Ketika Shaktar Donetsk Miliki Aroma Samba Di Ukraina

spot_img

Sudah menjadi rahasia umum jika Brasil merupakan negara dengan bakat sepak bola terbaik di dunia. Selain karena menjadi negara dengan koleksi trofi Piala Dunia terbanyak sepanjang masa, Brasil juga rajin menelurkan bakat-bakat sepak bola.

Tidak bisa dihitung seberapa banyak pemain yang telah mendunia. Bahkan, sampai di kompetisi tanah air pun, banyak terdapat pemain-pemain asal Negeri Samba.

Akan tetapi, kali ini kita tidak akan membicarakan tentang bagaimana bakat-bakat asal Negeri Samba itu bisa tersebar hingga menjadi yang terbaik di dunia. Namun tentang bagaimana sebuah klub yang jauh dari Brasil namun memiliki aroma Samba yang begitu kental.

Adalah Shakhtar Donetsk. Shakhtar Donetsk merupakan klub yang berbasis di Ukraina. Kendati demikian, tak bisa dipungkiri bahwa kehebatan Shakhtar karena keberadaan para pemain asal Amerika Latin, terutama dari Brasil. Hal itu memang bukan rahasia lagi. Kita akan temui banyak sekali pemain Brasil yang pernah merumput disana. Bahkan beberapa diantaranya sukses masuk ke skuat utama timnas Brasil dan bermain untuk tim-tim besar Eropa.

Diketahui, kebutuhan Shakhtar kepada para pemain Brasil mulai terjadi pada masa kepelatihan Lucescu periode pertama. Pada musim 2004/05, Lucescu membuat gebrakan dengan mendatangkan lima pemain Brasil, yakni Matuzalem, Elano Blumer, Jadson, Batista, dan Ivan. Belum lagi ditambah satu pemain asal Paraguay, Pedro Benitez.

Peran para pemain Amerika Latin di Shakhtar sangat signifikan. Sejak era 2000-an, Shakhtar meraih banyak sekali gelar di berbagai kompetisi. Kebanyakan, para pemain yang didatangkan berposisi sebagai gelandang dan penyerang.

Mircea Lucescu pun disebut sebagai manajer klub yang mampu memenuhi obsesi Brasilnya. Ketertarikan Lucescu kepada para pemain Brasil sendiri hadir pada tahun 1970 an. Saat itu, Lucescu yang bertindak sebagai kapten timnas Rumania melakukan tur ke Brasil untuk melakoni sejumlah laga dengan klub-klub disana. Ia pun begitu terkesan dan amat tertarik dengan kemampuan sepak bola yang dimiliki oleh para pemain Brasil.

Ia menyukai sepak bola dan budaya olahraga tersebut disana. Lucescu benar-benar terkesima. Dia terus mengamati para pemain-pemain Brasil. Hingga lebih dari 30 tahun kemudian, saat ia ditunjuk sebagai manajer Shaktar, ia mula gencarkan misi untuk datangkan para penari lapangan asal Negeri Samba.

Hal tersebut memang sengaja dilakukan oleh nya sebagai upaya untuk menciptakan klub terbaik di Ukraina.

Secara umum, Brasil dan Shakhtar Donetsk memang memiliki hubungan yang serasi antara satu dengan yang lain. Untuk klub sendiri, mereka telah menikmati bakat dan tipu daya para pemain diatas lapangan. Sekali lagi, banyak dari mereka yang memiliki status legenda di klub. Sementara bagi para pemain, yang sering tiba di Ukraina dengan bintang muda yang siap untuk taklukkan dunia, mereka telah memilih tempat yang sangat tepat. Karena seperti yang kita tahu, Shaktar memang ahli dan berbakat dalam kembangkan kualitas para pemain muda asal Negeri Samba.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa pemain Brasil yang datang pada musim 2004/05. Satu yang mungkin menjadi andalan Lucescu sebagai juru taktik Shaktar adalah nama Jadson. Jadson yang saat itu baru berusia 21 tahun benar-benar sukses penuhi ekspektasi Lucescu. Rona Samba dan permainan indah ala Amerika tergambar jelas dalam pemain tersebut.

Dari situ, para pemain asal Brasil terus berdatangan. Shaktar menjadi tim yang tidak boleh diremehkan. Aroma Brasil disana pun sukses memberikan banyak sekali gelar, khususnya gelar di kompetisi domestik.

Selain pandai dalam mencari bakat-bakat luar biasa, sistem pendidikan sepak bola di Shaktar pun terus mengalami perkembangan. Mereka berani menyuguhkan tempat, alat, hingga fasilitas terbaik demi bisa menunjang perkembangan para pemain. Stadion megah yang mereka punya juga menjadi bukti bahwa Shaktar memang berambisi untuk menjadi salah satu tim terhebat di Eropa.

Hingga pada akhirnya, tepat pada musim 2008/09, Lucescu menikmati karir manajerialnya di tangga teratas. Ia berhasil membawa skuat Samba asuhannya duduk di tangga juara kompetisi UEFA Cup. Dalam perjalanannya, mereka juga sukses menyingkirkan segala hadangan berat. Betapa tidak, nama-nama seperti Tottenham Hotspur, CSKA Moscow, Marseille dan Dynamo Kyiv, menjadi tim yang berhasil mereka atasi.

Di partai puncak, mereka berhasil kalahkan wakil asal Jerman, Werder Bremen.

Dua nama Brasil menjadi aktor utama dari keberhasilan Shaktar di panggung Eropa. Luiz Adriano yang menjadi juru gedor tim sukses mencetak gol pertama. Sementara gol kedua diciptakan oleh sosok revolusioner dari berdirinya dinasti Samba di tanah Ukraina, Jadson.

Kedua pemain itu memberikan gelar Eropa pertama dan satu-satunya bagi Shaktar. Dengan begitu, terbukti bahwa darah Brasil telah memberikan nafas bagi kelangsungan hidup Shaktar.

Sebagai pelengkap, trofi Liga sebanyak 11 biji, terhitung dari musim 2004/05, dan Piala Ukraina sebanyak sembilan biji, yang juga terhitung dari musim 2004/05, semakin membuktikan, bahwa apa yang telah dilakukan Lucescu dalam membangun proyek Brasil nya benar-benar begitu melegenda.

Hingga kini, berkat bakat-bakat yang terus diciptakan, khususnya yang berasal dari tanah Samba menjadikan Shaktar sebagai tim terbaik dalam mengolah kualitas. Mereka memberikan rasa aman bagi bintang muda Brasil untuk memulai perjalanan di tanah Eropa.

Sebetulnya, klub-klub Eropa Timur lainnya, termasuk Dynamo Kyiv dan Dnipro Dnipropetrovsk asal Ukraina telah mencoba metode ini. Mereka coba datangkan bakat asal Brasil, atau setidaknya yang berasal dari Amerika Latin. Akan tetapi tidak ada yang memiliki reputasi kesuksesan yang sama dengan para pemain yang ditempa oleh Shaktar Donetsk.

Lihat saja, siapa yang mampu kalahkan pemain dengan reputasi terbaik semacam Willian, Fernandinho, hingga Douglas Costa yang masing-masing bermain untuk Chelsea, Manchester City, dan Juventus. Mereka telah melakukan perjalanan luar biasa, yang boleh dibilang dimulai dengan tampil bersama Shaktar Donetsk.

Ketiga pemain tersebut boleh dibilang telah memiliki mental juara. Mereka bahkan sukses menembus skuad utama Brasil dan mampu bersaing dengan nama tenar lainnya, yang pada saat datang ke Eropa langsung tampil dengan klub besar disana.

Willian telah melakukan banyak hal dengan Chelsea. Ia sumbangkan banyak gelar dan memiliki kontribusi luar biasa. Fernandinho, telah memainkan peran krusial pada permainan The Citizen. Dirinya turut menjadi bagian dari skuad juara City yang sukses besar di tanah Britania. Sementara Costa, ia sudah laku di beberapa klub besar Eropa. Misalnya saja FC Bayern dan Juventus. Setelah puas dengan gelar Bundesliga, dia langsung moncer bersama klub asal Italia yang berhasil menjadi jawara dalam waktu yang lama.

Sebetulnya masih banyak lagi pemain Samba yang sukses di Ukraina. Namun pada akhirnya, mereka punya jalan cerita yang berbeda. Shaktar sempat alami masa tak menyenangkan ketika banyak pemain yang ingin segera hengkang. Hal itu menyusul kisruh politik yang tengah terjadi di Ukraina.

Mereka harus rela melepas bintangnya, seperti nama Douglas Costa, Luiz Adriano, hingga Alex Teixeira yang menjadi manusia 800 milliar rupiah kala putuskan berkarir di Liga Super China.

Selain masalah internal di negara Ukraina, ada lagi beberapa faktor yang sebabkan para pemain pilih pergi dan mencari jalan yang mereka inginkan. Hal itu adalah karena masih banyak pendukung sepak bola disana yang akrab dengan aksi rasisme. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Eropa Timur, tak terkecuali Ukraina terdapat banyak sekali orang yang tidak bisa menerima perbedaan.

Masalah yang sudah semakin akut itupun terdampak hingga ke ranah sepak bola. Hasilnya, banyak pemain yang tidak betah.

Namun begitu, Shaktar tetap, dan akan terus dikaitkan dengan para pemain Samba. Mereka begitu sukses dengan metode mendatangkan pemain asal Brasil. Di musim ini sendiri ada total 14 pemain berdarah Brasil yang tercatat sebagai pemain Shaktar. Sisanya, dikuasai oleh pemain asli Ukraina, dengan dua nama negara lainnya, yaitu Georgia dan Israel yang sumbangkan masing-masing satu pemain saja.

Fakta tersebut pun semakin membuktikan bahwa Shaktar memang masih mencintai tradisi dalam kumpulkan pemain Brasil. Bahkan, mantan manajer Dynamo Kyiv, Alyaksandr Khatskevich, mengakui itu dengan berkata,

“Shakhtar lebih Brasil daripada Ukraina.”

https://www.youtube.com/watch?v=cEn6i17cZI4

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru