Kisah Timnas Belgia dan Munculnya Generasi Emas Yang Sukses Kuasai Dunia

spot_img

Pada sebuah masa dimana sepak bola menjadi olahraga paling mengundang tawa, timnas Belgia hadir dengan segudang bakat. Negara tetangga negeri Belanda menjadi salah satu yang paling mengundang perhatian. Saat ini, dengan kekuatan luar biasa, mereka mampu bersaing dengan tim-tim unggulan untuk memperebutkan tangga teratas.

Hal tersebut jelas terasa wajar, karena memang, dengan apa yang mereka dapat saat ini, merupakan satu dari yang terbaik.

Timnas Belgia sendiri sebetulnya menjadi salah satu negara paling diperhitungkan. Dalam dunia sepak bola, mereka pernah berjaya di era 80 an. Kala itu, di turnamen Piala Dunia 1986, mereka sukses melaju hingga ke partai semifinal. Generasi emas timnas Belgia saat itu diisi oleh nama-nama seperti Hugo Broos, Jan Ceulemans, Eric Gerets, hingga Jean-Marie Pfaff.

Dalam perjalanannya, mereka juga sukses kalahkan lawan yang tak sembarangan. Setelah lolos dari fase grup, Belgia berhasil tumbangkan perlawanan Uni Soviet dengan skor 4-3. Lalu, Spanyol menjadi korban selanjutnya. Hingga pada akhirnya setelah berhasil melaju ke babak semifinal, mereka tumbang dari Argentina yang saat itu keluar sebagai juara.

Dalam perebutan tempat ketiga, mereka kalah dari Prancis dengan skor 4-2.

Meski menduduki peringkat keempat, capaian itu sudah sangat luar biasa. Pasalnya, mereka sama sekali tak menjadi unggulan. Banyak yang meremehkan. Namun apa yang telah dilakukan berhasil membuktikan bahwa kekuatan yang telah disiapkan tak bisa dipandang sebelah mata.

Namun memang setelah itu, perjalanan mereka berjalan biasa-biasa saja. Terakhir kali sejak era emas itu, mereka tampil di Piala Dunia 2002 dan hanya mentok di babak 16 besar, setelah ditumbangkan Brasil dengan skor 2-0.

Perjalanan Belgia di turnamen-turnamen besar berikutnya tak dapat diharapkan.
Mereka tak pernah lagi tampil di turnamen-turnamen besar. Predikat semenjana begitu melekat.

Tak ada pemain yang mampu tampil sempurna. Paling hanya segelintir saja, itu pun tak dilirik oleh klub-klub besar Eropa.

Namun Belgia sejatinya tak tinggal diam begitu saja. Mereka sudah mempersiapkan senjata untuk digunakan di waktu yang memang sudah ditentukan.

Sejak kegagalan di euro 2000 dan tak mampu bicara banyak di Piala Dunia 2002, manajemen timnas Belgia mulai memperhitungkan segalanya. Mereka mulai mengembangkan bibit muda di setiap jejang usia. Mereka belajar dari negara tetangga dan sedikit banyak mengadopsi sistem sepak bola yang diberlakukan di Prancis. Seperti diketahui, kala itu Prancis memang masih menjadi sorotan setelah berhasil mengawinkan trofi Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.

Dari Prancis didapatkan cara mengembangkan bakat-bakat muda, sementara dari Belanda, didapatkan gaya permainan atraktif dan begitu terorganisir.

Setelah semua rumus yang dianggap benar sudah dikuasai, barulah mereka lancarkan aksi. Setiap pemain muda berbakat terus dijejali video-video sepak bola setiap hari. Mereka juga terus dilatih skil-skil mendasar dalam sepak bola seperti passing, dribling, hingga crossing. Hal tersebut dilakukan secara konsisten.

Proses pelatihan secara serius itu dilakukan selama bertahun-tahun dan melibatkan sekitar 70 tenaga ahli. Tak melulu tentang apa yang terjadi di lapangan, para pemain muda juga dipersiapkan untuk memiliki mental yang kuat. Secara psikologis, mereka benar-benar ditempa.

Beradaptasi dalam berbagai pola juga terus dicanangkan. Sementara teknik dasar tidak ditinggalkan, para pemain muda juga terus diberi latihan berupa permainan-permainan kecil guna menangkap kemistri dari setiap pemain yang terlibat dalam misi.

Yang tak kalah penting, selain menekankan gaya latihan ketat dan pola hidup beraturan, jajaran manajemen timnas Belgia juga turut membantu dalam mengembangkan infrastruktur disetiap sekolah sepak bola guna memaksimalkan bakat para pemain muda disana.

Butuh waktu lama memang. Namun pada akhirnya, apa yang didapat sama sekali tidak mengecewakan.

Seperti yang sudah dibincangkan, generasi emas timnas Belgia selanjutnya tidak datang begitu saja. Sudah ada persiapan dalam setiap bait cerita. Satu yang paling menjadi pembicaraan adalah kala koran terbitan Belgia memunculkan prediksi para pemain masa depan timnas Belgia, dimana hasilnya nyaris sama dengan apa yang mereka dapat kemudian.

Dalam kolom berjudul ‘van onze duivels’, Belgia memunculkan nama-nama pemain yang diprediksi akan mengharumkan nama mereka.

Pelatih Belgia, Roberto Martinez, turut mengamini hal tersebut. Martinez menjelaskan bahwa Belgia benar-benar menaruh konsentrasinya untuk mendidik anak-anak muda agar menjadi pesepakbola top di masa depan. Belgia mempelajari sistem pendidikan sepakbola dari negara-negara lain yang sudah maju seperti Belanda, Jerman, dan Prancis. Dari situlah, Belgia kemudian membentuk generasi emasnya sendiri.

