Pencarian Jati Diri Seorang Ricardo Quaresma

spot_img

Ricardo Quaresma barangkali menjadi pemain yang tak benar-benar bisa memanfaatkan bakat yang dimiliki.

Jika melihat permainannya di atas lapangan, semua pasti akan dibuat terpana. Sebuah gocekan indah dan diiringi dengan tipuan-tipuan penuh irama, plus tendangan istimewa, semua itu bisa kita saksikan hanya dengan melihat aksi Ricardo Quaresma.

Ricardo Quaresma memulai karir profesionalnya bersama Sporting Lisbon, persis seperti jalan yang ditempuh sahabat karibnya, Cristiano Ronaldo. Selama kurang lebih enam tahun, Ricardo Quaresma akhirnya berhasil menembus tim utama. Sebuah keputusan yang sangat tepat saat itu, karena selain memiliki skil luar biasa, fakta bahwa ia pernah memenangi gelaran Piala Eropa U 16 di tahun 2000, juga semakin menguatkan anggapan kalau Quaresma sudah siap untuk mengguncang panggung Eropa.

Dua tahun masa baktinya di tim utama, memunculkan gelar Liga Portugal dan Piala Liga. Tak butuh waktu lama bagi Quaresma untuk langsung menjerat minat klub-klub besar Eropa. Potensi serta usia muda menjadi dua poin penting baginya untuk bisa beranjak ke level yang lebih menggelegar.

Benar saja, setelah menjalani proses negosiasi, Quaresma akhirnya resmi bergabung dengan FC Barcelona, dengan biaya senilai 6 juta euro. Namun sayang, Barcelona tidak menjadi tempat yang cukup nyaman bagi Quaresma. Bakatnya sedikit tak dipedulikan. Ia jarang mendapat kesempatan. Total, ia hanya tampil dalam 12 pertandingan, itupun berasal dari bangku cadangan.

Jika melihat gembar-gembor media tentang bakat yang dimilikinya, sulit menerima fakta kalau Quaresma kesulitan untuk menembus tim utama skuad Blaugrana.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ruang gerak Quaresma di kubu el Barca. Pertama, ketenarannya masih kalah dari bocah ajaib asal Brasil, Ronaldinho, yang baru saja didatangkan dari Paris Saint Germain. Kemudian, musimnya disana juga beberapa kali terhambat oleh cedera. Masalah itu juga pada akhirnya menutup peluangnya untuk bisa tampil di gelaran Piala Eropa 2004.

Satu faktor yang tak kalah krusial adalah, hubungan buruknya dengan sang pelatih, Frank Rijkaard.

Di hadapan media, Quaresma pernah berujar kalau musimnya di Barcelona terhalang oleh keberadaan pelatihnya itu. Malah, ia berani mengatakan, selama masih ada Frank Rijkaard di Barcelona, maka masa depannya tak akan pernah sesuai rencana.

Apa yang telah diucapkan Quaresma praktis menjadi pesan kepada sang agen, bahwa masa nya di Barcelona tak benar-benar membuat bakatnya dimanfaatkan.

Karena situasi semakin mendesak, Quaresma akhirnya memilih pulang ke Portugal. Bukan bersama Sporting Lisbon, namun Porto. Klub berjuluk The Dragons resmi mendapatkan jasa pemain bertalenta itu di angka 5 juta euro.

Bersama Porto, Quaresma seolah menemukan kembali jalan suksesnya. Ia yang tampil dalam 44 laga di musim pertama berhasil mencetak sebanyak tujuh gol. Meski gagal membawa sang jawara Eropa menang dalam partai Piala Super, setidaknya ia mampu berjaya di turnamen Piala Interkontinental.

Pada musim berikutnya, Quaresma tetap mampu tampil konsisten. Ia terus menjadi andalan dan beberapa kali menjadi ancaman lawan. Masih dengan skil luar biasanya, Quaresma yang punya tendangan akurat juga sesekali mencetak gol dengan cara yang tidak biasa. Ia meneruskan kegemilangannya dengan meraih gelar liga.

Lebih dari itu, permainannya yang cenderung individualis memunculkan fakta bahwa ia sangat dicintai fans. Disaat Porto menderita kekalahan, nama Quaresma jarang disalahkan. Hal itu tentu berkaitan dengan fakta bahwa dirinya memang punya kualitas serta permainan luar biasa.

Empat tahun bertahan di Porto, nama Quaresma kembali terangkat. Dia seolah kembali temukan jalan paling berarti. Torehan sejumlah gelar juga kian membuat namanya muncul ke permukaan. Dalam 158 pertandingan, ia berhasil catatkan sebanyak 31 gol.

Apa yang telah ditorehkan Quaresma membuat mata klub-klub besar Eropa kembali terbuka. Mereka mencium bau pemain berbakat yang kembali terangkat. Pada akhirnya, tim asal Italia lah yang memenangkan persaingan ketat. Quaresma, yang kembali pergi dari tanah kelahiran resmi menjajal kompetisi Negeri Pizza yang di dalamnya terdapat nama pelatih berjuluk The Special One.

Pada tahun 2008, Quaresma resmi menjadi pemain Inter Milan. Ia masuk ke dalam rencana Jose Mourinho yang baru saja didatangkan ke Italia.

Namun nahas, musimnya di klub berjuluk La Beneamata tak memberinya banyak kebahagiaan. Quaresma kembali temui situasi yang paling tidak diinginkan. Ia malah menyebut Inter sebagai klub yang telah memberi pengalaman terburuk baginya.

Kebahagiaan serta kepercayaan dirinya direnggut. Ia tak kuasa menahan air mata, kala mendapati fakta bahwa namanya hanya akan mengisi daftar cadangan di pertandingan berikutnya.

Memulai hari baru di Inter membuat Quaresma benar-benar tertekan. Ia seolah tak ingin pergi ke tempat latihan, karena pada akhirnya namanya tak akan masuk ke dalam skuad yang telah disiapkan.

Di sisi lain, Jose Mourinho memberi penjelasan mengapa Quaresma gagal bersinar di Italia. Mou menyebut kalau itu semua murni kesalahannya. Mou merupakan tipe pelatih yang sangat disiplin. Ia tidak ingin satu pun anak buahnya yang bertingkah semaunya. Semua harus mengikuti aturan jika mengharap kemenangan.

“Dia adalah talenta yang sangat luar biasa. Dia punya semuanya untuk menjadi seorang bintang. Sayang, ia tak cukup disiplin untuk mempersiapkan semuanya. Jika dia mau merubah sikapnya, maka kita akan bicara tentang Ricardo Quaresma yang berbeda,” ujar Mourinho, 2008.

Bersama Inter Milan, masanya sudah tidak lagi menyoal tentang permainan apa yang akan ditampilkan. Namun lebih ke arah apakah ia akan diturunkan dalam sebuah pertandingan.

Selama dua tahun, hanya 24 pertandingan yang ia mainkan. Urusan gol, hanya sebiji yang bisa diciptakan. Tak ada harapan. Semuanya sirna. Quaresma kembali pada masa dimana ia tak ingin mengakui segalanya. Puncak dari kekecewaan Quaresma di Italia adalah ketika ia mendapati rekan setimnya dulu, Cristiano Ronaldo berhasil mendapat penghargaan Ballon D’or. Akan tetapi, dirinya malah dihadiahi gelar Bidone de Oro atau pemain terburuk di Serie A.

Meski sempat dipinjamkan ke Chelsea arahan Luiz Felipe Scolari, Quaresma juga tak mampu memanfaatkan kesempatan. Masa peminjamannya disana hanya memunculkan sebanyak empat pertandingan saja. Itupun tak ada yang berkesan.

Saat itu, karir Quaresma tampak seperti telah usai. Ia tak mendapat kebahagiaan, bahkan meski Inter berhasil meraih tiga gelar utama dalam satu musim. Keberadaanya tidak dianggap. Bagi Mourinho, ia hanyalah ranting kayu dijalan yang perlu dibersihkan.

Setelah tak mendapat apa-apa di tiga klub besar Eropa, Quaresma mencoba cari peruntungan di salah satu tim asal Turki, Besiktas. Di usianya yang sudah menginjak 27 tahun saat itu, Quaresma tak boleh lagi kehilangan arah. Semua pengalaman yang didapat harus bisa menjadi pelajaran baginya untuk kembali dapatkan asa.

Secara statistik, Quaresma berhasil menjadi idola. Ia mampu bermain dalam 39 pertandingan dan mencetak 11 gol. Raihan itu terasa spesial karena ia menjadi top skor klub .Total, dalam 73 pertandingan, 18 gol berhasil disarangkan. Untuk trofi yang didapatkan, gelar Liga dan Piala Liga berhasil mampir di tangan.

Akan tetapi, karirnya disana tak serta merta sesuai rencana. Quaresma yang dikenal temperamental sempat berselisih dengan pelatih. Ia sempat tidak diberi kesempatan dan diancam bakal menerima pemotongan gaji.

Karena situasinya dianggap sulit dibenahi, klub akhirnya putuskan untuk menghentikan kerjasama dengan Quaresma. Ia pergi pada tahun 2012 dan mendarat di Al Ahly. Disana, masanya tak benar-benar lama. Hanya enam bulan untuk kemudian pindah ke FC Porto.

Kembali ke kampung halaman juga tidak menempatkannya dalam jajaran pemain andalan. Quaresma pun pergi ke Besiktas setelah hanya semusim membela Porto. Di periode kedua bersama klub Turki, Quaresma menjadi pemain yang jauh lebih tertata. Ia bahkan masuk ke skuad juara timnas Portugal di turnamen Piala Eropa 2016.

Berbekal catatan 108 pertandingan dan mencetak 13 gol, Quaresma, di usia yang menginjak 36 tahun, kini berstatus sebagai pemain Kasimpasa. Belum banyak yang ia berikan, karena selain pengabdiannya tergolong belum lama, usianya juga tak bisa dipaksa untuk berikan banyak gelar.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru