Klub akhirnya mempertimbangkan Bielsa untuk berkarir di sebelah Utara Inggris. Pelatih asal Argentina ini mengangkat Leeds United yang nyungsep ke dalam kubangan kasta terendah sepak bola Inggris.
Setelah tiga belas jam pertemuan di sebuah hotel di Buenos Aires, akhirnya Marcelo Bielsa ambil bagian untuk mengomandoi Leeds United. Tidak seorang pun yang meragukan keputusan Bielsa ketika dia mengambil pekerjaan itu. Keputusan itu dia ambil disela-sela istirahat makan dengan harapan mengambil jeda dari perbincangan sepak bola. Akan tetapi hal itu tak bisa ia tampik sebab delegasi dari Leeds bersiteguh membicarakan tentang bagaimana mengelola klub tersebut ke depan.
Adalah Victor Orta sang direktur bersama Angus Kinnear si kepala bagian bidang pengembangan klub, yang dikirim Leeds untuk bernegosiasi. Selain Bielsa, mereka telah menyiapkan pelatih lain untuk jaga-jaga bila Bielsa tak berkenan. Ketika Bielsa pertama kali dihubungi pada satu pagi, dia duduk sepanjang malam mengamati rekaman pertandingan Leeds dan keesokan harinya, manakala mereka bertatap muka di Argentina, Bielsa telah mengamati 70 pertandingan Leeds United yang hanya menang tiga belas kali dan ia berusaha melupakan hal itu.
Berkubang selama 16 tahun di kasta kedua, hingga terjerembab ke kasta ketiga adalah catatan merah untuk klub ini. Orta dan Kinnear melontarkan pertanyaan kepadanya, “Menurutmu, kejuaraan itu apa, ‘El Loco’?” Dengan kertas yang bererakan di atas meja, Bielsa menyusun formula yang genah perihal tugas dan fungsi masing-masing divisi di klub.
Mereka memanggil Bielsa dengan sebutan ‘El Loco’, seorang yang obsesif, selalu mendongak alih-alih menunduk dan ciut nyali. Sejak 2018/19 karir Bielsa sebagai pelatih yang kompulsif tak tertandingi. Ia terbang 7.000 mil jauhnya untuk melatih tim pesakitan di sebelah Utara Inggris. Leeds United adalah klub dengan predikat umbrus dan seringkali diperingatkan karena penggunaan narkotika.
Sebelum dipinang Leeds, Bielsa sebenarnya dilirik oleh West Ham akan tetapi dirinya menilai wewenangnya di klub tersebut tidak jelas untuk kembali membawa klub berada di kasta utama Liga Inggris. Bagi Bielsa, niatan Leeds lebih serius: akhiri berkubang di kasta terendah dan naik level ke divisi liga utama. Untuk kerjanya itu, dia diganjar imbalan lebih tinggi dari gaji seorang manager di Elland Road.
Tapi usia Bielsa saat itu 60 tahun dan cuek saja dengan iming-iming imbalan itu. Dia adalah seorang romantis, yang berasal dari Rosario—kota pelabuhan di barat laut Buenos Aires—yang mendukung, bermain untuk dan mengelola klub lokalnya, Newell’s Old Boys, sampai-sampai hatinya hilang bagi mereka. Newell memberi nama stadion mereka Bielsa. Pada 2009, “balas budi” tahun sebelumnya, ia memasukkan lebih dari £ 2 juta uangnya sendiri untuk mendanai fasilitas baru di tempat latihan klub. “Saya membayar hutang, bukan membuat hadiah,” jelas Bielsa, “karena mereka adalah klub yang membentuk saya.”
Lebih dari itu, tentang Leeds dirinya merasakan suatu kesamaan romantik yang sama, tentang klub yang terkenal, pendukung yang fanatik dan mencari pembebasan. Itulah hal memendarkan daya romantik bagi Bielsa.
Dalam salah satu berita di fourfourtwo.com , Bielsa dinilai sebagai pelatih modern dengan taktik yang inovarif sejak awal 1990-an. Bielsa mengambil satu regu yang telah kehilangan arah dan menutup kejuaraan musim lalu dengan buruk. Ia kemudian mendorong mereka ke puncak klasemen saat Natal. Selama berminggu-minggu, bek kiri Barry Douglas adalah satu-satunya wajah baru dalam barisannya.
Orang Argentina ini didampingi asistennya menerapkan model murderball selama 45 menit setiap hari Rabu, bola terus dimainkan tanpa tendangan bebas. Hasilnya, latihan yang dikomandoi oleh asistennya itu mirip pertandingan bebas, penuh amuk dan tekel terbang di mana-mana.
Pola latihan semacam itu, membuat Paul Robinson, lulusan akademi Leeds dan mantan penjaga gawang timnas Inggris kehabisan kata-kata dan memasrahkan pertahanan klub kepada sang ‘El Loco’.
Dengan intensitas latihan semacam itu, Bielsa tak hendak membangun sebuah klub raksasa, ia hanya ingin melaju dengan kelompok kecil. Kurang dari 20 pemain senior ia ambil sementara sisanya memungut pemain muda di bawah 23 tahun dari akademi klub. Ia berpesan, “Ketika sebuah tim menang secara teratur, tidak ada yang lelah.” Ia lebih memilih pemain yang surplus atau katakanlah produktif meskipun sedikit jumlahnya dan hal itu lebih tidal melelahkan.
El Loco bergerak dengan waktu dalah hal taktis dan teknologi tetapi pertumbuhan sepakbola sebagai sebuah bisnis, dan keterikatannya pada hasil, sangat memuaskan. “Adalah tanggung jawab kita semua untuk membahas pentingnya hasil di atas keindahan permainan,” katanya. “Saya tidak tahu apakah analoginya baik, saya yakin tidak, dan itu tidak proporsional. Tetapi fakta bahwa kita tidak merawat planet ini? Anak-anak kita akan membayar konsekuensi dari tindakan kita. Dengan sepakbola itu akan sama, kita menghancurkan sepakbola dan di masa depan kita akan melihat efek negatifnya.”
Kebiasaan Bielsa menurut pemilik Leeds United Andrea Radrizzani, sedikit banyak mengubah budaya klub dan telah bekerja sama dengan baik. Ia mengungkapkan, selalu mengambil keputusan bersama dengan tenang dan baik. Sehingga, Radrizzani yakin kalau Bielsa akan memperpanjang kontraknya bersama Leeds. ”Kami akan sangat senang (jika) dia bertahan untuk menikmati pengalaman di Liga Primer musim depan,” jelas dia.
Kini penantian panjang Leeds selama 16 tahun berkubang di kasta terendah diangkat derajatnya oleh El Loco. Segala puja-puji baginya dan musim depan kita sama-sama bakal menonton kelincahan squad The Whites berlaga di Liga Inggris.