“Penting bagi setiap orang untuk memahami bahwa Belgia memiliki populasi sebesar 11 juta jiwa dan bahwa generasi pemain saat ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada struktur yang sangat jelas dalam sepakbola profesional di Belgia,”

“Belgia adalah negara yang fokus pada pengembangan bakat mudanya. Kami hanya bisa menjadi diri sendiri dan kami sudah punya waktu untuk menggunakan Piala Dunia sebagai keuntungan dengan generasi terbaru,” ucap Martinez (via espn, 2018)

Hasil dari itu semua jelas tidak sia-sia. Pada tahun 2014, mereka berhasil lolos ke Piala Dunia setelah dalam fase kualifikasi berhasil keluar sebagai pemenang utama.

Dari turnamen tersebut, kita semua sudah mengenal pemain seperti Thibaut Courtois, Toby Alderweireld, Vincent Kompany, Daniel Van Buyten, Thomas Vermaelen, Kevin De Bruyne, Eden Hazard, Dries Mertens, Adnan Januzaj, hingga Romelu Lukaku.

Pada turnamen yang digelar di Brasil, Belgia masuk ke grup H dan menjadi jawara setelah menyingkirkan Aljazair, Rusia, dan Korea Selatan. Mereka berhasil meraih tiga kemenangan, memasukkan empat gol dan hanya kemasukan sekali.

Di babak selanjutnya, Belgia berhasil tumbangkan Amerika Serikat. Namun sayang di babak perempat final mereka harus akui keunggulan timnas Argentina.

Turnamen tersebut seolah menjadi permulaan bagi generasi emas yang kembali didulang Belgia. Karena pada dua tahun setelahnya, mereka dianggap sebagai tim unggulan dalam turnamen Piala Eropa 2016.

Namun sayang, meski berhasil lolos fase grup, dan hancurkan Hungaria dengan skor 4-0, Belgia malah tumbang dengan tim kejutan, Wales, dengan skor 1-3. Kala itu, satu gol Radja Nainggolan dibalas tiga gol sekaligus oleh Ashley Williams, Robson-Kanu, dan Sam Vokes.

Tak mau generasi emasnya sia-sia, Belgia kembali tunjukkan muka di turnamen Piala Dunia. Pada tahun 2018, ketika Rusia ditunjuk sebagai tuan rumah, Belgia datang dengan rasa percaya diri tinggi. Skuad mereka semakin matang. Apalagi, banyak dari mereka yang tampil bersama klub-klub besar Eropa. Masalah mental, jelas itu sudah tak menjadi halangan.

Pemain pilar Belgia seperti Thibaut Courtois, Vincent Kompany, Jan Vertonghen, Kevin de Bruyne, Moussa Dembele, Romelu Lukaku, dan Eden Hazard kala itu masih berlaga di kompetisi populer, Liga Primer Inggris. Nama lainnya, termasuk Dries Mertens bermain di Italia, yang mana kompetisi tersebut juga menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Berada satu kelompok dengan Inggris, Panama, dan Tunisia di grup H tak menjadi masalah bagi Belgia. Mereka sukses meraih poin penuh dengan memasukkan 9 gol dan hanya kemasukan dua kali.

Di fase gugur, mereka berhasil tunjukkan mental juara setelah mampu tumbangkan Jepang dalam sebuah pertandingan yang begitu dramatis. Mereka sukses singkirkan Samurai Biru dalam pertempuran yang berakhir dengan skor 3-2.

Di babak perempat final, mereka berhasil singkirkan tim kuat asal Amerika Selatan, Brasil, dengan skor 2-1. Sebuah pencapaian yang begitu membanggakan mengingat Brasil diisi oleh nama-nama tenar.

Sukses melaju ke babak semifinal membuat Belgia harus berhadapan dengan tim ayam jantan. Prancis yang sama-sama punya kekuatan besar dalam diri pemain muda dianggap sebagai lawan setimpal timnas Belgia.

Namun sayang, mereka kalah dari Prancis dalam sebuah pertandingan yang memunculkan Samuel Umtiti sebagai pahlawan. Bek tangguh milik FC Barcelona itu berhasil mencetak gol sematawayang untuk timnas Prancis pada menit ke 51 sehingga memuluskan langkah mereka untuk melaju ke partai final.

Meskipun kalah 1-0 dari Prancis pada laga semi final, masa depan timnas Belgia dianggap masih sangat cerah.

Meski kecewa, kiprah Kevin de Bruyne dan kawan-kawan dalam turnamen tersebut layak mendapat tepukan tangan. Mereka yang berstatus sebagai The Golden Generation berhasil mengulangi sukses 32 tahun sebelumnya, ketika timnas Belgia berjaya di Piala Dunia 1986.

Mereka pun patut berbangga, karena mereka hanya kalah dari lawan yang pada akhirnya memegang trofi Piala Dunia.

Setelah akhir pegelaran Piala Dunia 2018, banyak yang memprediksi bahwa itu juga menjadi akhir dari perjalanan generasi emas timnas Belgia, Pasalnya, para pemain andalan di turnamen tersebut sudah memasuki masa senja.

Akan tetapi, pada kenyataannya Belgia masih memiliki sejumlah pemain muda berbakat lainnya, yang sangat berpotensi meneruskan tongkat generasi emas selanjutnya. Pemain tersebut diantaranya Youri Tielemens, Mile Svilar, Zinho Vanheusden, Francesco Antonucci, dan Charlie Musonda Jr.

Sangat menarik dinantikan, akan seperti apa geliat timnas Belgia di turnamen-turnamen besar selanjutnya.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru