di Canio dalam buku sejarah West Ham, atau bahkan sepak bola Inggris. Penampilannya begitu menyihir publik Britania.

Pada akhir musim 2000/01, Di Canio mengakhirinya dengan catatan 11 gol dari 37 penampilan.

Penampilan gemilang Di Canio juga dibuktikan dengan fakta bahwa dirinya pernah begitu diminati oleh Sir Alex Ferguson.

Hal itu terjadi pada tahun 2001. Kala itu, Di Canio mendapat telepon dari Sir Alex Ferguson. Ia mengaku sangat terkejut dan bangga karena diminati oleh manajer sekaliber Fergie. Namun karena Di Canio merupakan sosok yang unik, ia menolak tawaran tersebut.

Ia menolak dengan alasan bahwa West Ham telah banyak memberikan kesempatan baginya. Ia tidak ingin mengecewakan West Ham, karena pada saat tidak ada pihak yang menginginkannya, hanya West Ham yang mau memberinya kesempatan.

Disisi lain, Fergie tidak merasa kecewa, Ia sangat menghormati keputusan Di Canio.

Setelah bertahan di West Ham, Di Canio tampil setidaknya sampai tahun 2003 sebelum akhirnya hengkang ke Charlton. Setahun setelahnya, ia kembali ke Lazio dan mengakhiri karir di klub Cisco Roma.

Dalam perjalanan karirnya, Di Canio Terbilang mendapat banyak kebahagiaan bersama West Ham. Klub tersebut sangat bersejarah baginya. Ia merasa bangga dan senang karena masuk kedalam buku sejarah The Hammers.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru